You Are My Regret

You Are My Regret
Kematian


__ADS_3

***


Qiran dan Jay mengantar lucas ke rumah tara dan juga lensi untuk menitipkan anak sulung mereka selama kepergiannya ke luar negeri  “Lensi” panggil qiran setelah melihat Lensi yang ada di area bermain anak rumahnya


Lensi menoleh ke arah Qiran sahabatnya yang memanggilnya “hai qiran” lensi langsung berdiri dan berjalan ke arah Qiran dan langsung saja memeluk sahabatnya


“maaf ngerepotin kalian lagi” ucap qiran merasa tak enak hati karena terlalu sering menitipkan lucas jika mereka akan keluar negeri sebab ia tak percaya pada orang lain, ada Mika tapi Qiran tak tega menitipkannya di sana sebab Mika mengurus kakek dari adrian


“sama sekali tak masalah qiran malah kadang aku terbantu sekali saat lucas ada di sini, dia bisa menjaga raymod dengan baik tidak seperti nidya kakaknya yang begitu manja itu” balas lensi dengan melirik nidya yang sedang bermanja di pelukan tara yang akan berangkat kerja


Qiran melirik Nidya yang nampak sedang di bujuk tara agar tak lagi ngambek “namanya anak perempuan jadi manja dengan ayahnya, edeline juga manja banget sama jay jauh sekali perbedaannya dengan lucas yang jauh lebih mandiri dan tidak terlalu banyak tuntutan” Qiran juga merasa Edeline, putri bungsunya sangat manja tapi lebih kepada Jay ketimbang pada dirinya


“ngomong-ngomong kamu di luar negeri berapa lama “ Tanya lensi


“satu minggu atau mungkin lebih dikit sih tapi pokoknya sebelum acara peringatan kematian ibu kamu kami sudah pulang ke rumah” balas Qiran


“ya sudah hati-hati ya” ucap lensi


Jay menurunkan edeline dan memeluk tara ”nitip anaku bentar ya” ucap Jay


“oke deh, kaya sama siapa aja” balas tara menepuk punggu Jay


Qiran menggandeng Edeline "kami pamit ya, takut ketinggalan pesawat" pamit Qiran


"Oke" balas Tara dan Lensi


***


Qiran menggenggam tangan kiri Jay dengan kuat sedang tangan kanan Jay menjaga tubuh Edeline yang bersandar di dadanya "Jangan khawatir sayang, daddy kamu pasti baik-baik saja" ucap Qiran menenangkan  suaminya yang terlihat begitu cemas

__ADS_1


Jay menoleh ke arah Qiran "aku sudah berusaha tidak cemas tapi tetap saja rasanya kurang nyaman" tukas Jay


"tadi kak Adrian hubungin aku akan nyusul dengan jet pribadi saja setelah urusan kantor selesai" ucap Qiran


"iya sayang" balas Jay


Qiran dan Jay sebenarnya bukan pergi seminar tapi akan terbang ke Inggris sebab kesehatan daddy el tiba-tiba saja menurun dan di Inggris tidak ada orang yang benar-benar peduli dengannya sebab hubungan daddy El dengan keluarga ibu tirinya kuranglah baik semenjak dulu


setelah menempuh perjalanan cukup lama tibalah Qiran dan Jay ke salah satu rumah sakit terbesar di Inggris, langsung saja Jay memberikan Edeline pada Qiran agar ia bisa masuk ke ruangan rawat sang ayah sebab anak kecil seperti Edeline tidak di ijinkan masuk ke ruang rawat Daddy El yang butuh perawatan khusus


"Dad" Jay menghampiri Daddy el dan menggenggam tangannya erat


Daddy el yang sedang memakai masker oksigen tersenyum tipis kala melihat Jay ada di sana "kau datang nak" tanya Daddy El


"ya dad, baru saja sampai" Jay mengusap pipinya yang basah "kenapa sakit, harusnya daddy sehat terus" ucap Jay


"tapi kalau Daddy menjaga kesehatan dengan baik tidak akan seperti ini" ucap Jay dengan isak tangisnya


"iya memang ini salah Daddy yang tidak bisa menjaga diri dengan baik sampai membuat kamu cemas dengan Daddy seperti ini" balas Daddy dengan seutas senyum tipis di wajahnya


"jangan senyum dad, Jay tahu pasti rasanya sakit jadi jangan terus tersenyum"protes Jay yang melihat senyuman di wajah Daddy el padahal jelas Jay tahu seberapa sakit yang di rasakan Daddy El karena penyakit daddy el jelas cukup parah


"Rasanya memang sakit jay tapi daddy cukup bahagia, bahagia karena bisa bertemu kamu dan melihat cucu-cucu daddy tumbuh dengan sehat, jadi nanti saat daddy ketemu ibu kamu daddy bisa menceritakan tentangmu di sana" balas Daddy El


"jangan seperti ini dad, jay mau daddy sehat dan bisa lihat Lucas dan Edeline menikah nanti" bantah Jay yang tak ingin daddy el membahas kematian dengannya karena sungguh Jay belum siap kehilangan Daddy El


Jay sudah kehilangan ibunya sejak El masihlah tiga bulan dan membuatnya tak Ingat lagi seperti apa wajah sang Ibu, sedangkan sang kakek sudah di panggil tuhan sejak 6 tahun lalu akibat usia senjanya, dan jika orang tuanya akan kembali di panggil itu rasanya cukup sakit sebab kebersamaannya dengan Daddy El terbilang sebenrat dan cukup jarang sebab Daddy el kekeh tetap mau tinggal di Inggris padahal Jay dan Adrian memutuskan untuk tinggal di Indoensia dan urusan bisnis keluarga Barneet di serahkan pada orang kepercayaan Adrian dan yang sanggup mengatasi Adam yang kadang masih membuat ulah di perusahaan bermodalkan saham perusahaan yang hanya sebesar 5% itu saja


"Apa Adrian juga akan datang kemari" tanya Daddy El

__ADS_1


"iya dad, dia sedang menyelesaikan urusan perusahaan terlebih dahulu, agar tidak terus di ganggu saat ada di sini" balas Jay


"Baiklah" Daddy el kembali tidur karena dia bilang cukup lelah dan ingin istirahat


jay berjalan ke luar ruangan daddy el dengan wajah sedihnya "gimana sayang" tanya Qiran melihat wajah suaminya yang terlihat begitu sedih


"sepertinya cukup parah sayang tapi dia coba menutupinya dariku" balas Jay


Qiran menggenggam tangan Jay dengan erat "kita doakan saja yang terbaik untuknya ya" ucap Qiran


tak lama berselang Adrian datang dengan langkah cepat menghampiri Qiran dan Jay "gimana keadaan Daddy" tanya Adrian yang baru saja sampai dan langsung menuju ke Rumah sakit menggunakan helikopter dari bandara agar tidak menunda waktu sama sekali


"kakak temuin saja daddy, tadi jay sudah ketemu kak" balas Jay


Adrian menepuk pelan bahu Jay "ya sudah kakak masuk ya" Adrian berjalan masuk ke ruangan rawat Daddy el dan menunggu daddy el terbangun untuk bicara


Setelah Daddy El sadar, Daddy El memberikan banyak pesan untuk Adrian yang di minta menjaga Jay dan juga keponakannya, Daddy el juga meminta Adrian untuk tetap membantu Jay mengurus perusahaan-perusahaan setidaknya sampai Lucas bisa mengambil Alih sebab Jay bukanlah orang yang bisa mengurus perusahaan dan Daddy el tidak ingin  memberatkan Jay


Alhasil daddy El hanya bisa meminta tolong pada Adrian yang cukup mumpuni untuk mengurus perusahaan besar keluarga Barneet sebab Adrian lah yang menyandang nama besar keluarga Barneet selama ini


Adrian berlari keluar kamar Daddy El "ayo masuk sekarang Jay" pinta Adrian dengan wajah yang terlihat begitu panik


Jay langsung saja berlari masuk tanpa berkata apapun pada Qiran saking paniknya melihat wajah Adrian yang juga sedang panik


Qiran menimang Edeline yang sedang tidur dan duduk dengan cemas. Tak lama para petugas medis berlarian ke ruang rawat Daddy El, ingin rasanya Qiran masuk tapi dia sedang menimang Edeline yang sedang tidur dan tidak di izinkan masuk ke dalam ruang rawat Daddy el


"qiran" Jay berlari menghampiri Qiran dan memeluknya erat tak memperdulikan Edeline yang nantinya akan bangun dan Qiran membiarkannya saja tanpa memprotes banyak akan Jay yang memeluknya tiba-tiba


"Daddy sudah meninggalkan kita semua sayang" tangis Jay pecah dalam pelukan Qiran dan Qiran terus menepuk-nepuk pelan pungguh Jay untuk menguatkan Jay

__ADS_1


__ADS_2