
Sebenernya Lusi pusing juga kalau bicara soal uang. Apalagi mengingat ayahnya yang meminjam uang pada Gery yang sampai sekarang belum ia pulangkan. Namun semoga papanya bisa menggantinya sebelum Gery pulang dan kembali ke Indonesia.
Tiba-tiba benar saja, tampak Liana datang menemui Lusi dirumahnya.
"Eh Lusi" ucap Liana.
"Kenapa?"
"Kalau Gery sampai gak nikahin gue bagaimana?" Tanya Liana.
"Ya berdoa aja semoga dinikahin"
"Hem, buruan deh lu bilang sama dia"
"Ya kamu ajalah masa aku" tolak Lusi.
"Sudah tapi begitu"
"Yaudah tungguin aja"ujar Lusi.
.
.
.
Keseokan harinya, Lusi pun tampak ijin pulang ke Bandung untuk bertemu Ayahnya. Lusi pun sudah meminta ijin pada suami dan ibu mertuanya. Dan dijikan untuk datang kesana.
Sebenarnya Lusi ke Bandung menanyakan perihal uang yang pernah Ayahnya pinjam pada Gery waktu itu, saat itu Ayah Lusi meminjam uanng Gery untuk buka usaha toko material.
Namun bukan maju jaya tapi mandek jaya. Sampai sekarang belum ada kabar yang pasti. Karena modal belum balik namun toko itu sudah kebakaran duluan. Sebenarnya kejadiannya sudah dua hari yang lalu. Tapi Lusi baru tahu.
"Astaghfirullah kok bisa yah toko Ayah kebakaran" ucap Lusi kaget tidak percaya.
"Iya arus pendek listrik. Ayah kaget pas pagi, setengah toko Ayah udah abis kebakar api" ucap Ayah.
"Ayah rugi dong" ucap Lusi.
"Iya rugi. Banyak yang kebakar dan benda benda lainnya" ucap Ayah tampak menjelaskan. Dan terlihat sedih
"Ayah yakin karena arus pendek listrik"
"Sepertinya begitu, soalnya Ayah liat ada bekas kabel kebakar"tutur Ayah.
__ADS_1
"Yasudah yang penting Ayah gak kenapa-napa" ucap Lusi.
"Iya kebetulan sedang tidak ada orang saat itu. Tumben kamu kesini mendadak" tanya Ayah memandang Lusi.
"Kamu lagi gak berantem sama Rian kan"
"Oh gak kok nggak"jawab Lusi.
"Terus mau apa?"
"Sih Ayah anak pulang disambut ke gitu Ayah masa langsung ditanya begitu"
"Curiga Ayah mah kalau kamu pulang tiba-tiba gini. Sok bilang ada apa, jangan ditutupin"
"Sebenernya aku kesini mau nagih"
"Nagih apa?"
"Hutang"
"Hutangnya siapa?"
"Ayah yang sama Gery. Aku mau tagih soalnya dia mau pakai buat acara nikahan"
"Ya, kan aku gak tahu Ayah kena musibah"
"Bilang tahun depan Ayah ganti"
"Ya ampun Ayah. Tahun depan mah keburu brojol itu anak orang"
"Siapa yang berojol"
"Calon bini, calon bini nya udah hamil duluan. Ayah tega pisan. Anak orang dibuat brojol dulu. Baru dinikahin"
"Yaudah pakai uang kamu dulu"
"Kalau ada mah, aku ganti Ayah. Kan sayangnya gak ada"
"Ayah juga gak ada" ucap Ayah simple.
"Yaudah nanti aku pikirin lagi. Siapa tahu Lusi bisa kerja. Bisnis Rian juga lagi ada kendala jadi gak enak"
"Maafin Ayah ya"
__ADS_1
"Iya gak apa-apa"
Lalu tak lama ada tamu datang. Dia bernama Anita. Anita adalah warga satu kampung hanya beda RT saja. Ia datang berkunjung ingin memeberikan oleh-oleh khas dari Jawa tengah. Karena ia baru pulang dari sana.
"Ini anak perempuannya pak?" Tanya Anita.
"Iya" jawab ayah.
"Ya ampun geulis ya"
"Alhamdulillah, waktu hamil ibunya kebanyakan makan pare sama nonton sinetron jadi geulis"
"Apa hubungannya sama pare, pare kan pahit" ucap Anita.
"Ya gak ada sih, hehhe" Ayah senyum-senyum.
"Ya untung juga gak nonton film horor pak. Kalau nonton horor nanti malah serem"
"Iya, hidupnya juga nyaris seperti sinteron"
"Sudah nikah belum" tanya Anita pada Lusi.
"Sudah bu, sudah punya anak" jawab Lusi.
"Oh, kirain belum. Tapi terlihat seperti belum nikah. saya tawarin kerja mau gak" ujar Anita.
"Kerja apa?" Tanya Lusi.
"Cuma jeprat jepret dapat duit. Jadi model"
"Model apa?"
"Model majalah. Uangnya lumayan lah buat tambahan"
"Tapi bukan model majalah dewasa kan" ucap Lusi tampak takut.
"Gak bukan. Tenang. Dan Tapi kerjanya diJakarta gapapa"
"Saya juga tinggal diJakarta"
"Wah pas berarti. Nanti saya minta nomer telepon kamu ya"
"Oke"
__ADS_1
Wah ini kesempatan aku buat bantu Ayah melunasi hutangnya. Batin Lusi.