
Masih dengan Tanisa yang masih berada didalam suasana ketegangan saat itu. Deon yang tampak berbicara pada istrinya berdua saja. Tanisa tampak tak tahu apa yang mereka bicarakan. Entah membicarakan dirinya atau hal yang Tanisa tak tahu.
Tanisa pun tampak tertunduk, mematung dan membisu. Hingga Leon tampak menyuruh Tanisa untuk meminum teh manis hangat yang sudah disediakan diatas meja. Namun Tanisa tampak tak bicara dan masih dalam mode diam, karena Tanisa pun masih teramat trauma dan takut pada Leon yang sudah memukul dirinya.
"Minumlah" ucap Deon yang mempersilahkan Tanisa untuk meminum yang sudah disediakan diatas meja.
Tanisa malah tampak masih terdiam dan malah menggeser tubuhnya dari Leon karena takut.
"Aku tidak akan menggigit mu tak perlu takut" ucap Leon yang tahu jika Tanisa takut pada dirinya.
"Minumlah" perintah nya sekali lagi pada Tanisa.
Namun Tanisa masih tampak sama diam saja.
"Tanisa, disini aman. Apakah kamu takut jika minuman ini akan diberi racun untuk membunuh mu, hahah rupanya kau takut ya" ucap Leon kepada Tanisa.
Tanisa masih saja diam seribu bahasa.
"Apakah kamu tidak tahu caranya bertamu dirumah orang, kalau sudah dikasih minum memang sebaiknya segera diminum bukan"
Tanisa pun langsung buka suara.
"Mana mungkin bisa aku bisa meminumnya kalau ternyata saat bertamu dirumah ini. Aku selain dapat minum juga tamparan yang lumayan keras" kata Tanisa bicara namun tetap tak mau melihat kepada Leon ia masih saja menunduk.
Seketika ucapan Tanisa membuat Leon terperangah dengan ucapannya. Apa yang Tanisa katakan memang itulah kenyataannya.
"Hemz, ya kalau memang kamu tak mau kamu tak perlu memaksa dirimu untuk minum. Aku juga tak akan memaksa, tapi dikulkas ada jus buah"
"Jus apa?"tanya Tanisa.
"Buah sirsak"
"Kalau yang itu aku mau, bolehkan" kata Tanisa.
__ADS_1
Seketika Leon pun malah tampak tertawa.
"Tadi kamu sebut gak mau, karena habis ditampar"
"Sepertinya yang ini aku mau" kata Tanisa.
"Baiklah, aku baru ingat kamu sedang hamil anggap saja itu bukan keinginan mu tapi keinginan bayi mu. Dan aku berharap bayi yang kamu lahirkan nanti perempuan. Dan bukan laki-laki, karena aku tidak mau bersaing dengan adik tiri ku" ungkap Leon beranjak berdiri untuk meminta dibuatkan jus sirsak pada asisten rumah tangganya.
Lalu tak lama Leon datang membawa jus buahnya itu.
"Aku sengaja membuat nya tidak terlalu manis juga dengan es sedikit. Karena aku takut bayinya diabetes dan batuk pilek didalam perut" kata Leon tampak meledek Tanisa yang kaku seperti kanebo kering.
Lalu tampak Tanisa yang meminumnya langsung segelas habis dan ia meminum nya dengan cepat.
"Kamu haus apa doyan" tawa Leon kepada kekasih papanya.
Lalu tak lama tampak Dea datang dengan langkah kaki yang cepat sedang mencari berkas kuliah nya yang tertinggal dirumah.
"Le, kamu liat gak sih berkas Kakak yang di map coklat" ucap Dea yang tampak tak sadar bila ada tamu dirumahnya. Ia masih tampak mencari map yang entah apa isinya.
Seketika saat Dea menengok ia baru tersadar bahwa ada wanita yang sedang duduk dan ia tampak heran.
"Eh siapa nih" kata Dea tampak heran dengan wanita yang tampak cantik dihadapannya yang sedang duduk.
Lalu tak lama tampak Deon keluar dari kamar istrinya, dan Dea tampak melihat papanya yang memang ia tunggu.
Sontak Dea pun senang dengan kehadiran sang papa yang memang ia sangat tunggu akan kedatangannya.
"Ya ampun papa kemana aja sih, aku rindu. Papa jangan pergi lagi, tetap disini bersama kita. Aku sangat rindu papa" ucap Dea memeluk sang dengan erat. Dea memang manja bila berada didekat papa.
Deon pun menyambut pelukan hangat dari sang putrinya.
"Papa tahu?" Kata Dea.
__ADS_1
"Apa?" Tanya Deon.
"Gavino menyetujui perjodohan antara aku dan dia"
Deg ...
Seketika Tanisa yang sedang duduk itu pun langsung kaget dengan ucapan Dea yang menyebut nama Gavino dihadpannya kini.
Tanisa merasa sakit yang secara tiba-tiba di hatinya, air matanya tampak ingin ia jatuhkan namun lagi-lagi ia menahannya.
Tanisa pun hanya tampak menangis didalam hatinya, menahan kepiluan yang begitu mendalam. Dengan hati yang sakit Tanisa tampak mencoba tegar, walau matanya tampak memerah.
"Duduklah dulu nanti kita akan bahas ini, berdua saja. Apalagi tentang masalah pernikahan mu dengan siapa namanya?" Tanya Deon pura-pura tak kenal.
"Gavino papa"
"Iya dia.." jawab Dea.
Lalu Dea pun duduk bersama papanya, dan ia pun hampir lupa menanyakan siapa wanita yang sedang itu.
"Pah dia siapa?" Tanya Dea. "Apa dia pacarnya Leon"
"Papa hampir lupa bilang sama kamu, dia Tanisa. Dia namanya Tanisa"
Seketika hati Dea pun tampak kaget dengan nama Tanisa yang disebut itu. Gavino memang pernah membahas wanita yang bernama Tanisa, mungkin kah itu dia orangnya.
Seketika Dea pun memandang Tanisa sinis dan tajam.
"Lalu kenapa dia disini"
"Papa sebenarnya ingin menjelaskan bahwa wanita ini yang akan jadikan istri baru papa"
"Apa?? Papa sudah tak sayang lagi sama kita sampai seperti ini"
__ADS_1
"Papa tidak bisa meninggalkan kan dia Dea. Papa mohon pahami"
Seketika Dea pun tampak terdiam dan memandang Tanisa lagi.