
Tak lama setelah itu, Lusi tampak masuk kedalam kamarnya, mandi dan mengganti pakaiannya. Lalu memandang dirinya didepan cermin. Melihat dirinya dan memastikan masih terlihat Cantik.
Ia tak paham mengapa suaminya demikian sebegitunya. Dalam batin Lusi, Lusi merasa jika Rian memiliki seseorang wanita dihatinya. Lusi pun tampak menghela napasnya.
Lalu tak lama Rian datang. Dan melihat Lusi yang sedang bercermin.
"Sedang apa kamu?" Tanya Rian.
"Duduk aja lihat-lihat wajah aku takut udah gak layak untuk dipandang" ucap Lusi yang terasa menyindir.
"Maksudnya kamu apa sih?"
"Memastikan diri. Kalau aku masih layak untuk dicintai"
"Lusi, kamu masih cantik gak jelek. Dan masih layak juga untuk dicintai"
"Terus kalung itu?" Ucap Lusi penuh penegasan.
"Masih aja kamu bahas. Kalung itu masih ada kok" ucap Rian yang memeluk Lusi dari belakang. Dan mencium area belakang lehernya.
"Mana?"
"Ketinggalan di meja kerja"
"Jangan bohong"
"Gak bohong.. besok aku bawa"
"Beneran?"
"Iya"
Lalu Rian pun tampak menarik wajah Lusi dan mencium bibirnya.
"Ciuman dari aku lebih berharga bukan dari sekedar kalung itu" ucap Rian.
"Halah" ucap Lusi. "Sudah ya aku udah mandi jangan bikin mandi wajib lagi"
Rian hanya tampak tersenyum.
.
.
Dan tak lama Ayah dan Ibu pun datang, menemui Lusi. Lalu memeluk anaknya sebagai ungkapan rasa kangen.
"Ibu dengar kamu hamil lagi" ucap Ibu merangkul putrinya.
"Iya Bu" ucap Lusi.
"Wah, selamat ya. Ibu senang akan memiliki cucu lagi. Tapi.. ibu lihat kamu seperti murung" ucap Ibu yang melihat Lusi yang kali ini seperti tak bersemangat.
Lusi pun tampak menghela napasnya dan memeluk ibunya.
"Aku gak tahu ya Bu. Kenapa aku merasa kalau Rian itu gak setia" ucap Lusi.
__ADS_1
Kali ini Ibu yang tampak menghela napasnya.
"Kamu tahu, setiap rumah tangga pasti ada ujiannya. Semua masalah akan datang silih berganti" ucap Ibu.
"Aku merasa kalau Rian selingkuh" ucap Lusi
"Kamu yakin dia selingkuh"
"Sepertinya sih Bu"
"Hemm, coba kamu selidiki dulu"
"Terus kalau ternyata selingkuh" ucap Lusi.
"Ibu yang akan kasih pelajaran. Tapi kamu jangan suudzon dulu ya. Siapa tahu nggak"
"Ya, mudah-mudahan aja enggak ya Bu" ucap Lusi duduk sambil melamun.
Lalu Ibu pun tampak menggendong Fabio. Sambil menimang-nimang cucu pertamanya itu. Sementara Ayah sedang mengbrol di depan dengan Rian.
Dan, Ayah Ibu pun menginap malam ini dirumah Rian dan Lusi yang berada di Jakarta.
.
.
.
.
Namun, seperti biasa juga Rian tampak sibuk dan segera berangkat. Padahal waktu masih lumayan pagi. Yaitu jam 06.00 pagi.
Lusi pun hanya memandang Rian tanpa berkomentar apapun.
Tak lama Rian pun berpamitan untuk berangkat kerja. Lusi pun tampak mengantarnya sampai pintu depan.
Dan setelah itu, Lusi kembali menemui ibunya. Terlihat ibu yang sedang membuat kan sarapan. Meskipun dirumah Lusi sudah ada assiten rumah tangga. Namun tetap saja Ibu membantu untuk memasak sarapan pagi. Ah Ibu ini terlalu rajin.
"Suami kamu kerja rajin amat jam segini udah berangkat" ucap Ibu.
"Ya begitulah" ucap Lusi.
"Mau ngapain dia disana pagi-pagi"
"Kerjain yang gak seharusnya dikerjain kali Bu"
"Ngapain?"
"Gak tahu Bu. Nyabutin rumput kali Bu" ucap Lusi.
"Rumput siapa?"
"Rumput tetangga"
"Padahal dia kan bossnya, ngapain pagi-pagi udah jalan kerja" gerutu Ibu.
__ADS_1
Lalu tampak ayah yang tiba-tiba menyahuti.
"Ya Jakarta itu kan macet bu. Mungkin Rian gak mau telat kali Bu" ucap Ayah yang positif thinking. "Ibu kalau sama menantu jangan curigaan melulu. Kasian Lusi lagi hamil mikirnya kemana-mana?"
"Ibu cuma takut aja" ucap Ibu.
"Takut kenapa?" Tanya ayah.
"Rian genit seperti Ayah yang banyak kenalannya waktu muda"
"Itu bukan kenalan ibu. Tapi hanya teman dan pergaulan aja" ucap Ayah.
"Iya Ayah inget gak, muda nya Ayah. Ibu itu sering mengelus dada. Karena banyak teman wanitanya"
"Ayah juga sering kok mengelus dada. Kalau ibu lagi ngambek"
"Ibu juga ngambek kan karena Ayah"
"Tapi ngambeknya ibu ngerepotin Ayah. Masa disuruh puasa sebulan"
"Rasain aja Ayah makanya jangan genit. Ibu kan cemburu"
"Cemburu boleh Bu. Tapi cemburu ibu sangat sadis"
Lusi pun tampak tersenyum melihat orangtuanya kali ini tampak berkelahi mengurusi hal yang pernah terjadi. Namun malah terlihat sangat romantis.
"Sudah sudah Ayah dan Ibu ini jadi lucu. Seperti anak muda pacaran lagi" ucap Lusi.
"Iya, kita memang seperti orang pacaran kan Bu. Berduaan terus. Lusi sudah nikah. Lisa juga kuliah diJakarta. Kita berduaan aja di Bandung serasa pacaran" ucap Ayah merangkul Ibu. "Mau tahu gak, kenapa Ayah mau nikahin ibu kamu?" Tanya Ayah.
"Kenapa?" Ucap Lusi penasaran sambil tersenyum.
"Karena Ayah yakin. Kalau ayah punya anak perempuan dari ibu kamu. Anaknya akan cantik, Soleha, baik hati, penurut, penyabar dan penyanyang. Persis seperti Ibu. Ternyata bener kan. Anak ayah cantik semua"
Ibu pun tampak tersenyum mendapat pujian dari Ayah.
"Cieee" ucap Lusi tersenyum.
"Tapi sayangnya satu, kekurangan ibu kamu" ucap Ayah lagi
"Apa?" Tanya Lusi.
"Cerewetnya seperti kaleng rombeng. Untung kamu gak terlalu cerewet Lusi. Walaupun Lisa cerewet nurunin ibunya" ucap Ayah.
Ibu mencubit pinggang Ayah.
Ayah pun tampak tertawa melihat ibu yang tampak kesal namun malu-malu.
"Udah Bu, jangan marah terus ya sama Ayah. Kalau marah tambah cantik" ucap Ayah.
Lusi pun hanya tampak tersenyum.
"Pantesan aja Ibu mau sama Ayah, rayuan Ayah maut juga ternyata" ucap Lusi.
Lalu Ayah pun tampak memeluk sang ibu.
__ADS_1
Lusi pun tampak senang melihat Ayah dan Ibu yang hubungan yang sangat harmonis itu. Lusi pun tampak memandang Ayah dan Ibu. Berharap kelak pernikahan dirinya dengan Rian. Selalu tampak langgeng seperti pernikahan Ayah dan Ibunya.