
Hari itu, terlihat Marisa yang tampak sebal melihat kelakuan Gery yang masih selonong boy dirumahnya. Padahal jelas jelas dia sudah diusir dari rumah papa. Marisa pun tampak menatap sebal melihatnya.
"Gue bakal aduin sama papa kalau lu udah buat celaka istri orang" celetuk Marisa.
"Apa? Lu bilang. Aduin saja sono. Gue gak takut. Toh Lusi aja gak marah sama gue. Temen lu aja. Si Juna yang sok jadi pahlawan kesiangan" ungkap Gery.
"Lu jadi orang gak punya hati gak ada belas kasihan sama sekali" ucap Marisa kesal. "Lu akan nyesel seumur hidup lu"
"Lu lihat aja tar seperti apa jadinya. Siapa yang benar-benar merasa butuh gua" ucap Gery santai.
Beberapa saat kemudian, tak sampai 30 menit. Seseorang datang. Suara bel berbunyi dirumah besar itu. Dan tampak seorang asisten rumah tangga membukan pintu.
Dan saat dicek itu adalah Lusi yang datang.
Lusi pun berat sekali untuk melangkah. Namun ia tetap melangkah kan kaki nya sampai yang kini tampak Gery dihadapannya.
Gery pun sontak berdiri dan kaget melihat seorang wanita yang ia suka berada dihadapannya.
Tanpa butuh waktu yang lama, Lusi pun meminta untuk Gery segera menikahi Liana.
"Aku mohon padamu nikahi Liana. Dia sekarang sedang terbaring lemah dirumah sakit" ucap seraya memohon.
"Gak bisa, lu harus jongkok dan pegang kaki gue baru gua mau"
"Tapi?"
"Yaudah gue gak mau"
"Oke" ucap Lusi hanya duduk dibawah kaki Gery.
"Aku hanya meminta, bukan berati menyembah. Ini hanya syarat jadi aku mohon kamu nikahi Liana" ucap Lusi memegang kaki Gery terpaksa.
"Lusi, kamu gila apa yang kamu lakukan dibawah kaki pria sialan ini" Marisa tampak menyuruh Lusi untuk bangun.
"Jangan ganggu dia Marisa" Gery tampak tak ingin diganggu dengan keadaan Lusi yang masih di bawah kakinya.
"Jadi kamu yakin"tanya Gery.
"Iya aku yakin" jawab Lusi singkat.
"Gak nyesel" tanyanya lagi.
"Tidak" jawab Lusi.
"Dan satu lagi, janji gak nuntut apapun lagi soal aku yang udah buat kamu jatuh dari tangga dan suami kamu yang babak belur karena aku" ucap Gery yang menatap Lusi pun senyuman menyeringai.
Lusi pun tampak mengangguk.
"Kalau gitu bangunlah" Tutur Gery, memegang tangan Lusi untuk bangun. Dengan mata yang menatap tajam pada Lusi.
"Yang kamu lakuin bukan hanya ini. Tapi ada satu lagi" ucap Gery menambahkan.
__ADS_1
"Apa?" Ucap Lusi dengan mata yang merah.
"Semua urusan pernikahan dari mulai baju, undangan, catering dan segala macamnya Kamu harus ikut serta. Kamu harus menjadi WO dalam pernikahan ku. Aku mau kamu yang urus itu semua"pinta Gery.
"Tapi aku tidak bisa, aku tidak pernah jadi WO sebelumnya" tolak Lusi.
"Oh kalau gitu gagal" ucap Gery.
"Ja-jangan. Aku mohon jangan. Semua akan aku bantu sesuai apa yang kamu mau. Aku akan membiayai semua dan membayar WO profesional untuk mengurus pernikahan kamu dan Liana"jelas Lusi.
"Dasar bodoh, bukan itu yang aku mau. Aku maunya kamu yang urus! Bukan orang lain" seru Gery dengan suara meninggi.
"Tapi?"
"Oh tapi apa? Kamu mau semua jadi batal"
"Baiklah, aku akan mengurus semuanya" ucap Lusi yang terlihat pasrah.
"Bagus. Dan satu lagi. Aku masih ada uang kan 200 juta yang bokap kamu pinjem. Nah pakai uang itu. Untuk semua masalah pernikahan. Akan aku infokan mulai tanggal, kapan, dan dimana tempatnya. Sekarang kamu boleh pulang" ucap Gery.
"Ya, aku tunggu kamu segera untuk menemui Liana" ucap Lusi beranjak pergi.
"Ingatlah Lusi. Jika bukan karena kamu. Aku tidak mau menikahi Liana sama sekali" jelas Gery sambil menatap Lusi yang pulang tanpa pamit itu.
Lusi pun pergi dan pulang kerumah.
Keesokan harinya, Lusi pun kembali menemui Liana yang masih berada dirumah sakit. Beruntung Liana sudah sadar, dan Lusi tampak melihat Gery yang sudah berada disamping Liana. Gery pun tampak membelai rambut Liana. Liana pun tampak menyambut Gery yang berada disampingnya. Tentunya dengan senyuman yang merekah diwajah Liana ketika itu.
"Kamu kenapa gak masuk" tanya Renata.
"Gak ma" jawab Lusi sambil menggeleng.
"Terimakasih banyak kamu sudah berkorban banyak untuk Liana. Mama mungkin salah sudah memaksa. Mama juga minta maaf karena mama tidak memikirkan perasaanmu. Harusnya mama lebih peka untuk kamu. Mama tidak mengedepankan ego mama. Saat itu, Mama hanya tidak tahu harus bagaimana menjaga Liana. Yang penuh kenekatan dengan mengakhiri hidupnya" jelas Renata.
"Sudah Ma, tidak usah diteruskan. Sekarang yang paling penting Liana baik-baik saja"ungkap Lusi.
"Kamu tidak mau masuk dulu" pinta Renata.
"Tidak usah ma, aku sudah ditunggu Rey dirumah. Aku hanya ingin memastikan kalau Gery benar datang untuk Liana"ucap Lusi.
"Untuk pernikahannya Gery kapan?" tanya mama lagi.
"Untuk soal itu, mama bisa tanyakan langsung ke Gery dan Liana. Mereka yang lebih tahu soal itu"
"Untuk acaranya akan dibuat dua sesi" ucap Gery tiba-tiba.
Keduanya pun tampak menengok. Kaget mendengar suara Gery yang tiba-tiba. Dan sudah ada berada dihadapan keduanya kini.
"Kamu kok disini sejak kapan?" tanya Lusi
"Kenapa? Kaget? Makanya kalau mau ngbrol masuk. Jangan didepan pintu apalagi bisik-bisik" sindir Gery.
__ADS_1
"Kebetulan kami tak ingin menganggu kalian berdua" ucap Renata.
"Baiklah, Oh ya tadi tante tanya apa? Soal pernikahan ya. Tadi aku dengar tante bicara soal pernikahan. Baiklah kalau gitu aku akan beritahu pada tante dan Lusi juga. Bahwa untuk akad akan dilaksanakan dijakarta pada pagi harinya. Dan untuk resepsinya akan dilaksanakan pada malam hari disemarang" ungkap Gery.
"Tanggal berapa" tanya Renata
"Tanggal masih saya pikirkan dilaksanakan, intinya dihari yang sama" ucap Gery.
"Di hari yang sama" tanya Renata heran.
"Semua sudah aku pikirkan bahwa. Dan Lusi harus ikut sampai acara selesai"
"Apa? Aku tidak mau, jika harus ikut kamu ke Semarang" ungkap Lusi menolak.
" Lusi jangan lupa kamu adalah weding organizer di pernikahan ku nanti. Aku tidak ingin kamu menolak. Itu janji kamu kan" ucap Gery menatap Lusi.
Lusi pun tampak terdiam sambil menghela napasnya. Lusi seakan keberatan dengan hal tersebut.
Lalu Gery pun menatap Lusi.
"Kalau kamu masih berfikir menolak. Aku tidak jadi menikahi Liana" ancam Gery lagi.
"Iya. Akan aku atur juga soal itu. Aku ikut" jawab Lusi tampak pasrah.
"Nah, gitu dong ini baru sesuai janji" ucap Gery.
"Kamu mau masuk" ucap Gery seraya menyuruh Lusi masuk.
"Gak usah Gery, aku udah ditunggu sama anak ku dirumah" ucap Lusi pergi.
Lalu setelah itu Lusi pun pulang. Karena Lusi memang Fabio dirumah. Kini hanya Renata dan Gery.
"Gery kenapa kamu sangat terobsesi dengan menantu saya" ucap Renata menatap Gery tajam. Kali ini Renata penasaran.
"Tidak juga"
"Lalu kenapa kamu melakukan hal tak senonoh dengan mencoba melecehkannya" ungkap Renata dengan nada tak biasa.
"Tidak"
"Jangan bohong"ucap Renata dengan tatapan tajamnya.
"Sekarang bukan siapa yang salah. Tapi menantu anda yang sering memakai pakaian seksi dihadapan saya" jawab Gery.
"Lusi tidak pernah memakai pakaian seksi" ungkap Liana dengan tegas.
"Itu kalau didepan tante, didepan saya beda lagi. Dia kalau didepan saya seperti sengaja memakai baju seksi. Sekarang mana ada sih, kucing dikasih ikan tidak tertarik. Dan mana mungkin saya lihat paha dan belahan tidak tergoda" ucap Gery mulai memutar balikan fakta yang ada.
Renata pun tampak menatap tajam kesal Gery.
"Sekarang terserah tante mau percaya pada siapa? Mau percaya saya atau Lusi terserah. Intinya sebelum tante memperbaiki diri saya. Perbaiki dulu menantu tante Lusi itu Siapa tahu bukan saya yang salah. Tapi memang menantu tante yang sengaja memakai pakaian seksi dihadapan saya" ucap Gery tersenyum. Karena Renata mulai terpengaruh dengan omongan Renata kali ini. Renata pun malah tampak sebal kepada Lusi. "Sekarang logika saja tante. Saya single, ganteng, banyak duit, anak orang kaya. Masa iya suka sama istri orang. Yang jelas sudah tak gadis lagi. Bayangkan Tante wanita cantik itu banyak bukan cuma Lusi. Apa lagi Lusi sudah punya anak. Biar gini gini, saya lebih baik milih yang lain ketimbang memilih istri dari sahabat saya sendiri. Sekarang ada bukti gak kalau saya melecehkan menantu anda. Mana bukti gak ada kan" ungkap Gery menjelaskan agar Renata percaya bahwa dirinya tak seratus persen bersalah.
__ADS_1
Renata pun hanya tampak terdiam. Lalu memikirkan apa yang dikatakan Gery. Mungkin memang ada benarnya. Dan berfikir mungkin juga itu bukan kesalahan dari Gery. Tapi Lusi yang memang suka memakai pakaian seksi didepan laki-laki lain.