
Lalu saat itu Leon pun tampak memandang wajah Tanisa dengan ketulusan, cinta dan kasih sayang.
Tanisa tampak menggelengkan kepalanya. Seolah apa yang Leon lakukan bukan karena Leon menyayangi melainkan hanya rasa kasihan pada Tanisa. Tanisa pun tampak menggelengkan kepalanya.
"Jangan, jangan Leon. Aku tidak bisa hidup dengan mu. Aku tidak bisa. Aku sudah banyak merepotkan dirimu tak sepatutnya kamu berkorban untuk mu"
"Tapi aku sama sekali tak keberatan, aku sebenarnya sangat men-"
"Sebentar aku mual"
Ucapan Leon yang ingin menyatakan cinta itu pun terpotong oleh ucapan Tanisa yang tiba-tiba ia mual. Padahal Leon sangat ingin mengatakan cinta pada Tanisa.
"Uuueeekkkk"
Dan benar tiba-tiba Tanisa tampak muntah dan membuat baju yang Tanisa pakai pun tampak basah oleh muntahannya. Leon pun tampak panik melihat Tanisa yang muntah itu.
"Kamu gak apa-apa, ya ampun" Leon panik sambil mengambil tisu mengelap dan mengelap dibaju Tanisa dan mulut nya.
"Aku mual Leon, aku gak kuat" kata Tanisa. "Maaf"
"Sebentar aku akan ambilkan baju ganti untukmu dirumah"
"Tidak usah, aku tidak mau tinggal sendirian"
"Baiklah aku akan tetap temani mu, ada baju milik ku dimobil kamu bisa pakai, sebentar aku akan mengambilnya" lalu Leon pun pergi meninggalkan Tanisa. Dan mengambil baju yang berada di mobilnya.
Dengan cepat Leon kembali dan memberikan baju miliknya untuk dipakai oleh Tanisa. Leon tampak memberikan kaos miliknya.
"Pakai bajuku, ini mungkin kebesaran tapi gak apa-apa. Kamu pun lagi hamil jadi gak apa-apa pakai baju besar. Aku tidak membantu mu mohon maaf. Apa aku panggil suster untuk membantu mu mengganti baju" kata Leon.
"Tidak perlu, aku bisa memakainya sendiri"
__ADS_1
"Baiklah"
"Leon kepala ku pusing kita bahas lagi besok ya yang kamu mau bahas apa tadi?"
"Iya udah besok saja. Ya kamu istirahatlah"
Lalu setelah Tanisa mengganti baju, Leon pun masuk kedalam dan melihat Tanisa yang sudah berganti baju milik Leon. Tanisa pun tampak terbaring dan memejamkan mata. Padahal makanan itu baru saja ia makan namun keluar lagi. Leon pun tampak masuk lagi ke dalam dan memperhatikan Tanisa. Dibalik Tanisa yang tampak memejamkan mata terlihat Leon yang memperhatikan.
"Tanisa kamu cantik sekali, aku senang kamu memakai baju ku.. semoga baju ku dapat menghangatkan mu"
Tanisa pun tampak tertidur.
"Tidurlah" ucap Leon sembari merapihkan selimut itu dibadan Tanisa.
Leon tak pernah sekalipun peduli pada seorang wanita, setelah kehilangan pacarnya yang dulu meninggal karena sakit. Baru kali ini lagi, ia kembali membuka hatinya pada satu wanita namun ternyata itu adalah calon ibu tirinya sendiri. Melihat Tanisa yang sakit seperti itu, membuat Leon teringat akan kekasihnya yang dulu meninggalkan dirinya diusianya yang masih remaja yakni 18 tahun. Perasaan Leon begitu perih kehilangan kekasihnya saat itu. Leon tampak kehilangan arah dan tujuan. Semenjak kepergian wanitanya itu Leon tampak tak pernah lagi membuka hatinya pada wanita manapun karena perasaan yang ia miliki hanya untuk satu wanita yang pergi untuk selamanya itu yaitu yang bernama Alya.
Kini perasaan cintanya itu kembali ada dan bersemayam dihatinya. Namun semua terasa dimana posisi sulit yaitu mencintai calon istri ayahnya sendiri. Leon pun merasa sedih akan hal itu. Sekarang Leon tidak menyalahkan ayahnya menikah lagi, namun Leon lebih menyalahkan ayahnya mengapa menikahi wanita yang kini ia cintai.
"Tanisa aku mencintai mu, Tanisa aku mencintaimu" ucap Leon pelan. Ya, kata-kata itulah yang sebenarnya ingin sekali Leon utarakan pada wanita muda yang tertidur dihadapannya kini.
"Hallo pa?" Ucap Leon ditelpon.
"Dimana kamu!!??" Tanya Deon dengan nada kesal.
"Dirumah sakit, Tanisa sakit pa jadi aku membawanya ke rumah sakit" ucap Leon.
"Beraninya kamu membawa dia ke rumah sakit tanpa seijin ku!!!!!" Kata Deon dengan suara keras dan marah.
"Pa, Tanisa sakit. Tak mungkin aku membiarkan dirinya, aku tidak mau dia sakit. Dia bisa mati, kalau papa siksa terus. Dia jadi sakit gara-gara papa"
"Anak kurang ajar" ucap Deon kesal dan langsung mematikan telepon itu.
__ADS_1
Tut. Tut. Tut .
Sungguh malang nasib mu Tanisa bahkan kamu memiliki calon suami yang tampak sangat egois dan tak mempedulikan mu. Betapa bodohnya papa membiarkan dirimu begini Tanisa batin Leon.
Tiba-tiba Tanisa membuka matanya dan melihat Leon yang kini berada depannya.
"Leon maaf aku ketiduran" ucap Tanisa lemah.
"Ya gak apa-apa"
"Tadi aku dengar ada telepon berdering siapa yang telepon" tanya Tanisa.
"Papa"jawab Leon.
"Pasti dia marah" ungkap Tanisa.
"Iya" jawab Leon singkat.
Lalu Tanisa pun terdiam.
"Kenapa diam" tanya Leon.
"Sedih"
"Kenapa sedih"
"Gak tahu aku sedih aja. Disaat aku sakit, papa mu bukan khawatir tapi malah marah saat keadaan ku seperti ini. Andai papa mu seperti kamu, baik padaku, tapi itu hanya mimpi bagiku. Karena tidak mungkin ada pria yang baik dengan wanita murahan seperti aku" jawab Tanisa dengan perasaan sedih.
"Apa maksudnya kamu murahan"
"Tidak lupakan saja"
__ADS_1
Tanisa pun tampak menjatuhkan air matanya lalu menghapusnya.
"Yaudah kamu gak usah pikirin papa ada aku, tenang saja" ucap Leon menenangkan Tanisa.