
harap bijak membaca. Anak kecil pulang aja jangan mampir ke Bab ini. (dosa tanggung sendiri, jangan ikutin bab ini yang belum dewasa. kalau otornya sih ga apa-apa kan udah dewasa)
.
.
Lalu dengan cepat Tanisa ditarik tangan dan dipaksa untuk melayaninya. Tanisa tampak menolak hatinya bergejolak. Tampak tak mampu dan tak sudi melakukan hal kotor pada dirinya. Meski ia tahu bahwa dirinya juga sudah kotor.
Tanisa ditarik di hadapan. Ternyata pria yang Tanisa anggap pria tua itu sangat kuat untuk menarik tubuhnya dengan kasar. Tanisa tampak ditarik dan didorong ke dinding dan dipaksa untuk melakukan ciuman panas. Pria itu membuka paksa mulut Tanisa membuka mulutnya. Sehingga ia dapat memainkan lidahnya dan menerobos masuk ke dalam dinding mulut wanita cantik yang masih muda itu. Pria tua itu juga mengisap mulut Tanisa hingga Tanisa tampak kehabisan napas saat ciuman panas itu berlangsung. Meskipun tua ternyata dia sangat memiliki gairah yang sangat kuat dan luar biasa terhadap dirinya. Mungkin baru kali ini ia merasakan menikmati gadis muda dengan perbedaan umur yaitu 25 tahun. Pria yang Marisa anggap tua itu berumur 44 tahun.
Pria tua itu ternyata sudah lama rupanya ditinggal pergi oleh istrinya. Kini hasrat terpendam dalam dirinya yang sudah ia tumpuk sekian lamannya ia menumpahkan semuanya pada Tanisa. Tanisa tampak tak kuasa, tangan kekar pria tua itu mencengkram tubuh Tanisa sehingga Tanisa kesulitan untuk bergerak. Hasrat seolah diubun-ubun membuat Tanisa tampak seperti mangsanya. Dan dia dengan buasnya memangsa wanita itu.
Pria tua itu tampak mencium dan menggigit bibir Tanisa dengan kasar. Dan Tanisa baru kali merasakan bahwa ada pria tua yang seganas ini. Meski bagi Tanisa dia adalah pria tua. Namun tidak untuk tubuhnya yang terlihat kekar.
"Saya akan mengajarkan arti cinta yang sesungguhnya padamu. Aku suka pada mu, kau sangat cantik. Puaskan lah aku sayang, kita main malam ini" ungkap pria itu memegang Tanisa kuat.
Sedih hati Tanisa melayani pria yang mungkin saja usianya seperti usia papanya yang telah almarhum. Batin Tanisa terasa menangis sehingga air matanya pun ikut jatuh dan tumpah. Namun setiap air mata yang jatuh dan tumpah tampak nya pria itu tidak peduli ia terus saja mencium dan kini tangannya mulai berlanjut ke bagian bawah yaitu dada milik Tanisa. Tangan pria itu memasukan tangan nya masuk kedalam baju Tanisa dan memegang bagian dada kembarnya.
Lalu pria itu memainkan lidahnya dan mulutnya dan mengisap bagian dada itu. Tanisa dan tampak berusaha untuk melepaskan diri. Pria itu suka sekali pada wangi dari tubuh Tanisa yang seolah candu. Ditambah harum tubuh Tanisa yang sehabis mandi membuat pria itu semakin dimabuk kepayang.
Tangan pria itu memainkan perannya terus menerus kepada dua gunung kembar yang cukup besar bagi dirinya untuk memegang nya dan memutarnya. Dan dengan cepat berhasil merobek semua bagian baju itu. Kini Tanisa tampak tak utuh lagi menggunakan baju.
Dan dengan cepat pria itu memainkan perannya.
Pria enjatuhkan Tanisa ke kasurnya.
BUUUGG
__ADS_1
"Kamu mau dengan cara halus atau kasar" ucapnya dengan mata tajam yang memicing.
"Aku tidak bisa. Aku tidak mencintai mu" ungkap Tanisa.
Tanisa pun tampak ditampar kasar.
Plaakkk...
"Aku tidak suka kamu bicara cinta lagi, mulai malam ini anggap kita saling mencintai satu sama lain, saayaang" ucap pria itu yang langsung membuka celananya dan langsung mengeluarkan benda pusaka yang sudah tampak tegak itu.
Mata Tanisa tampak membulat saat pria itu dengan cepat memberikannya ke wajah Tanisa. Tanpa berfikir panjang pria itu membuka semua yang Tanisa kenakan. Kini Tanisa tampak tak memakai sehelai benang pun. Dan pria itu langsung menunggangi Tanisa layaknya kuda tidak peduli Tanisa mau menerima atau tidak. Ia memasukan semua miliknya begitu dalam dan tangan Tanisa tampak dipegang kuat. Selama benda pusaka itu masuk kedalam bagian itu.Mata pria itu menatap wajah Tanisa.
"Tidak ada cinta didunia ini. Yang ada hanyalah nafsu"ucap pria itu memegang kuat Tanisa.
"Jika tidak ada. Lalu aku terlahir dari mana jika bukan dari cinta" ungkap Tanisa masih dengan air mata yang mengalir.
Dengan cepat pria itu kembali mencium bibir Tanisa dengan kuat dan gemas. Dan tangan nya mengunci tangan Tanisa dan Tanisa tidak bisa berkutik. Pria itu terus menggoyangkan pinggangnya maju dan mundur Tanisa tampak tak bisa lepas. tubuhnya yang berhasil membuat tubuh Tanisa terkunci.
Tanisa begitu merasakan benda miliknya yang tak kalah besar dengan milik Gavino berada didalam nya itu. Pria itu terus memaju mundurkan itunya sambil menciumi bibir Tanisa dengan ganas.
Dan....
Saat pria itu sudah pada puncaknya, pria itu menyemburkan isi dari benda pusaka berupa cairan kental yang masuk kedalam bagian dalam Tanisa. Tanisa pun merasakan cairan hangat itu. Yang masuk kedalam dirinya tanpa pengaman itu. Tanisa merasakannya dan pria itu pun mengerang hebat.
"Aaarrghhhhhh" erangan panjang pria itu yang tampak terdengar jelas ditelinga Tanisa .
Malam itu adalah malam sangat panjang untuk Tanisa.
__ADS_1
"Pak tolong lepaskan saya" pinta Marisa lirih.
"Oh tidak bisa, kita lakukan ini sampai pagi"
Tubuh Tanisa terus-menerus dijadikan pelampiasan pria itu. Hingga beberapa kali dan berulang.
Tanisa tampak menolak namun pria itu masih saja terus menerus memakai tubuh Tanisa dan terus melakukan itu secara berulang. Tanisa tidak tahu sudah berapa kali pria itu menyemburkan air kental itu kedalam miliknya. Karena mereka main hingga beberapa ronde. Pria itu tampak tak lelah sedikit pun. Beda dengan Tanisa yang hampir menyerah dan sangat lelah meladeni pria itu.
Suara erangan demi erangan terdengar jelas dikamar itu.
Hati Tanisa tampak pilu. Sebagai wanita bayaran ia tahu jika dia ada untuk memuaskan dan menuntaskan hasrat pria. Namun ia pun benci disaat tidak semua orang menggap bahwa dirinya adalah manusia. Yang memiliki hati dan perasaan.
Dan hanya menganggap dirinya seperti boneka yang seolah tak bernyawa. Semua terasa menyakitkan saat diri Tania ditarik sana. Banting sana, banting sini. Tak melihat seberapa diri Tanisa merasa sakit juga merasa kecewa atas semua perlakuannya. Tak melihat Tanisa suka atau tidak dengan caranya. Mereka hanya menggap jika dengan dia membayar semuannya habis perkara sudah. Tanpa peduli perasaan Tanisa. Dan tanpa peduli pria itu yang mungkin sudah menaruh benih dalam dirinya.
Ya.. ya mungkin saja benih yang ditaruh sembarangan itu akan hidup. Yang mungkin saja benih yang ia keluarkan hanya atas dasar nafsu belaka, akan tumbuh. Tanisa pilu akan hal itu. Tak pernah ia harapkan jika suatu hari ia mungkin saja hamil. Dan dia pasti jelas akan bingung atas siapa dia hamil. Pria mana dan siapa Ayahnya. Tanisa tak tahu jika hal itu terjadi.
Setelah selesai tubuh Tanisa tampak ambruk seperti hatinya yang kini merasa semakin hancur. Tanisa terbaring di ranjang tanpa sehelai benang pun. Tanisa tampak kelelahan dengan keringat yang tampak bercucuran. Tubuh Tanisa terasa tampak lelah dan begitu sakit. Pria itu pun menatap Tanisa tajam.
"Inilah yang disebut cinta" ucapnya sekali lagi.
Tanisa pun tampak terdiam tak menjawab sambil memejamkan mata menahan rasa keperihan dihati.
Pria itu pun melemparkan uang lembar ratusan ribu itu kepada Tanisa. Yang entah berapa jumlahnya Tanisa tampak tak tahu.
Tanisa pun tak mampu menahan air matanya. Menangis, seperti anak kecil sambil terisak. Dirinya jika ingin mengadu rasanya ingin sekali mengadu semuanya, namun pada siapa. Dirinya sendirian dan tak ada yang peduli sama sekali. Dia tak tahu, semuanya sangat berat untuk nya. Hidup dalam kesengsaraan dikekang dan penuh tekanan yang mungkin tak berujung. Ya hanya maut yang dapat melepaskan semua kepedihan yang Tanisa rasakan. Jika Tanisa bisa memilih mungkin Tanisa lebih baik mati. Dan tak mau dilahirkan, Ketimbang hidup penuh liku-liku dan penuh siksaan. Dan juga penuh akan derai air mata.
Seketika Tanisa ingat bahwa besok adalah ulang tahun dirinya. Dimana Tanisa sangat ingin menikmati hari ulang tahunnya itu bersama Gavino namun itu hanyalah mimpi yang takan pernah menjadi nyata.
__ADS_1