
Pagi hari yang tampak cerah. Namun tak secerah hati seorang insan yang bernama Tanisa.
Hidup mendera pedih dan tak kunjung usai. Merasakan pahit dan pilu yang berkepanjangan.
Akankah semua akan berakhir. Atau semua tak akan berakhir. Kemana Tanisa melangkah seolah semua sama.
Tetap kepedihan yang mendera tak ada beda. Dan tetap sakit yang akan dirasa.
Pagi hari ..
Tampak Tanisa yang masih tertidur dibawah sedangkan kasur empuk diapartemt itu tampak menganggur tak diisi oleh siapa-siapa. Deon juga tak mau tidur diatas kasur itu. Ia tak merasa pantas jika Tanisa tidur dibawah sementara dirinya tidur enak diatas kasur. Dan putranya tampak tertidur diatas sofa dekat kasur itu.
Seketika Deon terbangun lebih dulu namun ia langsung mandi tak membangun kan Tanisa atau putranya itu. Sehingga meninggalkan Tanisa dan Leon yang ada di sana. Berdua saja.
Leon pun seketika terbangun, membuka matanya dan kaget tak ada orang diatas kasur itu. Dan malah melihat Tanisa yang tampak tidur diatas lantai sendirian. Sontak itu membuat dirinya berfikir bahwa Tanisa terjatuh dari tempat tidur.
Leon pun merasa kasihan dengan wanita itu. Ia pun memberanikan dirinya untuk menggendong Tanisa dan memindahkannya ke kasur itu.
Leon menghampiri Tanisa yang sedang tidur dilantai.
Dengan perlahan Leon mendekati kekasih ayahnya itu. Terlihat Tanisa yang memejamkan mata. Seketika Leon tersenyum memandang wanita itu. Yang terlihat cantik. Ia pun menyentuh pipi wanita itu. Dan tersadar ada bekas luka karena ulah dirinya. Dan itu membuat dirinya merasa bersalah.
Lalu Leon pun mencoba mengangkat wanita itu dengan secara perlahan supaya tak membangunkan Tanisa.
Badan Tanisa pun ia angkat dan ia pindahkan ke atas kasur pelan-pelan. Seketika wajah Tanisa kini berada didepan wajahnya dan Leon tampak menatap Tanisa. Ada getaran yang dirasa. Leon pun menarik napasnya.
"Lumayan berat juga" gumam Leon
Leon pun tak mau menghabiskan disitu saja. Ia masih ingin melihat Tanisa lebih dekat dan semakin dekat.
Namun saat ia melihat Tanisa lebih dekat, tiba-tiba saja Tanisa terbangun dari tidurnya dan tersadar ada Leon yang kini dihadpannya. Sontak Tanisa yang membuka matanya itu pun tampak kaget.
Tanisa yang kemarin kena pukul habis-habisan itu kaget melihat Leon yang sudah ada didepan dirinya. Tanisa pun bangun dan segera bangkit dan menjauh dari diri Leon. Tanisa pun tampak memandang sekeliling ia menyadari saat itu bahwa didalam kamar hanya dirinya dan Leon. Tanisa tampak ketakutan, takut dihabisi lagi oleh pria itu. Ya, Tanisa takut jika Leon kembali menyakiti tubuh dan wajahnya.
"Hey kamu mau kemana?" Ucap Leon yang tampak melihat Tanisa yang beranjak itu dan lalu bersembunyi.
Lalu Leon pun mencoba mendekati Tanisa lagi.
Tanisa pun tampak menunduk ketakutan dibelakang sofa.
"Jangan, jangan sentuh aku. Jangan pukul aku. Aku mohon" ucap Tanisa yang tampak terlihat takut.
__ADS_1
"Aku tidak akan memukul mu" kata Leon. "Tenang lah"
Tapi Tanisa masih tetap tidak beranjak dan berlindung masih di balik sofa.
Sampai tak lama kemudian Deon selesai mandi dan melihat suasana yang tak biasa itu terjadi.
"Ada apa ini" ucap Deon melihat Tanisa tampak ketakutan.
Tanisa pun tampak berlari mendekati Deon. Berlindung didekat Deon.
"Kamu kenapa?" Tanya Deon memandang wanitanya.
"Aku takut pada putramu" ucap Tanisa berbisik dan berusaha berlindung dibalik badan Deon.
"Aku takut ia memukul ku" kata Tanisa lagi.
"Ya, aku tidak memukul mu. Jadi tenang lah" kata Leon. Leon pun tampak menggelengkan kepalanya. Seolah tak percaya pada Tanisa yang menganggap diri nya seperti monster.
"Baiklah sebaiknya kamu mandi, kita akan pergi dari sini. Kita akan pulang. Leon tak akan memukul mu lagi Tanisa" kata Deon memegang bahu Tanisa.
"Pulang? Kemana?" Tanya Tanisa.
"Kerumah ku, kerumah kita. Kamu lupa" ucap Deon.
Tanisa pun menghela napas beratnya. Seketika Tanisa merasa berat untuk pergi dan menunjukan diri sebagai wanita simpanan dari seorang Deon. Apalagi pada keluarga Deon. Itu seperti penghinaan sebenernya untuk dirinya. Mengaku sebagai wanita simpanan itu dan merupakan hal yang memalukan.
Namun ia pun tampak terpaksa mengikuti keinginan Deon.
Setelah itu, Tanisa pun bersiap diri dan mandi.
Lalu ia tampak sarapan roti yang disediakan oleh Leon, untuk dirinya dan juga papanya. Waktu menunjukan masih pukul 07.00 pagi.
Seketika saat Tanisa berada disitu ia kembali teringat akan Gavino yang juga tinggal diapartment yang sama. Tanisa tampak ingin sekali bertemu Gavino sekali lagi. Ya sekali lagi. Tanisa pun mencoba untuk berbicara dan menanyakan soal Gavino.
"Apakah kamu sudah lama tinggal disini" tanya Deon.
"Luamayan" jawab Leon singkat
"Boleh aku bertanya?" Ucap Tanisa.
"Silahkan"Jawab Leon.
__ADS_1
"Apakah Gavino ada? Apakah ia masih tinggal disini. Karena aku tahu ia tinggal diapartent ini juga" kata Tanisa sambil makan roti diatas meja makan.
Tiba-tiba saja Deon tampak marah saat wanitanya menyebut nama Gavino didepan dirinya. Deon langsung menggebrak meja dengan keras.
Braaaggg...
Tanisa pun sontak kaget dan tertunduk saat Deon melakukan hal itu didepan dirinya. Dan kebetulan disana juga ada Leon putranya. Putranya pun juga tampak kaget dengan sifat Ayahnya yang ternyata keras pada kekasihnya.
"SUDAH KU KATAKAN KAU JANGAN PERNAH MENYEBUT NAMANYA DIHADAPAN KU" bentak Deon dengan suara yang tampak keras didepan Tanisa. Tanisa pun langsung disiram air dingin di meja makan itu dengan kasar ke wajah Tanisa. Tanisa pun langsung tertunduk.
Tanisa pun seketika merasakan kepiluan yang tiba-tiba.
"A-Aku minta maaf, aku hanya bertanya" ucap Tanisa yang seperti menahan air matanya.
"DIAM!!! Aku tidak suka kamu menyebut namanya apapun itu alasannya!!!!"
Tanisa pun tampak tertunduk dan tanpa sengaja ia menjatuhkan air matanya. Namun ia tidak mau menunjukannya.
Leon pun melihat Tanisa yang menjatuh kan air matanya.
Seketika Leon pun memberi tisu pada Tanisa yang sedang menjatuhkan air matanya.
"Nih..." Leon memberikan tisu untuk menghapus air mata Tanisa.
Tanisa pun tampak mengambilnya. Dan lalu menghapus air matanya.
Lalu tiba-tiba saja Leon tampak bicara.
Leon pun tak menyangka jika memiliki papa yang bisa sekeras dan sekasar itu pada kekasihnya sendiri.
Padahal Tanisa hanya bicara sekali.
Ada apa dengan diri Tanisa dan Gavino, batin Deon.
Lalu Leon pun tampak bersuara.
"Gavino masih memiliki apartemen disini tapi, dia sudah kembali tinggal bersama kedua orang tuanya. Sudah dua bulan dia disana. Mungkin untuk selamanya dia tinggal disana. Dan itu berita yang saya tahu. Ada lagi yang kamu ingin tanyakan?" ucap Leon memberi penjelasan pada Tanisa. Dan melihat wajah Tanisa yang masih tertunduk.
Sementara Deon tampak mengepalkan tangannya kesal. Bila mendenger nama Gavino dari mulut Tanisa.
"Ada lagi yang ingin kamu tanyakan?" Tanya Leon lagi pada Tanisa.
__ADS_1
Tanisa yang masih tertunduk itu pun menggeleng. Masih keadaan takut pada Deon. Tanisa menggelengkan kepalanya menerangkan bahwa tak ada lagi yang ia ingin tanyakan.