Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Debaran cinta


__ADS_3

Tanisa terdiam termenung dalam diam, dia tampak bingung dengan kehadiran dirinya kini. Membuat Deon dengan putranya sendiri itu seolah sesuatu yang tak pernah Tanisa duga sebelumnya.


Tanisa tak pernah menyangka jika pria yang ia pernah anggap monster dan menakutkan tiba-tiba berubah dengan sendirinya. Tanisa hanya tampak terdiam dan merenung seketika.


Lalu tak lama Deon menghampiri Tanisa saat Tanisa terdiam sendiri didalam kamarnya yang sempit.


"Kamu lihat kan bagaimana Leon bersikap" ucap Deon mengungkapkan kekesalan dirinya pada Tanisa.


"Kamu lihat bagaimana dia berani melawan ku, hanya karena demi kamu. Padahal aku ini adalah ayah kandungnya sendiri"


Tanisa pun hanya tampak terdiam tak berani berkata-kata, melihat Deon yang kesal membuat Tanisa terdiam dan takut kalau ucapan Tanisa malah membuat Deon semakin kesal.


Tanisa hanya diam saja.


Dan baru kali ini Tanisa pun baru merasakan dibela oleh seorang pria, tak pernah sekalipun Tanisa dibela oleh seorang pria kecuali ayah kandung Tanisa.


Kehidupan Tanisa yang pahit sebagai wanita malam, membuat Tanisa terlalu mudah dianggap rendahan dan dicaci. Tanisa pun berkesan dengan apa yang dilakukan oleh Leon calon anak tirinya itu.


.


.


.


Lalu Tanisa pun menghampiri Leon saat itu, Leon terlihat sangat kesal dengan sang papa yang sudah menamparnya. Tanisa pun tidak mau jika hubungan Leon dengan papanya menjadi tak baik, lalu dengan segenap hati Tanisa menghampiri Leon yang sedang duduk termenung diatas balkon rumah nya yang tampak luas itu.


"Kamu masih marah" tanya Tanisa.


"Aku bukan marah aku hanya kesal kenapa bisa seorang pria yang mencintai mu sangat keterlaluan tidak mempedulikan diri mu yang sedang mengandung anaknya dan tidak pernah sekalipun mengedepankan kebahagian mu" ucap Leon.


"Tapi tak seharusnya kamu marah padanya. Apa yang kamu lakukan aku ucapkan terimakasih banyak padamu. Aku terimakasih dengan sangat, cuma satu pintaku"


"Apa?"


"Jangan pernah membenci papamu, karena bagaimana pun dia adalah orang tuamu"

__ADS_1


"Masih saja kamu membelanya" kata Leon kesal.


"Kamu tahu, aku hidup sendiri tak memiliki ayah dan ibu. Tak memiliki siapa-siapa, aku merasa jika aku ingin bertemu dengan mereka sekali saja dalam hidup ini. Namun semua terasa sulit karena aku tahu mereka telah tiada, sakit hati ini disaat kerinduan itu hanya membuat hatiku terasa pilu. Aku meminta padamu, jangan seperti diriku yang kehilangan ayah dan ibu ku setelah mereka tiada. Jadi aku pinta kamu jangan pernah jadi pembenci siapapun apalagi itu ayah atau ibu mu"


"Tanisa" ucap Leon.


"Ya dirimu begitu lembut dan suci begitu baik dirimu bahkan orang yang jelas menghina mu masih kamu bela" ucap Leon sekali lagi dengan pujian.


"Aku hanya mengatakan apa yang memang perlu aku katakan" kata Tanisa.


"Bersiaplah" ujar Deon.


"Untuk apa?" Tanya Tanisa.


"Kita akan ke dokter kandungan"


"Aku berubah pikiran, betul kata papamu untuk apa aku kesana buat apa aku kedokter kandungan hanya menambah pengeluaran saja" ujar Tanisa.


"Tanisa aku sudah berjanji jadi kamu harus mau, aku salah jika aku tidak menepati janji"


Lalu dengan langkah berani Leon menghampiri sang papa untuk meminta ijin menemani Tanisa untuk pergi ke dokter kandungan, bahwa Leon yakin jika papanya tak mau mengantar wanita nya itu untuk pergi kesana.


Terlihat Deon yang masih menekuk wajahnya dikamar. Bahkan kedatangan putra nya itu pun tak ia pandang. Hanya karena Deon merasa kesal Leon yang melawan.


" Aku meminta ijin padamu untuk mengantar Tanisa kedokter kandungan" ucap Leon kepada papanya.


Tapi Papanya tampak tak menjawab.


"Baiklah jika papa tak menjawab tak masalah untuk ku yang penting aku sudah meminta ijin padamu"


Lalu tanpa menunggu jawaban iya, Leon pun pergi. Ia tidak mau menunggu jawaban iya dari sang papa dengan waktu yang lama yang penting dia sudah meminta ijin pada papanya itu. Dan Leon menggap jika diam itu berarti iya.


Lalu Leon pun kembali menemui Tanisa.


"Bagaimana apa kata papa mu" tanya Tanisa.

__ADS_1


"Katanya iya" jawab Leon.


"Oh yah apa kamu yakin?" Tanya Tanisa meragu.


"Iya bersiaplah kita akan pergi ke dokter kandungan" kata Leon.


Leon pun tampak sangat bahagia dan bersemangat dapat mengajak pergi wanita yang menjadi kekasih ayahnya itu. Entah mengapa dadanya semakin berdegup kencang disaat ia tahu ia akan membawa pergi wanita bernama Tanisa itu. Bagi Tanisa mungkin ini hanya lah perjalan biasa. Namun berbeda untuk Leon yang seperti kencan untuk dirinya. Leon pun tampak mengambil parfum dan memakai jaket jeans dan dipadupadankan dengan celana jeans juga. Ya Leon tampak keren saat itu.


Sedangkan Tanisa memakai longdress yang berawana putih dengan perpaduan pink, membuat Tanisa tampak anggun dan semakin cantik apalagi dengan rambut yang digerai indah itu.


Leon pun melihat Tanisa tampak cantik dan anggun, dihadpannya kini. Leon sangat terpukau melihat wanita yang membuat hatinya seraya luluh lantak karena kecantikan Tanisa yang memuat jiwa bergetar.


Lalu Leon pun tampak melamun menatap Tanisa lama memandang sang wanita dihadpannya kini tanpa berkedip.


"Leon" panggil Tanisa.


Namun Leon tampak tak menangkap suara Tanisa Leon masih fokus menatap wajah Tanisa begitu dalam.


"Leon. Hallo?" Ucap Tanisa selain lagi.


"Oh ada apa?" Ucap Leon yang baru saja sadar akan lamunannya karena terlena akan kecantikan Tanisa.


"Aku minta ijin pergi dulu pada mas Deon" kata Tanisa


"Tidak perlu aku sudah bilang padanya. Jadi, ayolah cepat aku tidak mau ketinggalan jadwal praktek dokter kandungan karena aku sudah membuat janji dulu " kata Leon.


Leon pun tampak tanpa sengaja menggandeng tangan Tanisa yang lembut dan semakin membuat dada Leon berdebar.


Leon pun membuka kan pintu mobil untuk Tanisa sambil tersenyum. Dan didalam mobil Leon pun tampak menarikan sabuk pengaman kepada tubuh Tanisa, tanpa Leon sadari wajah Leon menatap Tanisa dari dekat dan semakin merasakan getaran getaran hebat itu.


Tanisa mengapa dirimu begitu berarti mengapa dirimu mampu menggetarkan hati ku ini. Apakah aku mencintai mu, apakah menyayangimu. Ya aku sadar, aku mencintai mu Tanisa. Tanisa aku tahu aku salah mencintai mu, namun aku pun tak bisa bohong jika aku mencintai mu dengan segenap rasa ku, batin Leon menatap Tanisa dalam dan memakaikan sabuk pengamannya itu pada tubuh Tanisa.


Lalu mereka pun pergi dengan naik mobil, Leon ingin membuat diri Tanisa senyaman mungkin dan seaman mungkin saat diri Tanisa bersama Leon.


Ya perjalanan itu berhasil membuat Leon merasakan dag Dig dug yang tak beraturan.

__ADS_1


Oh Tuhan ternyata aku mencintai wanita ini......... Aku tak bisa menahan perasaan ku sendiri. Batin Leon sambil memegang debaran di dada.


__ADS_2