Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Rian kesal


__ADS_3

Rian pun harus menelan salivanya dalam-dalam disaat keinginannya sebagai pria sejati harus tertahan karena tangisan sang putra yang membuat keinginan dan hasratnya harus dibelakangi.


Rian pun tak bisa egois mana kala keinganan itu hanya untuk kepuasan dan nafsunya. Maklum saja, semenjak ia pindah dari rumah besar ke rumah kecil tak pernah lagi ia bermain cinta pada wanita yang menjadi istrinya itu.


Ditambah lagi perpisahan dirinya dengan istrinya karena pekerjaan dan kembali dipertemukan namun dengan keadaan pahit yakni dengan keadaan lumpuh. Marah sudah pasti marah, namun semua sudah terjadi dan hanya bisa meratapi setiap menjadi takdir pada diri sendiri.


Rian pun hanya mencoba introspeksi pada diri sendiri, mungkin ini adalah karma dan azab untuk dirinya sendiri karena pernah menjadi orang yang jahat. Rian pun sadar juga, dulu pernah menabrak Marisa mungkin juga ini adalah bentuk balasan dari sebuah kesalahan dimasa lalunya.


Sebesar apapun kesalahan Rian dimasa lalu, tapi tetap lah Rian manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan dosa.


Ya..


Rian harus menerima takdir sebagai pria lumpuh. Namun tak ia kira ternyata dirinya masih memiliki nafsu juga pada istri nya. Namun sialnya betapa tidak pekanya sang istri saat itu.


Setelah mendengar tangisan sang anak yang ternyata haus minta susu untuk minum, setelah tertidur kembali rupanya Lusi malah ikut tertidur.


Rian pun tampak kesal pada Lusi saat itu, kenapa setelah membuatkan susu untuk putranya kenapa dia ikut tertidur juga.


Dasar wanita!!!!! Batin Rian kesal.


"Lusi..Lusi.." panggil Rian membangun kan Lusi.


Tapi dirinya tak ada jawaban, seperti nya Lusi tertidur dan sudah bermimpi.


Lusi pun tampak tak peka saat itu, karena kelelahan yang membuat dirinya harus memejamkan mata dan terbalut dalam tidur.

__ADS_1


Hingga pagi hari Lusi tersadar sudah meninggalkan Rian dikursi rodanya saat itu. Lusi pun melihat Rian yang juga tertidur diatas kursi rodanya. Bahkan Lusi lupa Rian meminta apa pada dirinya, ada hal penting tapi ia lupa. Apa itu ya???


Lusi pun akhirnya hanya menyelimuti Rian dengan selimut karena memang Rian sudah tertidur dikursi roda miliknya itu.


Lalu Lusi pun segera melakukan aktivitas pada umumnya yakni mencuci pakaian yang ternyata sudah menggunung. Jika dulu Lusi mengerjakan tugas cucian dengan mesin cuci kini tampak lain yakni dengan tangannya. Lusi tak pernah menyangka dirinya akan melakukan hal ini, namun ia juga tak menjadi masalah untuk melakukan nya.


Lusi pun bebenah rumah disaat suaminya masih tampak tertidur.


Hingga waktu menunjukan pukul jam 05.00 Lusi pun solat. Lusi juga tidak lupa membangunkan Rian untuk solat.


Namun saat Rian terbangun Lusi tampak heran dengan Rian, Rian tampak cemberut. Dan sepertinya Rian marah terhadap dirinya, Lusi pun bingung entah apa yang membuat Rian menjadi marah. Padahal seingat Lusi, Lusi tak melakukan hal apapun yang membuat dirinya marah.


Tanpa mengambil pusing Lusi pun selesai solat, Lusi kembali bebenah rumah dan membereskan cucian yang memang belum selsai.


Setelah cucian itu beres, Lusi pun membawa keluar cucian itu untuk dijemur didepan rumah.


Lusi yang sedang menjemur pakaian itu pun tampak diperhatikan oleh tetangga disamping rumahnya itu yang memang sama-sama mengontrak. Bukannya ibu-ibu yang memperhatikan tapi malah bapak-bapak yang tampak memeperhatikan Lusi yang sedang menjemur pakaian.


Lusi pun sebenarnya canggung kalau diperhatikan, namun mau bagaimana lagi namanya jemur ditempat umum mungkin sudah menjadi resiko akan dilihat orang.


Yang melihat Lusi itu namanya pak Bagus, pak Bagus berusia 45 tahun. Bapak-bapak bertubuh biasa saja, tidak kurus tidak gemuk. Berkumis tebal dan tersenyum pada Lusi. Lusi pun membalas senyuman pak Bagus bukannya bentuk genit tapi melainkan bentuk menghargai sebagai tetangga.


Pak Bagus pun memperhatikan Lusi dari atas sampai bawah mungkin dari sekian banyak waktu Lusi dirumah baru kali ini pak Bagus melihat Lusi. Lusi pun antara risih dan sungkan tapi hanya bisa berusaha biasa saja. Lusi yang biasanya hidup privasi hidup bertetangga itu seperti pengalaman baru untuk dirinya.


"Eh, saya baru ngeh loh liat tetangga rumah baru disamping saya" ucap pak Bagus.

__ADS_1


"Iya pak" jawab Lusi singkat.


"Kemarin saya sudah sempat sedikit mengobrol sama ibu Renata" ucap pak Bagus lagi.


"Hem begitu ya pak" jawab Lusi lagi.


"Saya pikir kalau mantan orang kaya tidak bisa cuci baju"


"Ya itu kan kata orang pak, semua hal bisa saya cuci pak. Bukan cuma baju" jawab Lusi asal. "Lagi pula yang dulunya kaya bukan saya, suami saya dan mertua saya"


"Oh, begitu. Lusi kamu mau gak jadi pembantu dirumah saya"


"Gak pak, makasih" jawab Lusi.


"Yakin gak mau, gaji nya gede"


"Ya bapak mau kasih saya sepuluh juta. Maaf pak gak minat" Lusi pun hanya tersenyum.


"Eh kamu tahu gak, ibu Renata pergi karena apa?"


"Karena apa pak?"


"Karena ada aki-aki yang demen Ama dia" Ucap pak Agus.


"Ah masa sih pak" ungkap Lusi tak percaya.

__ADS_1


"Eh serius"


Lusi pun tampak mengerinyitkan keningnya.


__ADS_2