
Setelah kepergian Deon yang tampak emosi itu Tanisa pun tampak shock berat akan kedatangan pria dari anak yang ia kandung. Tanisa tampak terdiam seribu bahasa, lalu Gavino pun tampak melihat Tanisa yang tertunduk dibawah sambil terlihat ketakutan, ya Tanisa takut bila harus kembali ke kehidupan bersama dengan Deon. Tanisa teringat akan kenangan buruk yang pernah ia alami, siksa batin yang teramat pedih serta kepedihan hati yang mendalam hidup bersama pria yang sudah membuat diri Tanisa mengandung anak yang tak pernah diinginkannya itu.
Namun satu sisi Tanisa pun resah juga bimbang, apakah Gavino masih mau hidup bersama wanita seperti dirinya yang jauh dari kata sempurna bahkan dirinya kini tengah hamil. Kedatangan Deon secara tiba-tiba menyadarkan Tanisa akan kenangan buruk tentang masa lalu dan takkan pernah bisa meraih masa depan yang Tanisa inginkan.
Apalagi Tanisa takut apabila Deon akan melakukan sesuatu pada dirinya atau diri Gavino
Tanisa tampak shock sambil memeluk kakinya yang ia tekuk ia tampak duduk dilantai dan menundukkan kepalanya.
"Tanisa ada apa, kamu seperti cemas" ucap Gavino yang melihat Tanisa seperti orang kebingungan dan takut.
"Aku, aku hanya bingung, takut dan juga bimbang" kata Tanisa dengan sorot mata yang terlihat takut.
"Kenapa?"
"Aku takut dirimu dibuat terluka oleh Deon karena membawa ku sampai kesini" kata Tanisa terlihat takut dan cemas. Lalu Gavino pun menggendong Tanisa dan menaruhnya dikasur, yang sebelumnya ia memang sedang duduk dilantai.
"Istirahatlah jangan terlalu banyak hal kamu pikirkan aku. Aku tidak akan disakiti olehnya, aku tidak takut dengannya. Aku lebih takut jika dirimu yang terluka olehnya" ucap Tanisa mencium kening Tanisa lembut. Tanisa tampak memandang wajah Gavino yang tampak sangat dekat itu. Tanisa pun memandang wajah pria tampan dihadapannya itu.
"Gavino" ucap Tanisa.
"Ya" sahut Gavino.
"Aku sangat mencintai mu, sangat sangat mencintai mu. Hanya saja ada satu hal yang membuat aku merasa berat?"
"Apa Tanisa, hal apa yang membuat dirimu merasa berat" tanya Gavino lembut.
"Aku hamil, aku hamil anak dari pria itu. Aku hamil anak Deon, aku tidak tahu bagaimana aku bisa hidup dengan mu. Dan aku yakin kamu pun tak tahu bagaimana caranya kamu hidup dengan wanita hamil anak orang lain seperti aku"
"Ssstttt... Cukup cukup sudah, cukup sudah kamu memikirkan hal yang tak seharusnya. Aku sungguh tak peduli akan hal itu. Aku tidak peduli sekalipun kamu hamil anak dari pria lain, aku mencintaimu dan aku tak ingin kehilanganmu seperti dulu. aku akan mencintai anakmu seperti diriku mencintaimu"
"Tapi aku tak sempurna, aku jauh dari kata sempurna"
"Bukan kesempurnaan dari dirimu yang aku inginkan tapi cinta kamu lah yang merasa aku hidup dan berati. Aku akan bertanggung jawab untuk mu dan anak dalam perut mu ini" ucap Gavino yang memegang tangan Tanisa lembut.
"Kamu sudah banyak berubah, terimakasih. Terimakasih kamu sudah ada untukku" kata Tanisa.
"Aku juga terimakasih kamu selalu ada didalam hati ku. Dan aku terima kasih karena kamu mencintai ku Tanisa"
Lalu Gavino pun memeluk Tanisa erat. Dan Gavino pun tampak memegang tubuh Tanisa yang ternyata masih terasa demam itu.
__ADS_1
"Badan mu panas sekali Tanisa" ucap Gavino yang memegang wajah Tanisa dan keningnya yang memang terasa panas itu. Lalu Gavino dengan perhatian mengambil baskom berisi air dan mengompres kepala Tanisa dengan handuk basah.
"Tanisa aku akan memanggil kan mu dokter untuk merawat mu, aku akan membawa dokter itu ke apartemt ini" kata Gavino.
"Jangan nanti juga akan sembuh sendiri, kamu tidak perlu repot" tolak Tanisa.
"Tidak Tanisa, kamu harus mendapatkan perawatan khusus setelah ini aku akan menelpon dokter untuk datang aku tidak ingin kamu kenapa-napa"
"Terimakasih Gavino kamu sudah baik padaku" ucap Tanisa dengan mata yang sayu dan lemah itu. Tanisa tampak pucat saat itu dan seperti mau pingsan.
"Iya, aku memiliki dokter langganan yang bisa datang kerumah namanya dokter Nabila. Dia dokter terbaik yang pernah ku kenal. Dia juga memiliki klinik sendiri"
Tanisa manggut-manggut saja karena ia sedang merasa kan pusing yang begitu terasa.
Lalu tampak Gavino menelpon dokter untuk mengobati Tanisa.
"Hallo dok bisakah anda kesini untuk mengobati seseorang"
"Siapa yang sakit"
"Dia pacarku"
"Wah ini tawaran paling spesial tapi sayang saya sedang diluar negri ada tugas, di klinik ku ada dokter Inka dan dokter stela nanti saya akan menyuruh salah satu"
"Oh baiklah"
Ya Gavino tidak mau jika dokter Stela, karena Stela itu adalah mantan pacar Gavino saat dirinya masih kuliah.
15 menit kemudian...
"Tanisa nanti akan dokter yang memeriksa mu tapi sayang bukan dokter Nabila. Kamu istirahat saja dulu dia akan datang langsung ke kemar ku. Aku tinggal dirimu sebentar ya. Ada tugas kantor yang aku lupa tandatangani" kata Gavini.
"Iya baiklah tapi dokternya wanita atau laki-laki" tanya Tanisa yang terlihat memejamkan matanya.
"Tenang dia perempuan, aku tinggal sebentar ya" ucap Gavino mencium kening Tanisa.
Tanisa pun kembali manggut-manggut saja, menerima penjelasan yang dikatakan oleh Gavino sambil memejamkan matanya karena Tanisa tampak pusing.
"Kamu kuat kan membuka kan pintu kalau ada yang datang" tanya Gavino.
__ADS_1
"Iya kuat" jawab Tanisa pelan.
Lalu Gavino pun pergi...
Selama Gavino pergi Tanisa tampak tertidur sambil selimutan. Lalu tak lama suara bel berbunyi dan dokter yang Tanisa tunggu pun itu datang.
Teng tong. Teng tong teng tong
Lalu dengan langkah kaki yang perlahan tapi pasti Tanisa tampak membuka kan pintu dan saat Tanisa membuka pintu apartemen itu Tanisa kaget karena ada dua orang wanita yang datang dengan seragam dokter.
"Permisi ini apartemen milik pak Gavino kan" tanya salah satu dokter.
"Udah masuk aja gak usah pakai tanya bener kok ini aku yakin 100 persen" ucap dokter salah satunya yang agak jutek jika dibanding dokter satunya.
"Iya betul ini apartemen Gavino" jawab Tanisa.
"Oh jadi ini pasiennya" ucap dokter itu menatap Tanisa dari atas sampai bawah.
"Silahkan masuk dokter" kata Tanisa.
Lalu Tanisa pun mempersilahkan kedua dokter itu masuk, walau sebenarnya Tanisa merasa heran mengapa ada dua domtee yang datang saat ini.
"Kenapa dokternya sampai dua seperti ini"
"Loh kenapa masalah nya apa justru bukannya bagus kalau dirawat sama dua orang dokter sekaligus"kata Dokter yang jutek itu.
Tanisa pun lagi-lagi hanya manggut saja. "Iya dok"
"Kenalkan nama saya dokter Stela dan ini dokter Inka" kata dokter Stela.
"Oh ya dok salam kenal" ucap Tanisa.
"Nama kamu siapa?" Tanya dokter Inka.
"Saya Tanisa dokter, maaf saya kembali ke tempat tidur ya karena saya pusing dok"
"Silahkan"
Dan Tanisa tampak kembali duduk diatas tempat tidurnya, sambil bersandar karena kepalanya yang sangat pusing itu.
__ADS_1
Lalu Stela pun tampak memandang pasien dihadapannya itu dengan senyum menyeringai. Sambil memandang Tanisa yang terlihat pucat itu.
Lalu bagaimana kelanjutannya?