
Suasana masih terlihat tegang diantara Gery dan Marisa yang bersikukuh pendapat masing-masing. Marisa mengira bahwa Lusi menikah tidak mungkin atas keinginan dan dari hati nuraninya mengingat Lusi wanita setia dan tak mungkin memilih pria yang tak seharusnya ia pilih. Bahkan Marisa sempat tahu betul jika saat terakhir bertemu, Lusi masih sangat shock atas kepergian suaminya dan tak mungkin menikah dalam waktu dekat. Dan itu merupakan suatu hal yang paling aneh dan janggal bagi Marisa. Marisa terlihat emosi, meksipun Gery adalah kakaknya, namun Marisa juga tak mau jika Lusi menderita karena kakaknya sendiri.
Namun..
Gery berpikiran lain saat itu menurut nya pernikahan adalah urusan pribadinya dia, dan bebas Gery menikah dengan siapa saja tidak peduli kepada siapa saat ini. Sekalipun pada wanita yang mungkin membenci dirinya, yang paling penting bukan seberapa benci wanita itu pada diriny, tapi bagaimana ia bisa mendapatkan wanita itu dan sah-sah saja selama ada kesepakatan bersama
Keduanya terlihat kesal satu sama lain yang terlihat bediri seolah tak menghargai yang juga saat itu berada dimeja makan.
"Jangan sok kegantengan ya, Lusi itu gak pantas sama ka Gery yang notabene selama ini sudah licik dan jahat sama Lusi. Lusi!!! buka mata kamu, pria yang kamu nikahi ini jauh dari kata baik" ucap Marisa yang bicara dengan nada kesal sambil berdiri.
"Eh, uler keket.. jangan doktrin istri gue jadi gak bener. Gue licik gue jahat juga bukan urusan elu. Yang paling penting sekarang dia jadi istri gue dan gak ada yang bisa pisahin gue sama Lusi ngerti lu. Mending lu urusin aja urusan lu jangan urusan gue. Ingat kaga lu, yang waktu itu lu nangis-nangis minta jadi istri keduanya Rian. Gak ngaca lu ya saat itu" kata Gery yang kesal sambil berdiri dan menunjuk Marisa dengan jarinya.
"Heh, itu dulu. Itu gua yang dulu!!!" kata Marisa.
Pada akhirnya papa David pun menghentikan pertengkaran Kaka dan adik di meja makan.
"Hentikan!!! Duduk kalian!!!!" Teriak papa David saat itu yang menunjukkan muka terlihat kesal dengan kedua anak nya.
"Kalian ini bisa tidak jangan berantem, semua bisa dibicarakan baik-baik" kata papa saat itu.
"Semua hal memang bisa dibicarakan balik-baik, tapi tidak untuk Gery" kata Marisa kesal.
"Sudah-sudah, ini kalian ya. Anak papa akur kenapa sih jangan debat di meja makan" ucap Papa David.
Dan pada akhirnya mereka pun duduk. Dengan wajah kesal satu sama lain saat itu. Mama pun terlihat tenang saja melihat Marisa yang adu mulut saat itu. Karena mama Sely merasa dua duanya keras kepala biarkan mereka berantem dan punya pemikiran sendiri.
"Sudah kalian tenang semua bisa dibicarakan baik-baik" ucap mama Sely.
Juna pun tampak menasehati Marisa.
"Kamu jangan emosi ya gak enak kamu kan sudah dewasa" kata Juna menatap sang istri saat itu.
__ADS_1
"Okey" sahut Marisa kesal.
"Kalau mama sih jujur setuju saja Gery dan Lusi menikah. Itu artinya akan ada banyak keluarga, akan ada banyak cucu juga.. lagian kamu Gery ya pernikahan itu bukan permainan kamu kenapa bisa biasanya tidak mengundang keluarga mu sendiri di acara sakral itu" kata Selly saat itu.
"Aku sengaja karena aku hanya ingin lancar. Karena aku tahu pasti akan banyak yang menentang pernikahan ini jadi aku buat mendadak" Kata Gery.
Lusi pun seketika menatap wajah dari sely dan meminta maaf karena sudah menikah dengan anak tirinya. Lusi merasa tak pantas tak seharusnya ia mau dinikahi.
"Aku minta maaf tante aku minta maaf, tak seharusnya aku mau dinikahi oleh Gery. Aku minta maaf atas semua yang terjadi..aku pun sebenernya tidak ingin semua terjadi tapi keadaan yang memang harus seperti ini. Aku pun juga tidak mau, aku akan kembali ke rumah. Ke Bandung, tak seharusnya aku disini. Aku datang kesini karena Gery yang meminta untuk tinggal bersamanya. Tapi aku pun tak masalah jika harus kembali atau pun berpisah"
"Lusi kamu ini apa-apaan sih, tidak ada istilah kamu pergi dari sini" kata Gery melihat ke arah Lusi tajam.
"Lusi kamu tdiak boleh seperti itu, saya terima kamu. Kamu boleh tinggal disini. Kamu boleh tinggal disini selama apapun yang kamu mau. Kamu sedang hamil kamu memang butuh pendamping dalam hidup mu. Untuk menjaga dan melindungi mu. Mungkin keadaan salah dan memaksamu untuk dalam keadaan yang mungkin saya sendiri pun tidak tahu seperti apa. Tapi saya terima kamu untuk tinggal disini" kata Selly saat itu.
"Beneran ma, beneran" ucap Gery senang.
"Iya, boleh banget. Mama senang loh ada Lusi tinggal disini dirumah jadi tambah rame kan pa" kata Sely yang merangkul bahu sang suami.
"Terus Liana bagaimana?" Tanya sely.
"Liana sudah tahu, soal ini" tanya Sely
"Dia shock, awalnya dia bilang iya setuju, tapi sekarang malah gak setuju pas Gery sudah menikah. Tapi semua sudah tidak bisa diubah Gery akan tetap bersama Lusi gak mau kepisah" kata Gery.
"Tapi ingat Gery kamu harus adil harus memberi kasih sayang tulus jangan dibedakan antara satu dan yang lainnya" kata Papa David.
"Iya pa"
"Oke terserah jika memang kalian sudah menikah gak apa-apa. Tapi satu hal, buat kamu kak Gery jangan pernah sakitin Lusi awas aja" ancam Marisa.
"Lusi akan bahagia bersama ku, ya kan sayang" kata Gery tersenyum.
__ADS_1
Sekalipun Marisa inginkan tak akan ada yang tersakiti tapi Lusi merasa tak akan ada yang namanya istri kedua yang tak akan tersakiti gak akan pernah ada, gak akan ada. Mau yang pertama atau yang kedua semua akan sama sakit batin Lusi yang hanya terdiam.
"Kalian nikahnya kapan?" Tanya mama Sely.
"Kemarin baru kemarin" jawab Gery.
"Oh pengantin baru dong ya, harusnya sih lagi anget-angetnya"kata Selly tersenyum.
"Wah pengantin baru kan biasanya lagi honeymoon" sahut Selly lagi.
"Ma, bisa gak sih jangan bahas honeymoon di meja makan" kata papa saat itu.
"Pa, emang kenapa sih orang cuma tanya aja gak apa-apa kan"
"Honeymoon aku sih gak mungkin nolak" kata Gery tersenyum.
''Tidak akan ada istilah ini, aku tidak bisa" kata Lusi.
"Loh kenapa?" Tanya mama Sely.
Lusi pun tersenyum menyiratkan arti yang mendalam tanpa perlu bicara panjang lebar mama Sely pun mengerti dan memahami bahwa Lusi tidak mungkin senang diatas kesedihan orang lain.
"Oke, saya paham maksud kamu Lusi. Ayo kita lanjutkan makannya"
Lusi pun mengangguk kepala untuk menghabiskan makanan yang memang sudah disiapkan oleh sang mama mertua baru.
Meski Lusi saat ini telah diterima sebagai keluarga oleh David ataupun Selly namun Lusi masih belum seratus persen yakin bahwa dirinya akan baik-baik saja. Pasti akan berat untuk mengarungi bahtera rumah tangga menjadi madu didalam rumah tangga orang lain. Sebaik apapun Lusi, pasti akan ada saja pandangan negatif yang orang tak pernah tahu bagaimana posisi berat yang mengharuskan Lusi tenggelam dalam takdir menjadi wanita kedua. Pasti akan ada banyak ujian yang lebih banyak menanti dibanding rasa bahagia yang sebenernya itu bukan lah bahagia, namun lebih tepatnya bahagia yang semu dan palsu. Karena ada wanita lain yang sebenernya belum tentu ikhlas dengan apa yang Lusi bahagiakan, apalagi kalau bukan jerit tangis sumpah serapah dari sang istri pertama yang tak mau jika ada kebahagiaan bersama yang Lusi lalui.
Lusi pun juga tak banyak menaruh harapan besar pada pernikahan keduanya, selain menjalani garis takdir dan menjalani semua sesuai porsiannya.
Lusi harus sadar diri, ya Lusi harus sadar Lusi hanyalah wanita kedua.
__ADS_1