
Sebenarnya Leon masih ingin menyatakan cinta pada wanita bernama Tanisa itu, namun entah mengapa rasanya sulit sekali kata itu terucap. Karena ia merasa takut jika Tanisa akan marah dengan ucapanny. Akan murka dan akan menolak mentah-mentah ya sudah pasti itu akan Tanisa tolak mentah-mentah.
Lalu Leon pun memandang Tanisa dengan tatapan penuh arti namun hanya Leon yang tahu. Tanisa bukan merasa ada perasaan malah berfikir lain.
"Leon?" Ucap Tanisa.
"Ya" jawab Leon.
"Jangan liatin aku" kata Tanisa.
"Aku gak enak apa aku jelek sampai diliatin begitu" gerutu Tanisa kesal.
Leon pun tampak tertawa, melihat Tanisa yang terlihat polos.
"Nggak, nggak salah lagi maksudnya heheh"
"Tuh kan bener"
"Lagian kamu lagi sakit masih aja mikirin cantik atau jeleknya"
"Aku gak biasa aja diliatin, jadi gak bisa tidur"
"Oke tapi sebelum tidur minum obat dulu ya" ucap Leon langsung mengambil segelas air putih, dan memberikan kepada Tanisa.
Tanisa pun menerimanya.
"Pahit" ucap Tanisa, yang tampak merem menerima obat itu didalam mulut itu.
"Kalau yang manis itu kamu" ucap Leon memandang Tanisa.
"Apa?" Kata Tanisa heran
"Hehehe nggak, maksudnya kalau yang manis itu permen"
"Oh"
"Tanisa?" Ucap Leon.
"Apa?"
__ADS_1
"Boleh bertanya?" Kata Leon.
"Tanya apa?"
Seketika Leon tampak ingin tahu hubungan Tanisa dengan Gavino, karena selama ini Leon hanya tahu bahwa Tanisa mencintai Gavino tanpa tahu cerita sebenarnya.
"Kamu kenal Gavino berapa lama?"
"Kenapa tiba-tiba tanya dia?" Tanya Tanisa heran.
"Gak apa-apa jawab aja" ucap Leon memandang wajah Tanisa.
"Sebentar doang"
"Setahun"
"Gak cuma sebentar tiga bulan"
"Kamu pacaran sama dia?" Tanya Leon.
Tanisa terdiam.
"Kamu pernah menjadi tunangannya" tanya Leon.
Seketika hati Tanisa pun tampak sakit mengingat dirinya yang selama ini hanya menjadi wanita penghibur Gavino disaat malam hari, menjadi teman ranjangnya saja dan tak pernah sekalipun berpacaran apa lagi menjadi tunangan.
Tanisa pun tampak tersenyum pahit, Tanisa tampak bingung harus menjawab apa.
"Aku pun tidak tahu aku dengannya punya hubungan apa"
Tanisa tak mungkin menceritakan semuanya, ya semuanya mulai dari perkenalan dirinya dan sampai pisah sebab Gavino karena apa. Tanisa tak mungkin menceritakannya semua nya lebih terasa pahit, namun yang Tanisa tahu dalam hatinya adalah ia sangat mencintai pria yang pernah singgah dihatinya, yaitu Gavino. Pria kaya raya, tampan dan terpandang.
Apa yang di ucapkan Leon membuat Tanisa terdiam sebenarnya membuat Leon memberikan tanda tanya besar mengapa dirinya diam seribu bahasa saat ditanya soal hubungan dirinya dengan Leon.
"Baiklah kalau gitu dirimu sahabatan dengan Gavino dan saling mencintai kan" ucap Leon lagi.
Tanisa menghela napas dengan berat.
"Sampai saat ini hubunganku sama dirinya tak jelas seperti apa, hanya saja" ungkap Tanisa tertunduk.
__ADS_1
"Apa? Kamu sangat mencintainya"
"Iya aku sangat mencintainya, sangat mencintainya. Tak bisa terhitung seberapa besar cintaku padanya, sangatlah banyak"
Leon pun memandang Tanisa lagi, memperhatikan wajahnya secara seksama. Ucapan Tanisa sebenernya membuat Leon sakit, apalagi ia bicara soal cinta pada pria itu. Namun dengan cara ini paling tidak Leon tahu siapa yang selama ini Tanisa cintai. Dan Leon tahu karena itu bukan Deon papanya.
"Leon?" Ucap Tanisa.
"Ya" sahut Leon.
"Jika kamu bertemu dengannya, tolong kirimkan salam rindu ku untuknya"
Leon pun tampak menganga mendengar ucapan Tanisa. Seketika ia tampak tak percaya dengan hal simpel itu namun berhasil membuat dia sedikit cemburu..ya sedikit.
"Ba-baiklah aku akan berikan salam mu untuknya"
Tanisa pun tersenyum.
Meskipun cemburu tapi Leon memang akan memberikan salam itu untuknya. Dan Leon memang ingin merencanakan Tanisa dapat bertemu kembali dengan pujaan hatinya itu yaitu Gavino. Ya itu adalah keinginannya. Leon yakin setiap senyum yang Tanisa torehkan itu pun juga mampu membuat Leon tersenyum bahagia. Bagi Leon saat ini bukan sekedar perasaan dirinya namun kebahagiaan Tanisa yang terpenting dalam hidupnya. Leon yakin dirinya akan bahagia jika Tanisa pun bahagia.
Lalu tak lama ada seorang suster memberika surat penagihan biaya rumah sakit. Karena Tanisa tidak memiliki asuransi apapun, Leon pun harus membayar semuanya secara pribadi.
Leon pun tampak melihat tagihan dirumah sakit itu, yang memang harus dibayar 30 persen nya dulu. Tanisa pun sebenarnya tak enak melihat Leon yang tampak melihat tagihan rumah sakit itu. gara-gara Tanisa sakit, leon harus membayar biaya itu, sungguh Tanisa merasakan dirinya merasa tak enak.
Leon tampak mencari kartu debit ia tampak mencari cari kedalam saku dan dompetnya.
"Kenapa mahal ya, gara-gara aku kamu jadi harus membayar ini semua" ucap Tanisa.
"Gak apa-apa, aku hanya lupa menaruh kartu ku" ucap Leon sambil mengingat kemana ia meletakan terkahir kartunya.
"Ah aku ingat diapartement ku. Aku mengambil nya dulu sebentar ya diapartment ku. Sebentar saja"
Tanisa pun tampak mengangguk paham, lalu Leon tampak pergi dengan terburu-buru.
Leon pun melesatkan mobilnya dan pergi ke apartement miliknya itu. Ya Leon memang sengaja membeli apartemen itu dari keringatnya sendiri untuk masa depannya nanti yang sengaja investasi, namun ia tidak tinggal disana. Ya apartemnt itu baru saja ia beli satu bulan yang lalu Dan saat ia sampai di depan apartament miliknya tiba-tiba Leon tampak melihat Gavino. Gavino pun juga tampak melihatnya. Mereka berdua saling kenal dari orang tua mereka.
"Leon" ucap Gavino.
"Deon" ucap Leon.
__ADS_1
"Ada yang ingin aku sampaikan" kata Gavino.
Apa yang akan mereka bicarakan ya? Simak terus ceritanya?