
Gery pun yang tidur disamping istrinya itu pun tampak pura-pura tidur, Meksi yang sebenernya bahwa semalaman Gery sedang menggarap wanita lain.
Saat Liana terbangun Gery pun pura-pura terbangun. Gery tampak menguap beberapa kali seolah baru terbangun dari tidurnya.
"Ya ampun sudah pagi, harusnya aku jangan tidur dulu"
"Memangnya kenapa?"
"Ya harusnya jangan tidur dulu ini kan, malam pertama kita harusnya kita bermain cinta. Tapi kenapa kepala aku sakit" kata Liana memegang kepalanya.
"Yaudah tidur lagi aja kalau tau kepalanya sakit"
"Gak mau..." Ucap Liana manja memeluk suaminya.
"Jangan manja, aku gak suka cewek manja" Gery ketus pada Liana.
Dan Liana pun tak menaruh curiga sama sekali saat itu.
Lalu Gery pun tampak cuci muka dan mengganti bajunya dan turun kebawah untuk membeli sesuatu.
"Kamu mau kemana?" Tanya Liana.
"Beli rokok dibawah"
"Aku ikut ya"
"Terserah"
Sementara itu....
__ADS_1
Lalu setelah Bayu pergi Lusi pun menyempatkan diri untuk memakan suap demi suap sarapan pagi itu. Dia merasa perutnya sangat lapar, dia pun menatap setiap sudut dikamar hotel itu. Sambil mencari sesuatu yang mungkin saja tertinggal sebelum ia benar-benar pergi dari tempat itu. Namun ia merasa heran karena lagi-lagi ia menemukan sebuah kejanggalan yang tampak aneh yaitu handuk. Handuk yang tadinya ada 2, entah mengapa tinggal satu. Dan lalu satunya lagi kemana? Lusi pun hanya bisa berfikir positif namun tanpa menaruh firasat buruk karena mengingat mungkin sudah dibawa pergi oleh housekeeping yang barusan.
Lalu Lusi pun tampak mengecek sekali lagi memastikan semua sudah masuk kedalam koper, karena mengingat ia harus kembali ke Jakarta hari ini juga.
Lusi pun turun ke lantai dasar menuju lobby dengan cara menaiki lift untuk sampai ke lantai dasar. Namun tampak tak sengaja Lusi bertemu dengan Gery dan Liana di sana.
Lusi pun tampak berpamitan sebelum ia pulang kepada pasangan pengantin baru itu.
"Aku pulang ya, Liana. Tugas aku disini sudah selesai. Aku kembali, kalian berlibur lah dengan tenang, aman dan nyaman" ucap Lusi tersenyum pada Liana.
"Hemm iya Lusi terimakasih kamu sudah jauh-jauh datang kesini untuk mengurusi pernikahan kami"
"Oke bye"
Gery pun tampak menatap tajam Lusi dengan tatapan mendalam dari atas sampai bawah. Seketika Gery teringat akan memory tentang bagaimana ia meniduri Lusi saat itu. Gery tampak menatap Lusi dengan tajam dan memperhatikan setiap gerakan Lusi dan mimik wajah dari Lusi, apakah Lusi menaruh curiga pada dirinya. Namun setelah ia perhatikan dan ternyata tidak sama sekali karena Lusi hanya tampak biasa saja dan semua seolah tak terjadi apa-apa.
Lalu sebelum Lusi pergi Gery memangil Lusi yang beranjak pergi itu.
Seketika Lusi pun menoleh dan kini berbalik arah menatap seseorang yang memanggilnya itu. Lusi pun menatap Gery yang memangil dirinya.
"Tunggu sebentar?" Kata Gery.
"Ya kenapa?" Sahut Lusi.
"Ini untuk mu?" Ucap Gery memberikan sebuah amplop dengan uang senilai 10 juta rupiah.
"Untuk ku?" Ucap Lusi heran.
"Iya" kata Gery.
__ADS_1
"Tapi untuk apa?"
"Ini.. ini untuk mu karena kamu sudah membantu mengurus semuanya, kamu sebagai WO pantas untuk mendapatkan uang ini. Mungkin tidak banyak tapi layak" kata Gery.
"Gery, aku melakukan semua ini ikhlas. Ikhlas tanpa meminta imbalan sedikit pun dari kalian. Jadi simpan uang ini karena aku tidak akan mau menerima" kata Lusi sambil tersenyum.
Gery pun sejenak terdiam, seketika entah mengapa hati Gery terasa perih dengan penuturan Lusi yang hatinya selembut itu ada perasaan bersalah sebenarnya karena ia telah meniduri Lusi. Tapi karena nafsu, Gery menjauhkan dasi yang namanya rasa kasihan dan hanya mengedepankan nafsunya saja. Sebenarnya Selian itu Gery memang ingin memberikan uang pada Lusi. Karena sudah menjadi pemuas dirinya pada malam pertama nya.
Maafkan aku Lusi aku sudah jahat padamu. Tapi inilah aku, inilah aku Lusi. Mungkin kamu suatu saat akan sangat marah padaku dan sangat membenci ku tapi satu hal yang harus kamu ketahui adalah aku sangat mencintai mu, lebih dari apapun. batin Gery.
Gery pun tampak mematung memandang Lusi dengan tatapan dalam. Sampai Liana menyadarkan Gery.
"Sayang kamu lihat apa" ucap Liana menyadarkan.
"Ah tidak apa-apa"
"Kalau gitu Lusi, berhati-hati lah. Sesampainya di Jakarta kamu hubungi ku agar aku tidak khawatir, karena kamu pulang sendirian" ucap Gery yang tampak perhatian pada Lusi.
Jelas Liana pun tampak cemburu pada Lusi yang suaminya tampak perhatian namun ia menutupinya.
"Hemm.."jawab Lusi singkat.
Lalu Lusi bergegas pergi untuk ke bandara. Kebetulan jarak hotel dan bandara tidak lah terlalu jauh, jadi itu lebih mempersingkat waktu.
Selama perjalanan Lusi pun tampak terdiam melamun tak tahu entah apa yang ia lamunankan hanya saja Lusi tampak terdiam dan tak bergeming. Ada beban yang sepertinya ada di dalam diri namun entah apa itu.
Lusi pun kelihatan terdiam hingga akhirnya dia sampai di bandara.
Lalu Lusi pun akhirnya sampai di Jakarta. Dan naik taksi untuk sampai ke rumah.
__ADS_1
Sesampainya dirumah Lusi pun memeluk sang putra karena ia sangat rindu. Dan mencium putranya denga erat.