
Setelah kejadian yang menimpa Lusi dan Juna yang pernah kepergok berduan di ruangan itu. Membuat Lusi harus menerima perlakuan berbeda dari suaminya yaitu Rian.
Sudah dua hari ini Rian tak pulang ke rumah entah sengaja atau tidak Rian tak pulang ke rumah. Dan itu membuat Lusi gelisah akan sifat Rian yang seperti itu.
Lusi pun sudah mencoba menghubungi pria angkuh itu namun masih saja belum ada jawaban sekalipun ada tidak dijawab dan langsung dimatikan lagi teleponnya.
Dan pada akhirnya setelah kepergian dia yang dua hari tak kunjung kembali ia pun akhirnya pulang.
Lusi pun sangat senang akan kedatangan suaminya namun lain dengan Rian yang pulang kerumah tanpa menatap sama sekali istrinya. Padahal Lusi sudah merindukan sosok Rian saat ini.
"Akhirnya kamu pulang, Kamu kemana aja" tanya Lusi pada Rian.
Rian tampak tak menjawab dan malah diam saja. Seolah Lusi tak dianggap ada didepannya.
"Kamu mau makan apa? Kamu pasti belum makan kan" Tanya Lusi semangat.
Rian masih tampak terdiam dan masih tak menjawab sama sekali.
Malah langsung membuang wajahnya. Rian malah tampak membuka jasnya itu dan tak menatap padahal jelas Lusi berasa didepannya.
"Bisakah pandang aku. Tidakkah ada kerinduan dihati kamu untuk ku" kata Lusi.
"Hah pandang kamu, pandang kamu untuk apa yang sudah khianatin aku" ucap Rian nada emosi.
"Rian kamu tahu kejadian yang sudah-sudah dulu aku dianggap selingkuh sama bawahan kamu Adit dan aku cuma difitnah. Dan sekarang pun aku sama aku dan Juna gak ada apa-apa" jelas Lusi.
"Iya, aku percaya kalau kamu sama Adit itu emang fitnah. Tapi kalau kamu sama Juna gak mungkin fitnah"
"Terserah kamu mau anggap itu tapi kenyataannya gak seperti itu"
"Memang harus terserah aku mau anggap kamu apa" kata Rian.
"Lalu mau kamu apa?" Tanya Lusi pakai gas.
"Pikir pakai otak jangan pakai dengkul"
"Kok kamu ngomong nya gitu. Kasar" kata Lusi tidak terima.
"Jangan salahin sifat aku berubah, itu karena kamu yang umbar umbar isi dalaman kamu. Gak kasih ke Gery gak Juna kamu sama aja kan suka kasih sembarangan"
__ADS_1
"Aku gak kaya gitu itu salah paham. Itu salah paham"
"Udahlah males banget ngomong sama cewek yang gak bisa jaga kehormatan dan sukanya buka-bukaan didepan laki-laki lain. sekarang kalau kamu mau kejar Juna atau pria mana pun aku terserah"
Seketika Lusi pun tampak sedih dengan apa yang dituturkan oleh suaminya, Lusi merasa jika Lusi hanya difitnah dan tak berniat melakukan hal buruk itu.
"Mau berubah seperti apapun sifat kamu Rian aku tetap sayang sama kamu cinta sama kamu" ucap Lusi melihat Rian.
"TERSERAH" ketus Rian.
Lusi merasa apa yang menimpa kehidupannya saat ini itu hanya akal-akalan Gery saja untuk membuat semuanya yang sudah hancur semakin hancur. Walau sampai saat ini Lusi belum bisa memberikan bukti apapun.
Dan mau seperti apapun fitnah yang beredar tentang dirinya yang selingkuh, Lusi tak mau jika rumah tangganya berakhir karena hal ini. Karena Lusi tahu bahwa dirinya tidak mungkin selingkuh.
Rian pun tampak pergi keluar lagi .
Lalu tak lama Gery si biang kerok datang dengan membawa daftar nama undangan yang akan ia undang nanti diacara nikahan nanti. Gery membawa daftar nama yang lumayan banyak.
"Nih nama undangan yang bakal lu undang satu persatu" ucap Gery memberikan secarik kertas pada Lusi.
Lusi pun tampak terdiam dan tak banyak bicara.
"Kesel"
"Kenapa?"
"Pake nanya kenapa, gara-gara kemarin di ruang kerja kamu Gery"
Bukannya merasa bersalah Gery malah tampak tertawa.
"Sabar ya ini ujian" kata Gery.
"Tau ah lagi pusing, tar dulu deh mikirin nikahan kamu Gery. Aku lagi gak mood" ucap Lusi yang lalu pergi meninggalkan Gery.
Lalu dengan perasaan kesalnya Lusi mengajak Fabio berjalan jalan keluar.
Lusi pun tampak mengajak jalan-jalan putranya, dengan menggendongnya dan mengajak ke taman sambil melihat lihat pemandangan.
Seketika Lusi pun tampak melamun sejenak sambil termenung, pikiran nya tampak kosong dan merasa hampa.
__ADS_1
Tiba-tiba ada seseorang datang dan memberikan balon berwarna hijau pada Lusi, Lusi pun kaget dan saat Lusi menengok ternyata Juna yang memberikannya.
"Juna" ucap Lusi terheran. "Kenapa disini"
"Kebetulan lewat aja, tadi Marisa minta bubur sumsum dan aku lewat terus lihat kamu sama anak kamu. Ada balon juga tadi jadi beli deh buat baby kecil Fabio yang tampan" ucap Juna memberikan balon itu kepada Lusi. Lusi pun tampak menerimanya.
"Terimakasih"
"Sama-sama"
Juna pun tampak melihat raut wajah Lusi yang kali ini tampak sedih.
"Kamu sedih" tanya Juna.
"Iya" jawab Lusi yang terlihat sedih, sambil menggendong Fabio.
"Kenapa?"tanya Juna.
"Yang kejadian kemarin itu?" Tanya Lusi.
"Yang mana yang dikantor Gery itu" jawab Juna.
"Iya, Rian marah. kalau Marisa apakah tahu juga masalah ini" tanya Lusi.
"Marisa tahu semua aku ceritakan semuanya, aku ceritakannya pelan-pelan. Awalanya dia sih seperti kecewa tapi setelah aku cerita bahwa itu hanya salah paham dan aku katakan bahwa aku tidak tahu kalau itu akan terjadi, dengan cepat Marisa menarik kesimpulan dan percaya kalau aku tidak mungkin berbuat hal seperti itu dengan kamu. Sekalipun kita pernah ada hubungan spesial sebelumnya tapi dia lebih percaya dengan apa yang aku katakan, ketimbang yang orang lain katakan" ucap Juna.
"Kamu beruntung, kamu beruntung memiliki Marisa yang bisa mengerti kamu. Tanpa harus memberi penjelasan yang berulang tanpa harus adu mulut apalagi pakai otot. Kalau aku apa sama Rian apa, dia jangan kan denger dia lebih terkesan cuek dan semua yang terjadi dia anggap aku selingkuh" ucap Lusi tampak sedih.
"Lusi apa perlu aku datang ke rumah kamu buat mengatakan yang sebenarnya pada Rian"
"Eh lebih baik jangan, karena kamu tahu kan kalau Rian itu ringan tangan" ucap Lusi.
"Baiklah"
Tanpa Lusi dan Juna ketahui, sebenernya Rian tampak memperhatikan kejauhan keduanya yang tampak mengbrol itu. Namun Rian tak tahu apa yang mereka bicarakan dan Rian langsung manarik kesimpulan bahwa Lusi memang masih ada rasa dengan Juna.
"Hemz jadi ternyata kalian memang selingkuh" ucap Rian tampak dari kejauhan di dalam mobil.
Rian pun langsung pergi setelah itu.
__ADS_1
Lalu bagaimana kelanjutannya simak lagi nanti?