
Keesokan harinya, saat malam hari.
Gavino yang tampak menemui Dea disebuah Restauran.
Gavino sudah tahu jika Deon sudah kembali, hanya saja Gavino masih sulit untuk menemuinya. Beberapa kali, Gavino ke kantornya namun tak pernah ada ditempat.
Sehinggaga Gavino membuat rencana lagi, mengatur pertemuan antara Dea dengan dirinya agar ia mampu bertemu Deon pria yang sudah membawa pergi Tanisa.
Pertemuan Gavino dan Dea bukan sekedar makan malam biasa, Gavino tampak ingin mencari kabar tentang Tanisa terbaru.
Terlihat diantara keduanya makan malam bersama, Dea tampak tampil seksi dan terlihat dengan make up yang tampak mencolok. Namun itu sungguh tak membuat Gavino terlena dan ingin menyentuhnya. Ya, bagi Gavino hanyalahTanisa seorang dihati nya bukan Dea atau wanita mana pun.
Dea tampak memesan beberapa makanan untuk mereka berdua makan malam dengan hidangan yang mewah itu, meski semua makanan tampak banyak dan mewah namun Gavino tampak tak menikmati makan malam itu. Deon hanya tampak menatap dan melihatnya saja.
"Aku sudah pesan semua sebaiknya kamu makan" pinta Dea.
"Aku mau tanya?" Tanya Gavino yang tiba bertanya.
"Apa?" Sahut Dea
"Apakah Ayah mu sibuk hari ini" tanya Gavino.
"Ya sepertinya dia free" kata Dea. "Sudah lah kamu jangan bahas bisnis kita nikmati saja waktu berdua kita, kamu kan yang ajak aku untuk makan malam"
"Kamu tahu kan kalau aku baru mau menerima perjodohan ini setelah aku bertemu papa mu"kata Gavino.
"Sekarang katakan dimana dia" kata Gavino sekali lagi.
"Hahaha kamu yakin bila bertemu dengan nya, kamu akan berjanji akan menikahi ku" kata Dea.
"Jika iya kenapa, aku mau bertemu dengannya dan ini penting masalah bisnis asal kamu tahu, aku mau semuanya jelas termasuk dalam menikahimu" kata Gavino dengan sorot mata yang tajam.
"Tapi sebelumnya aku mau bertanya?" Ucap Dea
"Apa?"
"Apakah kamu pernah meniduri wanita" tanya Dea.
"Pernah, bahkan beberapa wanita bisa aku tiduri dalam semalam. Kenapa memangnya?" Tanya Gavino.
"Aku belum pernah sekalipun merasakan hal itu, aku ingin sekali merasakannya"Kata Dea percaya diri.
"Terus?"
"Aku siap jika itu dengan mu"
"Lalu maksud mu, kamu mau memberikan kesucian mu untuk ku" kata Gavino.
"Iya"jelas Dea.
"Aku tak percaya wanita seperti mu masih gadis, silahkan tarik kata-kata palsu mu itu" ucap Gavino.
"Aku berani bersumpah, kita bisa buktikan itu. Bahkan aku berani bertaruh dengan apa saja"
Gavino pun tampak menggelengkan kepalanya, Gavino yang dulu sangat membenci Tanisa yang sudah tak gadis lagi kini ada gadis di depan mata yang menyodorkan kesuciannya. Namun tetap Tanisa lah yang ada dihatinnya kini.
"Kenapa kamu terdiam kamu tak percaya, kita bisa buktikan di dokter. Kita cek keperawanan aku berani untuk membuktikan itu semua" kata Dea sambil menatap Gavino yang terlihat gagah dan tampan malam itu.
"Cukup, cukup Dea" ucap Gavino.
"Kamu mau bukti apapun itu, aku berani, bahwa aku hanya memberikan kesucian ku hanya untuk orang yang ku cintai dan itu kamu"jelas Dea.
"Sudahlah Dea. Aku tak ingin membahas itu dulu, aku hanya ingin bertemu dengan Deon"
__ADS_1
"Baiklah" ucap Dea mengambil handphone nya dan mencoba menelpon papanya.
"Dan satu lagi, katakan jika kamu meminta papa mu datang bukan untuk bertemu dengan ku" kata Gavino.
"Lalu?"
"Katakan saja begitu"
"Yakin hanya masalah kerja saja kamu ingin bertemu dengannya"
"Iya aku janji hanya itu saja" ucap Gavino.
Lalu Dea pun menelpon papanya untuk bertemu dengan nya disebuah restoran, Dea pun tampak menelpon papanya. Dan Dea juga tak mengatakan bahwa disitu ada Gavino.
Hingga 15 menit kemudian, tak lama Deon pun datang.
Deon pun menemui Dea anak kesayangannya itu di restauran yang sudah dijanjikan.
Seketika Deon pun datang itu, tak pernah menyangka bahwa dirinya akan bertemu dengan Gavino dan saja Deon lantas kaget melihat Gavino.
Apa-apaan ini, kenapa dia ada disini. Sialan. benak Deon tampak melihat Gavino.
Gavino pun tampak berdiri saat itu, saat melihat Deon. Dengan tatapan yang tajam dan menahan amarah yang begitu mendalam.
Deon teringat sekali akan Tanisa yang kini berada di genggamnya, Deon pun tampak ingin kabur namun ia tak jadi saat melihat Dea yang sudah menunggu dirinya.
Aku akan hadapi ini, aku tidak takut pada mu Gavino kata Deon dalam hati.
Saat tampak Deon didepan mata, Gavino tampak ingin marah dan membunuh Deon malam itu juga namun Gavino menahan emosinya. Sambil mengepalkan tangan kesal, berusaha untuk tidak marah saat Deon tampak berada dihadapannya kini.
"Duduklah" ucap Gavino menyuruh Deon duduk.
Deon pun duduk dengan ketegangan yang sama
Keduanya pun tampak terdiam antara Deon dan Gavino tak ada yang memulai bicara. Deon tampak membuang wajahnya sementara Gavino menatap Deon tajam.
"Kenapa pada diam aja sih, ayo makan" ucap Tanisa untuk menyuruh kedua pria yang terlihat tegang itu.
"Iya nak, kenapa kamu gak bilang kalau ada Gavino disini" kata Deon berusaha tenang.
"Iya pa aku memang sedang makan malam bersama, dan Gavino bilang kalau dia ingin bicara sama papa. Masalah bisnis, iya kan" ucap Dea kepada Gavino.
"Iya" jawab Gavino singkat.
"Oh baiklah"
Lalu Deon pun tampak diam dan Gavino pun juga diam, mereka tampak terdiam.
Lalu sampai pada dimana, Dea ijin untuk pergi ke toilet disaat suasana yang begitu tegang. Makan malam yang harus nya romantis kali ini ada dua pasang mata dengan tatapan tajam.
"Aku ijin ke toilet dulu ya" kata Dea.
Dan kini hanya tinggal Deon dan Gavino yang sedang dalam suasana yang penuh akan ketegangan.
Bukan makan malam sebagai tujuan utama kali ini, suasana tampak memanas seketika lalu akhirnya Gavino membuka suara.
"Kemana saja bapak selama ini"kata Gavino yang menatap Deon tajam.
Deon pun hanya tampak tersenyum tipis, tanpa menjawab.
"Kemana saja bapak selama ini!!" ucap Gavino dengan suara yang cukup keras.
"Bisakah kamu bicara lebih sopan didepan orang tua. Dan jelas kemana aku pergi itu bukan urusan mu anak muda" jawab Deon santai.
__ADS_1
Lalu dengan cepat Gavino tampak menarik kerah baju Deon dengan cepat.
"Kembalikan Tanisa kepadaku" ucap Gavino dengan tatapan membunuh dan berapi-api.
"Maksud mu, wanita itu?"
"Kembalikan dia dalam hidupku"
Deon pun malah tampak tersenyum sambil tertawa.
"Hahaha tidak semudah itu kamu bisa mengambilnya" ucap Deon.
Lalu Gavino pun langsung menonjok wajah Deon.
Buugghhh...
"Brengs*k" ucap Gavino kesal dan masih memegang kerah baju Deon.
"Kembalikan dia padaku, atau aku akan membunuhmu"
"Asal kamu tahu anak muda, wanita malam itu sudah aku beli bukan hanya satu malam saja tapi seumur hidupnya" kata Deon dengan suara yang lantang.
Seketika Gavino tampak tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Tanisa kamu sudah dibeli oleh pria tua ini, ini tak mungkin Tanisa.. tak mungkin batin Gavino tampak kesal.
"Katakan!!!!! kamu membelinya dengan harga berapa, aku akan membayarnya 10 kali lipat atas uang yang kamu keluarkan untuk membelinya" kata Gavino sangat emosi.
"Aku tidak akan melepaskan dia mau berapapun harganya, Tanisa adalah miliku selamanya. Dia akan selamanya menjadi milikku dan pemuas nafsu ku tanpa boleh ada yang memiliki selain aku, sampai dia mati" ucap Deon.
Lalu dengan cepat Gavino memukuli wajah Deon lagi, tanpa peduli dia orang tua atau bukan.
Seketika..
Lalu tampak orang ramai memisahkan keduanya yang sedang dalam kondisi memanas, Deon pun tak mau kalah ia pun juga memukul Gavino. Deon merasa Gavino pun juga harus diberi pelajaran karena sudah memukulnya.
Dan saat itu Dea kaget melihat wajah papanya yang sudah memar dan tampak Gavino juga dengan wajah yang sama.
"Jadi kamu mencintainya" kata Deon
"Aku sangat mencintainya dan aku tidak akan pernah melepaskannya" kata Gavino.
"Hahahaha tapi sayang sekali kamu terlambat dan kamu takan pernah bisa mendapatkan"
"AKU AKAN MENGAMBIL DIA DARI MU" teriak Gavino, yang mencoba memukul Deon lagi namun ia tampak ditahan oleh pihak keamanan.
"Ya, kamu boleh mengambil dia dari ku tapi setelah dia mati" ucap Deon.
"Sekali saja kamu melukainya kamu akan berhadapan dengan ku brngsk" kata Gavino kesal.
Lalu Deon pun langsung pergi saat ia tersadar ada putrinya yang sedang melihat itu.
Tampak banyak pasang mata menyaksikan keributan yang terjadi saat itu, dan pihak kemanan restoran tampak turun tangan.
Gavino pun tampak tak bisa berkutik untuk kembali memukul Deon karena tangan Gavino dipegangi oleh dua Securiti karena Gavino lah yang terlihat sangat.
"Ayo kita pulang Dea" ucap Deon menarik tangan Dea untuk ikut pulang dengannya.
"Kenapa, ada apa ini?" Tanya Dea.
"Nanti papa jelaskan dimobil"
Lalu Deon pun pulang bersama putrinya.
__ADS_1
Makan malam itu memang menjadi sangat menegangkan dan penuh pertikaian. Deon pun tampak pergi bersama putrinya setelah itu.