Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Kemarahan Deon dan ungkapan cinta (Leon)


__ADS_3

Sementara itu, Leon yang tampak harus menghadapi suasana genting dimana ia harus bertanggung jawab atas perginya Tanisa yang dibawa kabur oleh pria yang bernama Gavino. Dan itu bukan lah yang mudah bagi Leon untuk menjelaskan semuanya, namun Leon harus menghadapi setiap hal yang buruk mungkin akan terjadi setalah ia melepaskan wanita yang bernama Tanisa itu.


Leon memang harus bertanggung dengan apa yang ia lakukan. Karena dirinya lah yang mengizinkan Tanisa untuk bisa pergi bersama Gavino.


.


.


.


Siang itu, siang hari sekitar pukul 13.00 Deon tampak baru untuk menemui Tanisa dirumah sakit. Karena Deon saat itu sedang ada meeting dan baru bisa kesana pukul jam 13.00.


Saat Deon datang dan tahu dimana Tanisa dirawat. Hal itu pun diketahui oleh Deon bukan Tanisa yang ditemui, melainkan tempat tidur yang kosong tanpa ada Tanisa. Tanpa ada orang yang dituju oleh Deon. Deon pun murka dengan apa yang baru saja ia lihatnya. Rasanya ia tak percaya tak melihat Tanisa.


Sementara itu tampak Leon yang memegang kepalanya sambil tertunduk, tanpa berani menatap papanya itu.


Dengan tatapan kesal Deon pun menatap wajah putranya dengan penuh amarah karena Deon tahu jika putranya yang sudah membawa Tanisa ke rumah sakit. Namun tampak tak ada Tanisa kali ini.


"Dimana Tanisa?!!!!" Tanya Deon kesal dengan suara yang agak keras.


"Dia tak ada" jawab Leon sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa maksudnya!!!!!" tanya Deon dengan sorot mata yang tajam.


"Dia pergi" jawab Leon singkat namun masih tak berani menatap papanya.


"KEMANA!!!!" Tanya Deon keras penuh amarah. Deon pun langsung menarik kerah baju putranya.

__ADS_1


"Pergi"


"Papa tanya padamu, dimana dia!!!!"


"Dia pergi, dia berhak hidup bahagia dengan pria yang ia cintai" ucap Leon.


"Brengsk!!!!!"


Lalu dengan cepat Deon pun ingin memukul wajah putranya namun Deon tampak menahan emosinya mengingat Leon adalah putranya.


"Sialan!!!!, brngsk" Ucap Deon kesal.


"Kalau bukan karena kamu putraku, sudah habis kamu hari ini. Sekarang kamu cari kemana dia pergi dan bawa dia kembali pada papa. Sekarang!!!!!" Ucap Deon kesal.


"Pa, Tanisa berhak hidup dan bahagia dengan pria yang ia cintai" jelas Leon yang kali ini menatap wajah papanyam


"Kamu tak mengerti"


Lalu Deon tampak benar-benar ingin memukul wajah Leon, namun masih ia tahan sekali lagi.


"Papa mau pukul wajah ku, iya, pukul saja pa pukul!!!, bahkan papa mau mengubur ku secara hidup-hidup silahkan tapi aku tak mau dan membiarkan Tanisa hidup dalam kesengsaraan yang papa buat sendiri" ucap Deon kesal.


"Apa maksud mu, beraninya kamu bicara seperti itu" kata Deon kesal.


"Ya aku berani, karena aku mencintainya" ucap Leon tegas.


Lalu dengan cepat Deon memukul wajah putranya.

__ADS_1


Buuugghhhh....


Leon pun langsung tampak kesakitan memegang wajahnya yang kali ini benar-benar dipukul oleh papanya. Papanya benar-benar tampak emosi saat Leon ucapkan cinta pada kekasih papanya itu.


"Cinta mu sungguh buta pada wanita itu!!!! Dan beraninya kamu mencintai orang yang akan menjadi ibu tirumy" Ucap sang papa kesal.


"Aku tidak peduli seberapa butanya cintaku dan hatiku pa. Aku sama sekali tak peduli aku salah atau benar. Tapi satu hal yang harus papa tahu, aku adalah orang yang tak akan rela membiarkan diri Tanisa tersiksa apalagi itu karena papa!"


Dengan sorot mata yang tajam dan penuh amarah Leon tampak memandang wajah pria itu.


"Oh kamu benar mencintai nya, sepulang ini papa benar-benar akan menghabisi Tanisa"


"Sekali saja papa melukai Tanisa, aku adalah orang pertama yang takan membiarkan itu terjadi!!!! Sekalipun dirimu adalah papa ku aku takan peduli"


"Sudah gila dirimu. Ingat Leon, kamu yang akan menyesal karena membelanya. Kamu tak tahu siapa sebenarnya Tanisa. Kamu tak pernah kenal Tanisa sebelumnya dan dia siapa. Pendam jauh rasa mu, karena kamu yang paling menerima rasa kekecewaan. Dan ingat Tanisa selamanya akan menjadi milik papa seumur hidupnya sampai ia mati" ucap Deon kesal pada putranya.


"Tanisa bahagia, Tanisa lebih bahagia tanpa papa. Dan aku adalah orang yang bertanggung jawab akan hal itu"


Deon pun tampak sangat kesal dengan ucapan putranya itu. Rasanya ingin sekali ia memukul habis putranya itu. Namun Deon menahannya berkali-kali, karena Deon tahu itu putranya. Deon masih menahannya. Deon pun tampak pergi meninggalkan putranya dengan perasaan kesal, tak ingin betengkar lebih lama.


Tapi atas kejadian itu, Deon tampak mencabut semua fasilitas yang ada. Deon tampak memblokir semua kartu debit dan kredit milik putranya. Ia tampak sangat kesal sekali dengan apa yang dilakukan oleh Leon.


Lalu dengan perasaan kesal Deon, Deon pun melangkah dengan kasar. Deon tahu kemana Tanisa pergi tanpa harus Leon beritahu. Ya kemana lagi kai bukan di tempat Gavino. Dan Deon pun tahu, jika saat ini Gavino pasti ada diapartemt miliknya tak mungkin dirumahnya membawa wanitanya. Dengan langkah kaki yang kasar Deon menaiki mobilnya dan membawa mobil nya dengan melaju dengan cepat.


"Sialan kau Gavino, beraninya kau membawa wanita ku. Aku akan menyusul dan membawa kembali Tanisa. Tak akan aku biarkan Tanisa dibawa oleh siapapun dia adalah wanita ku selamanya" ucap Deon kesal sambil menyetir.


Tak lama waktu berselang kini Deon pun sampai dimana Gavino tinggal. Ya di lantai 3 itu Gavino tinggal. Dan kini saatnya Deon harus bertemu dengan Tanisa dan menghabisi pria yang bernama Gavino itu.

__ADS_1


Deon pun menekan belnya dengan perasan kesal.


Bagaimana kelanjutannya simak terus ceritanya?


__ADS_2