
Malam harinya sepulang dari kantor Rian menyempatkan diri ke toko berlian untuk membelikan sebuah kalung liontin. Ya, untuk siapa lagi kalau bukan untuk Marisa. Sebuah cinta yang datang secara mendadak layakanya tahu bulat digoreng dadakan. Yang gurihnya gurih enyoy..
Rian tidak tahu, mengapa.. sekian waktu berlalu sekian detik berlalu. Ia merasa memiliki ketertarikan sendri pada wanita yang bernama Marisa ini. Apalagi ditambah saat Rian tahu bahwa Marisa tidak pernah pacaran sekalipun. Dengan kata lain, itu artinya Marisa masih perawan, dan tak pernah disentuh oleh pria manapun. Ah, mengingat itu membuat Rian. ingin segera menikahi Marisa yang memang dasarnya sudah tak sabar juga untuk dinikahi.
Rian pun tampak memilih liontin termahal yang berada di toko tersebut. Paling tidak sekali kali Rian bisa membelikan sesuatu selain makanan dan bunga. Bosan jika selalu bunga, sekali-kali tidak ada salahnya jika membelikan sesuatu yang lebih berharga.k
Karena waktu sudah hampir larut, Rian pun tampak terburu-buru dan sampai lupa juga membelikan berlian untuk Lusi istri sah nya sendiri.
Rian menaruh disaku jasnya, mungkin esok pagi ia akan memberikannya.
.
.
.
.
Pagi hari tampak cerah, burung-burung beterbangan dengan sayapnya. Dan matahari pun menyinari bumi. Pagi itu terlihat Rian yang bergegas untuk berangkat ke kantor. Ya.. semenjak Rian menjalin hubungan dengan Marisa. Rian berangkat selalu lebih pagi dari biasanya. Karena pagi itu Rian harus membawakan makanan untuk Marisa.
"Rian kamu gak sarapan dulu" ucap sang istri yang melihat suaminya sudah siap berangkat ke kantor.
"Nanti aja dikantor ya"
"Kenapa gak dirumah"
"Gak bisa karena aku buru-buru" ucap Rian. "Aku berangkat ya sayang. Oke, i love you"
"I love you too"
__ADS_1
Meski, Rian mengatakan kata i love you. Namun entah mengapa terasa gamang didalam hati Lusi. Ya, perasaan Lusi kali ini tampak sedikit lebih peka. Ada yang terasa lain dan beda. Namun jiwa positive Lusi berusaha untuk menyampaikan pada diri sendiri. Bahwa semua tak ada yang salah dan semua baik-baik saja. Lusi selalu berusaha membuang jauh-jauh rasa curiga berlebihan pada suaminya. Karena Lusi tahu suaminya kini telah mencintai secara tulus tak seperti dulu yang ada apanya. Ah rumit sekali kalau bicara tentang perasaan dan cinta.
Pagi itu Rian tak menyadari bahwa ia meninggalkan jas yang tadi malam ia pakai dikamar. Rian ke kantor tanpa jasnya itu. Kali ini yang menjadi masalah bukan jas. Namun kalung berlian yang ia tinggalkan didalam saku jas miliknya. Rian tampak menyadari saat ia sampai dirumah sakit. Dan mengingat bahwa ia akan memberikan hadiah pada Marisa.
"Gue lupa kalau gue mau kasih Lu hadiah" ucap Rian.
"Jangan pikirin lagi soal hadiah. Bukannya hadiah nya kamu"
"Serius Mar"
"Yaudahlah besok kan bisa?"
"Mm, tapi. Takut ditemuin hadiah itu sama istri gue Mar"
Marisa pun tampak menaikan alisnya. Dan menghela napasnya. "Kalau mau pulang pun. Rumah kamu jauh. Yaudahlah besok aja, gak apa-apa"
Rian pun tampak mengangguk pasrah.
"Oke, kalau gitu. Aku dan kamu. Baiklah, Tapi kalau misalkan di tambah pakai kata-kata sayang boleh?" Ucap Rian.
"Jika itu perlu kenapa gak, lakukan aja" ucap Marisa tersenyum ringan.
"Baiklah sayang" ucap Rian membalas senyuman. Rian pun langsung menyuapi Marisa makam.
"Sampai kapan ya, aku begini terus membawa kan kamu makanan begini"ucap Rian lagi.
"Kalau kamu sudah menikah pun, pasti aku yang akan memasakkan makanan untuk kamu"
"Perut aku pasti akan buncit jika sekali makan harus dua piring. Satu piring dari kamu, dan satunya lagi dari istriku satunya lagi"
__ADS_1
"Lalu mau kamu bagaimana?"
"Aku akan pilih masakan siapa yang paling enak"
"Boleh aja, kamu begitu. Tapi satu hal yang harus kamu ingat. Menjadi istri itu bukan ajang pencarian bakat. Jadi jika kamu harus memilih salah satunya, usahakan bukan soal rasa. Tapi perkara cinta dan keadilan dalam berumah tangga"
"Emangnya kenapa, masakan kamu gak enak ya" ucap Rian.
"Justru itu aku tidak ingin istri kamu kalah saingan hanya soal perkara masakan"
"Emangnya masakan kamu enak?"
"Ya, bisa dibilang begitu"
"Kenapa bisa enak"
"Mungkin bakat"
"Bakat darimana?"
"Bakat terpendam"
"Hem, oke kali ini kamu boleh sombong. Walaupun aku belum pernah rasain masakan kamu. Paling tidak, kriteria wanita yang aku inginkan yaitu yang pintar masak. Dan satu lagi. Yang bisa memanjakan suami dikasur empuk, dengan bertabur bintang dan angin malam"
"Hemp. Jangan bahas soal ranjang"
"Kenapa?"
"Aku terlalu polos soal itu"
__ADS_1
Rian pun tampak tersenyum.
"Oke oke"