Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Mar,


__ADS_3

Lalu setelah itu tampak Juna dan Gery pun pulang. Setelah mereka memakan soto buatan Lusi yang rasanya jauh dari enak. Ya maklum saja, Lusi ini terlalu berani garam. Dalam membuat makanan. Ya, mungkin agar mereka bisa merasakan asam garam kehidupan ini. Sama halnya seperti hidup Lusi. Yang begitu merasakan asam garamnya hidup ini.


Lusi pun hanya tersenyum lega setelah soto buatan dia tidak mubazir terbuang. Tanpa merasa ada hal aneh menimpa dirinya setelah tidur tiga jam tanpa jeda. Padahal jika Juna tak datang. Semua hal buruk mungkin saja menimpa Lusi. Yaitu hal buruk yang disiapkan oleh Gery.


Keesokan harinya, Lusi pun mempersiapkan seragam kerja Rian. Berikut dengan minyak wangi yang diberikan kepada Rian dan menyemprotkan kepada pakaian kerja Rian. Yang Lusi semprotkannya pun bukan parfum pria. Melainkan wanita. Yang biasa Lusi pakai.


"Kenapa parfum ini yang kamu kasih ke aku" ucap Rian.


"Biar kamu gak digoda wanita, jika kamu wangi parfum wanita. Wanita-wanita yang akan mendekati kamu tahu. Bahwa kamu sudah memiliki wanita" ucap Lusi.


"Hem, semprot kan saja kalau begitu" ucap Rian.


Lusi pun tampak mencium pipi suaminya. Lalu menyemprotkan parfum keseluruh pakaian Rian. Rian pun tampak menutup hidungnya.


"Bukankah ini terlalu berlebihan" ucap Rian.


"Lebih baik lebih daripada kurang" ucap Lusi.


Lalu setelah Rian tampak pergi.


Sebelum berangkat kantor Rian pun menyempatkan menelpon Marisa secara diam-diam karena Rian sudah janji akan menemui Marisa.


"Aku mau kamu menjemputku sekarang" ucap Marisa.


Tut.. tut..


...


...


...


Dan sementara itu...


Terlihat Marisa yang merapihkan pakaiannya dirumah. Semua pakaian ia masukan dalam koper. Ia tidak peduli lagi untuk tinggal dirumahnya. Ia punya harga diri. Ucapannya tak mungkin ditarik kembali. Ia harus pergi . Tampak Gery yang memperhatikan Marisa merapihkan semua pakaiannya dan memasukan dalam koper miliknya.


"Lu mau kemana?" Tanya Gery.


"Pergi" jawab Marisa simpel.

__ADS_1


"Kemana?"


"Ke sebuah tempat. Yang pasti bukan disini" jawab Marisa.


"Sama siapa?"


"Ke tempat calon suami gue, dan tinggal disana"


"Lu punya calon"


"Iya calon gue, dia juga yang menabrak kaki gue sampai diamputasi seperti ini" tutur Marisa.


"Apa? Oh. Kalau gitu, Gue mau temuin siapa orangnya Mar. Orang yang udah berani-beraninya buntungin kaki lu Mar. Gue bakal patahin lehernya karena udah buat lu seperti ini" ucap Gery kesal.


"Jangan belagak peduli. Lu senengkan gue pergi dari sini. Lagi juga ngapain lu mau patahin lehernya, dia udah tanggung jawab mau nikahin gue. Karena kaki gue buntung" ucap Marisa.


Gery pun tampak kaget.


"Hah?? Mar, kaki lu buntung. Bukan lu bunting. Buat apa tanggung jawab degan nikahin lu. Bener-bener otak lu kaga nyambung Mar. Lu kebanyakan makan mecin ya" ucap Gery malah emosi.


"Eh, mau otak gue nyambung apa kagak. Bukan salah mecin doang. Lagi juga, Ibarat cinta itu ga lihat term and condition. Mau tai ayam juga gue makan dan gue bilang coklat kalau sudah cinta. Mau orang yang jahat juga gue bilang pangeran. Udahlah lu mending pergi, lu mana ngerti soal cinta" ucap Marisa lagi.


"Heh???. Itu orang bakal tetep gue pentungin Mar, mau siapapun dia. Mana dia orangnya. Bener Mar gue mah. Gue tabok bolak balik kalau ketemu" ucap Gery yang masih emosi.


"Gue yakin dia datang" ucap Gery.


Lalu dengan cepat Gery pun langsung membukakan pintu rumahnya. Dan tampak tak ia duga sama sekali. Rian yang datang


"Ri.. Rian.." ucap Gery tampak kaget.


Gery pun langsung menoleh ke arah adiknya Marisa.


"Apa dia ornangnya Mar" ucap Gery untuk meyakinkan Marisa.


Marisa pun terdiam.


"Mar jawab gue!!!" Tegas Gery.


"Iya" ucap Marisa.

__ADS_1


Lalu dengan cepat Gery pun langsung memukul wajah Rian dengan cepat.


Buuuggg...


Hingga beberapa kali. Buugg.. bugh.. bugg..


"Brengsek gara-gara lu adik gue jadi seperti ini" ucap Gery kesal.


"Apa-apaan ini" ucap Rian kesal. Sambil memegang pipinya yang habis kena pukul itu


"Marisa Adik gue Rian!!!" tegas Gery lagi, sambil memegangi kerah baju Rian.


"Apa!!!" ucap Rian kaget. "Mana mungkin"


"Semua bisa saja menjadi mungkin. Sialan gara-gara lu dia jadi seperti ini"ucap Gery kesal.


"Stop ger, stop!!! Gak pantes lu pukulin Rian seperti itu. Lu pikir lu hebat memukuli Rian seperti ini. Bagaimana pun lu gak pantas pukulin Rian kaya gitu. Sekalipun lu kakak gue!!!" Ucap Marisa kesal.


"Mar, gue cuma gak terima lu menderita" ucap Gery sambil mendorong Rian.


"Beban hidup gue sudah gue bagi-bagi sama Rian. Dia berjanji membahagiakan gue sekalipun dengan cara menikahi gue" ucap Marisa.


"Apakah bakal menjamin kebahagiaan lu. Hanya dengan menjadi yang kedua. Rian sudah punya istri Mar!!!" ucap Gery.


"Peduli apa lu soal kebahagian gue" ucap Marisa.


Rian pun tampak menghela napasnya.


"Ya, gue memang akan berusaha membahagiakan Marisa. Tidak peduli mau jadi yang pertama atau yang kedua Ger. Itu bentuk pertanggung jawaban gue" ucap Rian.


"Bullsyhit" ujar Gery.


"Terserah lu mau percaya atau gak" ucap Rian sambil memegang pipinya yang berdarah.


"Udahlah gue males debat sama lu Ger. Gue mending pergi. permisi. Semoga bokap gue bahagia. Dapatin anak emas kaya lu " sindir Marisa dan pergi.


Marisa pun tampak pergi bersama Rian.


.....

__ADS_1


.....


.....


__ADS_2