Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Kabar duka


__ADS_3

Terlihat Lusi yang sibuk sedang memilih baju yang mana yang akan ia gantung didepan rumah. Maklum saja Lusi malu jika harus memasang dalaman miliknya atau pun punya keluarga nya menggantung di depan rumah, karena malu kalau sampai ada yang melihat. Ini bukan nya sombong atau bagaimana, hanya saja Lusi baru menyadari bahwa dirinya punya tetangga yang ternyata lumayan genit.


Lusi pun mengibas-kibas bajunya dan ia gantung di depan rumahnya, si bapak tetangga samping rumah entah ada angin apa atau baru sadar punya tetangga yang cantik malah nongkrong didepan rumah sambil mainin burungnya. Eits ini burung yang bisa berkicau ya, bukan burung yang biasa dikasur. Jadi harap positive thinking.


Si bapak gak ada angin gak ada hujan, menonton Lusi yang sedang asyik menjemur baju. Entah kemana istrinya hingga samperin istri orang untuk diajak bergosip.


"Lusi" panggil pak Bagus.


"Kok bapak bisa tahu nama saya, kan kita belum saling kenal"


"Kemarin Bu Renata sudah cerita sama saya, nama kamu Lusi kan"


"Ya pak"


"Hemm.. sekian purnama saya baru lihat kamu loh, ternyata lumayan cantik juga lah buat diajak ke mall" ucap pak Bagus.


"Lusi, kemarin Bu Renata sudah banyak cerita tentang kamu, suami kamu dan kamu juga. Jadi saya tahu kamu lah sedikit-dikit, Bu Renata itu walaupun sudah tua tapi badannya tetap bagus seperti gitar spanyol. Eh saya pikir cuma Bu Renata aja, ternyata menantunya juga" ucap Bagus sambil senyum sendiri.


"Lah si bapak kenapa tahu-tahu ngerembet kesitu"


"Lebih baik jujur kan, daripada ada yang ditutupin. Lagi juga gak apa kita saling ngbrol namanya Ama tetangga"


Lusi pun hanya manggut-manggut saja.


"Oia kemarin itu ada aki-aki yang demen sama Bu Renata, eh dia malah gak mau" ucap Bagus sambil elus-elus burung yang ada digenggamannya itu


"Karena gak cinta kali pak" jawab Lusi asal.


"Ya namanya sama-sama kesepian ya siapa tahu kan, buat apa cinta kalau sama-sama butuh hasrat sih sikat aja"


Hasrat..


Mendengar kata hasrat Lusi jadi teringat sesuatu namun ia tampaknya masih lupa.


Dan...


Bicara tentang jodoh dan cinta, skalipun mama Renata masih cantik kalau secara ukuran janda tua, tapi Renata memang cukup selektif perihal jodoh. Apalagi Renata yang biasa hidup sendiri dan bergelimang harta seperti nya akan sulit masuk kedalam kehidupannya yang terbilang mewah, sekalipun sekarang miskin tetap Renata akan sulit menjatuhkan pilihan hatinya pada pria.


"Udah ya pak saya masuk dulu, masih ada kerjaan yang lain" ucap Lusi ijin karena cuciannya semua sudah dijemur.


"Eh tunggu dulu" kata Bagus.


"Kenapa pak"


"Kamu gak mau jadi art ke luar negri lumayan gajinya" ucap Bagus.


"Gak deh pak, saya gak siap harus meninggalkan mereka disini" tolak Lusi.


"saya dengar suami kamu lumpuh. Punya suami lumpuh apa enaknya"


" Ya enak lah, kalau gak enak saya kasih kucing"


"Kalau kamu mau yang enak-enak bisa kok saya bantu"


"Pak suami saya itu waktu sehat seger banget bapak, ya namanya musibah kan gak pernah tahu kapan datang. Jadi cuma bisa ikhlas menerima kenyataan ini dan berdoa semoga suami saya cepet sembuh pak" jawab Lusi.

__ADS_1


"Hemm atau kamu mau bekerja ditempat anak saya bekerja dipabrik gajinya lumayan"


"Wah kalau yang ini saya mau pak, saya memang lagi ada rencana mau cari kerja, tapi gak keluar negri"


"Yaudah besok saya minta alamatnya nanti kamu bisa melamar disana"


"Oke pak"


Lalu saat itu Lusi pun masuk kedalam rumah dan membuat surat lamaran. Lusi pun tampak mencari-cari bolpoin yang pernah ia bawa didalam tas miliknya hingga ia kembali menemukan sebuah jam tangan yang ia tidak tahu siapa pemilik sebenernya itu. Ya jam tangan itu ia temukan kembali di dalam tas miliknya.


Lusi ingat betul jam itu ia temukan disebuah hotel. Lusi pun akhirnya memakai jam itu untuk ia pakai karena lumayan keren juga ditangannya.


Lusi pun memandang suaminya yang sedang duduk dikursi roda sendiri dengan mata yang sayu.


"Kenapa sedih sayang" ucap Lusi mencium kening sang suami.


"Aku benci padamu" ucap Rian.


"Kenapa?"


"Aku ingin sekali tidur dengan mu, aku ingin dilayani selayaknya suami istri" ucap Rian kesal.


Lusi pun tersenyum.


"Iya sayang aku paham" ucap Lusi.


"Apakah karena aku lumpuh, kamu tidak sudi melayani ku" kata Rian.


"Bukan begitu hanya saja aku lupa" ucap Lusi memandang suami dari dekat.


"Kalau memang seperti itu kamu boleh tinggalkan aku" kata Rian yang terlihat marah.


"Yaudah besok aja, aku gak mau kasihan kamu capek" kata Rian lagi.


Lusi pun tampak tersenyum.


"Iya aku janji besok malam kita akan lakukan semua yang kamu mau" ucap Lusi mencium bibir suaminya mesra.


Hingga malam harinya, Lusi pun tampak membaringkan suaminya diatas kasur miliknya. Lusi tidak pernah menyangka jika suaminya menjadi melankolis hanya karena perkara itu. Dan entah mengapa malam itu. Ya malam itu Lusi sangat merindukan suaminya.


Malam yang dingin, Lusi ingin sekali memeluk suaminya erat.


"Sayang" ucap Lusi.


"Apa?" Jawab Rian.


"Aku ingin memeluk mu" pinta Lusi.


"Peluk lah aku" ucap Rian.


Lusi pun memeluk erat sang suami.


"Kalau ternyata hidup hanya sekali bagaimana? Kalau hidup kita tak pernah bahagia bagaimana?" Kata Lusi.


"Aku cukup menjadi orang yang bahagia karena pernah dipertemukan oleh mu" kata Rian singkat.

__ADS_1


Lusi pun akhirnya menangis dengan air mata yang tak terbendung lagi. Ia merasa sakit dalam hatinya penuh kedukaan yang mendalam.


"Hey kenapa kamu menangis" tanya Rian.


"Kapan kita bahagia" tanya Lusi dipelukan suaminya.


Rian pun terdiam sejenak.


"Tersenyum lah saat itu kamu akan bahagia, kamu harus kuat kamu istri yang paling kuat jangan pernah menangis" kata Rian.


"Sejujurnya aku kasihan melihatmu dikursi roda seperti ini, Rian bila aku bisa merasakan sakit. Aku lebih sakit melihat mu sakit, ketimbang rasa sakit yang pernah aku rasakan sakit dalam hidupku" ucap Lusi memeluk Rian.


"Kamu terlalu baik menjadi istri sampai dirimu kebal akan rasa sakit untuk dirimu sendiri. Jadilah wanita yang kuat sayang" ucap Rian.


"Disaat orang menghina mu karena kamu lumpuh rasanya aku kesal, tapi aku mencoba menahannya karena aku tahu ini ujian untuk kita. Tapi kenapa orang mudah sekali menganggap itu sebagai cemohan Rian. Kenapa?" Ucap Lusi.


"Ssstt.. sudah sudah jangan dengerkan kata orang yang penting bukan kata orang yang penting apa kata kita" ucap Rian.


"Rian" ucap Lusi.


"Ya"


"Besok ada tes kerja, apa aku boleh ikut" tanya Lusi.


"Tentu"


"Aku minta doa ya agar semua lancar" kata Lusi.


"Pasti, aku doakan semoga kamu sukses dan berhasil. Maaf ya tadi aku marah"


"Maaf juga aku cuek" kata Lusi.


"I love you"


"I love you too"jawab Lusi.


Hingga keesokan harinya, Lusi pun mendapat alamat untuk ikut interview kerja. Lusi dapatkan alamat itu dari pak Bagus. Dengan kesiapan yang seadanya Lusi pun berangkat.


Lusi pun berangkat dengan naik ojek. Lusi berharap jika semuanya akan lancar.


Lusi pun ikut semua sesi yang ada, semua nya Lusi ikuti. Lusi merasa tak ada yang aneh pada hari itu, sampai tahap belum selsai. Tiba-tiba Lusi mendapatkan kan telepon. Kabar yang begitu mengejutkan untuk dirinya saat itu sebuah berita yang begitu memilukan.


Yakni sebuah kabar yaitu Rian meninggal.


Rian meninggal.....


Betapa mengejutkan dan begitu kaget Lusi mendengar kabar berita tentang suaminya itu.


Mata nya membulat Lusi pun menangis semua mata pun tertuju pada Lusi yang sedang menangis mendengar sebuah kabar kematian tentang suaminya yang ia cintai.


Dalam hidup Lusi tak pernah menyalahkan takdir.


Namun...


Kenapa takdir ini terasa begitu pahit, saking pahitnya Lusi harus merasakan semua ini. Lusi pun menangis sejadinya.

__ADS_1


Lusi pun langsung berlari keluar tanpa peduli dengan keadaan sekitar, ia tampak terpukul dengan semua yang ada didada. Hanya duka yang mendalam yang begitu ia rasakan.


Rian kenapa kau meninggalkan ku... Kenapa!!!!! Anak kita masih kecil dirimu sungguh tega!!!! Meninggalkan ku sendiri!!!


__ADS_2