
Lusi sebenarnya rindu dengan kehidupannya, ingin mengembalikan suasana kehidupan rumah tangganya seperti sedia kala. Seperti saat ia hidup bersama suaminya. Namun hingga saat ini ia masih bimbang mau bagaimana kelanjutan hubungan rumah tangganya. Tampak ia melihat Fabio yang masih kecil. Rasanya kasihan bila bicara tentang perpisahan. Lusi ingin membesarkan putranya bersama Rian. Dan menjalani kehidupan rumah tangga yang normal.
Setelah itu, sore hari tampak seseorang datang menemui Lusi. Lusi kaget karena yang datang adalah pria yang tak ia duga dan itu adalah Gery.
Lusi pun kaget karena bisa-bisanya Gery menyusul ia sampai ke Bandung. Padahal tak ada angin tak ada hujan. Lusi pun suka tidak suka menyapa pria sahabat suaminya itu.
Lusi buatkan teh manis hangat dan sedikit cemilan berupa pisang goreng dan singkong goreng. Lusi pun tampak menatap Gery hanya sekilas. Gery terlihat tampan dan wangi. Entah sengaja datang begitu atau bagaimana Lusi tak tahu.
"Maaf cuma dikasih makanan seadanya, abis datangnya dadakan. Jadi gak siapin apa-apa" ucap Lusi.
"Gak apa-apa ini juga cukup" jawab Gery.
"Kamu kenapa bisa disini, dan ada perlu apa bisa sampai jauh-jauh kesini" ucap Lusi heran. Karena ia merasa tidak ada kepentingan apa-apa dengan Gery.
"Cuma khawatir sama keadaan kamu disini"
"Sejak kapan kamu bahasa pakai kamu-aku. Tumben" ucap Lusi bingung.
"Kenapa emang, gak apa-apa kan"
"Gak apa-apa sih"
Gery pun tampak langsung duduk disamping Lusi yang tadi posisinya sedang berhadapan kini lebih dekat dan hanya terhalang bantal yang ada di kursi. Lusi pun tampak menggeser.
"Lusi, kamu kenapa bisa disini. Kenapa bisa pulang ke Bandung?" Tanya Gery.
"Aku?" Tampak Lusi terbata. Dan berhenti sejenak. "Ada masalah lah"
Lusi pun hanya tampak menarik napas tanpa berkata tiba-tiba Gery langsung menarik kesimpulan.
"Kamu pasti ada masalah dengan suami kamu kan" ucap Gery.
"Kurang lebih seperti itu"
"Kamu berantem. Kamu ada masalah kan" ucap Gery tampak menarik kesimpulan dan bicara tanpa berbasi basi.
"Ya, begitu lah"
"Aku akan membantu mu untuk mengurus surat perceraian" ucap Gery tampak antuasias mengatakan semua.
"Tapi Gery, aku rasa kamu tidak perlu membantu. Biarlah ini menjadi urusan aku dan soal perceraian tolong jangan bicarakan soal itu. Aku rasa tak perlu tahu ini adalah urusan ku"
"Lusi aku tahu, semuanya. Bahkan tentang Marisa aku tahu, wanita mana yang mau dimadu. Aku memahami semuanya" ucap Gery, melihat ke arah Lusi.
Gery memang tahu semua dari Bi Asih, yang mengatakan bahwa Lusi pergi dari rumah. Karena alasan pertengkaran dengan suaminya itu.
"Lusi, Aku yang membiayai semuanya. Kamu hanya duduk manis, dan semua selesai. Perceraian kamu akan aku selesaikan secepatnya" ucap Gery.
"Tapi Gery"
"Lusa aku akan kembali membawa pengacara. Siapkan seluruh berkas perceraian kamu. Aku yang akan menemani kamu. Hingga kamu bener-bener bercerai. Hak asuh anak kamu, aku akan pastikan kamu yang akan mendapatkannya"
"Kamu kenapa begitu. Bahkan aku belum mengatakan soal itu" ucap Lusi.
"Bukankah lebih cepat lebih baik, aku akan membawa pengacara. Untuk mengurus perceraian itu" ucap Gery.
"Aku tidak ingin bercerai dalam waktu dekat ini"
"Besok aku akan datang lagi dan mengurus semuanya" ucap Gery.
Lusi pun hanya tampak terdiam dan tak banyak bicara. Ia merasa aneh dengan Gery datang secara tiba-tiba.
Tiba-tiba Ayah datang dan melihat siapa yang datang, ketika ia pikir menantu nya Rian ternyata bukan. Ayah pun hanya tampak menarik napasnya.
"Saya kira Rian, ternyata bukan" ucap Ayah melihat ke arah Gery.
"Saya Gery om, perkenalkan" ucap Gery Salim pada Ayah.
"Lusi, apakah kamu sudah bicara sama Rian soal pinjaman itu" ucap Ayah yang tahu-tahu membahas uang 200juta lebih itu.
"Belum sempat bicarakan nanti yah, tidak enak di depan tamu. Jangan bahas uang ya yah" ucap Lusi.
"Oh, maaf" ucap ayah.
Tampak Gery tanpa basa basi langsung menyerobot ucapan. Dan ingin tahu apa yang Lusi dan Ayah bahas. Dan bicara uang, Gery pun tampak ingin membantu.
"Masalah apa om? Mungkin saya dapat membantu" ucap Gery.
Ayah pun diam sejenak.
"Sebutkan berapa nilai nya" tanya Gery.
"Ayah jangan bicara soal uang didepan orang"
"Lusi, kamu dan aku sudah saling mengenal. Katakan saja berapa? siapa tahu saya dapat membantu. Ingat saya dapat membantu" ucap Gery bicara bak sales promotion boy.
"Lumayan lah dua ratus juta" ucap Ayah.
"Baiklah, hanya dua ratus juta. Kecil sekali, hehehhe ini dua ratus juta. Dua menit aku menulisnya. Hari ini juga bisa cair" ucap Gery memberikan sebuah cek dua ratus juta.
"Ini serius kamu memberikannya" Tanya Ayah.
"Serius aku dan Lusi bersahabat dan juga Rian. Ya saya pun sahabatnya Rian... jadi bapak tidak perlu sungkan bukan" ucap Gery.
"Ayah... Jangan terima" Ucap Lusi memandang Ayahnya.
"Terimalah. dua ratus juta sudah biasa buat saya. Dua milyar aja aku kasih kalau bapak mau, apalagi dua ratus juta. Kecil" ucap Gery.
__ADS_1
"Dengar... Lusi. Temen kamu ini sultan duitnya banyak coba kamu cek ditasnya jangan-jangan ditasnya duit semua" ucap Ayah meledek Gery.
Lusi pun tampak menghela napas kasarnya.
Setelah itu Gery pun tampak pulang. Lusi pun langsung tiduran diatas tempat tidurnya. Akhir-akhir ini Lusi memang merasa tidak nafsu makan. Entah bawaan bayi, atau memang tidak berselera makan karena memikirkan kehidupan pribadinya.
Dan ia pun hanya makan beberapa sendok saja. akhir-akhir ini. Rasanya semua terasa tidak enak dilidah. Hingga beberapa saat kemudian, Lusi pun tampak menggigil tubuh nya terasa panas. Lusi merasa kalau dirinya sedang demam dan tidak baik-baik saja.
.
.
.
Keesokan harinya, Lusi pun hanya tertidur dikamarnya. Tidak bisa bangun. Kepalanya semakin terasa pusing. Namun saat Lusi sakit tiba tiba saja Gery datang dan meminta untuk menemani keluar rumah.
Gerypun langsung masuk ke kamar dan meminta Lusi keluar.
"Lusi ayok" ucap Gery menarik tangan Lusi saat itu padahal Lusi sedang berada dikamar.
"Kamu masuk kamar aku tanpa mengetuk dan langsung masuk. Gery please kamu bukan siapa-siapa aku" ucap Lusi menahan kesal melihat ke arah Gery.
"Masalahnya apa? Kan aku sudah bilang kalau aku hari ini akan datang"
"Ya, aku tahu tapi tidak secara tiba-tiba masuk Gery" ucap Lusi.
"Ya, aku meminta maaf. Terus kapan kamu ke pengacara"
"Setelah aku pertimbangkan masalah ini matang-matang aku tidak mau bercerai"
"Kenapa?"
"Aku tidak ingin bercerai"
"Kenapa,.apakah karena kamu mencintai Rian"
"Iya aku mencintainya"
"Tapi sebenarnya aku pun mencintai kamu" ucap Gery tiba-tiba.
"Apa???"
"Kamu tahu kan, aku jauh-jauh menyusul kamu kesini. aku sebenarnya ada perasaan yang mendalam padamu. Aku rasa Marisa berhak mencintai Rian. Dan kamu berhak aku cintai tanpa harus mengemis cinta pada Rian"
"Gery, simpan saja rasa cinta mu. Aku sebenernya kaget atas ucapan cinta yang menurut ku sedikit aneh"
"Aku serius"
"Ya, aku terimakasih. Dan aku mohon tidak ingin mengecewakan siapapun apalagi soal cinta. Kamu bisa pergi dan simpan kembali cinta mu. Karena aku punya keluarga Ger. Aku juga gak bisa bohong meskipun aku tahu Rian mungkin jahat. Tapi bagaimana pun aku tidak bisa"
"Jadi,.percuma aku memberikan kebaikan sama kamu..kamu tak menganggap sama sekali. Bahkan uang dua ratus juta itu juga"
"Aku tidak mau kamu menggantinya"
"Kenapa?"
"Aku tidak mau kamu menggantinya. Aku hanya ingin kamu membalas cinta ku dan bercerai dengan Rian" ucap Gery.
"Aku tidak mencintaimu" tegas Lusi.
"Baiklah terserah pada mu jika memang ternyata begitu" ucap Gery pergi dengan kekecewaan.
Lusi tidak menyangka jika kenyataannya kebaikan Gery memang ada udang dibalik batu.
Lusi pun tampak termenung dan memandang kearah luar. Ia tidak menyangka jika cinta itu mudah diungkapkan tanpa melihat kepada siapa ia mencintai.
Lusi pun tampak memijat keningnya.
karena ia merasa kepalanya memang sangat pusing. Dan hampir pingsan. Sontak Gery membawa Lusi ke rumah sakit.
"Aku akan membawa mu ke rumah sakit" ucap Gery memapah Lusi.
Gery pun membawa Lusi ke rumah sakit. Lalu memberitahukan ibu dari Lusi.
.
.
.
.
sementara itu...
Marisa terbangun dari tidurnya. Tanpa ia sadari ia tertidur disofa. Ia palingkan badannya sambil melihat sang Surya yang sudah tampak masuk. Marisa pun masih tampak melamun. Dan ia pun tampak melihat ponsel dan mengecek tanggal apa hari ini. Ternyata dua Minggu lagi. Ya, 2 Minggu lagi hari pernikahan Marisa dan Rian.
Untuk urusan pernikahan memang Rian sudah menyerahkan pada WO. Namun entah mengapa semakin mendekati hari pernikahan, rasa yang ada pada Rian. Semakin tampak memudar.
Mungkinkah selama ini Marisa hanya tersesat didalam cinta yang salah. Atau kah Marisa hanya tersesat pada sebuah ambisi yang tak seharusnya. Ah entahlah..
Ketika itu Marisa pun melirik pria yang kelak menjadi suaminya itu yaitu Rian. Rian tampak gagah dengan jas dan dasi. Ia tampak siap untuk berangkat kerja. Namun tiba-tiba saja ada telepon masuk. Rian pun mengangkatnya.
Dan ketika itu, Rian pun tampak kaget sambil membulat kan matanya bahwa telepon itu dari seseorang yaitu ibu dari Lusi. Yang mengatakan bahwa Lusi dilarikan ke rumah sakit.
"Ada apa Rian?" Tanya Marisa.
"Lusi masuk rumah sakit. Aku akan segera kesana" ucap Rian terlihat panik. Dan berlari dengan cepat pergi menemuinya.
__ADS_1
Marisa pun tampak menghela napasnya sambil memandang kepergian Rian. Marisa tampak tak terima sebenarnya bila Rian pergi menyusul Lusi tapi mau bagaimana lagi. Bagaimana pun Lusi adalah istri sahnya. Ya Lusi adalah istrinya.
.
.
.
.
Marisa pun meminta alamat dimana Lusi dirawat dirumah sakit. Dengan cepat Marisa pun juga menyusul dimana Lusi dilarikan kerumah sakit.
Selang perjalan beberapa jam, akhirnya Marisa sampai diBandung. Dan menelpon Rian dimana Lusi dirawat. Marisa pun diberi tahukan kamar nomor berapa, Marisa pun menemuinya.
Marisa pun tampak membuka pintu kamar rawat dan mengintip sedikit terlihat Lusi yang berbaring dengan kondisi terlihat lemah. Lusi masih terlihat tertidur diatas ranjang. Marisa pun hanya terdiam dan tak bersuara.
Terlihat Rian yang memegang tangan Lusi dengan tatapan sayu. Rian pun tampak mencium kening sang istri.
Marisa pun tidak berani masuk hanya mengintip saja. Lusi tampak tertidur kala itu.
Beberapa menit kemudian.
Lalu Lusi pun membuka matanya secara perlahan.
Tampak tak ada Gery yang ada hanyalah Rian. Gery tampak pergi setelah mengantar Lusi ke IGD.
sementara Marisa...
hanya menatap Rian dari kejauhan..
Satu sisi Marisa memang cinta dengan Rian. Namun, satu sisi Marisa kali ini merasa iba. Marisa pun tak menganggu sama sekali hanya terdiam menatap keduanya.
Lusi pun membuka matanya, Lusi pun tampak kaget saat yang ia lihat adalah suaminya. Lusi pun hanya diam tak banyak bicara. Rian pun membelai rambut Lusi dan memberikan ciuman hangat lagi.
"Kenapa kamu disini. Kamu gak mau ambil Fabio kan dari aku" ucap Lusi.
"Stttt, tenanglah. Aku kesini karena mengkhawatirkan mu" ucap Rian. "Apa kamu sudah makan"
"Belum"
"Sayang, makan lah. Ingat didalam perut mu masih ada anak kita juga" ucap Rian.
Rian pun tampak mengambil nasi dan lauk di meja dan menyuapi Lusi secara perlahan.
"Maafkan aku, atas keegoisan aku. Aku tidak akan membahas apa-apa. Terutama hak asuh Fabio.. Aku mengharapkan kalau kita tak akan pernah berpisah" ucap Rian.
Lusi pun menghembuskan napas perlahan.
"Memang tak akan ada perpisahan" ucap Lusi.
"Sayang?"
"aku tidak peduli jika harus berbagi cinta dengan Marisa. Aku menerima Marisa sebagai bagian dari dirimu" ucap Lusi.
"Lusi kenapa? bukannya kamu sendiri yang tidak mau"
"Tidak, sekarang kini aku sudah ikhlas"
Lalu tak lama terdengar suara pintu terbuka, Marisa pun membuka pintu rumah sakit. Dan ia melihat Lusi dan juga Rian.
Sontak Lusi pun kaget ketika itu.
"Sejak kapan kamu" ucap Lusi kaget
"Baru saja..."
Lalu Lusi pun tampak menghampiri Marisa dan memegang tangan Marisa. Ia tarik tangan Marisa secara pelahan. Dan Lusi dekatkan di tangan Rian.
"Sekarang aku ikhlas Marisa, jika kamu menginginkan Rian untuk menjadi suami mu juga. Kamu menikahlah dengan Rian" ucap Lusi.
"Aku tahu, sebelum aku mencintai Rian. Kamu lah lebih dulu yang mencintai Rian. Hanya saja terhalang jarak dan waktu. Memendam cinta yang terlalu lama membuat kamu kehilangan cinta mu selama ini kan"
"Lusi..." ucap Marisa lirih.
"Kejarlah cinta mu. Ambilah kembali cinta lama mu yang telah pergi itu. Aku siap bila Rian menikah lagi. Hanya saja satu permintaanku.. Saat akad nanti aku tidak menyaksikan. Biar itu menjadi janji suci kalian berdua"
Tiba-tiba Ibu dari Lusi pun datang dan melihat Lusi kaget dengan apa yang dikatakan oleh Lusi.
Dan ibu pun memeluknya...
"Sayang, kamu.. kenapa begitu" ucap Ibu.
"Tidak apa-apa, Lusi ikhlas bila keadaannya memang harus seperti ini. Mungkin ini menjadi takdir Lusi. Lusi pun tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Lusi ikhlas, bila Rian memiliki istri lagi" ucap Lusi sambil memeluk sang Ibu.
Lusi pun hanya tampak tersenyum walau hatinya sakit.
Lusi memang ikhlas, dengan semuanya. Karena Lusi sudah menyerah. Ia merasa tidak perlu ada yang di ubah dalam hidup ini. Jika memang dirasa ini adalah takdirnya. Lusi mengikhlaskan semua keadaan didepan mata. Tak peduli soal rasa sakit. Asal ia mampu mempertahankan rumah tangganya. Demi anak yang ia kandung dan juga Fabio.
Marisa pun juga tampak kaget dengan apa yang dikatakan Lusi.
"Tapi, Aku rasa semua tidak perlu. Aku memang mencintai Rian. Tapi itu dulu Lusi. sepertinya itu dulu. Rian yang ku kenal dulu bukan Rian yang ku kenal sekarang. Aku tahu cinta tak perlu dipaksakan" ucap Lusi.
"Tapi Marisa"
"Tidak usah peduli kan soal aku"
Marisa pun tampak memeluk Lusi.
__ADS_1
...............
maaf kepanjangan .... ini dikebut sengaja biar bisa END. karena mau puasa biar fokus dulu.