
Lalu Lusi pun pulang dengan perasaan kesal pada Gery. Rasanya ingin ia banting semua yang ada disitu namun dirinya tak mampu dan tak mau. Mengingat sifat Lusi bukanlah yang seperti itu.
Lusi pun naik taksi, dengan perasaan kesal sekesal kesalnya. Lusi pun tampak menutup wajahnya sambil memejamkan mata tak menyangka jika berita itu sampai tersebar luas dan harus menahan malu.
Sesampainya, Lusi pun turun dari taksi.
Ia pun masuk kedalam rumah dan langsung membersihkan dirinya. Lusi yang tadinya bersemangat untuk menunggu suaminya pulang untuk mau bermain cinta. Tak disangka malah dirinya dipermainkan.
Sekali lagi Lusi pun tampak kesal dan memukul tangannya ke tembok.
Buugghhh
Namun ternyata..
"Aww sakit"
Tangannya sakit saat ia melayangkan kekesalan nya pada sebuah tembok. Akhirnya Lusi pun tampak malah tampak menangis.
"Huhuhuhu..."
Haduh udah sakit tangan sakit hati juga lagi. Kamu bodoh banget sih kenapa tembok yang kamu pukul batin Lusi.
Lalu tak lama suara bel berbunyi. Lusi tahu jika yang datang itu adalah Rian. Karena hatinya sedang tidak merasa baik-baik saja, Lusi pun hanya tampak menunggunya didalam kamar tidak didepan pintu.
Suara pintu kamar Lusi pun terbuka.
Kleekk..
Rian tampak masuk ke dalam kamar dan melihat Lusi yang tampak sembab dimatanya seperti habis menangis.
Lusi pun langsung menyambut suaminya dan mengambil tas hitam yang ia pegang namun Rian malah tampak menolak Lusi dan menyingkirkan tangan Lusi.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri" ucap Rian tampak ketus.
Rian terlihat marah pada Lusi.
"Aku sudah tahu semua, aku sudah tahu. Kamu ketahuan berduan di ruangan Gery bersama Juna"
"Aku bisa jelaskan semua" kata Lusi.
"Tidak perlu, semua ini sudah cukup jelas" ucap Rian.
"Rian, kamu pernah kan ingat waktu awal-awal kita menikah. Kamu anggap aku pernah selingkuh sama bawahan kamu yang bernama Adit. Namun apa, semuanya salah kan. Semua itu cuma tipu daya Adit aja mau buat rumah tangga kita hancur. Sekarang pun masih sama Rian masih sama, ini hanya salah paham. Dan kamu harus percaya sama aku"
"Oke, aku akan percaya jika itu orang lain jika itu bukan Juna aku percaya. Misal kamu sama Tukang kebun, atau kamu sama bapak kamu. Aku gak akan percaya!!?? Tapi ini apa, kamu sama Juna. Aku tahu Juna siapa, dia adalah orang yang mencintai kamu dan kamu pun sama mencintai kan. Oh, apa ini balasan dendam kamu, karena aku pernah selingkuh dulu. Atau apa? Hah? Cepat katakan" Kata Rian tampak marah.
"Aku berani bersumpah aku tidak tahu soal masalah ini, dan ini cuma jebakan aja. Please kamu harus percaya"
"Hah??? Aku sekarang tidak mau marah-marah lagi sama kamu. Aku cukup tahu aja kalau kamu gak sebaik apa yang aku kira"
__ADS_1
"Rian.." ucap Lusi.
"Aku tidak mengerti kalau ternyata aku ini membosankan untuk mu"
"Rian kamu biacara apa sih"
"Sudah lah aku mau pergi, aku tidak akan mengusir mu. Tapi aku yang akan pergi, aku pusing!!!"
"Rian.." ucap Lusi dengan nada lirih sambil menarik tangan Rian. Namun Rian tampak mempedulikan istrinya yang terus memanggil nama Rian.
.
.
.
Lalu tak lama setelah itu, tampak Liana datang ke rumah Rian untuk menemui Lusi. Ia ingin meminta maaf pada Lusi.
Liana pun tampan masuk ke kamar Lusi. Terlihat Lusi yang sedang menyeka air matanya, kesal karena Rian tampak marah padanya.
"Lusi kamu menangis" tanya Liana.
"Bukan, lagi dangdutan" jawab Lusi sambil menyeka air matanya.
"Oh tapi kok seperti nangis ya"
"Tau ah. Udah tahu nangis pake nanya, kenapa lagi datang!!!" ucap Lusi terlihat kesal.
"Ada apalagi, kenapa lagi. Tadi kan disana udah deal kalau aku gak jadi WO nya kenapa lagi sih?" Ucap Lusi kesal.
"Justru itu?"kata Liana merasa tak enak pada Lusi.
"Justru apa?"
"Tetap jadi ya, tetap kamu jadi WO nya aku minta maaf soal yang tadi. Intinya aku mau tetap kamu yang jadi wo nya" kata Liana.
"Gak mau, udah sakit hati", ucap Lusi ketus.
"Lusi please aku minta maaf ini demi aku dan bayi ku. Hanya kamu yang bisa mengerti aku. Aku mohon ya" ucap Liana tampak memohon dan berlutut dihadapan Lusi untuk meminta dirinya.
Lusi pun tampak kasihan juga pada Liana dan pada akhirnya, tetap mengiyakan permintaan Liana itu.
"Baiklah aku maafkan" kata Lusi.
"Beneran?" Tanya Liana senang.
"Iya"
"Terimakasih Lusi, kamu emang paling baik" jawab Liana senang sambil memeluk Lusi. Walau sebenarnya Liana males sekali memeluk Lusi.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Sementara itu terlihat Tanisa yang masih berada dirumah besar milik keluarga Deon. Tanisa tampak sangat bersalah menjadi orang ketiga didalam keluarga besar itu. Tanisa pun tampak menarik napasnya berkali-kali untuk menenangkan dirinya yang memang sudah sakit ditambah sakit oleh tamparan dari tangan wanita tadi. Ya wajah Tanisa memang belum sembuh betul. Bahkan wajahnya seperti orang yang habis berantem banyak lebam dan memar.
Tanisa hanya terdiam terpaku dan membisu.
Lalu Deon tampak mengejar istrinya yang terlihat kaget karena suaminya membawa wanita muda dihadpannya kini. Jihan tampak sangat kecewa dengan Deon, ia pun berlari ke kamarnya.
"Kenapa kamu sedih, kenapa.. bukannya kamu sendiri yang mengatakan kalau kamu sudah tidak mencintai ku. Bukannya kamu yang bilang dulu, kita menikah hanya status palsu saja. Lalu kenapa saat aku sudah menemukan kebahagiaan kamu menangis" ucap Deon.
Ya saat Jihan kepergok berselingkuh oleh Deon, Deon baru tahu jika istrinya sudah jatuh cinta pada pria lain.
Namun mereka tetap mempertahankan rumah tangga demi anak-anak. Dan setelah itu hubungan mereka pun menjadi hambar dan pisah ranjang setelah Deon tahu hal itu. Dan hubungan mereka pun menjadi hambar selama dua tahun. Selama dua tahun juga, doen tak pernah menyentuh Jihan sama sekali. Karena Deon tahu, jika Jihan pasti sudah merasakan sentuhan dari selingkuhannya itu. Deon pun tak mau juga menyentuh wanita yang sudah menghianati dirinya. Hingga pertahanan ia pun goyah, hasrat sebagai laki-lakinya harus tersalurkan walau dengan gadis malam sekalipun. Dan Tanisa lah orang yang menjadi jasa penyalur hasrat terpendam selama dua tahun, yang membuat Deon jatuh hati dan semakin jatuh hati pada wanita yang terbilang sangat muda itu. Yaitu Tanisa..
Deon pun memijit keningnya, melihat ke arah istrinya yang tak pernah lagi ia sentuh.
"Jadi kalau kamu bertanya kemana saja aku akhir-akhir ini. Aku pergi bersama wanita itu, aku nyaman bersamanya. Aku kembali menemukan semua yang tak pernah ku temukan sebelumnya. Dan dia sudah membuat ku jatuh hati pada wanita itu. Mungkin umurnya masih sangat lah muda, sampai kamu mengira kalau itu adalah pacarnya Leon. Dia bukan pacar Leon, dia adalah kekasih ku" ucap Deon menjelaskan.
Jihan masih tampak tertunduk. Antara percaya tak percaya jika Deon benar mencari pengganti nya secepat yang tak ia duga.
"Aku mencintainya sampai aku tak bisa lepas dari dirinya, dan aku pun juga tak ingin lepas dari dirinya. Aku ingin ia tetap disampingku, apapun keadaannya. Aku ingin memiliki dia seutuhnya. Dan yang membuat kamu harus mengerti dan hal yang harus kamu tahu ia sedang mengandung anakku. Itu sebabnya bukan cuma cinta yang harus katakan tapi hubungan yang sah. Aku harus menikahinya" ucap Deon kepada istrinya.
Seketika istirinya pun tampak menjatuhkan air matanya. Setidak sukanya ia pada suaminya tetap sakit rasanya, bahwa pria yang dulu mencintai dirinya kini beralih mencintai orang lain, yaitu pada wanita yang lebih cantik, muda dan enerjik.
"Tinggalkan wanita itu, beri dia uang yang banyak untuk menjaga benih dalam kandungannya. Atau gugurkan saja kandunganya" ucap Jihan tak terima.
"Tidak semudah itu, aku tidak mau" tolak Deon.
"Tapi kamu dan aku pernah bilang kita harus bertahan demi anak-anak kan"
"Iya itu dulu, tapi setelah aku sadar aku tak bisa memaksakan semuanya semakin hari aku tak cinta sama kamu. Semakin hari juga aku punya kebutuhan untuk memenuhi hasrat aku sebagai laki-laki. Asal kamu tahu saat aku tau kamu selingkuh dan tidur dengan pria itu. Batin aku terasa sakit, dan aku seperti enggan untuk menyentuh mu lagi. Saat itu kamu tahu Leon sakit parah, jadi aku tidak memperpanjang masalah kita. Aku ingin Leon sembuh, dan sekarang sudah saatnya aku terbuka dan memilih menikah dengan orang yang kucinta" jelas Deon pada Jihan.
Jihan pun tampak menutup wajahnya dengan kedua tangan merasakan pil pahit kecewa.
"Sekarang saatnya hanya ada dua pilihan, kamu mau aku madu. Atau kita bercerai dan aku hidup bersama Tanisa"
"Kamu ingat, kamu tak memiliki harta apapun. Semua harta itu punya aku. Apa kamu siap kehilangan semuanya"
Seketika Deon pun terdiam, lalu berbicara kembali.
"Itu terserah kamu mau bicara apa soal harta, tapi aku hanya peduli pada Tanisa tak peduli harta" kata Deon.
__ADS_1
Ya memang Deon saat menikah dengan Jihan, Deon hanyalah seorang karyawan biasa. Namun ia menjadi bos besar saat ia menjalankan bisinis almarhum mertuanya itu.