Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Dua dokter


__ADS_3

Tanisa masih bersandar dengan posisi duduk diatas ranjang itu, sambil memejamkan mata karena dirinya merasa pusing. Ya Tanisa memang badannya terasa lemas karena dirinya kurang darah dan terkena typus. Tanisa pun memandang sesekali kedua dokter yang terbilang masih muda dan cantik dihadpannya itu.


Namun dari kedua dokter yang ada, memang satu yang tampak memandang nya dengan tatapan sinis dan tak suka. Berbanding terbalik dengan dokter satunya yang tampak kahwatir dengan kondisi Tanisa yang tampak lemas itu. Ya dia adalah dokter Inka yang khawatir melihat kondisi Tanisa saat ini.


Lalu tampak dokter Inka duduk disamping Tanisa melihat dan memperhatikan wajah Tanisa yang tak baik-baik saja.


"Sebelumnya sudah minum obat apa saja" tanya dokter Inka.


"Aku tidak ingat lebih pasti" kata Tanisa memejamkan matanya.


"Saya akan mengecek dirimu dulu" kata dokter Inka yang mulai menggunakan stetoskop nya itu didada Tanisa.


Disaat dokter Inka tampak kahwatir dengan kondisi Tanisa, dokter Stela hanya memandang sambil bediri dan melihat Tanisa yang sedang diperiksa, sambil menatap tajam dan melipat tangannya didada.


"Betul-betul" ucap Stela.


"Betul-betul apa Stela"


"Betul-betul masih bocah anak ini" ucap Stela tampak tahu jika Tanisa masih muda dibanding dirinya.


Ya sebelumnya, Gavino memang sudah bilang jika Stela tak dimintai untuk datang, namun Stela memaksa datang karena Stela penasaran dengan kekasih baru Gavino setelah ia tahu jika ada pasien yang harus diperiksa dan itu adalah pacarnya Gavino. Dan biasanya Gavino selalu cuek terhadap pasangan nya namun kali ini tampak lain, sehingga membuat Stela penasaran dan ikut untuk melihat wanita itu. Dengan berdalih dia memaksa menggantikan dokter Nabila yang tak bisa hadir saat itu.


Stela tampak memperhatikan Tanisa.


Sementara dokter Inka tampak masih memeriksa kondisi Tanisa.


"Apakah ini bekas infusan" tanya Dokter Inka.


"Ya dok saya habis keluar dari rumah sakit, sebetulnya saya belum boleh pulang. Cuma saya minta pulang dan mau dirawat dirumah aja"


"Saya akan menginfus kamu lagi ya, kondisi kamu masih sangat lemah. Tekanan darah kamu rendah, demam kamu tinggi, dan kamu kekurangan banyak cairan" ucap Inka.


Inka pun memang sudah mempersiapkan segalanya, lalu Inka dengan hati-hati menginfus tangan Tanisa sebelah kiri. Karena Tanisa memang sangat lemah dan seharusnya belum boleh pulang dari rumah sakit dulu.


Mata Tanisa masih terpejam dan pasrah dengan apa yang dilakukan oleh dokter Inka.


"Dari kondisi kamu, kamu masih belum pulih dan satu hal yang ingin aku tanya sama kamu" ucap Inka yang tampak curiga dengan kondisi Tanisa yang memang sedang hamil.


"Aku akan berikan obat untuk mu, dan memberikan beberapa vitamin untuk mu. Dan itu bagus untuk ibu hamil, kamu sedang hamil kan" tanya Inka.


Seketika Tanisa pun membuka matanya yang sebelumnya terpejam.


"Aku merasa dirimu sedang hamil. Tidak tahu apakah ini perasaan ku saja apakah itu memang"tanya Inka.


"Iya dok, aku sedang hamil" jawab Tanisa.


Mata Stela pun langsung membulat mendengar penuturan yang diucapkan Tanisa dengan kondisi nya yang saat ini sedang hamil.


"Ya kamu harus jaga kondisi mu, dan janin bayi yang kamu kandung. Tidak boleh egois makan teratur dan minum obat yang sudah aku berikan ini. Infusan nya sudah aku siapkan sampai esok hari. Besok aku akan datang lagi untuk mengecek kondisi kamu kembali"


Lalu Stela pun tampak mencoba juga melihat kondisi Tanisa.


"Minggir, aku juga pengen periksa wanita ini" ucap Stela yang kali ini bergantian duduk disamping Tanisa.


Lalu Inka pun berdiri dan kini beragantian tampak Stela yang didekat Tanisa.


"Jadi benar kamu hamil" ucap Stela yang tampak kepo itu.


"I-iya dok"

__ADS_1


"Anak siapa?" Tanya Stela sinis.


Tanisa terdiam karena tak seharusnya Stela bertanya akan hal itu.


"Jawab" kata Stela.


"A-anak Gavino" ucap Tanisa berbohong. Bahwasannya Tanisa tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya nanti akan ada image buruk tentang dirinya.


Namun tampaknya Stela sedikit tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Tanisa.


"Sudah berapa banyak pria yang pernah meniduri kamu?" Tanya Stela. Yang seolah tampak jelas mengintrogasi Tanisa


"Satu"jawab Tanisa.


"Kalau ditanya sama dokter itu jawab yang jujur jangan ada yang ditutupi, saya sedang memeriksa kamu loh satu atau dua" kata Stela tegas.


Tanisa pun tampak takut melihat pasang mata Stela yang tajam melihat ke arah dirinya.


"Jawab berapa banyak?"


Tanisa masih terdiam, dan tak menjawab


"Jawab yang jujur aku sedang memeriksa mu!!!" ucap Stela yang lalu mengambil sampel darah pada tubuh Tanisa. "Jawab yang jujur jangan ada yang di tutupi karena saya ingin tahu penyakit kamu apa?"


Tanisa tampak masih terdiam.


" berapa banyak pria yang sudah tidur dengan mu" ucap Stela dengan nada tinggi dan tatapan tajam.


" Dua dok"


"Yakin hanya dua, jujur sekali lagi, aku dokter harus tahu riwayatmu" ucap Stela dengan tatapan membunuh.


Tanisa terdiam tak berani menjawab apa-apa lagi.


"Dua atau tiga??????"


"Tiga dok"


"Tiga atau empat????"


"Empat"


"Empat atau lima"


"Lima bahkan lebih, aku tidak tahu jelasnya" ucap Tanisa yang menjawab sambil menangis.


"Stel, udah stel, gak sewajarnya kamu tahu semua" ucap Inka yang kesal melihat kelakuan Stela.


"Biarin aja"


"Udah Stela udah anak orang lu bikin nangis, bener-benar lu" kata Inka yang tak tega melihat Tanisa kali ini tampak menangis karena ulah temannya sendiri.


"Biarin aja.. kenapa sih kita harus tahu, biar apa? Biar ketahuan semua segala penyakit yang ada ditubuh nih perempuan"


Inka pun tampak memeluk Tanisa yang menangis.


"Kamu tahu gak sih in, kalau wanita yang sering tidur dengan banyak pria itu akan lebih mudah terkena penyakit. Terutama penyakit kelamin, mungkin saja bisa kena penyakit kelamin yang sangat parah. Atau lebih buruknya bisa terkena HIV atau Aids. Jadi jangan anggap sepele loh, dia harus belajar untuk jaga diri sebagai wanita. Jangan mau diajak tidur pria sana sini" ucap Stela tegas.


Ucapan Stela yang tertutur seperti kereta panjang kali lebar dan itu membuat hati Tanisa perih seperti di sayat sayat. Perihnya saat itu hati Tanisa dengan ucapan Stela si dokter cantik tapi sangat jutek yang baru dikenal nya itu.

__ADS_1


"Aku tak menyangka jika Gavino memilih wanita yang seperti ini. Terlalu mudah untuk, ah sudahlah" ucap Stela kesal.


"Setelah ini aku akan coba cek darah kamu, kamu terkena penyakit apa besok hasilnya aku kasih ke kamu, ngeri nih bocah bisa nularin penyakit" ucap Stela tampak melotot


"Stel udah"


Ucapan Stela sungguh membuat hati Tanisa terbunuh dengan pertanyaan yang terasa begitu menyakitkan di hatinya, Tanisa pun tak tahan dengan semua itu ia pun lantas menjatuhkan air matanya berkali-kali sampai tertunduk.


"Hah, kalau gak digalakin pasti dia gak akan ngaku" ucap Stela


"Sebenarnya lu mau tahu penyakit orang apa pengen tahu masalah hidup orang sih Stela"


Lalu tak lama Gavino datang dan kaget melihat dua dokter yang sudah ada didalam. Dan kenapa ada Stela.


"Stela" lalu tampak Gavino yang kaget melihat Tanisa seperti menanangis. Dan dengan cepat Gavino memeluk wanitanya


"Apa yang kalian lakukan sehingga membuat dia menangis" Gavino menatap tajam kesal.


"Aku tidak lakukan apapun, kalau ingin lebih jelas tanya saja sama dia" kata Stela sinis.


"Aku tidak memerintahkan mu untuk datang"


"Ya aku pun juga tak akan meminta bayaran padamu. Dokter Inka dan aku tak perlu kamu bayar sepeserpun kita ikhlas tanpa bayaran apapun. Ya kan, sebaiknya kita pergi"


Lalu tampak Inka yang memberikan resep obat untuk Tanisa.


"Ini ada beberapa obat yang harus dibeli di apotek. Aku pulang dulu besok aku balik lagi untuk melihat kondisinya" kata Inka.


"Lalu kenapa Tanisa menangis" ucap Gavino tak terima.


"Ayo in, kita balik" seru Stela menarik tangan Inka.


"Baiklah aku permisi"


"Kalau kamu ingin tahu kenapa dia menangis coba tanya lebih jelasnya sama wanita yang satu ini"


Lalu Inka dan Tanisa pun pergi.


Saat itu Gavino pun langsung memandang wajah Tanisa yang tampak memerah itu.


"Kamu kenapa?"


Alih-alih ingin membuat Tanisa sembuh namun bukan nya sembuh membuat hati Tanisa yang semakin sakit.


"Aku tidak baik untuk mu Gavino dokter Stela bilang kalau aku bisa kena penyakit kelamin"


"Kenapa Stela bicara gitu, apa hubungannya sama penyakit kamu. Emangnya kamu sakit itu"


Tanisa pun menggelengkan kepalanya lemah.


"Stela suruh aku jawab jujur soal aku yang pernah tidur dengan siapa saja. Katanya dia dokter jadi aku harus jujur. Supaya dia tahu penyakit aku, aku gak mau kalau aku benar sakit kelamin kamu bisa ketularan"


"Tanisa aku kenal kamu sudah dari dulu, sudah tahu kamu dari dulu. Kamu siapa? Dari mana dan semuanya tentang kamu aku sudah tahu, aku siap menerima resiko yang ada. Aku tidak peduli kamu mau seperti apa pun Tanisa, aku cinta sama kamu tidak melihat kekurangan apapun itu dari kamu" ucap Gavino memandang wajah Tanisa. Tanisa kali ini terlihat sekali seperti anak kecil yang tampak menangis dan mengambek.


"Terus kalo aku sakit parah, ehm misalnya HIV?"


"Tanisa, jika memang itu benar kamu. Kamu mengalami seperti itu, aku akan cari kemana pun obat nya. Aku akan cari kemana pun dokter nya untuk mampu kamu bisa hidup dengan ku. Sekalipun kamu mengalami nya aku tetap akan cinta sama kamu, dan kita bisa kedokter untuk cari jalan keluarnya"


Tanisa pun mengangguk paham.

__ADS_1


"Yaudah yah jangan nangis lagi sayang air matanya sayang" ucap Gavino lagi.


__ADS_2