Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Aku ternyata masih trauma


__ADS_3

Gery merasa kesal dengan apa yang menimpa dirinya saat itu. Gery teramat kesal pada pria yang sudah berani sekali menyentuh wanita yang baru saja menjadi istrinya itu. Gery tidak bisa terima akan hal itu. Baru saja Gery ingin menghabisi Gery dipisahkan oleh tamu undangan saat itu. Kalau saja Gery tidak dipisahkan mungkin Gery sudah menghajar habis pria itu. Dan Lusi pun juga membawa Gery masuk dan menenangkan suaminya untuk tetap tenang.


lalu Lusi pun menyuruh Gery masuk ke kemar Lusi untuk agar tetap tenang, Gery pun masuk dengan wajah kesalnya. Lusi pun tanpa sadar masuk kedalam juga.


"Pria itu kurang ajar berani sekali dia memeluk istri ku" kata Gery dengan raut wajah kesal.


"Sudah kamu tenang dulu" ucap Lusi.


"Mana bisa aku tenang ada pria sekurang ajar itu, aku tidak tahu bila tidak ada aku mungkin pria itu dengan mudahnya memeluk mu, dia pikir dia itu siapa main peluk istri orang sembarangan" ucap Gery kesal.


Lusi pun menatap Gery dengan lekat saat itu, Lusi baru kali ini dibela lagi oleh seorang pria entah itu memang cinta atau hanya karena yang lain.


"Akan aku datangi dan aku habisi, besok aku akan datangi dia" kata Gery yang masih tak terima.


"Cukuplah sudah, aku tidak mau kalau kamu ribut" kata Lusi memegang pipi Gery yang terlihat memar. Dan mengambil kain dengan air dingin lalu menempelkan pada wajah Gery yang terlihat bengkak.


"Lusi, aku tidak bisa terima kamu di rendahkan olehnya" kata Gery.


"Aku takut" ucap Lusi


"Takut?"


"Iya, aku takut kalau kamu kenapa-kenapa, Demian itu tega orangnya. Dia bisa melakukan apa saja sesukanya" kata Lusi.


"Kenapa kamu mengatakan itu"


"Memangnya kenapa" tanya Lusi bingung.


"Aku rasa kamu mencintaiku" kata gery percaya diri.


Lusi pun tersenyum simpul dan tak bergeming lalu terdiam sejenak dan mengatakan" sudahlah.. lebih baik kamu makan dulu" kata Lusi.


Gery pun memandang Lusi yang saat itu sedang membasuh luka dengan handuk dingin seketika Gery memegang tangan Lusi yang saat itu sedang saling memandang.


Ada getaran yang saat itu Lusi tengah rasakan dan Gery pun meraksan hal yang sama namun Lusi tampak membuang wajahnya dan berusaha mengubah suasana canggung saat itu..


Lusi pun menghela napas berat dan menarik tangannya.


"Lusi kenapa kamu membuang wajah mu saat aku sedang memandang mu" kata Gery.


"Aku hanya tak bisa saja dengan suasana seperti ini" kata Lusi yang menarik tangannya dari tangan Gery.


"Aku ini suami mu bukan siapa-siapa kenapa kamu seolah memunafikan dirimu seperti ini" kata Gery memandang Lusi dengan dekat.


"Aku hanya tidak biasa saja, apa salah. Sekarang kamu pulang, aku sudah katakan sebelumnya, Liana menunggu mu" pinta Lusi untuk Gery menemani istri nya di Jakarta.


"Lusi bagaimana mungkin aku bisa pulang dengan tenang setelah aku tahu ada pria yang berusaha merebut mu dari ku, aku pun tidak mau jika dia selain merebut mu dia juga akan menjahatimu" jelas Gery.


"Gery aku sudah terbiasa sendiri pulang lah, disini ada Ayah dan ibu ku kamu tidak perlu khawatir" kata Lusi yang merasa baik-baik saja.


"Aku tidak bisa bohongi diriku, aku tetap saja khawatir padamu. Jika aku pulang aku pun tidak akan bisa tidur dan aku tidak bisa henti memikirkan mu. Itu sudah pasti Lusi" ucap Gery yang terasa enggan melepaskan tangan Lusi sekalipun Lusi sudah menariknya berulang kali.


Gery pun mendekati Lusi sangat dekat saat itu. Lusi pun memundurkan badannya malah Gery malah semakin memajukan badanya, hingga..


Sebuah pintu terbuka.


Ceklek...


Ibu pun kaget melihat Gery yang melihat Lusi sangat dekat seperti hendak mencium bibirnya dan sontak ibu pun merasa malu karena seolah menggangu pengantin baru yang tengah berdua didalam kamar.


Gery dan Lusi pun langsung menengok.


"Maaf ibu lupa mengetuk pintu" ucap ibu yang merasa tak enak.


"Iya tidak apa-apa" kata Gery.


Lusi pun beranjak berdiri dan menghela napasnya berusaha untuk tetap tenang. Lusi pun juga tampak canggung pada ibunya karena pasti saat ini ibu sedang berfikir bahwa Lusi sedang ingin berbuat yang tidak.


"Bu jangan berfikir yang macam-macam dulu ya. Kita berdua hanya sedang mengbrol" kata Lusi menjelaskan.


"Loh emangnya kenapa?" Tanya ibu yang berbalik bertanya.


"Ya gak apa-apa takut ibu pikiran yang bukan-bukan saja tentang kita berdua. Sumpah kita gak ngapa-ngapain ya kan?" ucap Lusi pada Gery.


Gery pun malah tersenyum pada Lusi yang memasang wajah polos.


"Padahal ya kalau mau ngapa-ngapain juga ya gak apa-apa kan kalian udah nikah" kata ibu diambang pintu sambil menatap Lusi dan Gery bergantian.


"Ya tapi emang gak ngapa-ngapain juga kok bu. Mau ngapain gitu siang-siang ibu pikirannya suka kemana-mana deh" ucap Lusi sambil tersenyum canggung.


"Yang pikirannya kemana-mana itu siapa sih, bukannya kamu. Kan ibu gak ngebahas apa-apa"


"Ah masa sih Lusi perasaan biasa aja. Gak ngebahas apa-apa, ih ibu kayanya deh"sangkal Lusi yang kali ini tidak mau kalah.


"Yaudah kalau emang gak ngapa-ngapain gak usah klarifikasi juga kali, kebanyakan makan mecin ya" kata ibu.


"Apa sih Bu, kok jadi mecin jadi disalahin. Mecin kan bumbu bu"


Lalu Gery pun malah tertawa melihat kelakuan anak dan ibu yang menurutnya lucu.


"Ibu dan kamu ini emang cocok ya, cocok banget" kata Gery sambil tertawa.

__ADS_1


"Hem lucu ya"


"Lucu.. lucu banget" kata Gery tertawa.


"Bu masa kita diketawain Bu, kita lagi ngelawak ya"


"Ya biarin aja dia ketawa, tandanya dia bahagia. Eh kamu makan dulu sana, nanti nasinya keburu jadi ager kalau didemin"


"Yaudah yuk kita makan" kata Gery menarik tangan Lusi untuk makan.


Lalu saat makan bersama Lusi pun tampak menyendok nasi dimeja prasmanan yang sudah disiapkan sementara Gery hanya duduk tidak ambil nasi atau pun lauk.


"Kamu gak makan" tanya Lusi pas Gery.


"Gak lah masih kenyang"


"Makan apa?" Tanya Lusi.


"Makan paku payung" kata Gery bercanda.


"Oh kirain tadi makan kabel" ucap Lusi yang menjawab dengan candaan lagi.


"Hemm mulai deh obat nya abis" kata Gery. "Nanti kalau udah ambil nasi duduknya disini disamping aku jangan jauh-jauh"


"Iya bawel ih" kata Lusi.


Lalu tak lama Lusi pun duduk disamping Gery disebuah kursi berada dekat dengan Gery. Gery pun tampak memandang Lusi dengan lekat.


"Kamu beneran gak mau makan?" Tanya Lusi.


Gery pun tampak tersenyum memandang Lusi dekat sambil merangkul bahu Lusi.


"Hemm aku maunya disuapin kamu"


"Malu banyak orang disini, makan sendiri aja ya" tolak Lusi.


"Ini hari spesial buat aku jadi aku mau diperlakukan sepsial juga"


"Gery ?????"


"Lusi???kenapa??? Masalah" ungkap Gery


Lusi pun menghela napas nya dengan berat dan berusaha mengabulkan permintaan Gery untuk meyuapinya.


"Aaa" kata Gery yang membuka mulutnya.


Lusi pun menyuapi.


"Oh ya???"


"Iya karena dari tangan istriku jadi rasanya lebih enak"


"Jangan gombal ah??"


"Iya sayang, aku tidak gombal" ucap Gery.


Lusi pun akhirnya menyuapi Gery sesuai permintaan Gery hingga nasi itu habis. Dan sepanjang itu juga Gery tak lepas sedikit pun memandang Lusi dengan senyum hangatnya. Gery tak mau lepaskan pandangan matanya untuk memandang Lusi saat ini.


"Nanti malam aku tidak akan pulang dari sini" kata Gery.


"Liana pasti akan menunggu mu" ucap Lusi.


"Liana menungguku mungkin satu malam, namun aku menunggu menikah dengan mu lebih dari hidupku. Dia tidak boleh egois dengan ini"


"Aku wanita dia pun wanita tak bisa kamu berkata seperti itu"


"Kamu seorang istri dia pun seorang istri tidak bisa dia mengatur hidupku untuk tidak bertemu istri ku. Kamu juga istri ku Lusi"


"Tapi aku tidak setuju"


"Apa kamu tega mengusir suami mu sendiri. Jelas aku sudah menikahi mu"


"Aku bukan mengusir mu, tapi ?"


"Tapi apa? Jangan banyak alasan untuk lepas dari tanggungjawab mu sebagai istri" kata Gery tersenyum.


Lusi pun langsung menelan salivanya dalam-dalam. Dan meminum air hangat.


Saat malam harinya Gery pun menatap senyum melihat Lusi yang baru selesai mandi dan memakai daster rumahan berawarna pink. Dengan rambut di kuntel dengan kunciran dan terlihat wajah Lusi yang kinclong bersinar memeperlihatkan aura kecantikan Lusi yang sama sekali tak bisa dipungkiri.


Gery pun sama sekali tidak menyembunyikan senyumnya semakin sering memberikan senyuman yang yang begitu sangat terlihat. Lusi memahami maksud dan tujuan Gery yang melempar senyum seperti iklan pasta gigi. Lusi pun merapihkan tempat tidur yang terlihat sedikit berantakan saat itu, Lusi pun menggendong putranya saat itu yang belum tidur.


"Lusi, sini biar aku yang indung-indung Fabio. Kamu jangan terlalu lelah ya"


"Jangan gak usah ini tugas ku" ucap Lusi yang tidak mau merepotkan Gery.


"Sekarang jadi tugas ku juga. Kamu sedang hamil jangan terlalu lelah ya sayang" kata Gery yang mengambil Fabio dari tangan Lusi dan mengantikan Lusi untuk menggendong Fabio.


"Duduklah dan istirahat dikasur ini sayang" kata Gery tersenyum.


"Ya baiklah" kata Lusi pasrah.

__ADS_1


Lalu Gery pun tampak menengok kanan dan kiri kamar Lusi yang tampak terlalu dekat dengan kamar Ayah dan ibunya, walau sebenernya Gery tahu rumah itu sudah disekat tembok tapi bagi Gery agak canggung bila mengeluarkan Deru napas yang vulgar jika melakukan hubungan suami istri.


"Ini kamar mu dekat banget sama ibu mu, apakah aman" tanya Gery.


"Memangnya harus bagaimana?" ucap Lusi.


"Kasihlah jarak sepuluh meter jangan dekat banget begini"


"Rumah ku sederhana bukan seperti rumah kamu yang gedongan" kata Lusi.


"Oke....terus tempat tidur kamu kuat gak buat kita tidurin"


"Ya gak bakal kuat sih kalau buat satu RT. Kenapa sih nanya-nanya" ucap Lusi heran.


"Memastikan lokasi bahwa aman" ucap Gery.


"Mulai deh"


Tanpa terasa Fabio pun tertidur dalam buaian Gery dan dalam dekapannya.


"Akhirnya dia tertidur" kata Gery tersenyum.


Lalu Gery pun menaruh Fabio disamping Lusi.


Dan tertidur disamping Lusi.


Dan tiba-tiba Lusi pun mulai panik melihat Gery saat itu.


"Kenapa? Kamu takut lihat aku" tanya Gery.


Lusi pun menatap Gery.


"Aku hanya merasa tidak enak hati saja" ucap Gery.


"Kenapa?" tanya Gery lembut.


"Entah lah?"


"Kamu belum siap melakukan hubungan badan" tanya Gery.


Lusi pun terdiam. Gery pun memandang wajah Lusi dengan dekat dan mencium keningnya.


"Aku kali ini tidak akan memaksa mu seperti dulu lagi, aku sudah berubah Lusi aku ingin menjadi orang lebih baik yang bisa mencintai mu. Aku mungkin salah dulu memaksamu. Dan aku sadari, namun untuk saat ini aku hanya ingin mencintai mu dengan tulus. Aku akan melakukan secara perlahan.. dan untuk malam ini"


"Kenapa?" Tanya Lusi tegang.


"Aku hanya ingin mencium bibir mu saja" pinta Gery.


Lusi pun terdiam mematung.


"Kenapa mau yang lain" tanya Gery meledek.


"Tidak, tidak bukan seperti itu" ungkap Lusi.


"Lalu seperti apa? Seperti ini" ungkap Gery membelai wajah Lusi sangat dekat.


"Ini cuma ciuman tidak akan menyakitkan justru akan membahagiakan mu" ungkap Gery dengan dekat memandang Lusi.


Gery pun melepaskan ikatan rambut Lusi dan rambut Lusi yang panjang itu pun terurai indah. Dengan cepat Gery mengambil tangan Lusi dan mengalungkan tangan Lusi pada lehernya.


"Aku akan mencium mu saja malam ini" kata Gery.


Lalu seketika Lusi pun menangis dan tak bisa melakukan semuanya.


"Kamu kenapa menangis" ucap Gery.


"Ada sesuatu hal yang masih menyangkut dalam hatiku Gery" ungkap Lusi. "Ada satu rahasia yang sebenernya kamu harus tahu dan aku takut untuk menceritakannya"


"Kenapa?????"


Lusi pun terasa kaku untuk menceritakannya soal trauma dirinya kepada Demian yang sudah berani meniduriya. Hingga membawanya sulit untuk melupakan semua kenangan pahit itu


Tidak Gery tdiak boleh tahu bahwa aku pernah ditiduri oleh Demian ini akan jadi beban juga untuknya batin Lusi menghapus air matanya.


"Entahlah aku hanya bingung saja. Aku bingung" kata Lusi sambil menangis.


Lalu Gery pun mendekati wajah Lusi dan menyentuh bibir Lusi dengan perlahan.


Lusi pun memejamkan matanya, namun ingatan Lusi kembali muncul tentang Demian yang sudah melakukan hubungan suami istri secara paksa pada dirinya dan membuat Lusi takut dan perih. Dan itu seperti seolah membuka kenangan buruk yang lalu. Mata Lusi pun membulat Lusi pun langsung berdiri dan langsung tertunduk dibawah lantai sambil menangis.


"Huhuhu.. aku takut. Aku gak mau" ucap Lusi yang merasa teringat trauma dan masalalu Lusi pada saat itu bersama Demian. Lusi memegang kepalanya sambil menangis.


"Apa yang kamu rasakan saat ini ceritalah"


"Hiks hiks hiks tidak mau aku takut" ucap Lusi malah menangis.


"Tenanglah sini, sini aku peluk kita tidur saja ya"


Lusi pun seketika teringat kenangan buruk Demian yang pernah memperkosanya saat itu. Membuat Lusi sulit melupakan kenangan buruk yang baru kemarin itu. Lusi tidak menyangka bila ia masih teringat kelakuan Demian yang begitu jahat membuat Lusi sulit melupakan semuanya.


Lusi pun duduk ditepi kasur dan merebahkan tubuhnya. Gery sama sekali tidak tahu tentang apa yang pernah Demian lakukan pada Lusi.

__ADS_1


Ya, Lusi memang butuh waktu untuk mengembalikan semua emosinya yang masih trauma pada kenangan buruk yang pernah ia alami saat disekap oleh Demian.


__ADS_2