
Gery POV
Setelah aku menemukan pemandangan panas dipagi hari itu. Aku pun merasakan ada sesuatu yang bergerak. Yaitu Jiwa pria normal ku meronta. Ya apalagi kalau bukan Laras panjang ku yang naik ke atas dan mulai menegang dalam celana saat melihat Lusi berpakaian seksi. Bahasa kerennya bukan pakaian seksi tapi lebih tepatnya lingerie, karena ada sesuatu yang menerawang namun tak dapat kulihat dengan jelas karena posisi agak sedikit jauh. Wanita yang bernama Lusi itu, terlalu polos. Atau mungkin lebih tepatnya bodoh. Bagaimana tidak. Ia tidak mengunci pintu padahal ia dalam keadaan menggoda. kalau seandainya ada orang yang lihat ia memakai pakaian itu bagaimana? Dan tap aku adalah salah satu orang yang beruntung dapat melihat penampilannya kala itu.
Saat itu aku hanya bisa menarik dan menelan Saliva ku dalam-dalam. Tak berani berbuat bukan karena aku tidak berani bertanggung jawab. Namun aku menahan nya.
Dan saat ia menyuruh ku untuk pulang pun.
Ya, aku gak apa-apa bila harus pulang. Mungkin untuk menjaga harfiah Lusi sebagai istri orang. Hahaha, sebegitu Solehah kah dia. Atau memang dia hanya menjaga image saja didepan diriku. Padahal sejatinya mungkin saja ia mau bila disentuh oleh ku.
Lalu aku pun memutuskan pulang. Aku ke depan rumahnya. Bersiap untuk pulang. Dan melesatkan mobil ku. Dengan keadaan senjata ku yang masih dalam menegang saat itu. oke tak apa.
Selama perjalanan 15 menit lamanya. Aku tersadar bahwa handphone ku hilang. Ah.. kemana handphone ku. Aku tidak ingin handphone ku hilang. Apalagi saat ini aku butuh sekali untuk menelpon beberapa client ku. Apa mungkin, tertinggal. Saat aku mampir dirumah Lusi tadi.
Lalu aku pun memutuskan untuk kembali kerumahnya. Untuk memastikan bahwa handphone ku benar ada atau tidak disana. Aku putar balik kearah rumahnya.
Saat sesampainya lagi aku didepan rumah pintu tampak tertutup. Ku ketok namun tak ada jawaban. Ku ketok dua kali namun masih tak ada jawaban. Yang ke tiga kali pun ternyata masih tak ada jawaban. Lalu aku membuka ternyata tidak terkunci. Walau keadaan tertutup, namun aku masih berani membukanya. Dan tap pintu tidak terkunci. Dan ku akui dia memang masih bodoh dan sangat bodoh. Pintu saja tak ia kunci. Apa dia memang sebegitu percaya bahwa takan ada maling di rumahnya yang mewah itu. Ah sudahlah daripada aku terus menghakimi Lusi yang bodoh itu. Lebih baik, aku cari handphone ku. Karena aku butuh handphone ku. Dan ku temui ada didekat meja. Ya memang tertinggal nyatanya. Sesuai dugaanku. Handphone ku jatuh seperti nya karena ada dibawah. Namun urusan ku belum selesai sampai disitu, menurut ku. Aku masih ingin melihat Lusi lagi. Aku ingin menemuinya sekali lagi.
Ku cari Lusi didapur tak ada. Sepertinya dia sudah merubah posisinya. Lalu ku susuri beberapa ruangan dan seperti nya tidak ada. Dan aku masih tetap mencarinya. Namun langkah ku terhenti. Saat aku melewati sebuah kamar yang sedikit terbuka pintunya. Aku pun masuk. Aku masuk kedalam kamar tidur utama rumah itu. Dan sepertinya ini memang kamar Lusi dan Rian. Aku pandang ada beberapa foto. Disitu ada foto Lusi dan Rian saat prewedding sepertinya.
Dan ada foto Lusi tampak seorang diri dan sangat terlihat cantik dan manis dalam keadaan terbingkai. Lalu aku mengambilnya dan ku pandangnya. Ah tidak salahnya, jika aku mengambil foto ini. Sebagai oleh-oleh ku dirumah. Akan ku pajang dikamar ku. Toh Lusi takan cari juga bila kehilangan satu foto dikamarnya. Lalu aku memustukan kembali pulang.
__ADS_1
Namun...
Saat aku ingin kembali aku mendengar suara gemericik air. Sepertinya aku ingin tahu suara air itu berasal. Lalu aku cari sumber suara itu dan suara air itu dari kamar mandi di dalam kamar tidur itu.
Aku pegang handle pintu. Dan aku sedikit membukanya. Wow!! Ternyata!!, Lusi sedang mandi. Kaki pun tampak bergetar hebat. Aku tampak tak ingin bersuara. Pemandangan yang sayang bila harus aku lewatkan. Dan betapa beruntunngnya, karena Lusi tidak mengunci pintu kamar mandi itu. Aku harus melihat ini semua. Mata ku tampak membulat saat aku mampu melihat semuanya. Ya semuanya....
Bisa kupandang tubuh indah itu serta isinya. Dia yang mandi dibawah shower itu sungguh terlihat erotis disana. Gunung kembar yang menghiasi tubuhnya membuat aku nyaris kehilangan jiwa waras ku. Senjataku semakin menegang dan tak terkendali. Seolah aku ingin nikmati tubuhnya kali ini. Namun aku menahan dan cukup ku pandang saja. Aku pun juga melihat bagaian bawah yang ditutupi rambut halus yang sangat mempesona. Ah ingin cium dan memasukan benda pusaka itu kedalamnya. Namun Ku tahan.. dan ku tahan. Aku harus kuat menahan ini. Walau aku sangat gelisah. Aku lihat terus menerus sampai selesai mandi. Aku tak peduli mau ketahuan atau tidak. Paling penting aku dapat melihat ini semua. Aku pandangi terus menerus tanpa berkedip. Jantung ku pun begitu terasa berdetak hebat.
Seketika Lusi pun seperti ingin menyudahi guyuran air. Sebelum ia menyadari semua aku langsung buru-buru kembali dan pergi dari tempat itu.
Aku turun kebawah dengan bejalan cepat. Aku tak mau kalau Lusi tahu bahwa aku ketempatnya lagi. Tiba-tiba ada seorang pembantu yang menabrak ku sontak aku pun kaget. Dan ku lihat sepertinya assiten rumah tangga ini habis pulang dari pasar. Dapat ku lihat barang belanjaan sayur mayur di tangannya.
"Mau ngapain" ucapnya.
"Tuan cari siapa?"tanya lagi.
"Bi, jangan bilang kalau saya kesini" ucap ku. Yang bergelagat nyaris mencurigakan.
Bibi pun tampak tersenyum penuh arti. Seolah harus ada yang diselesaikan bukan dengan sebuah kalimat. Mungkin dengan Uang..
Aku pun memberikan uang 300.000 rupiah.
__ADS_1
"Tolong rahasiakan kalau saya datang kesini" ucap Ku.
"Kenapa harus dirahasiakan. Lalu uang ini untuk apa?"
Lalu bibi pun memandang ku penuh curiga. Lalu aku pun mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa bi rumah ini gak dikunci. Saya takut kalau maling masuk"
"Iya tadi saya buru-buru mengejar tukang sayur jadi saya lupa menguncinya"
"Hemm..."
"Tadi uang ini untuk apa" tanya nya lagi.
"Untuk rahasiakan kalau ada saya yang datang"
"Kenapa dirahasiakan"
"Ini urusan saya. Saya akan menambah lebih. Lebih daripada ini. Jadi tolong rahasiakan" ucap ku memberikan lagi uang 300 ribu. "Paham sampai disini kan. Jadi kalau Lusi tanya apa-apa..bilang aja bibi tidak tahu"
"Baik tuan"
__ADS_1
Aku pun tersenyum dan langsung pergi. Karena aku paham dari sorot mata asisten rumah tangganya bahwa ia paham maksud ku.