
Pertemuan yang tak pernah terduga, pertemuan yang tak pernah di sangka itu pun kini berada didepan mata. Dengan rasa berjuta terasa seolah menggebu jiwa seorang wanita bernama Tanisa. Bagaimana tidak pria yang pernah mengisi relung hati dan kehidupannya itu berada didepan matanya dan itu seperti mimpi bagi Tanisa.
Tanisa pun berusaha untuk baik-baik saja didepan Gavino, bagaimana Tanisa ingat betul akan kejadian dulu saat Gavino kerap menyuruh Tanisa pergi dari kehidupannya. Beberapa kali Tanisa meminta kembali bersama untuk beberapa malam saja Gavino tak mau dan itu adalah pukulan keras terhadap diri Tanisa. Tanisa tahu betul bagaimana dirinya tak pernah dianggap oleh pria yang bernama Gavino sehingga Gavino mudah dan tentu tega mengembalikan orang yang hina ke tempat nya dimana Tanisa berasal. Yaitu tempat para pria mampu menikmati wanita hanya dengan uang saja.
Kenangan itu kembali teringat saat Tanisa melihat Gavino didepan nya kini.
Sakit... Ya sangat sakit. Andai saja Gavino tahu bagaimana rasa itu membelenggu Tanisa. Diri Tanisa yang memang tak pernah berarti dalam Gavino.
Disaat itulah Tanisa bak terpenjara dan dalam jajahan para pria namun tanpa cinta. Dan memakai dirinya seperti sampah. Tanpa Gavino tahu betapa menderitanya Tanisa saat itu.
Dan...
Hari ini Tanisa kembali dipertemukan pada pria itu lagi, pria bernama Gavino. Tanisa tak berani menatap wajah Gavino. Tanisa merasa kehadiran Gavino hanya akan membuat luka dalam hati makin terasa, tanpa berkata apa-apa Tanisa pun tampak ingin pergi dari pria dihadapannya kini.
Namun langkah itu terhenti saat tangan Tanisa di pegang erat oleh Gavino.
Deg...
"Kumohon jangan pergi, untuk sekali ini saja aku mohon jangan pergi. Biarlah aku bicara sekali saja dengan mu" ucapan itu seolah seperti mimpi bagi Tanisa dan berhasil membuat langkah kaki Tanisa terhenti.
"Bicara apa, apalagi yang perlu dibicarakan aku rasa semua sudah berakhir. Saat terakhir kamu membiarkan ku pergi dan kembali ketempat itu" jawab Tanisa. Dengan mata yang tampak tak mau melihat Gavino.
Gavino terdiam dan menatap wajah Tanisa. Apa yang dikatakan Tanisa diluar dugaan Gavino. Gavino pun seketika terdiam.
"Semua sudah jelas saat kamu mengembalikan diriku ketempat prostitusi itu, dan itu adalah hal paling jelas dan sangat mirip dalam hidupku" ucap Tanisa tampak bicara walau sebenarnya ia lebih ingin menangis ketimbang berbicara.
"Ya aku ingat saat itu, justru itu lah aku ingin bicara pada mu. Ijinkanlah sekali saja aku bicara pada mu" ucap Gavino memandang wajah Tanisa penuh harap namun Tanisa tampak membuang wajahnya dengan tatapan yang tak sama sekali mau memandang Gavino.
"Duduklah" pinta Gavino. Meminta Tanisa duduk dibangku yang berada di taman itu.
Tanisa pun tak mau duduk dan membuang wajahnya.
"Sebetulnya ada yang aku ingin bicarakan padamu" kata Gavino sekali lagi.
"Apalagi? Apalagi yang ingin kamu bicara kan Gavino. Pria tampan rupawan, berharta dan berpunya berpandang dan punya segalanya. Apalagi yang ingin kamu katakan pada wanita rendahan, tak terpandang dan hina ini" Ucap Tanisa dengan nada sindiran yang begitu terasa dalam dihati Gavino.
"Ada ungkapan perasaan padamu yang belum selesai. Aku ingin bicara pada mu tentang perasaan ku"
"Apa?"
__ADS_1
"Aku mencintai mu, aku tersadar bahwa aku mencintai mu. Aku ingin kamu kembali"
Deg .
Kata-kata cinta yang seharusnya indah malah seperti sebuah lelucon yang membuat hati Tanisa sakit.
Tanisa seketika terdiam dan tak pernah menyangka bila Gavino akan bisa berbicara seperti itu dihadapannya kini.
Tanisa pun tak menjawab dan terdiam dan masih sama tampak membuang wajahnya seolah tak peduli.
"Tanisa kenapa kamu terdiam jawablah" ucap Gavino merasa heran dengan Tanisa.
Tanisa masih terdiam seolah apa yang Gavino katakan bukan sebuah kata yang indah namun membuat dirinya semakin hancur. Tanisa tampak menahan air mata dan menangis dalam hati.
"TANISA CEPATLAH JAWAB PERTANYAAN KU DAN KATAKAN JIKA KAMU JUGA MENCINTAI KU" ucap Gavino dengan suara yang keras didepan wajah Tanisa. "TATAP LAH AKU"
Bukan jawaban cinta yang Tanisa ucapkan justru tampak Tanisa menjatuhkan air matanya, Tanisa tak kuasa menahan air matanya terhadap semua luka dan duka yang ia hadapi saat dulu. Seolah apa yang dikatakan Gavino saat ini tak mampu lagi membayar semua luka yang Tanisa rasakan. Saat semua luka dan sakit hati itu tak lagi mengenal kata cinta, yang ada hanya luka duka serta kesakitan yang mendarah daging di diri Tanisa.
"Hiks hiks hiks" suara tangisan begitu terdengar.
Tanisa bukan menjawab malah tampak menangis tersedu didepan Gavino dengan apa yang Gavino katakan.
"Tanisa jawab aku!!!" Pinta Gavino mencengkram kedua bahu Tanisa.
"Semenjak kamu mengusir ku, dan aku kembali kedalam tempat hina itu kehidupan lama aku. Aku berharap kelak kamu akan datang dan membawa ku pergi dari tempat itu, sehari saja aku mohon, namun dirimu tak kunjung datang. Padahal sehari saja disana itu setahun bagiku berada disana. Sehari saja aku disana hampir saja aku mati. Aku menunggu mu untuk membawa ku dari sana, aku berharap dan terus berharap. Tapi apa? Yang datang bukan kamu. Bukan kamu??? Dalam sehari sudah berapa banyak pria yang datang kepadaku tapi itu bukan kamu, dalam sehari sudah berapa banyak penderitaan yang aku terima tapi kamu tak peduli padaku. Setiap hari aku berharap yang datang yang menbawa pergi adalah dirimu tapi ternyata bukan kamu" ucap Tanisa sambil menangis.
"Dan kini kamu mengatakan kamu mencintai ku, sungguh aku kecewa padamu Gavino. Kemana saja dulu kamu, kemana saja dulu disaat aku memohon aku mencintai mu. Kamu tak menganggap, kemana saja kamu dulu. Jangan bicara cinta lagi karena aku sadar diri kalau aku cuma sampah di hidupmu" kata Tanisa
"Lalu kamu bicara begitu kenapa? Hah!!! Kenapa? Apa karena cinta ku terlambat pada mu" ucap Gavino.
"Iya sangat terlambat"
"Kalau gitu katakan jika kamu tidak mencintai ku"
Tanisa pun terdiam dan menunduk.
"Cepat katakan!!! Jika kamu tidak mencintai ku dan aku terlambat mendapatkan kamu. Demi hidup dan matiku aku sangat mencintai mu. Namun, aku akan pergi, darimu. Ya aku akan pergi jika kamu bilang bahwa KAMU TIDAK MENCINTAI KU!!" ucap Gavino dengan suara lantang.
"Ya kamu memang sebaiknya pergi dari hidupku. Karena aku sudah dimiliki orang lain"
__ADS_1
"Baiklah katakan kamu tidak mencintaiku"
"Tak perlu"
"Katakan!!!" Teriak Gavino.
Tanisa pun langsung menangis semakin tersedu.
"Iya aku tidak mencintai mu hiks hiks hiks" ucap Tanisa sambil menjatuhkan air matanya dan tertunduk kakinya terasa lemas dengan pengakuannya sendiri.
"Hiks hiks aku tidak mencintai mu!!! Aku mau kamu pergi dari hidupku, jangan pernah pedulikan aku. Aku cuma sampah Gavino. Aku cuma sampah tak berarti untuk mu"ucap Tanisa yang tampak tak tersadar terduduk dibawah sambil menangis.
"Aku tidak mencintai mu" ucap Tanisa sekali lagi.
Bukan kepergian yang Gavino lakukan.
Justru...
Dengan cepat Gavino pun memeluk Tanisa yang terduduk dilantai memeluknya dengan sangat erat.
"Aku juga sangat mencintai mu Tanisa aku sangat mencintai mu" ucap Gavino memeluk Tanisa sambil menjatuhkan air matanya.
"Berkali pun kamu bilang bahwa kamu tidak mencintai ku, dan mencintai orang lain. Dari mata mu aku tahu bahwa kamu sangat mencintai ku. Jangan biarkan dirimu tersiksa seperti ini" ucap Gavino yang tak kuasa melihat Tanisa yang begitu sakit dengan luka batin yang teramat dalam.
"Hiks hiks hiks"
Tanisa pun tampak menangis tersedu-sedu dipelukan pria yang sudah lama ia rindukan sudah lama ingin bertemu. Tangisan Tanisa pun semakin pecah saat Gavino memeluknya.
"Aku lelah, aku lelah dengan kehidupan ku sendiri. Hiks hiks hiks , Aku tidak mau hidup seperti ini aku lelah, aku lelah. Hiks hiks hiks"
"Maaf kan aku Tanisa aku membiarkan dirimu terlalu lama hidup tanpa aku. Maafkan aku. Maaf kan aku"
Gavino pun tampak tak peduli dimana kini, Gavino masih terus memeluk erat wanita yang sangat ia cintai saat ini.
"Tanisa" tiba-tiba ada suara yang memanggil nama Tanisa.
.......
suara siapa itu???????
__ADS_1