
Terlihat Marisa yang merasakan kepedihan akan sebuah kenyataan pahit ini. Marisa masih tidak mau makan dan tubuhnya pun terlihat lebih kurus dari biasanya. Bicara soal rasa soal perasaan. Perasaan Marisa tetap merasa pedih dan sedih. Terlihat mama yang datang menghampiri Marisa.
"Kamu harus makan Marisa. Kamu jangan menyalahi takdir. Mama cuma punya anak kamu. Kamu adalah satu-satunya anak mama. Kamu harus makan nak" ucap mama tegas.
Marisa pun hanya memandang langit rumah sakit dengan tatapan kosong.
"Kamu tahu?" Tanya mama.
"Apa?"
"Siapa yang menabrak kamu hingga seperti ini"
"Aku tidak perlu tahu"
"Kenapa?"
"Karena aku tidak Sudi untuk melihatnya"
"Tapi dia sudah ada di depan. Dan ia ingin menemui mu"
Lalu mama pun tampak meninggalkan Marisa.
Marisa pun hanya tampak menghela napasnya. Ia tidak siap bila harus di pertemukan dengan orang yang telah merusak asa dalam hidup. Yang sudah membuat dirinya cacat hingga seperti ini. Bila harus kaki dibayar kaki. Marisa ingin melakukannya. Namun jiwa waras Marisa masih ada didalam diri. Ia hanya berusaha untuk menerima kenyataan walau sangat pahit.
Seketika ada seorang pria yang menghampiri dirinya dirumah sakit. Seketika Marisa pun menoleh dengan perlahan dan melihat siapa orang itu. Seketika hati Marisa pun tampak sakit sekaligus sedih. Ternyata.. dia.. dia.. dia adalah orang yang Marisa cinta. Yang telah tega membuat Marisa seperti ini.
"Rian, kamu!!!" ucap Marisa melihat Rian dengan wajah yang sangat kaget. Ia tidak percaya bila Rian lah penyebab dirinya hingga seperti ini.
__ADS_1
"I..iya Gue minta maaf" ucap Rian.
"Lo jahat"
"Gue minta maaf Marisa"
"Sebaiknya lo pergi!!?"terak Marisa.
"mohon maafin gue"
"Apakah kata maaf bisa mengembalikan semuanya ha.." ucap Marisa memandang wajah Rian penuh emosi.
"Gue tahu gue salah. Tapi Lo gak bisa terus begini. menghukum diri lu sendiri dan gak makan berhari-hari"
Marisa pun tampak mengambil sebuah barang yang ada disekitar dan melempar ke arah Rian. Sendok gelas dan piring. Sebagai bentuk Ia tidak terima akan semuanya.
Braaggggg .. prak!!!!
Lalu dengan cepat Rian pun tampak memeluk Marisa. Rian tidak tega melihat sahabatnya itu tersiksa.
"lalu dengan cara apa gue bisa maafin lo Rian. ini terlalu berat buat gue"
"Semua hal yang lu mau pasti gue turutin mar. Tapi satu hal lu harus maafin gue" ucap Rian memeluk erat Marisa yang tampak pucat dan berantakan itu.
Marisa pun hanya tampak terdiam air matanya terjatuh.
Seketika Marisa pun mengeluarkan kata-kata yang mengejutkan. dan tidak disangka sangka.
__ADS_1
"Nikahin gue Rian" ucap Marisa.
"nikah??"
"iya"
Rian pun tampak kaget dengan ucapan Marisa. Ia tidak pernah menyangka bila semua itu akan terucap dari bibir seorang Marisa.
"Lu tahu kan gue udah punya istri mar" ucap Rian lagi.
"Gue gak peduli"
"Mar..."
"Rian!!? hidup gue udah cukup berat kehilangan semuanya. Hidup gue udah cukup berat memendam perasaan gue selama ini. Lu gak pernah berfikir disaat gue harus terima kenyataan hidup. Disaat gue terlahir sempurna namun harus cacat seperti ini. Dan semua karena Lo. Lo boleh pergi, tapi kalau kaki gue udah balik!!!!"
Rian pun tampak terdiam. Dia memandang Marisa tanpa harapan. Rian terdiam..
"Bagaimana?? Lu gak bisa kan?" Ucap Marisa memandang sinis Rian.
Rian pun tampak terdiam memandang Marisa.
"Lu enak hidup lu bahagia. Punya istri, anak semua hal yang lu ingin kan. Lu punya!!! Lu pandang gue Rian. Penuh kesengsaraan bahkan lu sendiri jadi gue pun ga akan sanggup" tegas Marisa dengan air mata yang jatuh.
Rian pun tampak menghela napasnya. Ia tidak menyangka akan dihadapkan di posisi tersulit dalam hidupnya. Bila harus memilih Rian tidak mau menikah dengan Marisa. Namun bila melihat kondisi Marisa saat ini. Rasa bersalah Rian menyelimuti terus dalam diri. Yang Takan bisa terbayar dengan apapun. Ya melihat Marisa yang biasa terlihat ceria itu. Kini terlihat putus asa.
Rian pun memejamkan matanya sambil menahan kesedihan karena harus memilih hal ini.
__ADS_1
"Baiklah.. gue akan menikahi lo Marisa"
"Baiklah.. gue akan nikahin lu sesuai apa yang menjadi keinginan lu" ucap Rian pada akhirnya menyerah dan pasrah. Ia pun tak ingin melihat sahabatnya hidup dalam penderitaan akan kesalahannya. Jika itu memang menjadi kebahagiaan nya Rian akan melakukan.