
Pagi hari tampak cerah saat itu, terlihat Lusi yang menyambut pagi hari dengan kesibukan yang sudah ia biasa lalui.
Selesai mandi terlihat Lusi yang sedang menyusui bayi Yasmin di dekat meja makan. Sembari makan juga Lusi tampak sibuk menyusuinya dengan penuh cinta.
Setelah selesai, Lusi tampak menggendong Fabio untuk mandi. Barulah Lusi berangkat kerja.
Keseharian yang sangat melelahkan Lusi harus siap jalani tanpa mengeluh sedikit pun. Karena Lusi yakin suatu saat dirinya kelak akan bahagia. Meski entah kapan itu akan terjadi.
Lusi pun juga sebenernya tidak tega menitipkan kedua anaknya pada ibu, karena Lusi yakin ibu sangat lelah mengurus dua anak yang masih kecil-kecil. Apalagi melihat tempelan koyo dikepala sang ibu, dan itu tanda dari sebuah rasa pusing di kepala.
Tapi selelah apapun, ibu tampak tak mengeluh hanya dari raut wajahnya saja yang terlihat lelah.
Ada begitu banyak perasaan tak enak hati dalam hati Lusi. Semua pun menjadi rasa bersalah yang teramat dalam.
Dan bulan depan Lusi akan mencari babysister yang akan mengasuh kedua anaknya setelah gaji pertamanya turun. Namun kalau untuk saat ini Lusi memang belum berani mempekerjakan babysister mengingat saat ini Lusi belum memiliki cukup uang untuk membayar itu.
Setelah dirasa semua sudah mulai beres, Lusi pun baru memesan ojek online.
Setelah ojek online itu datang, Lusi pun naik.
Tapi ditengah jalan tiba-tiba ada perbaikan jalan yang Lusi tidak tahu dan harus mengarahkan jalan alternatif untuk sampai ke kantor.
Akhirnya pihak ojek online mengambil jalan lain yang membuat Lusi harus putar balik, dan melewati jalan lain yang ternyata cukup jauh.
Selama perjalanan Lusi merasa cemas karena kemungkinan besar dirinya akan datang terlambat apalagi mengingat di masa training disiplin kerja itu nomer satu.
Lusi pun hanya bisa pasrah jika dirinya akan kena masalah lagi.
Baru saja kerja tiga hari, tapi Lusi sudah ada saja hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
"Kang cepet ya jalannya" ucap Lusi kepada pengemudi ojek.
"Ini udah kecepatan maksimal" katanya.
"Aduh saya gak tahu kalau ada perbaikan jalan didepan sana" timpal Lusi.
"Saya juga gak tahu neng, moga bisa sampai cepat ya"
"Iya kang" jawab Lusi pa8srah.1
Ini motor bukanya gak mau cepet tapi emang udah standar kecepatannya seperti ini" kata kang ojek.
"Ya kang" jawab Lusi hanya bisa pasrah saja.
Pasalnya Lusi juga tidak bisa memaksa kendaraan tukang ojek agar lebih cepat dikarenakan motornya yang sudah lanjut usia dan juga faktor keselamatan yang paling diutamakan.
Pasrah....
Lusi hanya bisa pasrah saja.
.
.
.
.
Sementara itu dikantor...
Tak biasanya pak Hilman datang ke ruang kerja milik karyawan. Pak Hilman tampak memandang meja kerja Lusi yang masih kosong, dia merasa penasaran pada wanita yang baru saja menghipnotis dirinya tadi malam dan sekarang membuat ia khawatir lagi Lusi tidak ada.
"Kamu tahu Lusi kemana?" Tanya Hilman kepada Tasya.
"Saya kurang tahu pak"
"Apa karena tadi malam dia kelelahan ya jadi dia tidak bisa masuk. Apa ada kabar dari dia kalau dia gak bisa masuk hari ini" tanya Hilman yang tampak menayakan karyawan baru itu.
"Belum ada pak"
"Coba kamu telepon"
"Saya gak tahu nomernya pak"
"Yasudah nanti saya suruh Pandu untuk telepon" kata Pak Hilman.
Akhirnya pak Hilman pun pergi dari meja kerja Lusi, tapi dalam waktu 15 menit tampaknya dia masih penasaran dan kembali lagi.
"Kemana sih ini anak bikin penasaran aja, harusnya dia kalau tidak masuk atau kenapa-kenapa beri kabar jangan menggantung seperti ini!!!" Ujar pak Hilman menunjukan kemarahannya.
"Bapak marah atau cemas"
__ADS_1
" saya kesal pada wanita yang membuat saya cemas seperti ini" ungkap Pak Hilman.
"Sabar pak mungkin jalanan macet"
"Tidak bisa!! macet itu bukan alasan dia untuk datang terlambat, lihat saya. Pulang tengah malam, paginya bekerja bisa datang on time!!!!!"
"Bapak marah?"
"Saya bukan marah saya hanya cemas. kalau dia datang. Segera suruh ke ruangan saya" ucapnya dengan langkah kaki yang kasar dan pergi.
"Iya pak"
.
.
.
.
Lalu tak lama tampak Lusi datang dengan sedikit berlari dan sampai di meja kerjanya.
"Oh sorry terlambat" kata Lusi dan segera membuka jaket yang ia pakai.
"Itu tuh pak Hilman marah" ungkap Tasya.
"Marah?"
"Iya coba kamu ke ruangannya"
"Haduh.. jangan-jangan aku mau di sp.. huhuhu baiklah. Gak apa-apa kalau pak Hilman mau marah. Jalanan lagi macet parah dan ada perbaikan aku bingung. Marah banget ya?"
"Ya liat aja sendiri buruan sana" kata Tasya
Lalu Lusi pun berjalan menuju ruang pak Hilman. Lusi pun duduk dihadapan pak Hilman dengan menundukkan kepalanya merasa bersalah karena datang terlambat.
"Saya minta maaf pak hari ini saya telat, sudah membuat bapak marah" ucap Lusi.
"Tidak apa-apa. Saya hanya khawatir saja kamu kenapa-kenapa. Saya takut kalau kamu pergi dari saya itu saja" ucap Pak Hilman.
"Pergi dari bapak maksudnya apa pak?"
"Saya memang takan pergi saya masih bekerja disini pak"
"Itu sebabnya saya tidak mau kamu pergi" ucap pak Hilman menatap Lusi dengan lekat tanpa berkedip.
"Pak?"
"Pak" kata Lusi sekali lagi membuyarkan pandangan pak Hilman.
"Oh maaf" kata pak Hilman yang tersadar akan dirinya yang memandang Lusi terlalu lama.
"Bapak kenapa melamun?" Tanya Lusi.
"Kata siapa saya melamun"
"Barusan?"
"Oh.. maaf tadi mungkin saya hanya tidak fokus"
"Baiklah kalau memang tidak ada lagi yang perlu bicarakan, saya kembali bekerja ya pak" kata Lusi kepada Hilman.
"Lusi?" Kata Hilman yang tak membiarkan Lusi pergi begitu saja.
"Ya pak"
"Wajah mu begitu pucat"
"Pucat?"
"Saya khawatir kamu kenapa-kenapa, saya antar kamu sampai ke meja kamu ya" ucap Pak Hilman berdiri memegang pundak Lusi. Lusi pun meminta pak Hilman melepaskan tangannya dengan menurunkan tangannya yang berada di pundak Lusi.
Lusi pun merasa aneh dengan sifatnya Pak Hilman yang seolah berlebih padanya. Tapi Lusi berkali-kali mencoba untuk tetap positif thinking.
"Kamu cantik Lusi seperti anak perempuan saya" jelas Pak Hilman.
"Ya pak, terimakasih"
"Ini untuk mu, kamu selalu mengingatkan saya pada putri saya. Ini ada donat plus kopi dia sering kali minum ice coffe dan donat. Kamu ambil ya bisa kamu makan sambil kerja" kata pak Hilman tampak tersenyum melihat Lusi.
"Wajah mu pucat saya takut kamu kenapa-kenapa, kamu gak apa-apa kan?" Tanya Pak Hilman lagi.
__ADS_1
"Terimakasih banyak, saya baik pak"
Lusi pun keluar dari ruangan pak Hilman dan tak menaruh curiga apapun. Lusi memang mengira kebaikan pak Hilman memang baik pada dirinya karena seperti anak perempuannya dan bukan yang lain.
Lusi pun keluar ruangan pak Hilman dengan membawa dua gelas ice coffe dan satu lusin donat. Lusi mau terima karena Lusi merasa pak Hilman tulus memberikannya dan ia akan bagikan juga pada temen kantor di dalam ruangan yang sama.
Seketika Tasya pun kaget melihat Lusi yang bukan dapat dan malah membawa donat ditangannya.
"Widih apan tuh" kata Tasya.
"Liat dong apaan ini"
"Donat, dikasih donat. Waahhh, bentar bukannya tadi dari ruangan pak Hilman" kata Tasya yang menghampiri Lusi dimeja kerja.
"Iya emang kenapa?"
"Beuh ajib ini sih, tadi dia marah besar tapi pas ketemu kenapa kasih donat" kata Tasya heran.
"Ya, ga apa-apa tinggal makan aja ini tuh rejeki gak boleh ditolak. Kamu makan aja Tasya, kita makan bareng" ungkap Lusi.
Seketika Tasya melihat ke arah Lusi.
"Lusi kamu ngerasa gak sih, kalau sifat pak Hilman sama kamu tuh beda ya apa mungkin dia ada sesuatu gitu sama kamu" kata Tasya yang merasa kalau ada sesuatu yang lain.
"Pak Hilman cuma bilang kalau aku ini mirip anaknya gak lebih. Jadi kayanya gak mungkin deh dia mikir untuk yang lain"
"Yakin"
"Kamu apa sih gak ada, gak ada. Mungkin dia baik karena aku udah temenin meeting aja kemarin gak lebih"
"Oh bisa jadi sih, dia emang suka kasih sesuatu sebagai tanda terimakasih. Ya mungkin apa yang dikasih ke kamu hanya ungkapan terimakasih saja dan aku harap memang begitu"
"Nah itu kamu paham dan mengerti kan" ungkap Lusi yang tak menaruh curiga.
"Oke, aku mau lanjut dulu ya ada kerjaan"
"Siap, nih kamu bawa ice nya sama donat"pinta Lusi.
"Yasudah aku ambil ya, thanks ya" Kata Tasya.
Lalu Lusi pun memakan donat itu dengan segala coffe yang ia dapat dari pak Hilman, Lusi memakan bersama teman kantor. Lusi memakan tanpa menaruh sedikit pun rasa curiga apalagi bicara tentang perasaan.
Lusi merasa jika pak Hilman baik dan tulus saja, tidak ada yang lain.
Setelah itu...
Disela-sela jam kerja Lusi tampak iseng membuka Instagram di handphonenya..tapi tanpa ia duga di kolom beranda miliknya ia melihat sebuah postingan milik akun Liana yang menampilkan kebersamaan keluarga yang terlihat bahagia.
Terlihat Gery yang sedang menggendong bayi Alena dan merangkul istrinya yakni Liana. Dan lokasi yang disematkan dalam foto ig di sebuah kota London. Kota yang sangat jauh.
Seketika hati Lusi merasakan perih yang teramat dalam dan tanpa sengaja air matanya tumpah perlahan.
Lusi pun melihat foto itu seperti sebuah tamparan keras diwajahnya. Walau Lusi sebenernya senang melihat Gery dan keluarga kecilnya sudah bahagia. Secara perlahan Lusi menghapus air matanya.
Tapi seketika itu Lusi merasakan..
sedih.. sedih melanda yang tak tertahan. Lusi mungkin seolah seperti orang yang jahat menangis diatas kebahagiaan orang lain. Tapi Lusi tidak bisa menutupi rasa sakit pada hatinya begitu terasa sangat sakit dan sedih.
Lusi sedih dengan semuanya..
Lusi sedih...
Seketika Lusi bukannya berhenti menjatuhkan air matanya, malah tambah menangis tersedu di meja kerja miliknya. Dada Lusi terasa begitu sesak.
Tasya pun melihat Lusi yang sedang tertunduk menangis di meja kerja dan langsung menghampiri Lusi saat itu juga.
"Kamu kenapa Lusi?" Tanya Tasya yang melihat Lusi menangis.
"Aku sedih, aku hanya sedih" ucap Lusi yang menagis.
"Kenapa?"
"Aku sedih dengan kehidupan ku sendiri Tasya hiks" kata Lusi yang masih tertunduk dalam tangisan.
Lalu Tasya pun memeluk Lusi saat itu, dan mendekapnya. Tasya juga melihat handphone Lusi yang terlihat sebuah foto yang menampilkan kebahagiaan keluarga kecilnya. Seketika Tasya menyadari akan hal itu.
"Sabar ya Lusi, kelak kamu akan bahagia" kata Tasya.
Lusi pun mengangguk.
Lusi yang masih dalam dekap Tasya, Tasya mengelus pundak Lusi untuk menabahkan Lusi yang sedang menangis.
__ADS_1