
Atas kejadian itu Gery pun membawa rasa bersalahnya dan pergi, lalu mengabaikan semua rasa yang ada. Seolah tak peduli lagi, akhirnya Gery menghargai keputusan itu untuk menjauhi Lusi selamanya.
Mungkin seharusnya ibunya dari Lusi jangan langsung mengusir dan marahi Gery paling tidak harusnya Gery masih mau bertanggung jawab soal nafkah anak yang ia tanam didalam rahim Lusi.
Namun karena sudah terlalu marah dan terlampau emosi, ibunda Lusi membuat Gery mengabaikan tanggung jawabnya yang sebenernya harus ia emban sebagai pria yang sudah menghamili.
Lusi pun hanya bisa pasrah pada nasibnya kali ini, mungkin terlalu banyak beban pikiran yang melanda dirinya. Sampai akhirnya Lusi lupa meminta uang sebagai tanggung jawab nya
Sampai waktu itu, Lusi lebih fokus pada Ayahnya yang telah tiada.
Dengan rasa penuh duka Lusi pergi ke kuburan sang Ayah. Lusi sedih dengan keadaan saat ini karena pundak tempat bersandar dari seorang pria hanya Ayahnya. Tapi kini Ayah sudah pergi selamanya dalam hidup.
Dengan air mata yang jatuh, Lusi taburkan bunga di peristirahatan terakhir sang Ayah.
Setelah itu Lusi pun berdoa agar Ayahnya ditempatkan disisi terbaik. Dan Khusnul khatimah..
Lusi menangis diatas kuburan sang Ayah meminta maaf atas semua kesalahan yang selama ini ia lakukan.
.
.
.
Beberapa hari berlalu setelah itu, Lusi pun tidak menceritakan kejadian yang menimpa dirinya pada sang ibu soal Demian yang sudah melakukan hal buruk. Karena takut menjadi beban pikiran yang paling terdalam saat itu, namun Lusi ada niatan untuk melaporkan kejadian yang menimpa dirinya ke kantor polisi.
Lusi menuntut keadilan sebagai perempuan yang pernah diculik dan buang ke tengah hutan. Kalau ditanya seberapa banyak kesalahan Demian, kesalahan Demian banyak sekali. Lusi tak bisa katakan yang mana yang paling menyakitkan, semua terasa menyakitkan untuk Lusi.
Tak sampai itu dilakukan....
Siang hari, saat itu Lusi sedang makan siang bersama sang ibu.
Tanpa sengaja Lusi sedang menyetel tv Lusi menonton sebuah berita. Tanpa Lusi tahu berita yang diterangkan adalah soal kasus kriminalitas yakni seorang bandar narkoba ditangkap oleh polisi.
Tanpa Lusi sangka, orang yang ditangkap itu adalah Demian.
Mata Lusi membulat tajam dengan berita yang sedang ditayangkan di tv sampai Lusi yang tadinya duduk jauh dari tv dan mendekat ke arah tv untuk memastikan bahwa apa yang diberitakan itu benar adanya.
Lusi pun langsung membuka handphonenya dan mencari berita terkait soal kebenaran tersebut. Dan apa yang di beritakan benar adanya, bahwa Demian mendapatkan hukuman kurungan penjara seumur hidup.
__ADS_1
Lusi mengehela napas tak percaya baru saja Lusi ingin melaporkan soal itu ke polisi ternyata Demian sudah masuk ke dalam penjara.
Lusi tak pernah tahu itu memang karma untuknya atau memang suatu kesalahan. Dan Lusi berharap dengan kejadian ini Demian dapat berubah ke arah yang lebih baik.
Ibu pun keheranan melihat putrinya yang terlihat serius itu didepan tv.
"Tumben kamu antusias banget nonton beritanya" tanya sang ibu pada Lusi.
"Gak nyangka?"
"Kenapa?"
"Aku kenal Bu, sama orang yang ditangkap polisi ditv Ibu ingat gak sih yang waktu itu dia menagih hutang pada kita. Aku baru tahu ternyata dia bandar narkoba" kata Lusi yang masih fokus dengan berita yang ia tonton.
"Hem.. itulah orang kalau silau mata dengan harta ya begitu"
Lusi pun mengangguk..
Tiga bulan berlalu Lusi masih dalam kesendirian yaitu janda anak dua. Operasi sesar saat melahirkan membuat Lusi menjaga tubuhnya untuk tidak banyak bergerak.
Ayahnya yang telah tiada tidak banyak meninggalkan harta yang banyak. Bahkan bisnis yang digeluti sang ayah tidak jadi melebarkan sayapnya. Bahkan tutup, ternyata tidak bisa melanjutkan bisnisnya tersebut karena semua yang dikeluarkan tidak balik modal.
Lusi sebenernya punya banyak beban selain beban hidup Lusi juga beban pikiran karena ada rasa tidak enak hati yang menumpang hidup pada ibunya kini.
Lusi ada niatan ingin mencari pekerjaan, namun ia harus menunggu dulu paling tidak tiga bulan. Lusi baru bisa bekerja.
Pagi itu pagi yang paling cerah, terlihat Lusi yang baru saja terbangun dari tidurnya.
Lalu dengan cepat menggendong satu-satu anaknya secara bergantian yakni Fabio dan Jasmin. Keduanya tampak menangis bersamaan.
Lusi pun merasakan kerepotan yang sangat ia rasakan sebenarnya tapi ia berusaha untuk tetap sabar menjalani semuanya.
"Begini ya, rasanya jadi orang tua punya anak dua. Yang satu nangis yang satunya lagi juga menangis. Fabio sabar ya, jangan nangis dong sayang. Adiknya minta asi, mama harus kasih asi dulu. Sabar ya, nanti mama gendong" kata Lusi saat itu mengatakan Fabio yang menangis karena Fabio baru saja bangun tidur.
Fabio memang masih terlalu kecil untuk memiliki seorang adik, bahkan dia sesekali sering mengeplak kepala adiknya kalau Lusi sedang menggendong Jasmin.
Dan kebiasaan Fabio adalah menangis bila bangun tidur dan minta di dekap dulu oleh sang ibu. Baru bisa dilepaskan setelah ia tenang.
Lusi tidak tahu sejak kapan Fabio menjadi seperti itu tapi yang Lusi rasakan hampir setiap hari Lusi merasakan kerepotan. Tapi Lusi selalu ikhlas dan tersenyum menjalaninya.
__ADS_1
Lusi yang sedang memberi asi itu pun Fabio malah menunggangi tubuh Lusi dibelakang seperti kuda. Seolah tak mau jika Lusi hanya terfokus pada adiknya saja. Lusi merasakan takut jika Fabio jatuh.
"Eh eh Fabio jangan naik ke pundak mama, nanti kamu jatuh bagaimana?"
Bukannya menurut Fabio malah tambah menangis tak karuan.
"Ibu tolong Lusi, huhuhu" kata Lusi saat itu.
"Kenapa?"
"Fabio minta gendong, Jasmin nangis terus ini" kata Lusi yang mendengar suara pintu terbuka menandakan ibunya pulang dari pasar.
"Sini Yasmin ibu indung-indung dulu biar gak nangis" ucap ibu mengambil Fabio dari tangan Lusi.
Lalu Lusi pun menggendong Fabio dan membuatkan susu Fabio. Lusi kerepotan minta ampun dengan tubuh anaknya yang mulai berat tapi minta gendong.
"Kamu udah besar Fabio jangan gendong terus mama pegel" kata Lusi mengerinyitkan keningnya.
Fabio tampak tak peduli saat itu ia terus saja menangis minta digendong, pada akhirnya Lusi menggendong sambil membuatkan susu untuk Fabio.
Saat Lusi sudah siap dengan botol susu Fabio, Lusi tersadar bahwa susu Fabio telah habis. Seketika Lusi mengehela napas beratnya yang begitu berat terasa, Lusi tak menyangka ia tidak punya stok susu dan tidak memiliki uang sama sekali untuk membeli susu.
Fabio yang menangis dalam gendongan Lusi, tanpa terasa ingin ikut menangis..Fabio memang sudah berusia 1.5 tahun. Namun Fabio akan mengamuk jika tidak minum susu.
"Sabar ya nak susu kamu habis" kata Lusi.
Lalu tampak ibu mengahampiri Lusi yang termenung.
"Kenapa Lusi?"
"Susu Fabio habis Bu" kata Lusi saat itu.
"Hah" ibu tampak menghela napas beratnya juga saat itu.
"Baiklah nanti ibu coba pinjam uang dulu sama tetangga siapa tahu mau pinjemin buat beli susu"
"Gak usah Bu"
"Beras kita juga habis Lusi, Ibu butuh uang untuk keperluan hidup kita" kata ibu.
__ADS_1
Lagi-lagi Lusi meraksan sedih mendengar apa yang dituturkan oleh ibunya. Lusi merasa, Lusi menjadi janda dengan membawa dua anaknya kini menjadi beban untuk ibunya saat ini.