
Jika Lusi sudah berada bersama keluarga nya. Bersama merasakan suatu kisah yang lebih baik.
Namun, kini lain dengan Demian yang harus menerima kenyataan yang pahit untuk dirinya yaitu mencintai seorang wanita yang kini telah pergi bersama kenangan yang tak pernah ia akan ulangi lagi.
Demian mengira jika Lusi takan pernah bisa lepas dari dirinya mengingat hutangnya sangat lah banyak bahkan Demian berfikir bahwa hidup Lusi tak mampu bayar. Namun kenyataan dari semua yang ada Lusi dapat pergi dengan melunasi hutang-hutangnya yang banyak itu. Bahkan cita-cita Demian yang nantinya akan menikahi Lusi seperti suatu hal yang menjadi sirna dalam hidupnya.
Dan aeperti nya akan sulit mendapatkan Lusi kembali. Lusi pun dapat dan ada dalam genggaman Demian sebenernya itu bukan karena cinta melainkan hutang yang membuat Lusi ada didekatnya.
Penyesalan seolah tinggalah penyesalan. Demian sangat mencintai Lusi namun karena keegoisan Demian membuat Lusi semakin jauh dalam genggaman. Dan kini Lusi pergi dan entahlah dia akan kembali atau tidak Demian tidak tahu.
Demian pun kembali ke dalam kamar yang pernah ia tidur bersama saat itu dengan Lusi.
Demian langkahkan kaki nya secara perlahan dan pasti mengenang wanita yang ia cintai kini telah pergi. Demian seketika teringat semua akan wanita yang pernah tidur diatas kasur milik adiknya, bahkan baju yang pernah Lusi pakai Demian lihat dan ia sambil mengenang betapa berharganya wanita yang telah pergi dan betapa istimewanya wanita yang telah pergi itu sampai Demian tak bisa melupakan semuanya.
Maafkan aku Lusi karena aku hanya menginginkan nafsu saja saat itu, sampai aku lupa melupakan perasaan ku yang begitu sebenarnya mencintai mu batin Demian merasakan kekecewaan pada dirinya sendiri.
Demian terdiam lalu bercermin mengingat wajah Lusi yang cantik. Demian membelai bibirnya yang pernah ia melakukan kecupan hangat dibibir Lusi dengan bibirnya. Demian pun ingat betul, bagaimana Lusi menangis saat Demian melakukan hal yang tak seharusnya ia lakukan. Namun dengan teganya Demian tak pedulikan itu, keperjakaan yang sudah ia lepaskan pada wanita yang berstatus janda itu seolah menjadi saksi untuk dirinya betapa kejamnya dirinya saat itu. Demian tumpahkan apa yang menjadi hasrat seorang pria pada janda cantik yang tengah hamil itu, ia kecup seluruh tubuh Lusi yang Lusi miliki sampai suatu kenikmatan itu.
Lagi-lagi bila ingat semua itu Demian tak menyangka bila ia sejahat itu.
Demian tak menyesali keperjakaannya yang ia lepaskan, tapi satu yang paling ia sesali adalah belum saja ia memberikan seluruh cinta dalam hatinya namun nyatanya Lusi secepat itu pergi dalam genggemannya. Ya karena itu salah Demian sendiri.
Demian mengira bahwa Lusi tak pernah lepas, namun kenyataan yang ada Lusi semudah itu lepas.
Demian pun melihat sebuah kalung yang pernah ia berikan pada Lusi yang tak sampai Lusi bahagia mendapatkan itu semua ternyata kalung itu Lusi tinggalkan begitu saja diatas meja.. harusnya kalung itu adalah saksi cinta Demian kepada Lusi..namun karena kejahatan Demian hingga kalung yang seharusnya berharga itu, tak lagi berharga bahkan kalung itu seperti sebuah pil paling menyakitkan bagi Lusi. Yang Lusi mengira bahwa itu hanyalah sebuah suapan untuk dirinya agar bisa ditiduri.
Brrrrraaaaggghh...
Demian pun memukul tembok hingga tangannya berdarah.
"Lusi sayang ku jangan pergi tinggal kan aku jangan pergi' ucap Demian merasa merindukan wanita yang jauh dari dirinya kini. Tanpa terasa air mata Demian terjatuh untuk wanita yang baru ia kenal belum sebulan itu.
Sementara itu...
Lusi sudah merasa lebih baik tubuhnya sudah mandi serta wangi. Lusi sudah mengganti pakaiannya dengan memakai dress panjang berwarna pink dan cardigan berwarna putih.
Gery pun sudah menunggu Lusi didepan rumah sambil minum teh hangat yang Lusi buatkan untuk Gery, selesai mandi Lusi pun ke depan untuk menemui Gery.
Lusi sengaja mengunci rumahnya saat Gery menunggu, karena menghindari hal yang tak di inginkan mengingat dirumah saat ini tak ada orang.
Gery malah tampak menganga melihat Lusi yang cantik jelita.
"Aku tidak akan berhenti menunggu mu" ucap Gery memandang Lusi sambil tersenyum.
Lalu Gery pun langsung berlari membukakan pintu mobil untuk Lusi.
"Aku akan mengantar mu lagi ke rumah sakit, aku sudah berjanji pada ibumu untuk membawa mu kesana lagi" kata Gery.
"Baiklah aku berterimakasih atas kebaikan mu" kata Lusi.
Lusi pun perlahan mulai menerima apa yang menjadi kebaikan Gery saat itu. Lusi tidak bisa menolak semuanya, disaat Gery memberikan semua yang terbaik apa yang bisa ia lakukan. Namun jauh dari semua itu tanpa Lusi ketahui, sebenernya Gery belum lah bercerai dari istri nya.
Didalam perjalanan menuju rumah sakit, Gery tanpa henti mencuri pandang pada wajah Lusi yang sangat cantik baginya, mau dari sisi mana saja Gery selalu menyukai wanita yang kini berada disampingnya. Jika wanita cantik banyak namun Lusi punya banyak hal yang Gery sukai. Gery tak pernah memaksa cintanya akan pada siapa akan berlabuh, ia hanya mengikuti apa kata hatinya dan memperjuangkan apa yang ia cintai dalam hidupnya. Walau terasa salah karena harus memaksa namun Gery akan menjaga orang yang ia sayang dalam hidupnya.
"Aku mau hari ini kamu bilang sama ibu mu atau ayah mu bahwa kita akan segera menikah" kata Gery sambil menyetir.
Lusi pun terdiam menatap jalan.
"Kamu dengar kan apa yang aku katakan" ucap Gery lagi.
"Iya" jawab Lusi singkat.
"Janji adalah janji hutang adalah hutang. Janji itu adalah hutang bukan" ucap Gery kembali mengingatkan semuanya.
"Aku akan katakan"
"Sebaiknya dari sekarang, karena kalau tidak aku yang akan mengatakan pada ayah dan ibumu" kata Gery lagi.
Lusi pun mengangguk paham.
Lalu selama perjalan Lusi hanya terdiam entah apa yang ia pikirkan, memang sifatnya atau emang dia malas bicara. Dan Gery pun tidak banyak bicara selama Lusi yang saat itu terdiam.
Lusi terdiam saat itu karena entah mengapa ada sesuatu yang membebani dalam hatinya, karena mengingat pria yang akan ia nikahi adalah pria yang pernah menjadi suami sepupunya dari suaminya sendiri.
Lusi sebenernya takut dianggap orang yang sudah merusak rumah tangga Liana. Namun Lusi tak bisa berbuat banyak saat dirinya juga sudah membuat perjanjian untuk mau dinikahi oleh Gery. Lusi tidak tahu ini menjadi baik atau buruk baginya, Lusi hanya memejamkan mata dan berdoa semoga semuanya baik-baik saja.
Sesampainya dirumah sakit Lusi terlihat terdiam dan tak bergeming sama sekali namun apa yang Gery katakan pada Lusi perihal ia harus memberi tahu pada ayah dan ibunya. Lusi pasti akan beritahukan soal itu kepada mereka.
Saat Gery pulang Lusi pun baru benar-benar katakan pada Ayah dan ibunya saat itu.
Suasana masih dirumah sakit ..
"Ayah dan bu?" Kata Lusi yang berusaha untuk bicara.
"Ada yang Lusi ingin sampaikan" kata Lusi lagi terlihat serius.
Ayah dan ibu saat itu agak heran karena melihat wajah Lusi yang terlihat tegang.
"Ada apa?" Tanya ayah.
"Lusi akan segera menikah" jawab Lusi.
"Menikah???" Ayah tampak heran
"Iya"
"Kamu menikah, Bukannya kamu sendiri pernah bilang kamu tidak akan menikah dalam waktu dekat" kata ayah meyakinkan apa yang Lusi baru katakan.
"Ngga, Lusi akan menikah seminggu lagi"
"Apa? Sama siapa?" Tanya Ayah kaget
"Gery"
"Kamu gak main main kan dengan yang barusan kamu ucapkan, tentang nikah seminggu lagi"
__ADS_1
"Ayah Bu ini juga bukan kemauan Lusi tapi ini adalah syarat dari Gery yang Lusi harus penuhi, saat dirinya membayarkan semua hutang itu. Lusi harus menikah dengannya" jelas Lusi
Ayah ibu pun tidak banyak berkata lagi, hanya bisa terima saat itu jika memang kenyataannya. Ibu pun hanya mengelus punggung sang anak yang saat ini tengah mengandung 7 bulan, untuk bisa menguatkan dan menrika semua yang terjadi. Ibu pun hanya berharap kelak putrinya akan bahagia kepada siapa saja ia akan menikah.
.
.
.
Hinga hari pernikahan. Ternyata bukan Lusi yang mengingkari janji tapi Gery, Gery yang mengatakan bahwa pernikahan akan dilaksanakan seminggu lagi. Namun nyatanya dipercepat hanya 5 hari kemudian, pernikahannya pun dilaksanakan seolah terburu-buru tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.
Tahu-tahu Gery datang dengan membawa penghulu dan perias pengantin pagi-pagi. Saat itu Fabio sudah dibawa pulang jadi Lusi sudah ada di rumah.
Lusi yang saat itu sedang menyiapkan sarapan ditarik seorang perias pengantin dan dipakaikan sebuah gaun pengantin dan di make up. Lusi tentu saja membulatkan matanya saat itu.
"Apa-apaan ini" kata Lusi kebingungan.
"Ikuti saja" kata wanita itu. "Kamu akan menikah hari ini"
"Dengan siapa?" Kata Lusi heran.
"Kok siapa? Ya Gery lah"
"Sekarang?"
"Tahun depan, ya iya sekarang!!!"
"Apa???"
"Udah ikutin aja.. oke rileks"
Lalu mereka pun mampu membuat Lusi menjadi cantik dan memakaikan gaun pengantinnya.
"Hari ini adalah hari pernikahan mu" jelas mua itu.
Lusi pun hanya menggelengkan kepala ada rasa tak percaya dalam hatinya.
Lusi cuma bisa pasrah saat semua yang saat ini menimpa dirinya terasa ekspres Lusi tidak banyak melakukan perdebatan. Lusi tahu sifat Gery yang memang seperti itu melakukan hal yang tak terduga sebelumnya.
Seusainya...
Lusi tampak cantik dengan gaun yang ia kenakan yaitu sebuah kebaya putih dan makeup yang terlihat elegan dan cantik dipandang mata. Rambut Lusi pun tampak disanggul indah.
Sampai saat Lusi selesai di make up Lusi pun dibawa ke ruang tamu didepan rumah sudah ada penghulu. Tamu yang datang pun tidak banyak hanya beberapa saksi dan pastinya ayah yang menjadi wali. Ibu pun juga tampak di make up juga. Lusi seperti orang yang kebingungan pada hari itu.
Tiba-tiba Gery datang dan melihat Lusi. Gery tampak tersenyum merekah Gery tak sabar dengan apa yang menjadi impiannya selama ini.
Lusi pun sejenak terdiam melihat Gery dengan setelan jasnya saat itu, Lusi tidak menyangka sama sekali dirinya akan menikah dengan pria itu.
Gery pun memandang wajah Lusi dengan tajam dan dalam saat Lusi dihadapan Gery dengan gaun pengantin berwarna putih. Lusi tampak cantik dengan gaun yang ia kenakan. Lusi sebenernya malu dengan dirinya yang tengah hamil besar harus dinikahi secara express seperti ini. Seolah seperti orang yang tengah menutupi kehamilannya dengan cara menikah.
Tak terasa air mata Lusi jatuh saat ijab dan Qabul itu Gery ucapkan dengan lantang tanpa terbata sedikit pun. Saat ijab kabul itu Lusi hanya coba mencerna bahwa ini adalah takdir nya.
Sebuah mobil berwarna putih dengan harga tujuh ratus juta rupiah menjadi mas kawinnya bahkan Lusi belum sempat meminta maharnya apa, namun Gery langsung berinsiatif menjadikan mobil untuk menjadi maharnya. Sebuah mobil yang terlihat elegan dengan hiasan pita merah sudah bertengger didepan rumah.
Lusi tidak menyangka kini status dirinya sudah menjadi istri orang lain. Dalam hati Lusi dia seperti mimpi menikah lagi saat ini.
Lusi pun mencium tangan Gery yang saat ini telah sah menjadi suaminya.
"Gery aku tidak meminta mu memberikan sebuah mobil mewah untukku" kata Lusi.
"Itu bukan mewah itu biasa"
"Tapi ini terlalu mahal" jawab Lusi.
"Gak apa-apa" kata Gery yang menjawab dengan senyuman.
Bagi Gery bukan berapa soal harga mobil tapi yang paling penting adalah kini Gery sudah menjadi suami untuk Lusi.
Gery pun menatap senyum dengan keadaan dirinya yang sudah menjadi suami dari seorang istri bernama Lusi yang sangat cantik dan membuat Gery tak bisa lepas dari Lusi.
Lusi hanya menatap Gery seolah tak menyangka keadaan dia tengah hamil besar kenapa dia menikah seperti ini. Seperti orang yang tidak tahu malu baginya.
Saat itu Lusi hanya merasa ada perasaan kesal, sedih, bingung dan tak mengerti lagi bagaimana bisa jadwal pernikahan yang memang sudah terlalu cepat tapi dipercepat. Itu seperti sesuatu yang aneh untuk dirinya.
Setelah acara akad selelsai kini Lusi sudah resmi menjadi istri. Gery pun tampak memegang tangan Lusi lalu menciumnya.
Bahkan saat itu keluarga Gery tidak datang.
Gery yang sudah resmi itu pun dengan senyuman yang paling bahagia merangkul pinggang Lusi bahkan meluk Lusi dengan senyuman yang paling bahagia.
"Aku tidak sabar untuk tar malam" kata Gery tersenyum tanpa malu.
"Tar malam kenapa?"
"Ya kan udah nikah artinya sudah sah"
"Kamu lupa sama janji kamu"
"Yang mana?"
"Kan kita baru bisa melakukan hubungan kalau aku sudah siap"
"Hhahah lain kemarin lain sekarang, gak itu mah cuma akal-akalan aku aja bilang iya..biar kamu mau, kebelakang nya mah tetap minta"
Lusi pun langsung melotot tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Gery.
Tiba-tiba setelah itu Liana datang dengan bergaya seperti nyonya besar yang siap melabrak Lusi saat itu, Liana tahu jika Gery akan menikah lagi. Namun ia tak menyangka akan sangat cepat. Liana datang saat itu sambil menatap wajah Gery dan Lusi secara bergantian.
"Selamat atas pernikahan kalian!!!!" Ucap Liana dengan suara meninggi.
"Ngapain kamu datang" kata Gery kesal.
"Ngapain???? Ya jelas ingin memberitahu kepada Lusi bahwa aku masih menjadi istri sah mu" teriak Liana kesal.
__ADS_1
Lusi pun kaget dengan ucapan Liana yang memberitahu tentang status dirinya.
"Kamu bilang kamu sudah bercerai, sekarang sebenernya kamu sudah bercerai atau belum" tanya Lusi pada Gery yang tak percaya dengan apa yang diucap oleh Liana.
Gery pun terdiam.
"Gery kamu jawab" pinta Lusi.
Dengan berat hati Gery pun menjawab.
"Aku masih menjadi suami dari Liana"
"Apa???"Lusi pun kaget.
"Jelas kan yang Gery ucapkan " kata Liana melipat tangan didada.
"Kenapa kamu menipuku" kata Lusi kesal dan marah. "Kenapa kamu tega berbohong"
"Karena aku mencintai mu" jelas Gery.
"Cinta tapi tidak bisa kamu sudah menipuku seperti ini. Kamu tidak menghargai perasaan ku" ucap Lusi menatap Gery.
"Perasaan, aku tidak peduli soal perasaan mu. Yang paling penting saat ini kamu sudah sah menjadi istriku dan yang kedua aku sudah membayar hutang mu padanya. Tidak bisa kamu marah pada ku, tidak bisa!!!!" Kata Gery tegas.
Lusi pun semakin kesal dengan ucapan Gery yang malah menyudutkan dirinya saat ini.
Keributan-keributan itu membuat Ayah mendundukan Lusi, Liana dan Gery dalam meja yang sama. Beruntung setalah akad memang ada tamu yang datang tapi sedikit jadi paling tidak, tidak ada keributan yang terlalu.
"Jadi yang saya mau kalian tidak ada yang ribut. Saya menyalahkan Gery yang tidak jujur pada Lusi dan terlalu cepat untuk menikahi anak saya. Tapi karena semua sudah terlanjur kita bisa bicarakan baik-baik" kata Ayah.
"Jadi maunya bagaimana?" Tanya ayah lagi.
"Yaudah cerai aja, selesai kan" ucap Lusi kesal.
"Eh gak bisa enak aja" ungkap Gery. "Biar saya jelaskan dulu.. Jadi sebenarnya Liana ini sudah saya ingin ceraikan sejak saya tahu dia selingkuh. tapi dia gak mau, karena saya masih ada rasa kasihan dan Liana siap jika saya menikah lagi dengan Lusi dari itu saya masih mau "
"Betul begitu Liana"
"iya"jawab Liana singkat
"Baiklah itu artinya saya hanya mau kalian berdamai. Saya tanya sama kamu Gery bisa gak kamu adil" kata sang ayah saat itu.
"Pak saya mencintai anak bapak lebih dari dirii saya sendiri saya tidak mau cerai pada Lusi yang baru dua jam saya nikahi" ungkap Gery.
Lusi pun hanya diam tak banyak bicara.
"Kalau kamu Lusi" tanya ayah pada Lusi.
"Entahlah. Bingung, selama ini juga aku gak terlalu mikirin pernikahan ini" ucap Lusi membuang wajahnya.
"Semua yang Lusi lakukan memang sudah menjadi keinginan Gery, Lusi hanya menjalaninya. Karena sudah perjanjian dari Gery"
"Yaudah, kalian bisa berdamai" kata ayah.
"Tapi malam ini aku mau Gery pulang" kata Liana.
"Gak mau" kata Gery.
"Kalau kamu Lusi maunya bagaimana?" Tanya Ayah.
"Lusi juga gak apa-apa, kalau cuma dapat satu hari dalam seminggu. Liana 6hari aku yang satu hari gak apa-apa..kalau perlu gak usah sekalian juga gak apa-apa" jawab Lusi yang memang tak ada dasar rasa suka dan cinta.
"Lusi?" Ucap ayah lagi.
"Ya ampun jadi pusing ah, gak tahu" kata Lusi.
"Yaudah gini aja, malam ini Gery gak apa-apa gak usah disini " kata Lusi lagi
"Jadi?" Kata ayah bingung sendiri.
"Jadi aku maunya 5hari aja, Lusi dua hari" sahut Liana.
"Aku sehari aja, kalaupun gak usah juga gak apa-apa" Lusi jawab santai.
"Oke, oke.. jadi maunya gimana? Tapi syaratnya aku maunya malam ini disini" kata Gery.
"Yaudah banyak buat Liana. Secara logika Liana punya anak dari kamu jadi paling tidak dia lebih banyak minta waktu kamu" kata Lusi yang mengalah saja.
"Yaudah aku 5hari, Lusi sisanya" jawab Liana singkat dan kesal.
"Lusi ikhlas begitu?" Tanya Ayah.
"Ikhlas" jawab Lusi singkat.
"Nah kalau gitu salaman dulu Lusi dan Liana"
"Apa, aku sama Liana itu udah kenal ngapain salaman" kata Lusi.
"Salaman bukan buat kenalan tapi saling setuju" kata ayah.
"Gak mau" kata Liana.
"Ayo salaman"
"Yasudah" kata Liana dan Lusi bersamaan.
"Yaudah selesai gak ada lagi ribut ya" kata ayah meluruskan.
"Liana ini kamu sudah kenal" tanya ayah yang tampak mengenali Liana. "Oh iya ya. Pernah dengar ayah namanya dia ini sepupu nya Rian kan" kata ayah.
"Iya om saya sepupunya Rian" kata Liana.
"Lah saya dipanggil om, emang saya semuda itu ya" kata ayah sembari tersenyum.
"Emangnya harus apa?"
__ADS_1
"Ya gak apa-apa sih" jawab Ayah.
Akhirnya Lusi dan Liana pun salaman tanda mereka sudah setuju dengan apa yang menjadi keputusan mereka.