
Lusi yang tampak terjatuh itu pun lantas dibangunkan oleh seorang pria pegawai mall. Yang tak sengaja melihat Lusi terjatuh itu.
"Mba baik-baik aja kan" ucap pegawai laki-laki itu untuk memastikan bahwa Lusi baik-baik saja.
"Iya makasih" tutur Lusi mengucapkan terimakasih.
"Mba baik-baik saja kan"
"Iya saya baik"ucap Lusi pergi dari mall itu.
.
.
.
.
Lalu Lusi pun tampak ingin menemui Marisa saat itu, namun setiap telepon yang Lusi panggil tidak diangkat. Sepertinya Marisa masih kesal dengan Lusi yang ia kira sudah membuang gaun pemberiannya.
Lalu Lusi pun menemui Marisa untuk menjelaskan semuanya. Soal Gery yang ada rencana licik untuk menikahi adiknya sendiri.
Lusi pun sampai didepan rumah Marisa. Namun masih tetap Lusi tidak diperbolehkan masuk. Katanya Marisa sedang tidak ingin diganggu.
"Maaf ya non, non Marisa nya lagi tidak mau diganggu
Tidak mau ketemu katanya" ucap assiten rumah tangganya.
"Oh begitu, yaudah gak apa-apa bi"
Lusi pun hanya menghela napasnya karena semua hal terasa percuma bicara pada Marisa yang saat ini sedang marah pada dirinya.
Lalu Lusi pun berusaha untuk menghubungi Juna. Dan Lusi pun mengatur pertemuan dengan Juna esok harinya, yaitu disebuah Restorant cepat saji.
"Jun" ucap Lusi tampak serius.
"Ya", jawab Juna.
Lusi pun tampak pangling melihat Juna yang kali tampak berbeda dengan tampilan dulunya. Yakni sekarang lebih rapi, seperti pria kantoran.
"Kamu udah kerja Jun?" Tanya Lusi.
"Ya begitulah. Lumayan, sekarang udah jadi fotografer. Sama udah kerja juga dikantor perusahaan swasta"jawab Juna.
"Wah hebat dong"
"Baru tiga hari kerja Lusi"
"Gak apa-apa. Laki-laki itu memang harus kerja Jun"
"Ya, lumayan lah" ucap Juna sambil tersenyum.
"Btw, Kamu beneran sayang kan sama Marisa" tanya Lusi serius.
"Emang kenapa?" Jawab Juna.
"Segera nikahi dia" tegas Lusi.
"Iya, tapi aku masih bimbang" ungkap Juna.
"Kenapa?" Tanya Lusi.
"Aku belum siap dari segi financial. Walaupun sudah bekerja"
"Maksudnya?"
"Seperti rumah dan mobil aku belum punya. Papanya pun tampak tak setuju pada ku" ujar Juna seolah minder pada dirinya sendiri.
"Untuk menuju dan mencapai pernikahan memang sulit. Tapi alangkah baik nya untuk disegerakan. Kamu tahu, aku menikah dengan Rian. Aku pun juga bukan dari orang berada dan kalangan biasa. Kamu harus berani. Dan kamu lihat, akhirnya apa, aku diterima juga oleh keluarga Rian kan Jun" nasihat Lusi.
"Iya kamu benar. Aku akan segera menikahinya"
"Bagus, aku akan bantu kamu" ucap Lusi.
"Caranya?" Tanya Juna.
"Adalah pokonya. Intinya kamu harus yakin akan cinta kamu"
.
.
.
__ADS_1
Lalu siang hari, tampak Lusi yang menemui pak David ayah dari Marisa. Lusi pun tampak melobi papa dari Marisa ini agar setuju untuk pernikahan Juna disegerakan. Yaitu dengan datang menemuinya.
Lusi pun datang ke kantornya pak David. Namun yang ia temui hanya sekertarisnya saja. Dengan alasan pak David tidak bisa diganggu sedang ada meeting.
"Memangnya beneran ada meeting ya" tanya Lusi tampak tak percaya
"Bener kok" jawab sekretaris nya
"Tapi saya lihat sepi, ga ada orang didalam" ucap Lusi yang kepo mengintip sedikit.
"Bos kamu sukanya apaan, makanan apa? Tanya Lusi lagi.
"Bu dia gak bisa disogok pakai makanan" jelas sekertaris David.
"Kalau balon" ungkap Lusi.
"Hehe si ibu m lebih lucu lagi. Masa balon" tawa sang sekertaris.
"Oke sore ini saya balik lagi" terang Lusi.
"Emang ibu pengen ngapain sih, ingin ketemu bapak David segala. Kalau mau penawaran produk tinggal aja proposalnya nanti saya sampaikan. Pak David emang orang yang paling sulit untuk ditemui. Dia paling gak suka diganggu" ujar sekertaris wanita itu.
"Yaudah makasih ya" ucap Lusi tersenyum ramah.
Lusi pun pulang.
Sesampainya dirumah Lusi pun tampak tak sengaja memandang baju pemberian Marisa yang terkesan seksi itu. Entah kenapa pikiran Lusi langsung mengarah untuk memakai gaun itu untuk bertemu David. Lantas Lusi pun langsung memakai gaun tersebut. Gaun berwarna merah terang itu. Pastinya tanpa sepengetahuan Renata.
Lalu Lusi pun kembali ke kantor milik David dengan pakai gaun yang tampak seksi elegan itu. Dengan sedikit terbuka pada bagian dada Lusi pede saja memakainya. Lebih tepatnya berusaha pede. Meski tidak pede sama sekali sebenernya.
Lusi pun berusaha tampil percaya diri. Meskipun sesekali banyak mata yang memandang tak biasa. Dengan apa yang ia kenakan kali ini.
Memang Lusi sadar saat ke kantor milik David siang tadi, pakaiannya jauh dari kata wow apalagi seksi. Hanya mengenakan blous dan celana jeans saja.
Lalu Lusi pun datang dan melihat sekertaris pak David yang tadi.
"Mana bos kamu?" Tanya Lusi.
"Eh si ibu balik lagi, sudah saya jelaskan Bu. Kalau pak David gak bisa diganggu" ungkap sekertaris David.
"Sekali aja deh mba saya mohon" ucap Lusi meminta.
"Yaudah, saya coba temuin"
Lalu sekertaris dari David pun menemuinya.
"Bilang saya sedang sibuk" tegas David.
Lalu Lusi pun tampak masuk seenaknya saja, masuk kedalam ruangan David.
Dan David tampak kaget ternyata orang yang ingin bertemu dengannya adalah wanita cantik dan seksi
"Di-dia orangnya, persilahkan masuk" perintah David sambil terpana dan menganga melihat Lusi.
"Tadi bapak bilang sama saya tidak bisa diganggu kok sekarang bisa pak"ucap sekertaris wanita itu yang terheran-heran.
"Sudah sana kamu pergi. Siapa bilang saya tidak bisa diganggu" ucap David mengusir sekertaris nya itu.
Lalu sepanjang David melihat Lusi. David pun tampak tersenyum sumringah dan tak berkedip sama sekali, melihat Lusi dengan gaun yang bagus, seksi dan indah itu. Lusi tampak cantik bak bidadari itu. Dan berhasil membuat Pak David terpika.
"Apakah kita saling kenal?" Ucap David sambil tersenyum ramah dan sedikit memberikan senyuman nakal pastinya.
"Saya menantunya Bu Renata"
"Apa?''
David malah sedikit meghelas napasnya berat nya, ketika ia tahu itu adalah menantu dari pembisinis besar di Jakarta.
"Saya kira kamu? Ah... padahal kalau kamu orang biasa saya akan jadikan kamu sekertaris pribadi saya" ucap David memijat keningnya.
Lusi pun hanya tampak tersenyum.
"Jadi kamu ada perlu apa kesini?" Tanya David.
"Ada yang perlu saya sampaikan kepada bapak yang terhormat. Ada masalah besar yang bapak tidak ketahui dengan apa yang terjadi pada saya dan keluarga saya" ungkap Lusi.
"Apa maksudnya?"
"Bapak tahu, putra bapak" ucap Lusi.
"Ada apa dengan putra saya"
"Berita ini harus saya sampaikan kepada bapak. Dan bapak harus tahu. Gery sudah membuat saya jatuh dari tangga dan membuat saya keguguran"
__ADS_1
"Apa kamu serius" tanya David.
"Buat apa saya bohong dan Satu lagi pak" ucap Lusi.
"Apalagi?"
"Gery juga sudah menghamili sepupu dari suami saya. Bapak bisa bayangkan. Betapa jeleknya nama baik bapak, jika saya memberitahukan semua ini kepada media"
"Kamu mengancam saya" David tampak kesal.
"Tentu, Sebagai seorang pengusaha anda mungkin akan banyak mendapat pandangan negatif dari semua orang. Dan mungkin saja bisnis yang bapak jalani akan berpengaruh dan ikut terlibat. Dan hal yang paling ditakuti adalah itu adalah awal dari kehancuran bisnis bapak" ucap Lusi tampak menjelaskan dengan santai namun menusuk.
"Apakah kamu mau mengancam saya, hah" tanya David dengan tegas.
"Jelas saya mengancam bapak" Lusi pun tampak tersenyum.
"Dan sekarang asal bapak tahu, ada hal yang lebih bapak kaget lagi adalah, kalau Gery akan menikahi adiknya sendiri yaitu Marisa"ucap Lusi lagi.
"Jangan mengarang cerita kamu" ucap pak David nada tinggi.
"Jelas saya tidak mengarang cerita"
"Jadi apa mau kamu!!! Dengan semua ini" tanya David serius.
"Mau saya, sebelum Putri bapak dinikahi oleh putra bapak sendiri. Nikahkan dia dengan Juna" ucap Lusi
"Saya tidak mau dengan pria miskin itu" jelas David.
"Tapi hanya Juna yang siap menikahi anak bapak"
"Kalau gitu suami kamu saja yang nikahi anak saya. Dia kaya dan banyak uang. Dia lebih sepadan" ucap David.
"Ini bukan masalah kaya atau miskin tapi masalah cinta atau tidak. Anak bapak bukan wanita gampangan yang mau dinikahi oleh pria beristri kan, sekalipun pria itu adalah kaya" ungkap Lusi.
"Kamu cerai saja, Rian yang nikah dengan Marisa" ucap David dengan gampangnya.
"Sayangnya suami saya tidak mau menceraikan saya dalam keadaan apapun. Pak saya kesini, hanya memberi tahukan sebelum putra bapak melakukan rencana besar diluar nalar bapak. Seperti menculik Marisa atau menghancurkan nama baik bapak. Itu sebabnya saya kesini memberitahu. Dan saya yakin Juna adalah pria yang baik dan sangat berprestasi. Tidak seperti putra bapak yaitu Gery" ucap Lusi menjelaskan.
David pun tampak berpikir.
Lusi pun tampak tersenyum tipis melihat pak David yang berfikir itu. Lusi yakin bahwa David kini mulai satu pemikiran dengannya.
"Pak saya jelaskan sekali lagi, saya beritahu bapak hal ini. Marisa adalah putri bapak satu-satunya dalam hidup bapak. Kebahagiaan dia sangat penting untuk bapak. Jadi saya pikir jangan sampai dia prustasi hanya karena cinta" jelas Lusi.
"Ucapan kamu ada benarnya juga. Hebat juga kamu menggurui saya dengan cara mengancam saya diawal" tutur David.
"Ya, saya hanya menyampaikan apa yang memang perlu saya sampaikan. Dan untuk pernikahan antara Juna dan Marisa dibuat secara diam-diam. Jangan sampai Gery tahu. Itu demi keamanan dan kenyamanan"
"Ya, saya akan coba pikirkan"
"Oh ya, saya minta Gery jangan sampai tahu kalau saya kesini. Cukup, kita saja yang tahu. Karena saya tidak mau nyawa saya yang akan jadi taruhannya"
"Gery ancam kamu seperti itu?" Tanya David keheranan.
"Kurang lebih seperti itu" jawab Lusi.
"Ya setuju. Saya akan rencanakan semuanya. Oh ya satu lagi Lusi" ucap David dan kali ini tampak David memandang Lusi dari atas sampai bawah. Melihat keanggunan Lusi dan kecantikan Lusi yang tiada tara.
"Satu lagi, apa itu pak?"tanya Lusi.
"Kalau suami mu meceraikan mu jangan lupa datang ke saya" kata David.
"Apa urusannya sama bapak"
"Saya siap menjadi suamimu, dan saya siap menjadikan mu istri ke dua"
Lusi pun tampak tersedak kaget.
"Uhuk .. uhuk.. bapak membuat saya kaget. Becanda anda lucu sekali pak. Tapi saya tidak berminat tawaran bapak" jelas Lusi.
"Loh kenapa? Saya siap membahagiakan kamu"
"Selain bapak bukan tipe saya. Dan saya lihat ada istri bapak di belakang bapak" ucap Lusi.
"Apa?" Ucap David kaget. Dan langsung menegok.
Lusi pun tampak tersenyum saat David kaget
"Mama ngapain kesini" tanya David keheranan.
"Emang mama gak boleh kesini pa" tanya selly yang tampak kesal atas pertanyaan suaminya.
"Yasudah kalau gitu saya pamit pak Bu" pamit Lusi pulang. Karena ia merasa semua sudah cukup.
__ADS_1
Lalu Lusi pun pergi.
Meskipun Selly datang tiba-tiba namun ia tidak tahu obrolan apa yang Lusi dan David bicarakan.