
Lalu setalah itu Juna pun tampak senang dengan yang dikatakan oleh ayah dari Marisa bahwa kini sudah setuju.
"Saya setuju dan saya harap kamu tidak mengecewakan saya" ungkap David.
"Pasti, saya akan berusaha membahagiakan anak om. Saya pasti akan berusaha semaksimal mungkin" ujar Juna.
"Oh satu lagi, itu semua juga berkat dari Lusi yang sudah datang kepada saya untuk membuka mata saya menerima kamu. Jadi kamu juga harus berterima kasihlah pada dia"
"Ya baik om pasti" ungkap Juna tersenyum.
Marisa bahagia saat mendengar apa yang diucapkan oleh sang Ayah. Karena kini Juna dan Marisa sudah mendapatkan restu dan dari sang ayah.
Lalu setelah itu, Juna dan Marisa akan datang mengunjungi Lusi dirumahnya. Sebagai ungkapan rasa terimakasih.
Sesampainya...
Juna dan Marisa mereka datang. Membawa makanan untuk Lusi yaitu martabak manis. Sebenarnya tidak perlu membawa makanan pun mereka sudah yakin jika Lusi pasti senang dengan kedatangan mereka tapi ini hanya untuk buah tangan saja.
Ketika sampai mereka pun dipersilahkan duduk.
Lalu tak lama Lusi keluar dari kamar sambil menggendong putranya.
"Eh kirain ada siapa?" Ucap Lusi.
"Hem, kami kesini mau main" ungkap Juna memberikan sebuah kantong untuk Lusi yang isinya martabak.
"Wah kalau mau main, main aja gak usah bawa apa-apa"
"Sekarang kamu jarang keluar Lusi" tanya Marisa.
"Iya dirumah aja, lagi males kenana-mana" ungkap Lusi.
"Dan satu lagi, bahwa hubungan kami direstui dan kami akan segera menikah" ungkap Juna.
Marisa pun tampak tersenyum.
"Wah, Alhamdulillah" tutur Lusi ikut bahagia.
"Iya, itu juga termasuk berkat kamu" ungkap Juna.
"Tahu dari mana?" Tanya Lusi.
__ADS_1
"Om David bilang begitu" ucap Juna lagi.
Lusi pun tampak tersenyum.
"Emang kamu bilang apa sama om David sampe bisa dia terima aku"
"Ah bukan apa-apa. Yang paling penting kalian sudah dapat restu" ujar Lusi. "Rencana pernikaha kalian kapan?" Tambah Lusi lagi
"Rencananya tiga Minggu lagi sih pengennya, kayanya gak mau terlalu lama juga. Yang aku tahu Gery juga akan menikah"
"Wah selamat ya lancar sampai hari H" tutur Lusi
"Iya rencananya sebagai ungkapan terimakasih kami pengen kamu ikut bantu untuk pernikahan kami nanti" ucap Juna.
"Ya, pasti aku akan bantu. Sebisanya" ucap Lusi tersenyum..
Keesokan harinya.
Keluarga Juna pun tampak datang berkunjung ke rumah Marisa. Juna datang bersama keluarga untuk melamar Marisa secara resmi karena kemarin hanya lewat ucapan saja belum secara resmi. Lusi pun juga tampak ikut datang membawa serta Fabio dan juga suami. Sesampainya disana David menyambut tamu yang datang
Tampak keluarga besar dari Juna, ada Kakak ipar, kak Elfa dan ibu dari Juna. Serta paman-paman Juna yang lain. Turut serta juga ikut hadir. Tak lupa juga membawa berbagai hantaran.
"Kedatangan saya kesini bersama keluarga ingin melamar Marisa, Marisa menerima lamaran ponakan saya kan" ungkap pamannya Juna.
"Bagaimana Marisa?" Tanya David memastikan.
"Saya terima pah"
"Alhamdulillah" ucap Juna dan yang lainnya yang tampak tersenyum.
"Cuma untuk masalah pernikahan saya tidak mau kalau sederhana" ungkap David tiba-tiba.
Juna pun tampak terdiam, pasalnya dia belum cukup banyak uang jika papa dari Marisa ini meminta yang mewah.
"Sebelumnya maaf untuk pernikahan ini akan dilangsungkan secara sederhana. Mengingat nak Juna putra saya pun baru lulus kuliah dan baru mulai kerja" tutur mamanya Juna.
"Acaranya tetap berlangsung sesuai keinginan bapak" ucap Lusi yang secara tiba-tiba.
Seketika Juna dan keluarga Juna memandang Lusi. Lusi ini teramat berani untuk bicara seperti itu.
"Iya, acaranya akan mewah sesuai permintaan bapak" ucap Lusi lagi. Lusi sengaja bicara seperti itu agar papa Marisa menerima itu semua.
__ADS_1
Rian tampak melototi Lusi menatap Lusi tajam. Rian menganggap Lusi terlalu mencampuri urusan Juna yang bukan ranahnya.
Lusi merasa tidak mau ada lagi penghalang apapun untuk Juna dan Marisa bersatu.
Ketika acara hampir selesai Lusi pun tampak menghampiri David.
"Kenapa acaranya minta mewah? Ini tidak sesuai pembicaraan kita sebelumnya" jelas Lusi menanyakan.
David pun tampak tersenyum.
"Itu sudah menjadi pilihan saya" ungkap David hanya tersenyum.
"Harus nya konsisten dan bicarakan ini sejak awal, jangan tahu-tahu minta dan menuntut yang macam-macam" ucap Lusi tampak memandang David.
"Saya rasa ini bukanlah hal yang macam-macam pasalnya Marisa anak orang kaya. Tidak bisa sederhana" sinis David.
Lusi pun tampak memandang tajam David, dan sebal dengan tingkah David yang tidak bisa memaklumi kondisi Juna yang baru saja mulai bekerja dan belum memiliki apa-apa.
Tiba-tiba Rian datang, menghampiri Lusi yang sedang mengobrol dengan David.
"Kamu sedang apa sayang?"tanya Rian.
Lusi pun tampak menggandeng dan mencium pipi suaminya.
"Sayang kamu mau bantu Juna kan"ucap Lusi manja.
"Bantu apa?"
"Kita akan bantu masalah biaya pernikahan Marisa dan Juna. Eh bukan kita, tapi kamu. Kamu mau bantu kan sayang" Lusi tampak tersenyum manja.
"Kamu kenapa sih"
Lusi pun tampak memeluk dan mencium lagi.
"Kamu tahu kan, jika aku lebih mahal dari apapun. Ayolah sayang, bantu Juna untuk mendapatkan jodohnya. Kamu gak mau kan kalau Juna ganggu aku terus" ucap Lusi memohon.
Rian sejenak berpikir sambil memandang istrinya.
"Ucapan kamu ada benarnya. Iya, saya akan membiayai pernikahan Juna sesuai permintaan istri saya" ungkap Rian yang membuat kaget. Dan langsung mencium kening sang istri.
Rian yang awalnya tidak mau ikut membiayai pernikahan Juna dan Marisa. Dengan sukarela mau membantu. Mengingat saingan terberat dalam mencintai Lusi adalah Juna. Meski banyak saingan lain. Tapi Rian tahu bahwa Lusi pernah menaruh perasaan dalam pada Juna. Sehingga Rian sebenarnya senang jika Juna segera menikah. Itu artinya saingannua sudah berkurang. Meskipun Rian yang membiayainya. Itu tidak menjadi masalah.
__ADS_1
"Apa pak Rian serius"Tanya David kaget.
"Ya saya serius" jelas Rian.