
Perih rasanya bila mengingat kenangan indah dan buruknya dirumah yang pernah Lusi tinggali, semua kenangan manis pernah dirasakan dan jhga semua kenangan yang pahit pun juga pernah dirasakan oleh Lusi saat berada dirumah besar milik keluarga Renata itu.
Lusi ingat betul saat dirinya tinggal disana saat ia hanya dijadikan istri siri Rian yang tak pernah dianggap sama sekali oleh keluarga mereka. Saat Lusi sangat dibenci oleh ibu mertuanya seolah Lusi hanya lah wanita yang tak ada harganya. Ya, kini rumah itu Lusi tinggalkan karena memang sudah tak bisa dipertahankan kebutuhan uang, uang membawa Lusi untuk tidak tinggal lagi dirumah besar itu.
Setiap hamba yang dicintai oleh Allah pasti lah akan mendapat Ujian yang berliku-liku dan tampak berat. Namun yakin lah setiap ujian itu pasti akan ada hikmah nya. Dan akan berlalu.
Dengan langkah kaki yang berat mereka pun meninggalkan rumah yang sudah dari dulu itu mereka tempati, menuju rumah yang baru yang seperti apa Lusi tak tahu. Namun yang pasti lebih kecil.
Mereka pun naik mobil bak terbuka untuk sampai ketempat itu, sepanjang perjalanan Renata tampak membulatkan matanya dengan perjalanan yang ia lewati. Perasaan nya seperti tak enak karena feeling ia mengatakan mereka akan tinggal didalam gang yang sempit dan jauh dari kehidupan kaya raya seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Ini kita mau kemana masuk gang sempit begini" ucap Renata.
"Aku juga gak tahu ma, yang lebih tahu Rian" sahuy Lusi.
Lalu tak lama sesuainya mereka pun sampai dirumah yang yang mereka akan tempati. Rumah kontrakan kecil dan hanya ada satu kamar. Sebelumnya Rian memang ingin mengkontrak rumah yang ada dua kamar tapi sayangnya dia tak jadi karena yang nya tidak cukup. Dan saat itu yang paling kaget adalah mama, karena ia benar-benar tak percaya bahwa ia akan tinggal dan tidur ditempat itu.
"Rian,.kamu gak mau cari lagi rumah yang lebih bagus dan luas. Ini terlalu sempit untuk dikatakan sebagai rumah" ucap mama lagi.
"Aduh ma, Rian saat ini sanggupnya hanya dengan rumah ini. Uang Rian benar-benar sudah tipis dan tak ada lagi. Sudah ya ma, yang penting kan kita ada tempat tinggal dulu. Kita masih ada tempat tinggal yang masih bisa kita tempati" ucap Rian selaku anak putra dari Renata.
__ADS_1
Renata pun tampak memajukan bibirnya kesal dengan apa yang baru saja ia dengar dari putranya.
Lalu Lusi dan Rian pun mulai menuruni barang barang mereka dan membawa mausk ke dalam rumah sederhana ukuran kecil itu. Disaat Rian dan sang istri memasukan semuanya ke dalam rumah itu, Renata hanya tampak melihat sambil kipas-kipas. Tak mau membantu dan ikut terlibat. Jiwa orang kaya Renata keluar dan tak mungkin melakukan semua itu mengingat dirinya anak orang kaya sedari kecil. Dan baru merasakan yang namanya miskin kurang dari 24 jam dan itu suatu hal yang tak mungkin.
Sedih Renata rasanya seperti kiamat bagi Renata disaat semua harta kekayaan dan semua yang ia banggakan itu hilang. Seperti mimpi paling buruk dalam hidup Renata, jangankan benar menjadi orang miskin, membayangkan saja Renata tak sanggup.
Lalu setelah semua masuk barang itu, Lusi dan Rian mulai menata semuanya. Baju-baju masuk ke dalam lemari dan semua yang ditata rapi, semuatnya karena kontrakan itu memang tak besar jadi hanya muat barang yang penting penting saja.
Puluhan tas merek brended Renata pun sudua dilelang dan hanya dibawa dua saja. Lemari lemari besar pun tidak pakai dan dijual karena tidak muat lagi. Mereka hanya bawa barang yang memang perlu perlu saja dan penting.
__ADS_1