Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Kamu tidak perlu berkorban perasaan mu untukku


__ADS_3

Ucapan Marisa soal dirinya yang mau Lusi di nikahi oleh Juna seperti sebuah keputusan yang luar biasa dan tak mungkin Juna mengindahkan keinginan istrinya yang diluar nalar.


Juna tahu dirinya mencintai Lusi tapi itu dulu, tidak untuk sekarang apalagi menikahinya. Jika itu atas dasar rasa kasihan, itu bukan sebuah alasan. Masih banyak yang perlu di pertimbangkan dalam hidup bukan asal saja.


"Marisa? Aku pikir Lusi yang selama ini gangguan jiwa tapi kamu lebih jauh gila lagi. Keputusan kamu nyaris gak wajar Marisa" ucap Juna menyadarkan isterinya yang mengambil keputusan yang mengagetkan.


"Aku serius, aku serius aku ingin kamu menikahi Lusi. Aku tidak mau Lusi menderita, apalagi yang aku tahu kamu mencintainya kan apalagi batasan dalam hidup ini. Tidak ada selain menyatukan cinta kalian berdua" ucap Marisa kekeuh dengan pendiriannya.


"Terus apa gunanya kamu menjadi istri ku, kamulah yang aku cintai" ucap Juna menjelaskan.


"Aku kasihan padanya" kata Marisa.


"Selain itu?" Tanya Juna.


"Aku mau Lusi ada yang bertanggung jawab" kata Marisa.


"Jelas itu bukan alasan"


"Aku merasa jika diri kalian saling mencintai, aku lah yang salah masuk didalam kehidupan kalian" ucap Marisa.


Lalu dengan cepat Juna pun memeluk Marisa dengan erat.


"Kalau aku tahu kita datang cuma membahasa ini, tahu gitu aku gak mau sama sekali datang. Kamu untukku, mungkin dulu aku mencintai Lusi dan aku akui. Tapi hati ku bukan untuk nya untuk kamu Marisa" ucap Juna yang tak ingin membagi cintanya.


"Aku hanya ingin kamu dan Lusi menikah, bahagia. Itu saja.. aku siap dimadu jika itu memang pilihan yang tepat. Sebagai istri aku tidak sempurna Jun. Aku hanya ingin Lusi bahagia bila bersama mu, hidup Lusi sempurna dia punya semua yang selama ini kamu inginkan, tidak seperti aku"


"Aku yakin Lusi pun tidak mau jika aku menikahinya" kata Juna menatap Marisa.


"Bagaimana kalau Lusi mau dinikahi oleh mu" timpal Marisa.


"Tidak akan mungkin dia mau"


"Kenapa tidak?" Ucap Marisa.


"Aku tak perlu menjelaskan kenapa?"

__ADS_1


"Tapi apabila Lusi mau, aku mau kamu setuju" ucap Marisa.


Marisa pun langsung menarik Juna ke dalam untuk bertemu Lusi, pasalnya Marisa merasa kehadiran dirinya bukan lah yang seharusnya. Marisa merasa jika Lusi bisa mengembalikan hidupnya bila bersama Juna. Jujur dengan apa yang dilihat Marisa saat tadi membuat Marisa tak tega melihat Lusi dan seolah Marisa harus mengikhlaskan semuanya.


Dan terakhir yang Marisa rasakan adalah, Lusi memiliki apa yang Marisa tak miliki yakni anak. Paling tidak jika Juna bisa menikah dengan Lusi Juna bisa dapat anak segera, dan anak Lusi pun ada yang menjaga dan bertanggung jawab bila Lusi bersuami lagi.


"Baiklah kalau begitu kita bicarakan ini pada Lusi, jika nyatanya benar Lusi mau dinikahi oleh mu Juna. Aku mau kamu menikah dengannya, aku tak sanggup melihat Lusi sedih dan menderita seperti ini " ucap Marisa dengan keyakinannya.


"Kamu aneh, kamu bener-bener aneh, baiklah jika itu mau mu, kita tanya Lusi sekarang" ucap Juna menjawab.


Lalu terlihat Lusi yang sedang duduk dikamar, Lusi pun terlihat lemah dan sedang makan bubur yang ada ditangannya. Lusi memang seperti orang yang sakit namun bukan badannya, tapi lebih ke batin dan jiwanya. Lusi pun memandang kehadiran Juna dan Marisa yang masuk kedalam kamarnya tiba-tiba.


"Kita masuk gak apa-apa kan" kata Marisa menatap Lusi.


"Aku belum menjawab, tapi kalian sudah masuk. Jadi yasudah masuklah" kata Lusi dengan suara lemahnya.


"Langsung pada intinya saja ya" ucap Marisa yang duduk disamping Lusi.


Juna hanya tampak memandang Marisa dan Lusi dengan tatapan tajam. Juna pun tampak bingung dan penasaran apakah istrinya akan benar-benar akan bilang hal tersebut.


"Jadi begini" ucap Marisa sekali lagi.


"Aku mau kamu menikah dengan Juna" ucap Marisa.


Lusi yang sedang makan itu pun langsung tersedak dengan apa yang dikatakan Marisa.


"Uhuk..uhuk uhuk.." Lusi pun kaget dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut Marisa.


Lusi pun langsung minum.


"Lusi aku mau kamu menikah dengan Juna, hanya cara itu membuat mu bahagia dan kembali seperti dulu" ucap Marisa memegang tangan Lusi.


"Kamu sudah gila ya" ucap Lusi kaget.


"Aku serius" kata Marisa.

__ADS_1


"Justru aku lebih serius. Marisa dengarkan aku. Aku terimakasih atas tawaran mu, aku terimakasih kamu sudah perhatian padaku. Tapi maaf, aku seperti ini bukan untuk dikasihani apalagi untuk dijadikan istri kedua oleh siapapun itu" ucap Lusi yang menolak.


"Lusi, aku tahu kamu dan Juna saling mencintai. Aku hanya khawatir kalau kamu malah putus asa lalu bunuh diri. Aku pun seharusnya tidak hadir dalam kehidupan Juna, justru seharusnya kamu" kata Marisa.


"Marisa, kamu tidak perlu berkorban untukku. Apalagi perasaan mu yang harus kamu korban kan. Tidak, tidak seperti ini Marisa. Kamu lebih baik kembali pulang, aku tidak mau pertemuan kamu dan aku malah membuat kamu mikir yang macam-macam tentang diriku. Dan mengira aku memeluk Juna karena aku mencintai nya, tidak. Tidak seperti itu Marisa" ucap Lusi menjelaskan.


"Tapi?"


"Tapi apa?"


"Aku hanya ingin Juna punya keturunan siapa tahu jika Juna menikah dengan mu. Dia lebih bahagia, dia bisa memiliki anak dari mu" jelas Marisa sambil menunduk.


"Marisa, aku tidak melarang kalian jika kalian ingin bertemu dengan Fabio atau anak yang kini berada di kandunganku. Kalian bisa menganggap anak ku seperti anak kalian. Jadi kamu tidak perlu berfikir yang bukan-bukan. Memang hidup ini tak selalu mulus, tapi percayalah semua akan mudah bila kita sabar" ucap Lusi.


"Kalian lebih baik pulang, jika kalian ingin menjadi Ayah atau ibu dari anakku Fabio aku bisa terima. Tapi kalau aku harus menikah dengan Juna, jelas aku tidak mau. Aku bukan tidak butuh cinta, hanya saja aku tidak mau kamu berkorban perasaan mu untuk Marisa. Aku tidak mau, terimakasih kamu sudah baik" ucap Lusi.


Marisa pun memeluk Lusi erat.


"Kamu dengar kan Marisa Lusi bilang apa?" Ucap Juna.


Marisa pun mengangguk.


"Baiklah kalau gitu kita pulang, karena seperti nya Lusi memang perlu istrihat. Met istrihat ya" ucap Juna pada Lusi.


"Terimakasih" jawab Lusi.


Akhirnya Juna dan Marisa pun pulang atas permintaan Lusi. Lusi pun mengantar mereka pulang sampai ke pintu gerbang


sementara itu..


Ayah pun tanpa sengaja mendengar percakapan Lusi dan Marisa saat dikamar tadi. Lusi pun langsung ditemui oleh Ayahnya.


"Apa yang dikatakan marisa ada benarnya mungkin kamu harus menikah" ucap Ayah.


"Ayah, jangan bicara kan hal yang justru membuat aku semakin pusing ayah" pinta Lusi memegang kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah, namun jika kamu memang mau. Ayah bisa saja menjodohkan dirimu pada seseorang mungkin yang bisa membuat mu lebih waras" ucap Ayah.


"Ayah.. sudah cukup yah. cukup aku pusing sedang tidak mau membahas ini" ucap Lusi yang akhirnya ia masuk ke dalam kamar setelah ia keluar mengantar Juna dan Marisa.


__ADS_2