
Setelahnya Lusi pun merasakan lelah seperti orang yang habis melakukan lari maraton sehingga dokter datang dan kaget melihat Lusi yang terlihat begitu meresahkan.. dengan infusannya yang lepas dari tangannya dan berantakan dikamar inapnya.
Dokter ganteng itu memandang wajah lusi yang memerah karena tangisannya.
"Wah kenapa berantakan begini, ibu ini infusannya terlepas atau sengaja di lepas"
Lusi pun merasa tak enak hati pada saat itu.
"Terlepas tidak sengaja" jawab Lusi.
"Abis berantem ya sama suami disini"
Lusi pun menggelengkan kepalanya. Akhirnya Lusi kembali diinfus lagi.
"Saya akan kontrol dulu sebelum boleh pulang" kata dokter saat itu.
Dokter pun membuka perut Lusi ketika itu, bagian terdalam Lusi miliki pun sudah dibungkus dengan pamperrs ukuran dewasa. Karena sehabis melahirkan sesar memang pasien masih merasa sakit dan belum bisa bergerak bebas tapi Lusi malah seperti pemain smacksdown yang begulat dengan Demian.
Dokter melihat perban yang tampang miring-miring dan mengkhawatirkan Lusi saat itu.
"Ibu ini bergerak bebas ya, jangan dulu ibu. Bergerak boleh tapi jangan berlebihan, nanti mau di jahit lagi" kata dokter mengancam.
Lusi pun menggeleng tidak mau.
"Iya jangan ya, nanti gak sembuh-sembuh"
"Iya dokter, saya minta maaf. Saya gak akan ulangi lagi" jelas Lusi.
"Baiklah sore ini ibu boleh pulang"
"Terimakasih dokter, terimakasih" jawab Lusi kali ini dengan senyuman.
"Sama-sama" jawab dokter.
Lusi pun seolah tak sabar ingin segera pulang tapi sebenarnya dia agak bingung bagaimana dirinya akan pulang sementara dirinya tak punya persiapan. Dia pun bingung bagaimana ia harus pulang. Apa dengan ambulance dia pulang. Lusi tidak tahu????
Lusi duduk terdiam sejenak dan memikirkan itu sebentar.
Lalu tak lama waktu berselang beruntung Lisa datang, seolah itu seperti sebuah jawaban dari pertanyaan Lusi.
"Alhamdulillah akhirnya kamu datang" kata Lusi menyambut sang adik.
Seketika saat itu juga Lisa langsung memeluk sang kakak merasakan kesedihan yang teramat dalam mengingat Ayahanda yang telah meninggal.
"Ayah meninggal kak" ucap Lisa yang menjatuhkan air matanya.
Lusi pun juga merasakan berat di dada namun Lusi berusaha untuk tegar.
"Iya, iya.. kamu yang kuat kita harus kuat. Kita doakan Ayah ya. Kakka juga gak nyangka kalau Ayah-" kata Lusi yang tak melanjutkan kata-katanya air matanya turut terjatuh.
Lusi pun mendekap sang adik untuk menenangkan hatinya yang saat ini bersedih.
"Aku selama ini banyak salah sama Ayah sering gak nurut sama Ayah. Berantem aku gak nyangka kak. Ayah secepat itu meninggalkan kita" kata Lisa saat itu.
Lusi pun melihat wajah sang adik dan memegang kedua pipinya dan menghapus air matanya.
"Iya Kakak paham, kita harus tabah" jawab Lusi dengan mata yang masih berkaca-kaca.
Lalu Lisa pun berusaha memenangkan dirinya dan mengambil tisu di nakas, sambil menghela napasnya.
"Kamu harus bisa mandiri, kamu bisa lebih baik Insyaallah Ayah pasti bahagia disana ya" petuah Lusi.
Lisa pun mengangguk paham.
Seketika Lusi pun juga teringat pada dirinya yang boleh pulang.
"Kakak udah boleh pulang dan Kakak bingung pulangnya bagaimana? Untung ada kamu datang Lisa" kata Lusi.
"Oh yaudah pas kalau gitu, aku gak tahu Kakak pulang kapan tapi aku emang ingin ketemu kakak. Apalagi pas denger kakak sudah melahirkan ingin ketemu" kata Lisa sembari tersenyum.
Sebelum Lisa pun sejenak ingin melihat bayi yang baru saja Lusi lahirkan. Dan melihatnya dengan detail dari mulai mata, hidung, dan mulutnya.
Bayi mungil dan cantik itu tampak diperhatikan oleh tantenya secara seksama.
Lisa merasa heran dengan bayi yang ada dihadapannya kini. Karena tidak mirip dengan siapa-siapa, ada perasaan yang Lisa takut yaitu bayi Lusi ketuker dengan bayi lain.
Apalagi rambutnya yang hitam keriting dan alisnya yang juga kereng. Tidak menunjuk ciri-ciri khas Lusi yang rambutnya lurus dan sedikit pirang itu.
"Kenapa gak mirip kakak ya, gak mirip Rian juga. Ini mirip siapa sih, kamu mirip siapa cantik mau mirip Tante lisa ya?" Tanya Lisa yang melihat bayi di dalam box.
Lisa masih mengajak ngbrol bayi itu. Lusi hanya memandang Lisa yang mengajak mengbrol ponakan baru nya.
"Mirip siapa sih ini, mirip orang lewat ya" jelas Lisa tertawa yang sebenernya cuma ingin meledek bukaan maksudnya menyindi Lusi.
"Kak aku boleh gendong dulu sebentar" pinta Lisa.
__ADS_1
"Boleh" jawab Lusi singkat memandang sinis sang adik ketika itu
"Kakak kaya marah gitu sama aku" kata Lisa yang merasa jika Lusi menatapnya dengan tatapan lain.
"Ah.. Gak kakak cuma heran aja" jawab Lusi.
"Heran kenapa?" Tanya Lisa.
Lusi pun memejamkan matanya tersadar ia tak boleh tersinggung oleh adiknya sendiri.
"Baiklah.. Gak apa-apa lupain aja, yaudha kita pulang yuk" kata Lusi yang menghela napasnya dengan berat.
"Kamu bawa baju kan" kata Lusi saat itu yang merasa dirinya harus mengganti baju. Karena Lusi memang tak membawa baju ganti.
"Bawa kok kak" jawab Lisa.
"Bagus, kalau gitu kakak ganti baju dulu deh baru kita pulang ya"
"Udah berapa hari tuh baju" tanya Lisa.
"Dua tahun" jawab Lusi asal.
"Astaga itu baju lumutan dah" jawab Lisa.
"Ya begitulah" jawab Lusi sembari tersenyum.
Lalu Lusi pun mandi dulu sebelum ia kembali ke Bandung, Lusi mengganti pakaian dengan pakaian yang Lisa bawa saat itu.
Lusi juga terlihat memakai kemeja untuk memudahkan dirinya saat menyusui di mobil.
Lusi masih tampak merapihkan dirinya saat itu lalu ia kembali duduk disamping Lisa. Jarum infusannya pun sudah dilepaskan sebelum mandi jadi lebih bebas.
Ketika itu, Lisa pun masih menggendong putri kecil Lusi .
"Apa Kakak sudah kasih nama?" Tanya Lisa.
"Sudah" jawab Lusi.
"Apa?"
"Yasmin Mutiara" jawab Lusi.
"Wah nama yang indah, seperti wajahnya yang sangat indah dan cantik. Eh keriting, kamu unyu banget sih. Hidung kamu seperti orang Arab mancung banget ya kak"
"Bagus dong" sahut Lusi.
Lusi pun hanya menanggapi dengan senyuman. Karena memang Lusi merasa jika putrinya wajah nya beda sekali dengan Fabio.
Fabio yang memiliki rambut lurus tampak berbeda dengan adiknya yang agak keriting dan mata yang belo tapi keduanya sama-sama kulit putih mengikuti Lusi.
Lusi pun menggendong bayi itu menggantikan Lisa karena Lusi ingin memberikan asi pada bayi Yasmin.
Lusi pun memberikan asi saat itu.
"Kak"
"Ehm" sahut Lusi.
"Mau ngomong apa?" Tanya Lusi.
"Sedih gak kak?" Tanya Lisa.
"Kenapa?"
"Punya bayi tapi gak punya suami" kata Lisa.
Lusi pun menarik napas beratnya sambil tersenyum.
"Berat tapi ini sudah jadi takdir Kakak, jadi harus disyukuri" kata Lusi.
"Iya bener harus kuat jadi perempuan. Gak cuma cantik tapi kuat itu penting" timpal Lisa saat itu.
"Baiklah kemon kita kembali ke Bandung, ke rumah nenek" Kata Lisa yang bergegas saat itu.
Lalu seketika Lisa teringat untuk membayar biaya admistrasim
"Untuk biaya rumah sakit ini bagaimana?" Tanya Lisa.
"Maksudnya? Ehm.. Oia kakak hampir lupa, biaya rumah sakit ini udah dibayarin sama orang" ucap Lusi yang berfikir sejenak.
"Siapa?" Tanya Lisa.
"Kakak bahkan lupa nanya siapa namanya. Tapi dia bilang hari ini dia kesini. Yaudah gini aja" ucap Lusi yang mengambil secarik kertas dan menulis sebuah surat yang ia taru diatas meja.
Lusi juga menulis sebuah nomer telepon ibunya dikertas itu, agar ia mampu menelepon ibunya saja. Karena Lusi kali ini lagi-lagi harus kehilangan handphone dan nomer teleponnya karena kejadian pilu saat dirinya diculik dan dibuang dihutan.
__ADS_1
Lusi pun pulang dengan mobil yang dikendarai oleh Lisa. Sebenernya Lusi agak was was pulang bareng Lisa takut Lisa mengantuk dijalan. Tapi saat Lusi ingin bergantian membawa mobil dengan justru Lisa yang bergantian takut, takut kakaknya membawa mobil dengan kecepatan penuh dan malah nabrak.
Jadi adik kakak ini sama-sama punya ketakutan tersendiri pada masing-masing yang membawa mobil. Namun untuk mensiasati Lisa yang gampang ngantuk itu Lusi mengajak mengbrol Lisa selama perjalanan.
"Kamu sudah makan?" Tanya Lusi.
"Kenapa? Kakak mau traktir?" Tanya Lisa yang memegang stir mobil.
"Gak sih tanya aja, mana ada Kakak uang" jawab Lusi jujur.
"Hahaha kasihan banget dia gak punya uang"
"Iya kakak kan pengangguran gak punya pekerjaan mana ada kakak uang"
"Waktu itu bukannya kerja jadi model" ungkap Lisa.
"Model apa? Gak itu cuma sebentar gak sampai sebulan"
"Kenapa gak digelutin aja luamyan kak"
"Gak tahu deh tar kakak masih fokus urus diri dulu Lisa, ini aja masih sakit perut kakak pasca operasi. Pemulihan dulu. Abis lahiran Kakak belum bisa langsung kerja paling tidak tunggu sebulan atau dua bulan. Baru kakak cari kerja lagi" kata Lusi menjelaskan.
"Iya juga sih, berat emang jadi single parent. Apalagi punya dua anak, masih kecil-kecil pula. Aduh berat sekali, aku gak bisa bayangin kalau jadi kakak" kata Lisa saat itu yang malah membuat hati Lusi semakin sesak.
"Iya kamu benar, harus lebih kuat demi anak" ucap Lusi yang tampak men sa dalam-dalam.
"Oia Tante Renata sudah kakak kasih tahu kalau Kakak sudah melahirkan" kata Lisa yang memang tidak tahu bahwa Lusi bukanlah mengandung anak dari Rian.
"Gak usah, gak usah, gak usah dikasih tahu" jelas Lusi yang tampak tak suka bila memberi tahu pada Renata soal diri Lusi yang sudah melahirkan.
"Loh kenapa kak, ini cucunya. Anaknya Rian, Tante Renata ini kan artinya neneknya. Kalau emang kakak gak sempat info aku yang infokan" kata Lisa.
"Jangan. Kakak mohon jangan" pinta Lusi saat itu menatap Lisa lekat yang sedang menyetir.
"Kenapa kak?" Tanya Lisa heran pada Lusi yang tak suka bila dirinya memberitahu pada Renata.
"Sebenernya?-"
"Sebenernya apa kak" tanya Lisa tegas yang saat itu Lusi seolah tak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Oke kakak cerita tapi kamu jangan hujat kakak" kata Lusi.
"Ada apa sih?
"Ini bukan anak Rian, ini bukan anak Rian"
Seketika Lisa pun kaget dan langsung menginjak rem.
Ciiiiittt......
"Apa?" Lisa kaget bukan kepalang.
Seketika Lusi pun menggebuk Lisa.
"Lisa jangan ngerem mendadak kamu bikin kakak kaget tahu gak!!! Nanti kalau kita kenapa-kenapa bagaimana" ucap Lusi yang malah kesal dengan Lisa.
"Ish oke, aku jadi bingung yang kaget sebenarnya siapa. Aku atau kakak sih. Ya ampun..." Kata Lisa yang terlihat kesal karena sebenernya yang membuat kaget adalah kakaknya bukan dirinya.
"Jadi ini anak siapa? Pantes wajahnya gak mirip Rian dan gak mirip Kakak, lalu dia mirip siapa?"
"Sebelum kakak kasih tahu kamu jangan mikir Kakak selingkuh" jelas Lusi.
"Oke, jadi ini anak siapa?" Tanya Lisa terlihat emosi.
"Ini anak Gery"
"Gery siapa ? Mantan suami Kakak yang nikah ekspres itu" kata Lisa.
"Iya"
"Gila ini sih, benar-benar gila, skenario apa sih yang saat ini kakak buat. Aneh banget Kakak. Pantes Kakak mau dinikahin buru-buru sama itu laki-laki buat tanggung jawab anak nya itu" kata Lisa yang menyudutkan.
"Bukan Lisa, bahkan saat kakak hamil Kakak sendiri gak tahu kalau bayi yang kakak kandung itu anaknya"
"Drama apa ini"
"Kakak lagi gak drama Lisa kakak jujur dengan apa yang kakak bilang, jadi sebenernya kakak pun gak tahu kapan dia meniduri kakak. Kamu tolong jangan sudutkan kakak seperti ini, sumpah demi apapun Kakak gak pernah selingkuh apalagi sampai hamil kakak gak pernah" ungkap Lusi yang berbicara dengan mata berkaca-kaca.
"Ya, baiklah jadi intinya ini anak kakak dari Gery dan seharusnya kakak kembali rujuk"
"Gak ada istilahnya kakak kembali. Gak ada Lisa, gak ada bagiamana pun kakak kecewa sama dia yang udah tidurin kakak jauh sebelum Rian meninggal. Dan dia pun sudah punya istri kalau bukan karena hutang kakak gak mau sama sekali dinikahin oleh dia" jelas Lusi.
Lalu Lisa pu tampak mengelus pundak sang kakak kali ini.
Tuduhan Lisa soal kakaknya memang harus Lisa tarik kembali, karena Lisa merasa kakaknya memperlihatkan kesedihan yang mendalam itu terlihat dari matanya yang tampak seperti memendam amarah dan kesakitan hatinya yang sesekali Lusi luapkan dengan pejamkan mata dan bulir bulir air mata yang tampak jatuh perlahan.
__ADS_1
Lalu setelah itu mereka pun kembali melanjutkan perjalan menuju kota tujuan mereka yaitu Bandung.