
Lalu Lusi pun pulang menyusuri jalan dengan rasa yang tak biasa. Jangan lagi, jangan lagi.
Lusi tak mau dirinya sakit seperti ini, sakit hati karena mencintai dia yang mungkin mudah untuk tidak mencintai dan tak menghargai. Tanpa terasa air mata nya mengalir dan jatuh ke bawah.
Lusi pun tampak menelpon suaminya sekali lagi, ya sekali lagi. Namun hasil tetap lah sama, tak ada jawaban dari Rian. Ternyata begitu sulit masuk kedalam hati dan batin Rian yang keras bagaikan batu itu.
Lalu Lusi pun pulang, sesampainya dirumah Lusi pun menangis, mengingat dirinya diabaikan oleh suaminya. Lusi pun hanya mampu berkali kali menghapus air matanya itu yang tak tertahan. Entah mengapa perasaan nya begitu sakit, mendenger suaminya pergi.
Hujan pun tiba-tiba datang menyirami bumi pada sore hari itu, seolah mewakili hati Lusi yang saat ini sedih. Lusi pun tampak melihat air yang terjatuh tak terasa air mata itu kembali jatuh dipelupuk mata Lusi.
Lusi mengapa dirimu begitu cengeng sekali. Batin Lusi.
Lalu Lusi pun tampak menatap foto Rian dengan perasaan pilu, kerinduan pada sang suami ternyata membuat Lusi menderita.
Lusi pun tampak memejamkan matanya meski semua terasa sulit.
Kesepian dalam kesedihan membuat Lusi merasa tak nyaman dan sulit serta enggan untuk menutup matanya untuk tidur.
Lalu sekali Lusi pun menelpon Rian untuk kesekian kalinya.
Namun masih tak diangkat.
Rian kenapa kamu begitu tega.
Kamu kemana? Kenapa gak angkat telpon ku. Apakah kamu marah pada ku, kalau iya katakan salah ku dimana jangan perlakukan aku dengan cara yang tak baik seperti ini aku punya hati Rian punya juga perasaan
.
.
.
.
__ADS_1
Pagi harinya...
Lusi tampak membuka matanya secara perlahan, Lusi tampak meraba raba kasurnya ternyata masih kosong tanpa Rian disampingnya.
Lalu Lusi pun memaksan diri untuk tidak sedih bangun dan tidak berfikir jelek lagi.
Menjalani harinya dan tak peduli lagi akan kesedihan.
Ya hari ini...
Hari ini adalah hari dimana, Gery akan memilih beberapa baju yang akan digunakan nanti untuk pernikahan mereka nanti.
"Kita ketemuan di mana?"tanya Lusi ditelepon.
"Hem, nanti aku share loc alamatnya ya"
"Oke"
Saat disana Lusi pun tampak menunggu Gery yang harusnya telah sampai.
"Gak usah sedih, gak usah dipikirin. Terkadang hidup itu memang tak selalu sesuai apa yang kita harapkan" kata Gery yang tumben bijak.
"Cepat pilihlah pakaian pengantin yang lebih masuk untuk akad nikah. Biasanya bagusnya warna putih untuk akad" kata Lusi.
"Lusi, sebelum Liana pakai aku mau lihat kamu pakai baju pengantin punya Liana"
"Kenapa harus aku yang pakai"
"Gak apa-apa coba aja, biar aku tahu seperti apa"
"Yakin"
"Iya"
__ADS_1
"Tapi sepertinya ini terlalu sempit diperut" ucap Lusi yang melihat ke arah perutnya.
"Lah tahunnya dari mana? Perasaan sama aja" kata Gery.
"Maaf karena nanti pas nikahan kamu dan Liana kan kamu harus bisa sesuai kan. Liana sudah hamil 5 bulan kalao gak ditutupin apa kata orang nanti"
"Pengalaman ya nutupin kehamilan di hari H"
"Ngarang???"
Saat Lusi sedang mencoba pakai baju yang dipakai itu, tiba-tiba kepala Lusi pusing.
"Kenapa"
"Gak tahu tiba-tiba pusing saja. Udah cari aja yang agak besaran dibadan ya"
"Siap boss"
"Baiklah aku pulang ya"
"Lusi"
"Ya?"
"Besok ada acara gak, sebentar saja aku ingin melihat sunset. Ingin melihat pantai ingin melihat asa"
"Selama ini asa mu kemana? Apakah kamu kehilangan asa"
"Bukan tapi asa itu untuk mu. Aku tahu dirimu seperti kehilangan asa.. jadi aku akan membantu mu mencari semangat baru. Jika aku pernah memberikan luka. Maka aku akan membantu mu untuk menemukan asa itu kembali"
"Boleh juga tapi maaf aku gak bisa, permisi"
Lusi pun pergi, Gery tahu jika diri Lusi sedang galau akan cintanya namun bukan berati Lusi cepat membuka hati pada pria lain. Apalagi itu pada Gery.
__ADS_1
Ya bagi Lusi sesakit apapun dan secuek apapun Rian saat ini. Dalam hati dan batin Lusi hanya lah Rian dan bukan yang lain.