
Setelah Rian berangkat kerja, Lusi pun tampak menggendong Fabio. Rasanya sedih bila mengingat Fabio yang kini usianya masih 5 bulan. Namun akan memiliki adik. Dipandang Fabio dalam gendongan Lusi, terlihat Fabio yang sedang mengulum tangannya sambil tersenyum imut melihat mamanya.
"Bayi gembul ini tampaknya semakin berat" ucap Lusi tersenyum.
"Uwawawa" suara bayi itu.
Lalu Lusi pun tampak duduk di kamar dan melihat jas Rian yang tertinggal.
"Em, jas Papa kamu ketinggalan. Sepertinya harus dicuci" ucap Lusi dan menaruh Fabio dikasur. Ketika Lusi memegang jas itu. Tiba-tiba Lusi melihat kotak kecil. Lusi pun tampak mengeceknya saat ia cek ia pun kaget ternyata isinya adalah kalung berlian. Dan Lusi pun mengira bahwa itu untuk dirinya.
"Waw.. Fabio lihat papa kamu beliin mama berlian ini. Ah bisa saja dia ini" ucap Lusi tampak sambil tersenyum. "Lebih baik aku pura-pura untuk tidak melihatnya. Aku tahu sepertinya ini adalah kejutan. Aku tidak mau kejutan yang ia berikan menjadi gagal. Jadi lebih baik aku menaruhnya kembali dalam saku jas ini"
Lalu Lusi pun menaruh kembali ke dalam saku..karena Lusi berfikir bahwa itu untuk dirinya.
Lusi pun tampak kembali ke ruangan tengah. Dan kembali melakukan aktivitas.
Malamnya...
Rian pun tampak pulang dan menemui Lusi dirumah. Telihat Lusi yang sedang tidur bersama buah hatinya. Rian pun tampak melihat Lusi sambil memandang saja. Ya memandang saja. Melihat Lusi yang tertidur Rian pun tampak tak ingin membangunkan. Rian pun hanya mengambil jas nya karena memang itu yang ia butuhkan. Jas yang berisi kalung berlian itu. Dan lalu pergi meninggalkan Lusi yang sedang tertidur kala itu.
Rian melesatkan mobilnya dan mengecek apakah masih ada berlian itu dalam saku jasnya. Ah ternyata masih ada. Rian tidak ingin Lusi tahu soal berlian ini. Rian pun tampak tergesa. Rian pun kembali lagi kerumah sakit. Untuk menemui Marisa. Dan memberikan kalung berlian itu pada Marisa. Terlihat Marisa yang sedang duduk.
"Ini benar untuk aku"ucap Marisa kaget.
"Tentu saja"
Sontak refleks Marisa pun memeluk Rian. Rian pun hanya tersenyum.
"Kenapa kamu baik" ucap Marisa sambil tersenyum.
"Aku selalu baik pada siapapun"
Marisa pun tampak tersenyum.
"Pada istri mu kamu baik?" Tanya Marisa.
"Untuk soal itu biarkan dia yang menjelaskan"
"Lusa saatnya aku kembali ke rumah"
"Itu bagus kan"
"Tapi kamu belum tahu rumah ku"
__ADS_1
"Soal rumah soal gampang. Yang penting rumah kamu ada atap dan dindingnya kan. Emm Marisa..."
"Ya"
"Sepertinya aku harus kembali" ucap Rian.
"Baiklah hati-hati"
Rian pun tampak pulang. Ia sengaja pulang. Karena memang sudah sangat malam. Rian takut Lusi curiga kalau pulang lebih dari larut.
Sesampainya dirumah. Lusi masih tampak tertidur. Rian pun memandang wajah istrinya. Istrinya yang bernama Lusi itu. Yang tampak cantik dan selalu menjadi idola para pria dikampusnya dulu. Dalam lubuk hati terdalam Rian. Rian sangat lah mencintai dan menyanyangi Lusi. Rian tampak memeluk istrinya yang sedang tidur. Meskipun ada nama Marisa dalam hati Rian. Rian masih membutuhkan Lusi sebagai istrinya. Ia kecup keningnya, yang beruntun menuju bibirnya. Sontak Lusi pun terbangun saat ada bibir Rian mencium dan menjamah penuh nafsu. Dengan cepat Rian pun bergegas melepas semua pakaian Lusi. Ia tarik baju Lusi dengan perlahan namun pasti. Lusi pun tampak kaget saat suaminya menggerayangi tengah malam. Namun apalah daya. Lusi sangat pasrah dengan apa yang menjadi perlakuan suaminya. Rian pun memeluk erat istrinya dalam dekapan nya dan memulai permainan panasnya. Lusi pun mengikuti permainan panas yang diberikan Rian. Meskipun Lusi saat itu mengantuk namun ia tetap melayani suaminya kala itu.
Setelah selesai, Rian pun tampak tertidur. Lalu Lusi sedikit iseng melihat sebuah handphone Rian karena tampak ada pesan masuk.
Dan betapa kaget nya Lusi saat itu. Tanpa diduga.
Ternyata ..
Dan saat pesan itu dibuka dari Marisa. 'Dengan ucapan selamat tidur mimpi indah' Lusi pun menghela napasnya. Dadanya begitu berdebar tak menyangka ada pesan dari seorang wanita. Lusi pun menghela napasnya lagi dengan berat. Ya sangat berat
Hah.. Marisa kenapa bisa. Ucapnya dalam hati..
Wanita ini adalah mencintai suami ku dari dulu, hingga saat ini. Lusi pun tampak gundah. Namun hanya dalam mode diam. Karena ia tidak ingin memancing keributan dimalam hari. Biarlah ini menjadi urusan esok saja.
Dan keesokan harinya, Lusi pun tampak mengecek lagi kalung disaku milik Rian, namun tidak ada. Sontak Lusi pun penasaran karena yang ia tahu kalung itu untuknya.
Lusi pun tampak mencari ke seluruh penjuru tempat namun masih tidak ada.
Lusi pun mengahampiri suaminya. Lusi pun menatap suami nya lekat. Saat itu suaminya sedang bersiap diri mau berangkat ke kantor.
"Kemarin aku menemukan sebuah benda berharga disaku kamu. Sekarang kemana?"tanya Lusi memandang wajah Rian dengan serius.
"Maksudnya"
"Semacem hal indah mahal dan mewah"
"Iya apa?"
"Kisi, kisinya depannya K belangkangnya NG"
"Apa sih yang?"
"Kalung. Ka-lung. Mana kalungnya?"
__ADS_1
Rian pun tampak meghela napasnya ia kaget bahwa Lusi tahu soal kalung itu.
"Oh itu" ucap Rian berusaha biasa aja.
"Iya sekarang mana? Jujur itu buat siapa? Jangan bilang itu bukan buat aku" Ucap Lusi
"Iya, memang Itu bukan buat kamu"
"Lalu buat siapa?"
"Gery"
"Ck, Gery. Mana mungkin"
"Sayang, Gery mau nembak cewek. Tapi gak tahu hadiah yang bagus apa. Jadi aku beliin biar berhasil"
"Terus buat aku, mana?"
"Oh kamu juga mau. Iya tar aku belin. Sabar ya"
"Bener?"
"Iya, tenang aja sayang"
"Itu bukan buat cewek lain kan"
"Gak lah kamu tenang aja" Rian pun memeluk Lusi.
"Semalem ada sebuah pesan masuk ponsel kamu. Dan ternyata dari Marisa" ucap Lusi.
Rian pun tampak kaget. Rian pun tampak menahan napas saat Lusi menyebut nama Marisa bagaimana bisa.
"Maksudnya gimana?" ucap Rian.
"Ngucapin met tidur mimpi indah. Apa maksudnya"
"Iya dia sahabat aku. Bukannya itu suatu hal lumrah bilang begitu. Aku sahabatan sama dia gak lebih"
"Sahabat kamu perhatian banget"
"Lusi aku mohon, dia cuma sahabat"
"Tapi kok aku cemburu ya"
__ADS_1
"Kamu jangan mikir yang aneh-aneh ya, kamu lagi hamil" ucap Rian membelai wajah Lusi dan mencium keningnya. "Dah aku berangkat. I Love you"
"I love you too"