Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Gak apa-apa ambilah


__ADS_3

Pagi hari dikediaman rumah keluarga Deon.


Tanisa terbangun dari tidurnya, merasakan sakit pada sekujur tubuhnya yang begitu terasa pergulatan semalam dikamar mandi oleh Deon yang dilakukan secara paksa sehingga membuat Tanisa sakit.


Namun...


Tiba-tiba didalam kamar Tanisa dibentak dan dibangunkan oleh Jihan.


"Bangguunnn.. " ucap nya pada Tanisa dengan menendang pintu beberapa kali, Tanisa pun tampak terbangun.


Tanisa pun langsung bangun dan pergi ke dapur, Tanisa sadar diri bahwa dirinya harus membantu dirumah itu. Saat didapur Tanisa melihat Jihan, istri dari Deon. Saat melihat Tanisa, istri dari Deon itu pun tampak memandang sinis pada Tanisa seolah tak suka merasa benci sekali pada Tanisa. Dengan sorot mata yang tajam Jihan pun memandang Tanisa.


"Ingat dirumah ini kamu bukan nyonya, bukan majikan serta bukan siapa-siapa. Sadar diri kamu cuma numpang hidup disini, jangan berasa ratu kamu ya!!!" Ucapnya ketus.


"Cepat cuci baju dan piring ini dan tugas lainnya dirumah ini masih banyak tugas yang menunggu kamu!!!"ucap Jihan lagi dengan lantang.


Tanisa pun tampak mengaguk patuh, karena ia memang merasa takut saat melihat Jihan yang seolah ingin memakan dirinya.


Tanisa pun tampak tak melihat kemana Deon, entah kemana Tanisa tampak tak tahu. Tanisa ingin bertanya namun Tanisa takut jika harus bertanya. Tanisa pun tampak mengurungkan niatnya itu. Tanisa tak pernah menyangka akan mengerikan sekali, saat akan menjadi istri kedua. Apalagi jika benar-benar akan menjadi istri dari Deon, Tanisa tak bisa bayangkan akan jadi apa nantinya. Dan Tanisa merasa bukan berada dalam rumah mewah yang penuh suka tapi lebih merasa berasa di gubuk derita.


Tanisa pun tampak membantu pekerjaan rumah tangga, menyapu mengepel dan sebagainya. Tanisa bukan tidak mau jika harus mengerjakan ini dan itu, Tanisa ikhlas sebenarnya mengerjakannya. Hanya saja dirinya benar-benar merasa jadi babu dirumah itu. Dengan segala suruhan yang terucap dengan kasar. Bahkan Tania pun belum sarapan sama sekali pada saat itu, Tanisa takut untuk memintanya jika melihat Jihan.


Lalu Tanisa pun tampak memberanikan diri menanyakan kemana perginya Deon karena Tanisa tak sanggup dirinya sudah sangat lapar mungkin hanya Deon lah yang bisa memberikan ia makan. Tanisa pun menanyakannya pada bi Ana.


"Bi, mas Deon kemana ya?"tanya Tanisa.


"Sudah berangkat kerja pagi sekali" jawab Ana.


"Ouh seperti itu"


"kenapa memang nya" tanya Ana.


"Aku lapar bi, belum makan aku gak berani minta kalau bukan sama mas Deon takut diomelin" ucap Tanisa dengan tatapan sayu.


"Ya ampun, kasihan sekali ini kamu bisa makan nasi goreng, tapi makannya ngumpet ya jangan sampai ketahuan nyonya"


"Ma-makasih banyak bi" ucap Tanisa merasa senang dan bersyukur ternyata masih ada orang baik dirumah itu.


Lalu Tanisa pun makan sambil ngumpet secara diam-diam karena takut ketahuan kalau dirinya makan.


.


.


.


Tampak hari itu sudah siang, suasana pun tampak sangat terik. Panas pun begitu terasa, padahal rumah besar itu sudah difasilitasi ac tetap masih terasa panas.

__ADS_1


Terlihat Tanisa yang sedang membersihkan rumah dengan semua yang diperintahkan oleh Jihan. Tanisa saat itu tampak sedang mengelap-elap meja lalu tampak Dea yang memandang Tanisa dengan tatapan yang tak biasa, sambil memandang Tanisa yang sepertinya sangat mudah untuk disuruh-suruh. Meskipun Tanisa adalah calon ibu tirinya, tapi Dea tampak tak peduli.


Tanisa pun tampak disuruh pergi ke mini market oleh Dea, untuk membeli beberapa keperluannya seperti sabun cuci muka, lotion dan pembalut.


"Heh cewek gatel sini kamu" panggil Dea.


"Aku?" Kata Tanisa.


"Iya kamu emang nya kamu pikir siapa lagi?"


Tanisa pun menghampiri Dea yang sedang duduk sambil bersantai nonton tv.


"Sini!!! Buruan beli semua yang aku perlu ya. Semuanya!!!! Ingat jangan sampai ada yang kelewat. Sabun cuci muka, pembalut sama handbody"


"Beli dimana?"


"Di mini market masa di material, cepet!!!"


"Naik apa?"


"Heh kan punya kaki ya pakai kaki lah masa pakai pesawat . Cepetan!!!!" Perintah Dea.


"Tapi?"


"Cerewet buruan!!!!" Perintah Dea. Memberikan uang seratus ribu rupiah, ya Dea memberikan uang pas-pasan pada Tanisa.


Setelah berjalan kurang lebih 300 meter itu dan dibawah diteriknya panas matahari Tanisa sampailah di sebuah mini market.


Tanisa pun tampak membeli sesuai apa yang diperintahkan oleh Dea. Setelah semua ia masukan ke dalam keranjang belanja dan sesuai dengan pesanan. Tiba-tiba arah mata Tanisa tertuju pada sebuah produk susu untuk ibu hamil. Seketika hati Tanisa terasa perih saat dirinya yang sedang hamil namun ia tak mampu membeli susu itu, karena Tanisa tak punya uang dan Deon pun tak pernah lagi memberikan uang pada Tanisa. Tanisa merasa sakit dan perih, meskipun Tanisa hidup bersama orang yang serba kecukupan namun tetap Tanisa merasa hidup serba kekurangan dan jauh akan kenikmatan. Seketika hati Tanisa terasa pilu dan merasakan pahit yang teramat dalam.


Tiba-tiba ada seorang wanita yang tampak memperhatikan Tanisa yang terdiam mematung memandang kotak susu namun tanpa membelinya.


"Kenapa dipandang gak dibeli" tanya wanita itu.


Tanisa pun tampak menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" Tanyanya lagi.


Tanisa pun terdiam dan langsung meninggalkan wanita itu, dan jalan menuju kasir lalu membayar semua yang dibeli untuk Dea.


Namun setelah membayar Tanisa bukan pulang malah kembali dan memandang susu hamil itu lagi.


Lalu wanita yang melihat Tanisa itu pun kembali menghampiri, karena merasa heran.


"Beli lah jika ingin beli" ucap wanita itu memberikan susu itu kepada Tanisa. Wanita itu adalah Lusi yang merasa kasihan dengan Tanisa. Yang tak sengaja ia temui dimini market. Ya Lusi saat itu sedang keluar juga membeli susu formula untuk Fabio putranya.


"Ja-jangan aku gak punya uang kak. Maksudnya aku " kata Tanisa.

__ADS_1


"Gak apa-apa beli saja"


Tanisa pun tampak terdiam, ia tak mungkin membelinya karena Tanisa tak memiliki uang sama sekali.


"Apakah kamu sedang hamil" tanya Lusi.


"I-iya" jawab Tanisa sambil mengangguk.


"Nah, susu hamil ini bagus buat bayi dalam perut kamu. Selama hamil, kamu harus melengkapi gizi bayi dalam kandungan kamu makanan yang sehat dan minum susu" ucap Lusi sambil memandang Tanisa.


"Tapi aku gak punya uang" kata Tanisa sedih.


"Gak apa-apa ambilah aku yang bayar"


"Ja-jangan kak, aku gak enak. Aku gak mau kak" ucap Tanisa menolak.


"Gak apa-apa kok" lalu Lusi pun mengambil 5 kotak susu sekaligus dan ia pun juga membeli beberapa vitamin untuk ibu hamil, dan Lusi pun tampak membayarnya dimeja kasir.


"Berapa mbak semuanya" ucap Lusi yang ingin membayar.


"650.000 mbak" jawab kasir.


Lalu Lusi pun membayar semuanya, dan memberikan kepada Tanisa susu hamil dan vitamin untuk wanita hamil.


"Terimalah" kata Lusi.


"Ini betul buat aku" tanya Tanisa meyakinkan dirinya bahwa itu benar untuknya.


"Iya ambilah"


Seketika Tanisa pun tampak menjatuhkan air matanya lalu menangis tersedu menerima semua pemberian Lusi untuk dirinya.


"Hiks, hiks, hiks, terimakasih. Ternyata masih ada orang baik didunia ini" ucap Tanisa menangis.


"Eh jangan nangis, gak usah nangis. Sayang air matanya kalau kamu menangis seperti ini. Ya sekarang kamu bawa pulang, kamu minum ya. Biar bayi dalam kandungan kamu sehat" kata Lusi sembari tersenyum.


"Iya kak"


Tanisa pun tampak sangat berterimakasih dan lalu mencium tangan Lusi hingga beberapa kali. "Terimakasih kak, terimakasih"


"Sama-sama kamu jangan seperti ini, ini terlalu berlebihan. Aku cuma perantara aja kamu harus mengucap syukur Alhamdulillah. Karena Allah lah kita dipertemukan"


"Iya Alhamdulillah" ucap Tanisa yang masih tampak menangis.


Lalu Lusi pun pamit pulang, terburu-buru karena sudah ditunggu putranya dirumah. Sampai saat pertemuan pertamanya itu Tanisa dan Lusi sampai lupa untuk berkenalan dan menanyakan nama masing-masing.


Lalu Tanisa pun pulang dengan segera karena takut kalau Dea akan mengamuk jika Tanisa lama perginya.

__ADS_1


__ADS_2