
Lusi pun moodnya langsung berantakan mana kala ia merasa tidak nyaman dengan apa yang membuat nya justru semakin pusing. Lusi tahu dirinya saat ini sendiri, tapi sepertinya tidak harus dengan orang yang sudah berumur. Jngankan untuk menjadi pacarnya membayangkan saja Lusi terasa enggan dan tak mungkin.
Lalu setelah itu Lusi pun memutuskan untuk ke kamar dan lalu mematikan handphonenya. Mensiasati agar orang yang yang baru saja ia kenal itu tidak menelpon dan menganggu dirinya lagi. Dan Lusi merasa dirinya tidak harus menjawab telepon yang menurutnya tidak lah penting itu.
Lusi pun kembali menemui putra nya yang saat ini sedang didalam kamar, Lusi tersenyum sambil memandang nya. Terlihat Fabio yang sedang tertidur. Lusi pun melihat wajah Fabio begitu terasa memberikan kehangatan dan memberikan suasana yang menyenangkan. Lusi pun memeluknya dengan rasa penuh syukur atas kehadiran putranya yang sudah mengisi kehidupannya saat ini.
Lusi pun bersyukur ditengah kesepian dan kesedihan ada Fabio yang setia menemani. Lusi mungkin telat menyadari, tapi perlahan Lusi sadar jika Fabio adalah sebuah rejeki dan amanah yang harus dijaga.
Ibu pun tampak masuk ke dalam kamar melihat Lusi yang sedang memeluk putranya. Ibu pun tampak masuk dan menghampiri putrinya yang saat itu sedang memeluk putra kecilnya.
"Apa kamu sayang dengan Fabio"
"Sangat sayang ibu, sayang banget"
Ibu pun tersenyum. "Ibu kalau melihat Fabio persis sekali melihat Rian. Semoga Fabio besar nanti bisa menjadi kebanggan orang tua ya. Mampu melindungi keluarga" kata ibu yang memberikan doa pada cucu laki-laki nya itu.
"Amin" jawab Lusi.
.
.
.
.
Keesokan harinya, semenjak ada telepon tak dikenali itu masuk tanpa keinginan sang penerima, Lusi rasa nya enggan sekali mengaktifkan handphonenya lagi.
Semenjak handphone Lusi hilang bersama kenangan, Lusi memang mau tidak mau membeli handphone baru. Namun handphone nya memang jarang ia pakai dan hanya buat pegangan saja. Sampai bagi Lusi kalau sudah mati ya tidak masalah jika tidak hidup lagi. Lusi memang jarang main Handphone.
Namun tanpa disangka dan duga, rupanya Gunawan masih teringat dan terngiang wajah Lusi dikepala nya yang bak bidadari. Meluluh lantakan hatinya dan ingin dipertemukan kembali pada wanita yang kini berstatus single parent itu.
Lusi memang memiliki daya tarik yang luar biasa sebagai seorang wanita Meksi dirinya tanpa pelet atau semacamnya. Untuk ukuran wanita dia adalah wanita idaman setiap pria. Wajah yang tampak cantik, rambutnya yang panjang, anggun namun terlihat menggoda itu mampu membuat siapa saja ingin melihatnya lagi dan terkesima. Dan banyak pria yang memang tertarik pada wanita yang bernama Lusi.
__ADS_1
Dan..
Rupanya boss besar yang memiliki banyak harta itu masih diburu rasa penasaran untuk menemui wanita yang terakhir ia temui saat wawancara kerja itu.
Berbekal alamat saat lamaran kerja saat itu rupanya membuat Gunawan datang. Secara tiba-tiba, saat itu Gunawan datang tanpa pemberitahuan. Suasana rumah sepi, hanya ada Ayah. Ibu dan lusi sedang keluar saat itu membeli susu untuk Fabio yang stoknya sudah menipis.
Ayah pun kaget dengan kedatangan seroang pria tua dengan mobil mewah yang tak ia kenali.
"Permisi" ucap Gunawan yang pada saat itu datang tiba-tiba.
"Maaf siapa sebelumnya" ucap Ayah dari atas sampai bawah melihat pria yang berdiri dihadapannya.
"Kenalkan nama saya Gunawan, apa betul ini rumah Lusi" ucap Gunawan.
"Ya betul saya ayahnya"
"Wah kebetulan sekali, boleh saya duduk" ucap Gunawan.
Lalu Gunawan pun duduk. Dan melihat ke arah ayahnya Lusi dengan secara seksama.
"Iya benar dia punya satu putra"
Gunawan pun tampak tersenyum.
"Kemana suaminya pak?" Tanya Gunawan.
"Meninggal" jawab ayah.
Benar saja lalu tak lama Lusi pulang bersama ibunya dengan mobil yang dikendarai oleh supir. Lusi pun turun dari mobilnya dan beranjak untuk masuk. Alangkah ia terkejut melihat seorang pria yang baru saja ia kenal itu sudah duduk di rumahnya.
"Siapa nih" ucap Lusi merasa kaget. "Bapak yang kemarin itu kan, mau apa bapak kesini"
"Boleh kita bicara sebentar habisnya nomer mu tidak aktif" pinta Gunawan.
__ADS_1
"Gak ah gak mau" tolak Lusi.
"Sebentar saja, boleh ya" pinta pria tua itu.
Lusi pun tampak berfikir sejenak.
"Boleh ya sebentar saja" kata Gunawan.
Lusi pun akhirnya penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh pria tua yang baru ia kenal itu.
Lusi pun langsung kedepan rumahnya yaitu diterasnya. Tampak Gunawan memang ingin mengatakan sesuatu hal pada Lusi.
"Lusi asal kamu tahu saya jauh-jauh kesini, ada satu hal yang ingin aku sampaikan" kata Gunawan yang hadir seperti bos bos pada umumnya dengan setelan jas itu.
"Apa?" Tanya Lusi santai.
"Saya mau kamu menerima cinta saya, bisa kah. Saya jauh-jauh kesini ingin mengatakan ini padamu"
Lusi bukannya merespon Lusi pun langsung terlihat kesal.
"Pak, mending bapak pergi ketimbang saya panggil hansip buat usir bapak"
"Jadi kamu tidak mau?"
"Iya, saya tidak mau"
"Saya akan memberikan apa saja yang kamu mau jika kamu mau menjadi pacar saya"
"Bapak saya rasa tidak perlu saya jelaskan, saya jelas tidak mau dan menolak bapak. Permisi"
Lusi pun tampak pergi dan menutup pintu, lalu mengunci pintu rumahnya. Lusi tidak menyangka jika pria itu bisa datang kerumahnya tanpa angin dan hujan.
"Dia pacar mu?" Tanya Ayah.
__ADS_1
"Bukan" ucap Lusi yang beranjak pergi dan masuk ke dalam kamar.
Lusi pun tampak tak peduli lagi, Lusi merasa kesal dan mengunci diri dikamar.