Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Ulang tahun yang menyedihkan


__ADS_3

Setelah itu terjadi lagi Tanisa tampak terbangun dari kamar mandi tempat ia bermain cinta dari pria yang ia tak kenal sama sekali. Tanisa melanjutkan mandi dan membersihkan dirinya dengan sabun dan sampo hingga berkali-kali. Ia tampak merasa sangat kotor dan menjijkan. Tanisa tak pernah menyangka bahwa diusia yang masih sangat muda. Ia harus mengalami hal seperti ini.


Lalu setelah selesai mandi, Tanisa mencari pakaian dilemari apa saja itu, yang penting tidak pakai gaun seksi merah itu lagi.


Tanisa pun tampak menemukan sebuah dress yang masih terlihat seksi. Namun lengannya tampak panjang. Dan itu lebih baik. Ketimbang gaun sebelumnya.


Tempat yang Tanisa tempati memang di buat untuk bercinta. Bahkan baju yang benar-benar baju sepertinya tidak ada. Baju seksi bertebaran dimana-mana. Sarung alat pusaka pria pun tampak ada dilaci-laci. Bahkan om Hardin lebih gila lagi sering menjual obat kuat untuk para pelanggan agar durasi lebih lama dan mendapat uang pun lebih banyak. Itu sungguh membuat Tanisa semakin tak kuasa menahan derita demi derita.


Tanisa pun keluar kamar untuk melihat sesuatu dan mencari sesuatu yang mungkin saja bisa ia makan. Namun tak ada. Didalam rumah besar itu, tak ada yang bisa Tanisa makan.


Saat ini Tanisa berada dirumah milik mamy Ceri. Mamy Cery memang miliki beberapa rumah yang sengaja ia isi untuk pelayanan plus-plusnya. Mamy Cery menutup semua dengan rapi sehingga pelayanan jual beli kembang wanita itu tak tercium oleh pihak mana pun. Ia pun punya banyak algojo bagi siapa yang melanggar aturan dan menghabisi dengan cara yang kejam.


Tiba-tiba saja Hardin datang dan menemui Tanisa saat itu. Dengan mata sembab dan merah Tanisa tampak menatap Hardin penuh amarah.


"Pria brngsk, tak punya hati. Tak punya perasaan!!! Teganya kamu melakukan ini pada ku" Tangis Tanisa dan tampak emosi jiwa membara Tanisa tampak ingin menampar dan memukul Hardin, namun Hardin dengan cepat juga menahan tangan Tanisa.


"Jangan bermain kasar jika kamu tidak mau lebih dari ini. Paham!!!" Hardin pun langsung mencengkram tangan Tanisa kuat dan memilintirnya.


Lalu Tanisa tampak menarik tangannya yang kesakitan dipelintir kuat oleh Hardin.


Hardin pun tampak memandang wajah Tanisa. Sementara Tanisa tampak dengan air matanya.


"Deon akan mengajak mu pergi" ucap Hardin.


"Aku tak tahu dia siapa?" Ucap Tanisa dengan suara ketus.


"Bahkan kau tak mengenal namanya. Padahal kau sudah bermain cinta dengan dirinya semalaman. Tapi kau tak tahu namanya. Wanita macam apa kamu ini? Dia mengajak mu makan malam. Malam ini"


Tanisa pun tampak terdiam sambil menghapus air matanya. Tanpa menjawab iya.


.


.


.


.


Tanisa hanya diam menatap dirinya mengingat bahwa ini adalah ulang tahun dirinya yang ke 19. Namun masih terasa sedih dan teramat pedih.

__ADS_1


.


.


.


Sementara itu terlihat Gavino yang berjalan menyusuri sebuah mall. Ia tampak mengenakan setelan jas yang rapi.


Siang itu Gavino janji ketemuan dengan seorang rekan bisnisnya disebuah mall besar dikota. Namun tak sengaja ia lewat pada sebuah toko kue dan melihat kue ulang tahun dipajang dietalase dengan cepat Gavino memandang kue itu dan tak sengaja ia tersenyum. Entah mengapa hatinya teringat akan Tanisa. Seketika Gavino pun melihat tanggal hari ini. Ya, hari ini adalah hari ulang tahun Tanisa. Tanisa dulu pernah meminta jika dirinya ulang tahun dia meminta untuk dibelikan kue dan seikat bunga mawar merah. Bagi Gavino itu adalah hal mudah. Namun berat dilakukan oleh Gavino karena Tanisa bukan wanita spesial untuk dirinya.


Dan kini permintaan sederhana itu hanya tinggal kenangan. Hanya tinggal cerita yang takan pernah menjadi nyata. Karena Tanisa sudah tak ada lagi. Dia sudah kembali pada tempatnya. Tempatnya yang hina dan penuh derita.


Gavino membuat janji bertemu dengan rekan bisnisnya. Namun langkahnya terhenti tatkala ia justru melihat rekan bisnis nya itu ada didalam sebuah toko berlian. Tumben sekali rekan bisnisnya itu berada disana.


Ya pria itu memang rekan bisnisnya bernama Deon. Yang memang sengaja ingin bertemu namun ia mampir dulu di toko Belian.


"Bapak kenapa disini? Ingin membeli berlian?" Sapa Deon sambil tersenyum.


Deon pun kaget melihat pemuda tampan dihadapannya kini. Yaitu Gavino. Pengusaha sukses diusia nya yang menginjak 27 tahun. Deon pun tampak tersenyum membalas senyum Gavino.


"Kebetulan sekali. Menurut mu mana yang paling bagus?" Tanya Deon sambil mnunjukan sebuah cincin berlian. Disana tampak banyak berlian yang tertata.


"Kamu yakin yang ini" tanya Gavino.


"Iya"


"Memangnya ini untuk siapa?"tanya Gavino.


"Seorang wanita yang spesial untuk saya" jawab Deon.


"Istri bapak?" Tanya Gavino.


"Bukan tapi orang itu lebih spesial" jawab Deon lagi.


"Apakah wanita itu cantik" goda Gavino pada Deon.


"Dia sangat cantik, dan dia masih muda" ucap Deon sambil tersenyum membayangkan wajah Tanisa.


"Itu sebabnya bapak suka. Apakah bapak menyukai gadis muda itu"

__ADS_1


"Lebih dari itu. Baru kali ini saya merasa bahagia lagi. Setelah sekian lamanya" jelas Deon.


"Kelihatan kok dari wajah bapak yang sumringah. Saya yakin wanita itu pastilah sangat cantik membuat bapak tersenyum sendiri"


"Bukan cuma cantik namun dia sangat memuaskan juga saat diranjang loh" bisik Deon ditelinga Gavino.


"Oh ya?"


"Itu adalah poin paling penting. Kamu tahu saat aku bermain dengannya aku tampak tak ingin berhenti. Rasanya aku ingin memiliki nya dan melakukan itu lagi dan lagi"


"Apa maksudnya dengan memilikinya?"


"Iya seutuhnya. Saya akan jadikan dia sebagai simpanan saya"


"Sudah berapa lama bapak kenal wanita itu" tanya Gavino penasaran.


"Baru tadi malam"


"Baru tadi malam?". Gavino kaget.


"Iya baru tadi malam. Umurnya bahkan jauh lebih muda dari saya. Tapi saya sangat menyukai wanita itu" jelas Deon.


"Wah kapan bapak akan menjadikan dia sebagai teman tidur bapak" ucap Gavino lagi


"Tentu saja, setelah dia menerima saya sebagai kekasihnya."


"Bagaimana jika dia menolak" tanya Gavino.


"Takan bisa dia harus menerima saya apapun alasannya" jelas Deon.


Gavino pun tampak tersenyum. Gavino tak pernah tahu jika wanita yang dimaksud Deon itu adalah Tanisa.


Deon pun membeli satu cincin berlian yang akan ia jadikan hadiah untuk Tanisa.


Lalu setelah itu barulah Gavino dan Deon membahas bisnis nya.


Setelah selesai Gavino pun berhenti sejenak ditoko bunga. Entah mengapa ia ingin membeli seikat bunga itu. Ia tampak tak tahu kenapa ia membeli bunga untuk dirinya sendiri. Bunga itu pun ia bawa pulang dan ia taruh diatas tempat tidurnya. Seketika hati Gavino merasa ingat bayang tentang Tanisa yang selalu tersenyum setiap Gavino pulang.


Namun hati Gavino tampak mengedepankan ego. Bahwa Tanisa hanya satu dari seribu wanita murahan yang tak perlu ia ingat. Dan buat apa mengingatnya. Ya, impian ia adalah tetap mendapatkan Marisa. Marisa yang notabene wanita baik-baik jauh dari buruk. dan masih suci.

__ADS_1


__ADS_2