Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Drama makan malam


__ADS_3

Disudut rumah yang tak terlalu besar, disudut rumah yang tampak kecil yang sepertinya terlalu sempit untuk dihuni oleh mantan orang kaya seperti Renata. Itu membuat Renata tampak kesal sekaligus sedih meratapi kehidupannya. Meksipun dunia berakhir tapi seolah hidupnya berkahir hanya karena menjadi orang miskin.


Jika itu yang dirasakan Renata berbeda dengan Lusi, dia tampak pasrah dengan apa yang menimpa keluarga suaminya. Lusi tampak sabar serta tidak marah dengan apa yang ia hadapi.


Lusi pun tampak menerima dengan lapang dada walau sebenernya hidupnya kini telah berubah 180 derajat. Tak adalah kemewahan rumah mewah, mobil mewah, kehidupannya telah berubah tak seperti dulu. Namun itu tidak membuat cinta Lusi memudar kepada sang suami.


Malam itu terlihat Lusi yang sedang merapihkan bajunya ke dalam lemari.


Dan di rapihkan satu persatu, agar tidak ada yang tercecer. Mengingat pindahan itu memang melelahkan. Sampai waktu menunjukan malam hari. Lusi pun menyiapkan makan malam dirumah kontrakan itu dengan memasak telur mata sapi dan nasi. Ya dirumah kontrakan itu Lusi tampak hidup secara sederhana dan apaadanya. Selama Lusi memasak, Fabio tampak digendong papanya. Dulu Rian jarang sekali menggendong putra semata wayangnya itu. Kini ia tampak lain lebih perhatian pada putranya yang berusia 10 bulan.


Lusi pun menggelar tikar untuk makan bersama duduk didepan sambil di temani Tv 24 inc dan kipas angin. Jika dulu rumah besar dengan sajian super lengkap dan mewah. Kini berbanding terbalik dengan kehidupan sekerang yang duduk dan makan bersama hanya beralaskan tikar tipis.


"Ma ayo makan" pinta Lusi untuk menyuruh ibu mertuanya segera makan malam. Lusi pun melihat mama mertua yang tampak menutup wajahnya dengan bantal kemiskinan membuat Renata malas untuk ngapa-ngapain dan uring-uringan.


"Sudah kamu makan saja sendiri!!! mama tidak sudi untuk makan, apalagi makanannya pasti murahan" teriak Renata kesal.


"Ma, kalau Mama tidak makan bisa sakit ma, ayo ma" pinta Lusi sekali yang tampak berdiri ambang pintu. Sedang kan Renata tampak tidur dikasur lantai dikamar.

__ADS_1


"Biarin Mama mati, Mama tidak peduli. Mama tidak suka hidup seperti ini" Teriak Renata masih kesal dan marah.


"Ya ampun Ma, mama gak boleh gitu mama harus sayang dengan diri mama"


Lusi pun lalu mendengar tangisan putra nya.


"Ma Fabio nangis Lusi tinggal ya" ucap Lusi lalu pergi dan menggendong putranya.


"Kenapa mama?" Tanya Rian yang langsung memberikan Fabio pada Lusi.


"Yaudah biarin aja kita makan yuk" ajak Rian.


Lalu Lusi pun mengajak makan suami dengan beralaskan tikar, dan makan nasi putih, telur dadar dan kecap manis. Itu saja yang bisa Lusi hidangkan.


"Maaf mungkin makan nya hanya ini"ucap Lusi menyiapkan makanan.


Memang...

__ADS_1


Dulu Lusi selalu diberi fasilitas mewah oleh sang suami, seperti kartu debit dan kredit untuk memenuhi kehidupan sehari-hari kini tampak lain. Rian hanya memberikan uang 50 ribu dan itu juga sudah habis untuk membeli beras, minyak goreng dan gas.


"Aku bukan nya gak bisa masak ya sayang. Memang cukup hanya membeli ini" ucap Lusi.


" Ya gak apa-apa sayang, ini sudah cukup kok. Besok aku akan kerja dan cari pinjaman"


Lalu tak lama mama mertua pun datang dengan memasang wajah cemberut nya, dan duduk bersama akhirnya.


Lusi pun kaget melihat mama mertua nya yang kini mau duduk makan bersama. Meskipun masih kesal tapi Renata akhirnya mau duduk.


"Mama duduk bukannya mau ikut makan tapi cuma mau lihat aja kalian makan apa?" Ucap Renata sinis.


"Yaudah Lusi suapin ya makannya, biar mau makan. Kasihan mama pasti gak pengen makan tapi kalau Lusi suapin mama mau kan makan"


Lalu Lusi pun tampak menyuapi ibu mertunya agar ia mau makan.


Perlahan hatinya pun luluh dan mau menerima suapan demi suapan makan dari Lusi. Walaupun seperti anak kecil tapi bagi Lusi tak masalah asal Renata mau makan.

__ADS_1


__ADS_2