Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Meratapi diri sendiri


__ADS_3

Manusia hidup tak ada yang sempurna. Semua akan menemui celah kekurangan dirinya. Tapi apalah jadinya jika bukan kekurangan tapi lebih dari itu. Penuh dengan hina dan kesedihan.


Tanisa tampak berdiri dari tempat tidur yang membuat dirinya menjadi pelampiasan hasrat pria.


Tanisa berdiri dengan langkah yang perlahan. Merasakan sakit bukan hanya dibadan namun organ intimnya yang terasa mendalam dan memilukan


Permainan Gavino begitu liar ditambah lagi ia harus melayani pria tua yang juga tak kalah liar dan kekar dari Gavino.


Tanisa tampak meringis sakit merasakan perih pada organ bawahnya itu. Dan kaki terasa sakit.


Tanisa tak pernah menyangka jika pria tua yang ia anggap impoten itu. Mampu memainkan dirinya semalaman suntuk tanpa memberikan dirinya jeda. Semua permainan panas ia mainkan seperti dalam film-film biru yang tak pernah Tania bisa bayangkan dirinya akan bermain seperti sebelumnya. Fantasi liar si tua Bangka itu membuat Tanisa kualahan dan kelelahan. Bahkan Tanisa seperti dicengkram oleh macan yang menghabisi dirinya malam itu tanpa sisa. Jika Tanisa merasa lelah dengan perlakuan Gavino yang begitu liar. Pria tua itu pun juga membuat Tanisa semakin merasakan keliaran luar biasa dari hasrat lelaki yang tak ia kenali sama sekali itu.


Tanisa pun berdiri dan menatap ke arah jendela hari sudah tampak siang dan dirinya belum makan sama sekali dari semalaman. Orang-orang tampak tak peduli pada dirinya yang nyaris mau mati. Tanisa tampak sangat lapar. Bahkan minum saja tak tersedia dikamar itu. Namun Tanisa tak peduli sama sekali soal itu. Mau mati kelaparan pun Tanisa tak peduli.

__ADS_1


Ia pun ke kamar mandi dan membersihkan diri. Dikamar mandi Tanisa berkaca pada diri sendiri melihat banyak bekas tanda kecup bibir yang begitu terlihat merah. Lebih tepatnya bukan kecupan tapi hisapan dan gigitan dari dua orang pria yang penuh akan nafsu itu. Tania bahkan bingung mana yang bekas Gavino dan yang mana bekas dari pria tua itu. Semua menjadi satu. Bibir Tania tampak membengkak.


Tanisa pun mandi dengan air hangat ia merasa perlu itu semua untuk menghangatkan tubuhnya. Karena merasa tubuhnya sangat sakit dan linu. Tanisa tampak menghela napas nya berat. Ya, berat sekali.


Ia tak tahu akan ada berapa pria lagi setelah ini yang akan menyewa dirinya saat malam nanti. Tanisa tidak tahu dan semakin tak sanggup bila membayangkan itu semua.


Tanisa pun tampak berdiri mengucuri diri dengan air yang dirasa begitu menghangatkan dirinya itu. Denga mata terpejam Tanisa menangis. Dibawah shower.


Tiba-tiba saja dua orang pria datang tanpa diduga dan tanpa Tanisa kira sebelumnya.


Tanisa pun membulatkan matanya akan kedatangan pria itu. Dan satu lagi pria yang tak ia kenali. Tanisa buru-buru mengambil handuknya, dan segera memakai handuk itu.


Pamannya Hardin tampak menyunggingkan senyuman diwajahnya. Dengan cepat om Hardin masuk tanpa berbasa basi. Om Hardin masuk kedalam kamar mandi yang tampak luas itu. Hardin pun tampak membawa seorang pria hidung belang yang baru. Belum selesai Tanisa membersihkan diri. Hardin tampak cepat mencari pria yang akan jadikan pelanggan berikutnya.

__ADS_1


Pria itu pun langsung berdiri tegak melihat Tanisa yang tampak hanya memakai handuk itu. Pria itu langsung masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi. Hardin pun keluar dan membiarkan Tanisa masuk dalam permainan baru dikamar mandi. Pria itu tampak lebih muda dari pria sebelumnya. Dengan cepat pria itu menyetubuhi tubuh Tanisa di bawah guyuran shower. Tanpa ampun, Tanisa dimasukan lagi benda pusaka milik pria yang tak ia kenali itu.


Tanisa tampak mencoba keluar dari kamar mandi namun tak bisa. Tenaga Tanisa sudah habis. Setelah pergulatan semalam membuat ia kehilangan banyak tenaga. Tampak pria itu memasukan semua milliknya dengan penuh hasrat yang membara tangan Tanisa dipegang erat. Pria itu memakai Tanisa dikamar mandi tanpa peduli keadaan Tanisa saat itu. Tanisa kembali digunakan sebagai pemuas hasrat pria yang tak ia kenal sama sekali. Belum saja luka itu mengering Tanisa kembali menerima luka baru yang tak kalah pedihnya. Semakin Tanisa mencoba melawan semakin kasar dan ganas perlakuan pria itu. Hingga membuat Tanisa hancur dan semakin perih. Mungkin hanya air mata dan teriakan dalam hati yang Tania luapkan begitu keras. Karena meminta tolong pun percuma semua tak ada yang akan menolong. Ya wanita bayaran siapa yang mau menolong. Justru bukannya ditolong malah semakin ditertawakan dan semakin dibuat permainan oleh mereka.


Setelah usai...


Tanisa tampak masih basah tersungkur dibawah shower dan kembali menangis. Ia seperti kehilangan arah dan tujuan. Ia tampak membenci semuanya. Tanisa tampak marah dengan apa yang menimpanya.


Tanisa memukul kaca kamar mandi dengan shower hingga kaca itu pecah. Ia marah pada semuanya.


Harapan Tanisa hanya lah satu. Gavino bisa menjemput nya saat ini bawa dia kembali dalam pelukan hangat Gavino, walau itu lebih terasa mimpi dan tak mungkin.


Hanya dengan Gavino lah Tanisa lebih merasa hidup dan bahagia.

__ADS_1


"Gavino tolong aku. Bawa aku dari sini" batin Tanisa lirih meratapi diri sendiri. Yang tanpa arti dan seolah ingin mati.


__ADS_2