
Hati pilu masih terasa saat dikala susu yang di kasih oleh seseorang itu dibuang oleh Dea putri dari Deon. Rasa kesal yang tiada tara itu tak terbendung dihati Tanisa. Hidup sebatang kara tiada tempat untuk bersandar tiada tempat untuk mencurahkan semua isi hati yang ada hanyalah kesedihan yang Tanisa rasakan begitu sakit dan begitu dalam, batin Tanisa terasa sakit dan pilu. Sesekali Tanisa tampak teringat kedua orangnya tuanya, yang telah pergi meninggalkan dirinya yang telah lama itu. Hanya foto yang Tanisa bisa lihat, hanya sebuah gambar yang Tanisa dapat lihat. Seketika Tanisa tampak merindukan kedua orang tuanya yang telah tiada. Tanisa memang menyimpan satu lembar foto keluarga, ada Ayah dan Ibunya juga Tanisa yang tampak masih SD di dalam foto itu. Tanisa sekitar ingin bertemu dengan Ayah dan Ibunya mengulang kisah dan masa lalu yang begitu terasa sakit didalam hati serta mengulang semua kenangan indah saat bersama.
Lalu tak lama Leon tampak melihat Tanisa yang sedang menangis, Leon tak berani bicara karena Leon tahu jika Tanisa sedang sedih saat itu.
Lalu saat Tanisa berdiri tampak kaget saat melihat Leon sudah ada didepannya kini.
"Kamu menangis seperti anak kecil, nangis kenapa?" Tanya Leon pada Tanisa.
Tanisa pun langsung menghapus air matanya.
"Apakah setiap orang yang menangis harus menceritakan kesedihan nya pada orang lain" kata Tanisa lagi menghapus air matanya.
"Tak apa, kalau memang itu dapat membuat mu lega" ucap Leon.
"Hah, aku hanya merasa sedih, karena aku teringat pada kedua orang tua ku yang sudah tiada. Aku merindukan mereka, aku sangat merindukannya" jawab Tanisa tampak berusaha menghapus air matanya yang tampak jatuh itu.
"Ibu Ayah mu apakah sudah meninggal?"tanya Leon.
__ADS_1
"Iya, mereka sudah meninggal. Dan aku hidup sendirian, aku masih punya paman hanya saja ia tidak pernah bisa mengerti aku. Justru ia lah yang selalu menyakiti aku. Kamu beruntung masih mempunyai orang tua yang lengkap. Tidak seperti aku, yang harus merasakan beban hidup sendirian yang harus merasakan hidup pahit seperti ini" Kata Tanisa.
"Kamu merasakan hal pahit apa dalam hidupmu"
"Iya, sangat pahit. Bahkan jika aku bisa memilih aku tidak mau dilahirkan jika jalan hidupku akan seperti ini" kata Tanisa tampak dengan raut wajah yang sedih.
"Terkadang aku merasa Tuhan seolah tak adil, mereka yang memiliki orangtua lengkap namun juga diberikan harta dan kekayaan yang berlimpah. Tidak seperti aku yang hidup yang serba kekurangan dan penuh penderitaan. Mereka beruntung bisa menikmati hidup sebagaimana mestinya bisa menjalani hari-hari mereka yang penuh suka. Bisa kuliah, bercanda bersama teman dan menggapai semua mimpi mereka. tidak seperti aku, aku cuma apa? Cuma orang yang terbuang dan tak dianggap sama sekali, hidup yang penuh hinaan dan cacian" Ucap Tanisa tampak menjatuhkan air matanya.
"Tanisa sepahit apa kehidupan kamu, sesulit apa kamu memiliki kesedihan saat ini luapkan saja semuanya. Mungkin aku tak bisa membantu kamu namun aku bisa membuat hati mu lebih lega" ucap Leon, Leon pun tampak ingin memeluk Tanisa yang menangis namun ia tak enak hati hanya tisu yang mampu ia berikan.
"Terimakasih kamu sudah berusaha untuk mendengar ku Leon" ucap Tanisa yang masih sedih.
Tanisa pun tampak terdiam, dan menghela napas panjang yang terasa berat itu. Lalu Tanisa pun tampak mencurahkan isi hatinya pada Leon.
"Dalam hidup tidak ada wanita manapun yang bercita-cita ingin menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain. Dalam hidup tidak ada juga orang yang ingin menjadi istri kedua dalam rumah tangga orang lain. Dan dalam hidup aku pun juga tidak mau hamil diluar nikah seperti ini. Aku dipandang oleh semua orang dengan hina, buruk dan tak punya harga diri. Itu sama sekali bukan keinginanku, itu adalah diluar batas kemampuan ku. Karena itu adalah takdir, takdir dalam hidup ku yang sangat pahit ini. Orang boleh menghardik bahkan mencaci ku sedemikian rupa. Tapi aku pun juga tak mau hidup seperti ini, aku ingin terbebas dari semua ini. Aku ingin bernapa lega tak terkekang dan dipenjara dalam kehidupan ini, aku lelah.. aku lelah dengan semua inihiks , hiks" ucap Tanisa yang tampak menangis itu.
Leon pun tampak menghapus air mata Tanisa dengan tangannya, Leon pun tampak iba melihat Tanisa yang menangis itu, seketika Leon pun menyadari jika ada yang salah dengan hubungan Tanisa dan Ayahnya itu. Ucapan Tanisa mengisyaratkan bahwa Tanisa tidak mencintai Papanya.
__ADS_1
"Jika memang kamu tidak mencintai papa ku. Untuk apa hidup bersama, kamu bisa pergi darinya" tanya keoym.
"Aku tidak bisa meninggalkan dirinya begitu saja, kamu tahu.. ada takdir hidup yang tak bisa aku ceritakan" ucap Tanisa.
Tanisa memang tak mungkin menceritakan dirinya pada Leon tenang dirinya yang hanyalah wanita malam yang dibeli oleh Deon. Itu sungguh tak mungkin!!!! Jika sampai itu terjadi Tanisa tak tahu lagi, hidupnya akan seperti apa. Semua orang dirumah itu akan tahu bahwa dirinya hanyalah wanita malam dan membuat semua orang akan jijik melihat Tanisa dan Tanisa semakin merasa terhina. Dan Tanisa tak mau itu terjadi.
"Apakah karena kamu hamil sehingga kamu tak mampu pergi darinya" kata Leon.
"Itu adalah salah satu alasan ku, tapi lebih dari itu. Kamu tahu hidup tak semudah membalikan telapak tangan dan aku adalah salah seorang yang tak bisa membalikannya" kata Tanisa lagi.
"Tanisa, aku minta maaf atas semua yang sudah aku lakukan pada mu, semuanya. Aku minat maaf. Dan aku berharap kelak suatu saat nanti kamu menemukan kebahagiaanbkamu sendiri. Meski mungkin semua terasa berat, tapi aku yakin kamu akan mampu menemukan kebahagiaan kamu" ucap Leon memandang Tanisa sambil tersenyum.
"Terimakasih kamu sudah mendengarkan semuanya, ternyata kamu baik juga" ucap Tanisa sambil tersenyum.
"Sama sama" jawab Leon ikut tersenyum.
Tanpa disadari oleh Leon senyuman Tanisa tampak mentransfer getaran-getaran cinta pada diri Leon. Seketika Leon ikut senang melihat Tanisa yang tersenyum itu, walau mungkin tidak tersenyum lepas namun itu mampu membuat hati Leon ikut merasakan kebahagiaan kecil dari seorang Tanisa.
__ADS_1
Ya Leon semakin merasakan debaran-debaran cinta didalam hatinya setiap kali melihat Tanisa, dan semua itu tanpa Leon sadari.