
Setelah mendapat pengakuan yang menyakitkan dan menyesakan hati. Lusi pun langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu kamarnya sambil berlinang air mata. Ia tidak menyangka bahwa sambutannya akan berakhir dengan kesedihan dan kekecewaan yang mendalam.
Air matanya terus saja mengalir. Siapa yang tidak sedih, disaat suami yang ditunggu pulang. Ternyata membawa hadiah dengan membawa wanita lain. Lusi pun langsung melepas lingeri yang ia kenakan. Dan ia ganti dengan piyama biasa. Lingeri itu pun tampak ia gunting-gunting karena terlalu emosi jiwa yang terlalu meledak didalam sana.
Rian tampak mengetuk pintu hingga berkali-kali namun Lusi masih tak menghiraukan. Lusi tampak tak tergerak untuk membukakan pintu kamarnya. Ia sama sekali tidak ingin mendengar penjelasan apapun. Sampai pada akhirnya Lusi pun tampak memukul kaca dengan tangannya. Hingga pecah dan menimbulkan luka dijarinya.
Praaaaangg..... Suara pecah kaca itu. Ini kali pertamanya Lusi tampak menghancurkan barang yang dihadapannya. Sebelumnya Lusi tak pernah sekalipun seperti itu.
Rian yang mendengar suara kaca pecah itu pun. Sontak panik.
"Lusi aku mohon buka pintunya, aku mau bicara sekali saja. Kamu jangan berbuat yang macam-macam " ucap Rian mengetuk pintu berkali-kali. Namun Lusi masih tampak tak peduli.
Hingga akhirnya Rian tampak ingin mendobrak pintu kamar itu. Namun tertahan oleh bi Asih.
"Tuan mau dobrak pintu"
"Iya Bi"
"Jangan tuan saya punya kunci cadangan. Buka aja pakai kunci ini"
"Hadeh kenapa gak bilang daritadi" ucap Rian langsung merampas kunci cadangan ditangan bi Asih.
Sontak Rian pun langsung membuka pintu dan menemui Lusi di dalam kamar. Terlihat kaca meja rias pecah. Tampak tangan Lusi pun berdarah. Lipstik yang ia kenakan pun tampak berantakan. Eyeliner ya pun tampak berantakan. Mengikuti garis air mata dipipnya. Rian pun tampak semakin panik, ia langsung mengambil kotak obat. Ia peluk sang istri yang tampak seperti kehilangan jiwa warasnya.
"Lusi aku mohon jangan sakiti dirimu. Aku akan balut luka ini" ucap Rian. Rian pun langsung membalut tangan Lusi yang berdarah karena Lusi bisa bisanya menghancurkan kaca dengan tangan kosong.
Lusi pun tampak mencium kening istrinya ia sandarkan tubuh Lusi pada pundaknya.
.
.
__ADS_1
.
.
Marisa pun tampak mengintip sedikit dari balik pintu. Ia pun tampak menahan rasa ibanya pada Lusi. Ia hanya berusaha untuk menatapnya biasa saja.. walaupun masih ada rasa bersalah pada Lusi ketika itu.
Marisa pun memejamkan matanya, ia tengok beberapa foto didinding. Ia pandang, dan ia teringat bahwa istri Rian bernama Lusi. Marisa seperti tak asing dengan nama itu. Namun Lusi ini siapa?.siapa pernah dengar namun lupa. Seperti nama yang sering ia dengar. Batin Marisa.
Lalu Marisa pun kembali kelantai bawah. Ya Marisa kebawah dibantu oleh Bi Asih. Kebetulan Marisa memang tidak membawa tongkat hanya membawa kursi roda saja. Jadi untuk naik turun tangga Marisa memang harus ngerepotin orang.
.
.
.
.
Sementara itu terlihat Rian yang berusaha untuk menenangkan sang istri yang terlihat berantakan dan terpukul. Rian pun tampak memandang sesuatu yang sudah digunting oleh Lusi itu. Rian pun tahu bahwa itu adalah lingerie. Rian tahu bahwa semua akan berat untuk Lusi. Namun kenyataan pahit ini tetap harus Lusi rasakan. Mau cepat atau lambat, semua pun akan tahu. Dengan lembut Rian pun memakaikan perban ketangan Lusi. Rian pun memandang wanita cantik istrinya itu. Ia berat sekali mengatakan sebenarnya. Namun Rian tetap berusaha untuk tetap cerita semua.
"Apa?? Apa lagi Rian?" Ucap Lusi.
Rian pun tampak menghela napasnya.
"Aku.. aku melakukan kesalahan. Aku sudah menabrak Marisa sehingga menyebabkan kakinya diamputasi. Aku tidak bisa berbuat banyak. Permintaannya hanya satu, ia mau aku menikahinya. Itulah bentuk tanggung jawab aku Lusi. Aku tidak tahu harus bagaimana? Jika aku bisa memilih aku tidak mau melakukan ini. Namun mau bagaimana lagi" ucap Rian. Memegang tangan Lusi.
Lusi pun tampak kaget. Dan menarik napasnya. Namun semua tetap terasa sakit.
"Kenapa harus begini Rian" ucap Lusi.
"Dan sekarang aku ijin padamu, aku akan menikah lagi"
__ADS_1
"Ceraikan aku Rian" ucap Lusi tampak menangis
"Tidak mau" ucap Rian.
"Rian, ceraikan aku. Aku tidak bisa dimadu seperti ini. Aku tidak mau" tolak Lusi tidak terima.
"Lusi, kalau keinginan kamu itu. Lebih baik kamu bunuh aku Lusi. Lakukan jika memang itu membuat kamu puas. Lebih baik aku mati" ucap Rian.
"Rian kalau begini. Aku yang terbunuh dengan perasaan sendiri. Dengan rasa sakit hati aku Rian" ucap Lusi yang emosi.
"Aku tahu kamu orang yang baik. Paling tidak terimalah Marisa untuk beberapa saat. Setelah aku menikah. Kamu boleh meminta cerai. Namun, tidak sekarang Lusi. Tidak sekarang.. paling tidak aku harus menikah dulu, barulah saat itu aku akan melakukan apa saja. Sekalipun kamu meminta perceraian"
"Tega kamu Rian" ucap Lusi tampak sedih.
"Ya, itulah syarat nya jika kamu mau bercerai. Tunggu sampai aku menikah"
Hati Lusi pun semakin sakit. Air matanya masih saja terus berderai. Ia tidak tahu harus bagaimana. Berat semua terasa berat.
"Aku mohon tinggalkan aku sendiri dulu. Biarkan aku tidur dikamar sendiri. Saat ini aku benar-benar pusing Rian" ucap Lusi. Lusi pun tampak beranjak dan berbaring ditempat tidur. Sambil menutup seluruh tubuh nya dengan selimut. Ya sambil menangis. Berat ini bukan ujiannya. Namun kenyataan pahit. Disaat kabar dan berita itu bahwa Lusi harus mengikhlaskan berbagi cinta pada wanita lain.
Rian pun tampak turun kebawah, ia pandang makan malam itu. Terlihat lilin yang menyala dengan steik yang sudah terhidang. Rian pun tampak lemas dengan tubuhnya. Ia tidak menyangka akan mengalami hal ini pada rumah tangganya.
"Rian" ucap Marisa.
"Ya"
"Apa istri kamu baik-baik saja" ucap Marisa.
"Ya, dia seperti nya shock. Dan ia sepertinya memang harus istirahat dulu" ucap Rian. "Lebih baik hidangan ini kamu makan mar. Dan Oia bi Asih. Tolong Anter makanan ini ke kamar Lusi"
"Lalu tuan mau makan apa?"
__ADS_1
"Saya, gak usah. Saya gak nafsu"ucap Rian yang terlihat lesu. "Dan Marisa kamu bisa tidur dikamar tamu, aku tidur disofa saja" ucap Rian. "Aku tidur dulu"
Lalu Rian pun tampak tidur terpisah dengan Lusi dan juga Marisa.