
Marisa merasa terpuruk dengan semua keadaan yang ia alami. Sakit pada tubuhnya saat kecelakaan tak sebanding dengan rasa sakit pada perasaannya. Bagaimana tidak? diibaratkan Marisa sudah mati sebelum berperang.
Sama halnya dengan perasannya kini. Mengungkapkan perasaan saja belum. Namun sudah sakit hati duluan...
Setelah pulang dari rumah sakit tampak Marisa yang sedang duduk di sofa sambil memandang tv. Namun ia tak menontonnya. Dan sambil memasang wajah yang terlihat kesal.
Tak lama papa David menghampiri putrinya itu yang terlihat kesal.
"Kenapa papa menyuruh Rian pergi saat aku koma" ucap Marisa.
"Dia tidak baik bagimu. Dia hanya anak berandalan yang tidak memiliki masa depan" ucap David merasa dirinya benar sebagai seorang Ayah.
"Papa tahu apa tentang dirinya?"
"Karena dirinyalah kamu jadi seperti ini"
"Justru Rian yang baik sama aku pa" jawab Marisa dengan nada tinggi
"Dia tidak baik buat kamu!!"
__ADS_1
"Tapi dia baik buat aku pa"
"Kamu bilang dia baik.. dia tidak sebaik yang kamu kira. Kamu sadar itu"
"Papa tahu apa tentang dia. Dan sekarang dia pergi. Dan aku gak tahu dia sekarang dimana?"
"Papa marah. Karena papa sayang sama kamu. Papa tidak mau kamu kenapa-kenapa. Kamu masih kecil kamu tidak paham" papa David lantas pergi meninggalkan Marisa.
papa David lebih memilih menghindari pertengkaran dengan putrinya. ketimbang harus bertengkar.
Begitu juga dengan Marisa.
Meskipun dalam hatinya ia sangat kesal dengan sang Ayah yang telah membuat Rian pergi begitu saja. Namun Marisa juga tidak ingin bertengkar hebat dengan papanya.
******
Waktu berlalu silih berganti. Marisa bisa sedikit menarik lepas lega.
Entah perkara apa, yang membuat Revan dikeluarkan dari sekolah. Dan kini Revan selaku kakak kelas yang ngeselin itu sudah minggat dari sekolah. Sehingga Marisa tidak perlu sibuk lagi ngurusin si Revan itu.
__ADS_1
Meskipun tidak ada Revan sang pengganggu. Tapi.. hati Marisa tetap masih merasa sepi. Ya... Sepi tanpa Rian. Tanpa Gery.. dan tanpa cinta pastinya.
Tidak ada satu pun pria yang mampu memasuki relung hati terdalam Marisa...
Marisa tidak mudah untuk mencintai.. juga tak mudah untuk melupakan. Menemukan sesosok seperti Rian. Baginya hanya butuh satu kali. Namun untuk melupakannya, butuh seumur hidupnya. Dan semua Takan mudah.
Marisa memang tidak tahu banyak tentang Rian. Asal usul keluarganya dan seperti apa keluarganya. Marisa tidak pernah tahu.
Rian terlalu tertutup soal keluarganya. Bahkan untuk tempat tinggal saja Marisa tidak tahu.
Namun,
Marisa banyak tahu tentang hal kecil tentang Rian. makanan kesukaan Rian, hal yang ia sukai, dan kebiasaannya. Rian memang jarang cerita semua itu, namun Marisa memperhatikan dan mencari tahu sendiri. Alesannya Karena saking suka dan cintanya Marisa pada sesosok pria yang bernama Rian itu.
Dan Marisa berjanji pada dirinya sendiri. Jika ia masih di beri kesempatan sekali saja untuk bertemu dengan Rian. Sudah pasti yang ia lakukan adalah mengungkapkan seluruh perasaannya. Bahwasannya ia mencintai dengan segenap hatinya.
Waktu berlalu..
Marisa terus mencari keberadaan Rian yang entah dimana itu. Rian bak hilang ditelan bumi. Ada yang bilang Rian ke Bali. Namun ada yang bilang Rian ke Jogja.
__ADS_1
Dan setiap kali Marisa libur sekolah Marisa pun selalu ke tempat yang katanya Rian tinggali. Namun tetap saja sulit untuk ditemukan.
Sebenernya Rian ini kemana?, Gue tahu Rian Lo orangnya gampang banget ilang. Tapi please dalam keadaan seperti ini. Gue pengen banget ketemu sama lu. benak Marisa penuh harap.