Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Ma, Lusi Tidak Bisa


__ADS_3

Akhirnya Lusi membiarkan semuanya dan memilih untuk tidak memohon dikaki pria kurang ajar itu. Karena tak ada sangkutpautan sama sekali dengan dirinya. Dan ia lebih memilih untuk tidak peduli tentang kehamilan Liana sepupu dari Rian. Dan baru itu juga, Lusi pun baru tahu jika Rian memiliki sepupu.


....


Ya ini adalah hari ketiga Lusi dirawat dirumah sakit. Kemungkinan Lusi boleh pulang dari rumah sakit adalah esok hari.


Dirumah sakit Lusi tak ditemani siapapun. Meskipun Renata sudah pulang dari luar negri tapi Lusi tidak enak meminta untuk ditemani oleh Renata.


Sementara hingga saat ini Lusi belum sempat menghubungi ibunya dikampung. Jadi ia hanya sendirian. Sampai menunggu waktunya diperbolehkan pulang.


Saat suasana pagi itu, tiba-tiba Rian datang. Lusi melihat Rian dihadapannya. Ia pun sangat merasa senang. Ia ingin mengungkapkan semu yang menimpa dan semua hal yang terjadi padanya.


"Rian, akhirnya kamu menemuiku juga" ucap Lusi senang.


Rian terlihat masih belum pulih. Masih banyak luka diwajah yang masih tampak membiru. Lusi senang karena Rian baik-baik saja. Lusi pun memeluk dengan erat. Ya .. sangat erat. Karena hanya pundak suaminya yang ia tunggu saat ini.


"Rian.. aku mau, kamu lapor polisi. Kamu laporkan semuanya pada polisi aku gak mau Gery ganggu kita lagi. Dia harus menerima hukumannya" pinta Lusi pada suaminya, seraya memohon.


"Maafkan aku Lusi, aku gak bisa lakukan itu" jawab Rian gampang.


"Tapi kenapa?" Ucap Lusi tampak kecewa.


"Mama sudah ceritakan soal kehamilan Liana, Liana adalah sepupuku satu-satunya. Tak mungkin aku memenjarakan ayah dari bayi sepupuku. Kalau itu terjadi, nanti anak yang Liana kandung lahir tanpa ayah. Apa kamu mau kalau seperti itu" jelas Rian dengan penuh penekanan.

__ADS_1


"Tapi Rian, anak kita. Aku kehilangan anak ku karena dirinya" ucap Lusi tak terima.


"Buat apa kamu sesali, bukannya kamu sendiri yang tak menginginkan anak itu. Karena anak kita masih kecil. Lagi pula jarak yang terlalu dekat apa itu baik untuk mental kamu" ucap Rian lagi dengan kata tegas dan cukup menyakitkan untuk hati Lusi.


"Kenapa kamu bicara seperti itu. Aku akui iya memang aku pernah kaget karena aku hamil lagi. Tapi bukan berarti aku tak mau. Kamu salah. Tak ada istilahnya aku sesali anak yang ada didalam kandungan ku Rian"ucap Lusi dengan air mata yang mengembang dimata. Lusi tak mengharapkan sama sekali dengan ucapan suami yang seperti itu.


Rian pun tampak terdiam memandang Lusi.


"Rian kamu tahu, aku tidak ingin diganggu Gery lagi. Aku takut kalau dia mengulangi hal yang sama kepada ku" ucap Lusi terlihat emosi.


"Lusi, kamu tolong pahami!! Kamu tahu, aku kasihan pada Liana itu saja. Jadi aku harap kamu mengerti" pinta Rian tegas.


Lusi pun tampak menghapus air matanya yang hampir jatuh. Lusi tampak menahan rasa kecewa karena kali ini tidak ada yang memihak dengan apa yang ia alami. Lusi pun ingin marah dan kecewa pun percuma, tak ada yang ia harapkan. Ia hanya perlu menenangkan dirinya. Dan menerima kenyataan pahit betapa sulitnya disaat orang tak mengerti dengan apa yang ia alami.


Lusi pun pulang dengan Rian, pada keesokan harinya.


Meski kemarin terlibat pertengkaran. Namun selama perjalanan Lusi memeluk suaminya. Karena saat ini ia sangat butuh kan adalah pundak sang suami. Dimana untuk dirinya dan tempat bersandar.


Tak lama setelah itu Lusi pun sampai rumah. Dikediaman rumah besar milik Renata.


Dengan cepat Lusi pun langsung menemui Fabio putranya yang kini berusia 6bulan itu. Lusi mencium dan menggendongnya. Karena ia memang merindukannya.


"Lusi apakah kamu tidak mau kalau meminta pada Gery untuk menikahi Liana segera" ucap Renata yang datang secara tiba-tiba masuk ke kamar.

__ADS_1


Lusi pun tampak kaget. Lusi pun tampak menarik napas dan menjelaskan.


"Ma, Lusi masih dendam pada Gery. Bagaimana mungkin bisa meminta. Lagi pula Gery seperti mempermainkan aku ma. Aku takut dia meminta yang lain dan hal yang lebih aneh lagi. Dan hanya membuat semakin tambah rumit" ucap Lusi.


"Kamu ini disuruh berkorban sedikit saja susah sekali!! Kamu ikutin aja apa maunya dia. Untuk sementara ini kamu mengalah dulu" ucap Renata yang seolah tak memihak pada Lusi.


"Ma, Lusi gak bisa" ucap Lusi.


"Turunkan ego kamu. kasihan Liana!!!" ucap Renata dengan suara yang mulai dengan nada tinggi dan Renata tampak marah.


Lusi pun masih diam dan konsisten tidak mau bila menuruti apa yang Renata mau. Bukan soal meminta Gery untuk menikah Liana. Yang Lusi tak mau kenapa harus Lusi yang memohon dikaki Gery untuk memintanya.


Lalu Renata pun pergi dari kamar Lusi dengan kaki yang kasar. Meninggalkan Lusi dikamar dengan emosi.


Lusi pun tampak menghela napas panjangnya. Tak tahu harus bagaimana.


Lalu keesokan harinya lagi, Lusi melihat Liana yang datang kerumah besar milik Renata. Liana tampak sangat cuek sekali pada Lusi.


"Hai, perkenalkan nama aku Lusi. Kemarin kita belum sempat berkanalan" ucap Lusi memberikan tangannya untuk berjabat.


Tapi jangankan senyum, Liana tampak sama sekali tak membalas ucapan Lusi yang berusaha berbasa basi itu. Padahal Lusi merasa dirinya sudah cukup ramah padanya. Dan langsung mencari dan menemui Renata seolah tak menganggap Lusi ada.


Mungkin Liana melakukan hal itu seolah seperti sengaja. Tapi Lusi berusaha untuk biasa saja dan tidak mau terpengaruh atas sikap Liana padanya.

__ADS_1


__ADS_2