Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Diambang kesedihan


__ADS_3

Keesokan harinya, tepat sudah dua hari Marisa dirawat dirumah sakit. Dan saat ini sudah lebih baik dan keluar dari masa kritisnya. Dan berangsur pulih dan tampak membuka matanya secara perlahan. Ia pun melihat sekeliling dengan memandang sekitar secara perlahan. Nyawanya ada, namun semua yang terjadi seperti tak nyata bagi Marisa. Lalu ia sedikit mengingat kecelakaan itu.


"Ah, Dimana aku? Surgakah atau dineraka" batin Marisa.


Lalu tampak Marisa yang melihat botol impusan yang menggantung dan terhubung ditangannya. "Rupanya rumah sakit" batin Marisa lagi.


Marisa pun tampak membisu, ia merasakan masih terasa sakit pada seluruh tubuhnya. Namun Marisa masih belum merasakan bahwa kaki kanannya sebagian ada yang hilang.


Seketika mama pun menghampiri Marisa yang tampak sudah sadar. Mama pun memeluk Marisa dengan erat. "Akhirnya kamu sadar nak" ucap sang mama sesekali menetaskan air matanya.


Meskipun Mama sering berantem meributkan hal yang tak penting pada Marisa. Namun hati orang tua tetaplah sakit saat melihat anak satu-satunya itu terbaring lemah..


Marisa pun hanya tampak terdiam tidak tahu apa yang harus dikatakan. Karena semua terjadi seperti mimpi.


Dan Marisa pun tampak ingin bangun dari tempat tidurnya. Dan seketika saat ia terbangun untuk duduk. Marisa seperti merasakan ada sesuatu yang berbeda dari tubuhnya.


Marisa pun tampak aneh melihat kakinya yang satu, seolah tak ada. Itu hanya bayangan saja. Atau apa?

__ADS_1


"Ma, kaki Marisa" ucap Marisa seolah tak percaya.


"Iya nak.. kamu harus kuat dan sabar" ucap mama sambil menahan kesedihan.


"Ma, maksudnya?" Ucap Marisa penuh tanda tanya.


"Karena kecelakaan itu. Kaki kamu harus diamputasi nak"


Lalu Marisa pun membuka selimut yang menutupi kakinya secara perlahan. Dan saat ia membukanya, benar saja kaki kanan Marisa hanya ada sampai dengkul.


Marisa pun tampak menangis. Ia tidak akan menyangka akan mengalami hal seberat ini. Dadanya terasa pilu, semua terjadi seakan beruntun. Langit runtuh bersama hatinya yang kecewa. Semakin menambah daftar beratnya kehidupan ini. Marisa pun tampak berteriak sambil menangis, seolah ia tidak terima dengan kenyataan pahit ini.


Air mata tampak jelas terlihat diwajah Marisa. Marisa terus menangis saat tahu kenyataan pahit ini lebih buruk dari mimpi buruk yang pernah ia alami.


***


Keesokan harinya, Marisa masih terbaring diatas tempat tidur di rumah sakit. Ia tampak putus asa dan semakin tak bersemangat dalam hidupnya. Semangat hidupnya seolah sirna.

__ADS_1


Marisa pun tampak tak mau makan sama sekali, jangankan sesuap nasi. Untuk minum saja Marisa tampak tidak mau.


Tampak mama yang beberapa kali membujuk Marisa untuk makan.


"Makan Marisa, kamu tidak boleh seperti ini" ucap mama dengan tegas dan juga dengan rayuan. mama paham anaknya kini dalam keadaan sangat down.


"Aku tidak mau makan. Aku tidak mau apapun. Aku ingin pergi dari hidup ini. Aku mau mati aja" ucap Marisa dengan tatapan kosong. bibirnya pucat dan matanya pun tampak sembab. rambutnya agak berantakan semakin terlihat raut kesedihan dan putus asa diwajahnya. Jika sakit ditubuhnya sangat tertampak. Namun keadaan berat itu pun juga membuat Marisa nyaris sakit jiwa.


"Marisa eling nak. Eling.. hidup mu masih panjang, kamu masih bisa hidup. Buat apa kamu menangisi yang sudah terjadi"


"Ma!! mama bisa bilang begitu karena mama tidak berada di posisi aku!!!"


"Tapi setidaknya kamu masih punya nyawa untuk hidup"


"Aku cacat, apa yang bisa aku lakukan dengan keadaan ini"


"Paling tidak kamu masih punya mama dan papa. Ayo kamu harus makan Marisa"

__ADS_1


Marisa pun tampak masih menangis itu semua terlalu berat untuknya. Marisa terlalu cengeng untuk menjalani hidup ini.


Marisa pun masih tampak terdiam. Merenungi setiap apa yang sudah terjadi. Namun masih saja ia tidak mampu. Ucapan mama seolah angin lalu. Marisa masih saja tampak merenung dan bersedih.


__ADS_2