
Terlihat Lusi yang sibuk dengan bunga indah di pagi hari. Menyiram dan memberi pupuk. Lalu memandangi satu persatu bunga dihalaman rumah. Meskipun sudah ada tukang kebon di rumah mewah milik suaminya itu. Ah bukan, lebih tepatnya rumah peninggalan papa. Papa dari suaminya. Namun Lusi senang juga jika ikut andil memberikan kontribusi tenaga untuk tanaman di pekarangan rumah. Pagi ini Lusi agak sedikit santai karena baby Fabio masih tidur.
Tampak tak lama ada seseorang yang mengantar sebuah karangan bunga dan iaa menaruh didepan rumah, dengan tulisan turut berduka cita atas meninggalnya Rian. Lusi pun tampak kaget dan memandangnya. Lalu menghampiri kurir yang membawa bunga itu.
"Pak maaf saya gak pesan ini. suami saya masih hidup kenapa di bawain seperti ini" ucap Lusi.
"Oh, saya gak tahu, cuma suruh kirim ini" jawab kurir menjelaskan.
"Dari siapa pak?"
"Tanpa nama neng"
"Balikin lagi pak"
"Kenapa dibalikin, ini mahal loh. Belinya ekselusif pakai bunga edelweis dan bunga lyly"
"Maaf atuh Pak, mau ini pake bunga edelweis ataupun bunga kantil. Tetap aja saya gak mau. Suami saya kan masih hidup pak"
"Tapi ini udah dibayar"
"Saya mah gak peduli. Mau gratis juga, ataupun endorse sekalipun saya gak mau. Lagi pula, masa endorse karangan bunga turut berduka cita"
"Hadeh yaudah deh saya bawa lagi" ucap Si pak kurir menyerah.
"Oke pak. Bilangin jangan kirim bunga begini. Bunga bank aja. Lagi juga siapa sih iseng banget kirim bunga kaya gini. Itu mah sama aja Doain suami saya meninggal"
"Amin"
"Eh kok malah amin"
"Hehe canda neng, lagu pula jadi janda bukan suatu dosa kok"
"Terus kalau mentang-mentang gak dosa. Saya harus jadi janda gitu"
"Ya, siapa tahu"
"Siapa tahu apa?"
"Minat"
"Hiishh"
"Yaudah saya bawa ya, adalagi gak yang perlu saya bawa?" Ucap si Abang-abang itu.
"Gak ada. emang mau bawa apa lagi?"
"Kali neng mau saya bawa"
"Jiaaahhh"
Lusi pun menghela napasnya. Dalam benak Lusi. Lusi sebenenya penasaran juga dengan siapa yang mengirim karangan bunga tersebut. Namun ah sudahlah mungkin saja itu hanya sebuah orang yang salah alamat atau hanya orang iseng.
Lalu Lusi pun masuk kedalam rumah dan melihat suaminya yang terlihat rapi dengan setelan jas yang biasa ia pakai untuk berangkat ke kantor. Sambil menikmati kopi di pagi hari. Tampak Rian yang sangat sibuk dengan ponselnya. Yang entah apa di kerjakan.
"Ada-ada aja orang" ucap Lusi.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Kirim karangan bunga turut berduka cita, terus buat kamu lagi. Emang dia pikir kamu sudah meninggal"
"Lah.. kok bisa"
"Gak tahu"
Lalu Lusi pun duduk di depan suaminya. Namun tampak Rian yang masih terlihat sibuk dengan handphonenya.
"Sibuk banget sih kamu" ucap Lusi.
"Biasalah masalah kerjaan nih. Btw, Tapi siapa ya, yang kirim"
"Gak tahu" ucap Lusi yang tampak memijat keningnya. Sambil memandang suaminya lagi. Namun masih saja terlihat sibuk dengan ponselnya. Sebenarnya Lusi merasa risau dengan perlakuan Rian yang lebih sibuk dengan dirinya sendiri dan seolah ada perubahan sifat dari Rian yang tak biasa. Lusi pun sedikit menarik kesimpulan, bahwa selama ini mungkin dirinya lah yang salah. Entah apa atau bagaimana.
Lalu tak lama ada Suara bel.
Ting nong.. tampak suara bel..
Lalu lusi pun menghampiri dan membuka kan pintu. Dan ternyata sesosok kurir yang datang. Dan kali ini mengantar makanan.
"Pizza" ucap kurir membawa makanan.
"Aduh pizza, siapa yang pesan ya. Maaf sepertinya saya gak order" ucap Lusi. Yang memang ia tidak merasa order makanan.
"Tapi bener kok alamatnya ini mba"
"Tapi kayanya mas salah alamat deh. Saya gak pesan"
Tiba-tiba..
Rian pun tampak datang dan sudah berada dibelakang Lusi
"Pizza"
"Iya itu aku yang order" ucap Rian lagi.
"Bukannya kamu sudah sarapan"
Rian pun hanya tampak tersenyum. Dan mengambil pizza itu dari tangan kurir.
"Tumben kamu order makanan Gak bilang sama aku" ucap Lusi.
"Emang harus bilang"
"Ya kalau bilang kan aku bisa request jangan pizza. Soalnya akhir-akhir ini aku pengennya makan.." ucap Lusi yang tidak sampai meneruskan. Tiba-tiba Rian langsung memotong pembicaraan.
"Emang itu bukan buat kamu kok" jawab Rian tanpa dosa.
"Terus buat siapa?"
"Buat, Buat Gery" ucap Rian bohong. Yang sebenarnya Rian ingin berikan pada Marisa.
"Gery, masa sih kamu order buat Gery. So sweet banget. Apa kamu seromantis ini kalau sama sahabat kamu" ucap Lusi.
"Ah gak juga perasaan kamu aja. biasa aja ah"
Lusi pun hanya diam sambil memandang pizza itu.
__ADS_1
"Udah dulu ya. Mau berangkat" ujar Rian.
"Eh tar dulu. Mau kemana?" Tanya Lusi sambil melihat jam ditangannya yang masih jam 6.15 pagi. Dan ini masih terlalu pagi untuk Rian berangkat ke kantor.
"Ya, berangkat ke kantor lah"
"Baru jam segini? Masih bisa kali ah"
"Buat?" Tanya Rian terheran.
"Ada deh. Bentar ya"
"Aku nunggu nih"
"Iya" ucap Lusi dengan suara manis manjanya. Dan mencium pipi suaminya.
"Yaudah cepetan"
"Pasti"
Lalu Lusi pun bergegas ke kamar dan mengganti pakaian dengan lingerie yang tampak sangat seksi ditubuhnya. Meskipun Lusi sedang hamil. Namun perutnya masih belum begitu tampak. Karena usia kandungannya yang masih muda. Dan Dia ingat dengan ucapan Lisa yang katanya tidak ada salahnya menjadi pemain yang sedikit lebih liar terhadap suaminya. Dan kali ini Lusi berencana memberikan sebuah kejutan kecil dengan memberikan service panas di pagi hari.
Dan tap...
Dengan langkah kaki yang dimaksudkan terkesan seksi. Lusi menghampiri Rian.
Jeng.. jeng...
Tampak Rian yang sudah tidak ada di meja makan.
Lusi kaget melihat suaminya yang tak ada.
Lusi pun tampak menelpon Rian.
"Kamu kemana?" Ucap Rian.
"Sudah berangkat"
"Kok gak nungguin"
"Buru-buru maaf ya"
"Tapi aku ada sesuatu loh"
"Udah aku buru-buru. Nanti lagi.. ya bye"
Tut.. Tut.. Tut..
Rian pun mematikan telponnya.
Seketika hati Lusi pun seolah merasa pilu. selain pilu sebenarnya juga kecewa. Tapi yasudahlah Lusi hanya bisa untuk menerima mungkin memang Rian sedang sibuk.
Dan...
Sebenarnya Rian buru-buru itupun karena mendapat telepon dari Marisa untuk segera membawakannya makanan segera. Karena Rian sudah berjanji pada Marisa. Untuk setiap hari membawakan makanan.
****
__ADS_1
Sabar ya ..