
"Eh yang tadi aku bilang soal masalalu aku dan Rian jangan kasih tau siapa-siapa ya" ucap Lusi bicara pada Gery.
"Iya enggak gak akan kasih tahu, ya paling aku umumkan pakai Toa musola" candanya Gery pada Lusi.
"Ish serius" kata Lusi.
"Ya" singkat Gery.
"Soalnya udah aku kubur dalam masa lalu itu"
"Iya cerewet"
"Iya udah, kita lanjut lagi ya beli ini itunya"
Ya terkadang Gery kalau lagi manis juga bisa bicara lembut pakai aku dan kamu. Tapi kalau lagi sok plus ngeselin bicaranya pasti gue dan elu. Persis adiknya Marisa. Yang sok jagoan.
Lalu Lusi pun tampak membeli beberapa pernak-pernik lagi. Seperti tas, baju, dan sepatu. Yang akan dijadikan hantaran. Lusi pun tampak melihat sepatu yang sangat ia sukai. Padahal Lusi belanja bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk dijadikan hantaran nikahan Gery nanti. Tapi ya namanya wanita pasti ada rasa suka juga untuk berbelanja.
"Ih ini bagus banget" kagum Lusi sambil melihat sepatu yang yang dipajang di etalase itu.
"Beli aja" kata Gery.
"Hem tapi ini harganya mahal" Lusi tampak mengurungkab niat karena tak ada uang. Ada sih, hanya saja yang ia bawa pada saat itu adalah uang untuk persiapan pernikahan Gery dan Liana.
"Yaudah beli aja, aku beliin buat kamu"
"Tapi ini mahal"
"Gak apa-apa sepatu itu bagus di kaki kamu" kata Gery tersenyum.
Lalu Gery pun tampak menatap lama Lusi yang dihadapannya kini sembari tersenyum. Wanita yang menjadi istri sahabat nya itu memang ia sangat menyukai dan ia cintai. Walau mungkin cinta bertepuk sebelah tangan. Tapi tidak memudar kan rasa didalam hatinya.
"Lusi?" Panggil Gery.
"Ya" jawabnya.
"Aku dengar perusahaan Rian sedang tidak baik-baik saja" ucap Gery.
"Ehm ya begitulah namanya perusahaan dan usaha apapun itu. Kadang ada diatas dan kadang ada dibawah, pasang surut"
"Terus? Sedandainya? Seandainya saja sih, kalau Rian bangkrut terus miskin. Apa kamu masih mencintainya" kata Gery.
Seketika Lusi pun terdiam. Dan sejenak berfikir. Namun jawaban Lusi memang tampak mengejutkan Gery.
"Kalau sekiranya perusahaan yang ia kelola bangkrut. Aku akan tetap dampingi dia sampai kapan pun. Selama ia masih mencintai aku. Aku pun akan tetap sama. Bahwa hidup bukan sekedar uang saja tapi lebih dari itu. Yaitu kebahagiaan" jawab Lusi.
Seketika Gery pun memegang tangan Lusi dan berkata.
"Beruntung Rian dapatkan kamu"
Lusi pun hanya terdiam dan tak menyahuti. Dan menarik tangganya.
Lusi merasa jika Gery memang tak pantas memegang tangan dirinya seperti itu. Apalagi mengingat dirinya siapa? Bukanlah siapa-siapa.
Lalu Lusi pun bergeser ke toko sebelah yaitu toko dalaman. Seketika Lusi pun tampak mengerinyitkan kening saat benda itu harus ada dalam daftar hantaran.
"Hadeh berat banget kalau harus milih ini" ucap Lusi.
Gery pun tampak tersenyum.
"Ukuran nya apa ya" ucap Lusi dengan suara pelan.
"Aku dengar kok kamu ngomong apa?" Kata Gery sambil melihat ke arah Lusi. "Pasti kamu lagi kebingungan milih ya" kata Gery.
"Pilih aja sama besar nya sama punya kamu" kaata Gery lagi.
Lusi pun tampak memicing dengan mata yang tajam.
"Skip aja bagian ini" ucap Lusi.
"Eh gak bisa dong, tanggung loh udah sampe sini masa ga jadi. Kalau mau apa-apa jangan setengah-setengah gak baik" kata Gery.
"Yaudah kamu pilihin deh buat Liana, Nanti salah ukuran lagi kan kamu lebih tahu"
"Kalau ukuran punya Liana aku gak hapal dan gak ingat. Justru ingatnya malah punya kamu" kata Gery.
Seketika Lusi pun tampak memandang Gery kesal. Dia teringat akan kelakuannya dulu terhadap dirinya.
"Aku udah bantuin kamu bisa gak sih gak kurang ajar"
"Oke oke sory.. aku gak akan ngomong gitu lagi" kata Gery. "Pilih aja asal yang penting ada kan"
"Oke"
__ADS_1
.
.
.
.
Sementara itu..
Terlihat Tanisa yang semakin sulit melepaskan diri dari Deon mengingat dirinya telah hamil anak dari pria yang ia tak cintai sama sekali itu. Semakin hari dirinya tampak semakin menyedihkan. Ia bukan tak suka hamil hanya saja itu seperti malapetaka untuk dirinya saat dirinya hamil dari pria yang tak ia cintai.
Ia pun tampak semakin hari semakin sedih bila mengingat itu semua.
Mau pergi pun serasa semua akan terasa sulit. Dunia seolah terasa sempit.
Lalu ia pun pindah ke sebuah apartament milik Deon. Bersama Deon ia pindah.
Tanisa tampak mengikuti ke mana arah kaki Deon untuk melangkah.
Apartemen yang tampak dilantai 2 itu dipulau Bali itu.
Terasa tampak lumayan mewah. Tanisa di ajak pergi ketempat itu.
Namun hal yang tak di duga pun terjadi.
Saat Tanisa sedang dalam keadaan sendiri diapartemt itu.
Tiba-tiba saja, suara bel berbunyi hingga beberapa kali.
Tanisa pun tampak mengintip siapa yang datang. Tanisa tak mengenal siapa pemuda yang tiba-tiba bertamu.
Tanisa pun jelas menolak siapa tamu itu. Tanisa pun menolak tamu itu untuk datang berkunjung.
Dan tiba-tiba saja ia memiliki kunci apartemen itu. Dan masuk secara kasar. Tanpa peduli.
Dia masuk tampak dengan mata yang memicing mengedarkan pandangan ke kiri dan kanan. Melihat apakah ada orang didalam apartemen itu
Tanisa pun tampak heran dengan dia siapa dan ada perlu apa tiba-tiba datang. Dan kebetulan Deon sedang tidak ada diapartemt tersebut.
Tanisa bersembunyi dibalik lemari. Pemuda itu tampak kasar, Tanisa takut dengan kedatangan pria itu.
Karena datang seperti ingin menangih hutang.
Lalu ia pun tampak menendang meja beberapa kali. Dan terlihat kasar.
Braaag...
Tanisa yang ada dibalik lemari itu pun jelas merasa ketakutan.
Tiba-tiba saja ia mampu menemukan Tanisa yang sedang bersembunyi dibalik lemari.
"Oh rupanya ada orang disini" katanya.
Ya dia adalah Leon anak dari Deon. Leon ingin mencari Deon papanya.
Leon pun langsung menarik tangan wanita itu dengan kasar.
"Lepaskan saya" ucap Tanisa.
Tanisa terlihat begitu lemah dan dengan mata yang sembab meminta untuk dilepaskan. Meskipun Tanisa terlihat seperti itu. Namun Tanisa tetap terlihat muda dan cantik dan Leon yakin bahwa itu adalah wanita simpanan Ayahnya.
"Siapa kamu" ucap Leon dengan mata yang terlihat galak.
"Aku bukan siapa-siapa. Ada juga aku yang harus bertanya. Kamu siapa dan kenapa kamu tiba-tiba masuk" ucap Tanisa tidak terima.
"Ini adalah apartamentku" ucap Leon dengan nada tinggi.
"Katakan kamu siapa?" Ucap Leon nada tinggi.
"A-aku Tanisa" jawabnya gugup dan ketakutan karena melihat Leon yang terlihat marah.
"Kenapa kamu bisa disini. Apa kamu kekasih dari Deon"
Tanisa tampak tak menjawab.
"Oh diam itu berati iya. Pantas saja bokap gue gak pulang-pulang ternyata ada wanita disini. Cantik juga sih. Tapi sayang gua gak tertarik" lalu dengan cepat Leon pun menampar.
Plaaaakkkkk...
Wajah Tanisa pun terlempar kesamping kaget dengan apa yang dilakukan oleh pria itu.
Leon pun menjambak rambut Tanisa dengan kasar. Hingga rambut nya terlihat acak-acakan. Ya Leon memang memiliki sifat yang keras..
__ADS_1
"Sakit, ampun.." rintih Tanisa.
Dan Leon pun menarik tubuh Tanisa dan mendorongnya dengan keras ke tembok. Sambil mencekiknya.
"Gue peringatkan lu pergi dari hidup bokap gue" kata Leon dengan kasar sambil mencekik Tanisa tanpa ampun.
Tanisa pun berusaha untuk melepaskan tangan Leon yang sedang mencekik lehernya. Beberapa kali Tanisa menarik tangan Leon namun sulit. Tenaga nya begitu besar.
Seketika saat Tanisa hampir mau mati dan pingsan Tanisa pun dilepaskan.
Tanisa tampak mengatur napas nya yang habis dicekik oleh Leon itu. Hampir saja dia mati saat itu.
Tak sampai disitu...
Wajah Tanisa di tarik dan ditinju oleh Deon
Bug ..
Bugg..
Tanisa pun tampak menangis dengan apa yang dilakukan oleh pria yang baru ia kenalnya itu.
Hiks,, hiks,, hiks,,
Ya begitu sakit semua terasa begitu menyakitkan bagi Tanisa.
Leon pun tampak menendang wajah Tanisa.
Bug..
Tanisa pun langsung ambruk dengan apa yang dilakukan pria yang terlihat murka itu.
Leon begitu teramat benci kepada wanita dihadapannya satu ini yang ia anggap yang sudah menghancurkan rumah tangga papa dan mamanya. Ia yang telah mengaggap Tanisa yang merusak semuanya dan membuat nya papa nya enggan untuk pulang.
Padahal jauh dari itu..
Deon memang sudah tak akur lagi dengan isirinya sebelum mengenal Tanisa.
Tanisa tampak memar pada wajahnya sambil menangis dihadapan pria itu
Tanisa tak banyak bicara karena dia sudah takut melihat pria yang terlihat marah didepannya itu.
Tiba-tiba Deon datang dan
melihat Tanisa yang sedang duduk dengan wajah yang memar sambil menangis dan tak berdaya. Serta rambut yang acak-acakan itu. Tanisa menangis tampak tertunduk.
"APA YANG KAMU LAKUKAN" ucap Deon marah melihat Tanisa yang terlihat babak belur itu.
Dengan mata yang tajam Deon melihat putranya yang dihadpannya itu.
Ya Tanisa seperti itu karena Leon putranya yang sudah menghajar Tanisa.
Lalu dengan cepat Deon pun marah melihat Tanisa dalam keadaan seperti itu. Apalagi mengingat Tanisa yang kini tengah hamil anak dari dirinya.
Lalu Deon pun menghampiri Tanisa. Tanisa terlihat ketakutan. Dan melihat wajahnya yang tampak membiru. Tanisa terlihat sangat ketakutan sekali.
"Oh jadi ini, kelakuan papa. Bener papa sudah selingkuh" kata Leon marah.
"Brngsk kamu" sarkas Deon.
Deon pun dipukul oleh papanya.
Buuugghh....
"Beraninya kamu menyakiti dia" ucap Deon marah pada putranya itu.
Lalu Leon pun tidak peduli. Deon pun memukul Leon hingga meninggal kan darah di bibirnnya.
Lalu Deon pun memukul anaknya hingga beberapa kali.
bug...
bug...
bug..
Leon pun merasa sakit hati dengan apa yang dilakukan oleh sang papa. Yang sudah memukulnya. Karena Leon merasa papanya tak seharusnya melakukan hal itu pada dirinya.
"Oh jadi papa lebih tega melakukan ini terhadap anak papa sendiri. Dan lebih memilih memukul ku" kata Leon marah terhadap papanya.
"Asal kamu tahu!!!!!! Asal kamu tahu. Wanita yang kamu pukuli itu, ya wanita itu... Dia, dia sedang mengandung anak papa. Dia sedang mengandung adik mu!!! Teganya kamu tanpa ampun melakukan itu" kata Deon terlihat marah.
Seketika Leon pun tampak kaget dengan apa yang ia dengar barusan seri mulut papanya sendiri.
__ADS_1