
Terluka dalam cinta, yang kini tengah Lusi rasakan. Bukan sakit karena penghiantan tapi lebih terasa sakit ditinggal pergi.
Jika memang pertemuan ada akhir sebuah kata yakni perpisahan.
Lusi terima...
Hanya saja mengapa perpisahan secepat ini. Lusi belum sekalipun merasakan benar-benar merasakan cinta dan kebahagiaan bahtera rumah tangga, Tuhan sudah memisahkan dengan sebuah perpisahan dan berkahir dengan sebuah maut yang memisahkan.
Ya hanya obat rindu yang mampu membayar semua kepedihan hati, tapi sayang obat itu tidak ada. Selain waktu yang mampu membayar semua segala kepedihan hati.
Rian... Dimana aku mencari mu, andai kan kamu ada. Aku mohon sekali saja aku bertemu dengan mu. Aku ingin memberitahu mu bahwa aku hamil, aku hamil anak Kita. Batin Lusi yang meronta mana kala hatinya menjerit setiap kali mengingat suaminya.
Malam itu...
Malam tampak gelap terasa sunyi. Lusi tampak tidur di kamar bersama putranya.
Malam itu Lusi bermimpi bertemu suaminya, bertemu disebuah taman yang indah. Suaminya sudah tak lagi cacat ia mampu berdiri tegap mampu berjalan dan terlihat sehat. Lusi pun segera berlari menemui suaminya berlari dan menggapai Lusi pun langsung memeluknya begitu erat tak terasa air matanya langsung terjatuh. Lusi langsung menangis dalam pelukan sang suami yang terasa jauh itu dan kembali dalam pelukannya. Pelukan batin nya yang terasa sakit karena rindu, terbunuh karena rasa rindu. Pilu dan kepahitan batin yang begitu terasa menyakitkan. Tidak ada kata yang mampu mewakili suami itu selain tangisan yang Lusi luapkan mana kali hati sudah tak mampu membendung semua rasa yang ada didalam hati.
Dada terasa sesak setiap kata yang ingin terucap hanya tangisan yang berulang dan tak tertahan.
Rian pun tampak membelai rambut sang istri yang tampak menangis dalam peluknya, lalu menghapus air mata Lusi.
"Jangan pernah tinggalkan aku tak sanggup hidup begini" ucap Lusi.
__ADS_1
"Kamu harus kuat sayang, kamu harus kuat menjaga Fabio dan anak dalam kandungan mu. Kamu kuat ya sayang, kamu harus kuat. Aku harus pergi, aku harus pergi, aku harus pergi"
Rian pun tampak melepaskan tangan Lusi dan pergi menjauh.
"Rian jangan tinggalkan aku, Rian..." Teriak Lusi dalam tidur dan saat Lusi tersadar bahwa itu adalah mimpi.
Lusi pun langsung menangis dan tersadar bahwa itu hanyalah mimpi namun terasa begitu terasa sesak di dada.
"Aaaarrrgggghhhhhhh...."ucap Lusi yang tanpa sadar berteriak dengan hati yang terasa sesak itu.
Ibu pun tiba-tiba datang dan langsung memeluk sang putri yang menangis.
"Nak astaghfirullah"
"Istighfar nak istighfar, kamu tidak boleh seperti ini. Kamu harus bisa kamu kuat. Sini peluk ibu, peluk" lalu ini pun tampak memberikan pelukan hangat.
Lalu tiba-tiba sang ayah pun datang dan memberikan air putih untuk putrinya.
"Minumlah, habis ini kita solat ya. Biar pikiran kamu lebih tenang"
Lusi pun tampak mengangguk.
Dalam solat Lusi pun meluapkan semua kesedihan dan memberikan doanya pada sang suami yang telah tiada.
__ADS_1
"Rian aku meminta maaf sebagai istri aku banyak kurangnya, banyak tidak sempurna nya tidak sesuai harapan aku berharap kamu tenang sayang disisiNya, walau saat ini aku benar-benar merasakan sedih yang teramat dalam. Dan aku pun memaafkan semua kesalahan mu, semuanya Rian semuanya tidak ada satupun yang tidak aku maafkan. Rian, aku tidak cara bicara dengan mu, selain lewat doa ini. Selain lewat tangisan ini, aku tidak tahu cara menyampaikan rindu ku padamu selain dari setiap doa yang aku panjatkan. Semoga Allah menyampaikan rinduku padamu, semoga Allah menyampaikan semua yang tengah rasakan Rian. Rian.. aku, mama, fabio, semua sayang sama kamu. Tapi Allah lebih sayang, bahkan disaat terakhir malam itu. Malam bersama kita semua terasa manis namun semua adalah saat terakhir. Terimakasih kamu telah hadir dalam hidupku yang sebentar ini. Doakan selalu anak kita, anak-anak kita menjadi anak yang sukses dan kita selalu bahagia sayang" Lusi pun tampak mengirim pesan cintanya pada solat malam itu. Dada nya terasa sesak mengatakan semuanya.
Lusi pun kembali ke kamar dan tampak Ibu yang akhirnya menemani Lusi untuk tidur. Dalam tidur Lusi pun dipeluk oleh ibunya.
"Bu?" Panggil Lusi.
"Ya" sahut ibunya.
"Apa Lusi salah kalau Lusi merindukan suami Lusi Bu" tanya Lusi dengan air mata yang mengalir.
"Gak, kamu gak salah nak" jawab sang ibu.
"Lusi sedih Bu, mengingat semua nya. Lusi apakah kuat menjalani hari-hari Lusi yang sepi dan berat ini" kata Lusi masih dalam pelukan ibu.
"Eh kamu pasti kuat kok, semua sudah menjadi suratan takdir. Maut, jodoh dan anak itu sudah menjadi takdir yang maha kuasa. Termasuk ujian hidup" kata ibu.
"Tapi Lusi manusia biasa yang berat sedih dan lelah menjalani semuanya" kata Lusi.
"Lusi kamu harus berfikir bahwa apa yang Allah berikan pada Lusi, ini yang terbaik ini yang memang sudah menjadi takdir Allah. Lusi kuat ibu yakin, hanya saja memang perlu waktu. Perlu hati juga yang kuat. Ada orang yang belum dapat jodoh diusia Lusi, ada yang belum punya anak, ada juga yang sudah menikah tapi harus berpisah karena maut atau apapun itu. Itu namanya ujian hidup, setiap manusia di uji dengan caranya masing-masing. Kalau Lusi sedih kasihan Rian disana. Lusi harus kuat, peluk ibu. Peluk ayah, peluk Fabio, peluk lah semua orang yang bisa mengobati rasa sedih Lusi. Kuatkan hati Lusi. Ingat ayah dan ibu sedih lihat Lusi sedih, jadi jangan sedih. Kasihan Fabio kasihan anak dalam kandungan kamu kalau kamu sedih terus. Kuat ya sayang, ayah dan ibu sayang. Kamu adalah harta yang tak ternilai harganya" ucap ibu yang masih memeluk sang putri.
Lusi pun tampak memeluk sang ibu sambil menangis, sampai tak terasa kembali tertidur dalam dekapan sang ibu yang menghangatkan malam itu.
Ibu pun sedih melihat sang anak yang sedih ditinggal sang suami, tapi ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk sang putri dalam menjalani hidupnya.
__ADS_1